Lewat Jalan Tol atau Naik Pesawat, Adalah Pilihan

Semenjak jalan tol Jakarta-Surabaya selesai dibangun, saling terhubung, ramai komentar berseliweran perihal biaya dan perbandingannya.

Beberapa yang suka, tentu menyambut baik atas terselenggaranya jalan tol yang menghubungkan dua kota besar di pulau Jawa itu.

Bagi yang tidak suka, jalan tol ini tak lebih dari pemborosan anggaran dan biaya, selain tuduhan segala kebohongan karena hanya menguntungkan perusahaan besar dan swasta.

Dari dua pandangan tersebut, terserah saja di pihak mana Anda akan berpihak. Saya tidak tertarik untuk ikut berada dalam satu kubu.

Beberapa waktu yang lalu, sebenarnya saya sudah ingin ikut berkomentar, tetapi karena satu dan lain hal, saya menundanya.

Apa yang paling mendasari saya untuk tak lekas ikut berkomentar atau menyampaikan pandangan, adalah mengenai tuduhan keberpihakan.

Begini, berusaha berdiri di tengah saja, saya sudah di tuduh ikut sana ikut sini.

Sedikit berkomentar prestasi pemerintah, dituduh sebagai cebong. Sedikit berdiri bersama oposisi, dituduh sebagai kampret.

Saya tidak suka dituduh, apalagi sebagai cebong atau kampret. Saya lebih suka dituduh mirip Brad Pitt, atau kakak dari Genji Takiya.

Mahal

Ongkos lewat jalan tol dari Jakarta ke Surabaya, katanya berkisar di angka 500 sampai dengan 600 ribuan.

Hal ini memantik ejekan dari yang tidak suka.

Mengapa ongkos perjalanan darat, dengan waktu relatif panjang dan lama, masih lebih mahal dari ongkos tiket pesawat.

Sedang naik pesawat, hanya membutuhkan waktu sekira 1,5 jam saja.

Lewat jalan tol, selain mahal, juga tak efektif dari segi waktu.

Benarkah?

Tentu ada beberapa alasan yang harus dilampirkan ketika akan mengklaim bahwa ongkos biaya perjalanan darat melalui tol, lebih mahal. Salah satunya, maksud dan tujuan melakukan perjalanan, serta berapa banyaknya orang dalam satu rombongan.

Jika perjalanan yang ingin dilakukan murni hanya dari Jakarta ke Surabaya saja, tanpa keinginan untuk berkunjung atau mampir ke tempat lain, maka pesawat adalah pilihan utama, dengan catatan.

Catatan apa?
Perjalanan dilakukan sendirian, seorang diri.

Dengan asumsi biaya dan kondisi demikian itu, maka perjalanan darat melalui jalan tol sendirian, adalah semacam nekat belaka. Apa enaknya berkendara jauh, sendirian, tanpa teman. Mungkin hanya bisa dilakukan oleh orang-orang yang sedang patah hati.

Tetapi jika jumlah peserta dalam perjalanan melibatkan banyak orang, dan biaya menjadi pertimbangan utama, tentu perjalanan darat lewat tol harus diutamakan.

Dengan asumsi tiket pesawat adalah 500 ribu per orang, dan misal saja jumlah peserta dalam satu rombongan enam orang, maka sudah harus ada 3 juta rupiah yang harus dipersiapkan.

Melewati jalan tol, dalam perjalanan darat, tentu tak harus menghabiskan biaya sekian itu. Sudah dengan biaya bahan bakar dan konsumsi dalam perjalanan, hanya akan menyentuh angka biaya separuh daripada jika menggunakan pesawat. Berkisar pada nominal 1,5 juta, silahkan hitung kalau tidak percaya.

Belum lagi kalau maksud perjalanan dari Jakarta ke Surabaya, masih dengan terselip tujuan untuk melawat, atau mampir ke tempat lain. Membeli batik di Pekalongan mungkin, atau membeli lumpia di Semarang, dan juga atau-atau yang lain.

Pada akhirnya, lewat tol ataukah dengan pesawat, adalah pilihan.

Semua pilihan mengandung kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Dari segi waktu, pesawat mempunyai keunggulan yang tidak bisa disaingi oleh jenis transportasi lainnya saat ini.

Tetapi dari kekayaan pengalaman dan banyaknya hal yang bisa di dapat selama perjalanan, menggunakan kendaraan pribadi lewat darat tak bisa di dapat oleh jenis perjalanan lainnya.

Kagaduhan-kegaduhan mengenai mahal atau tidaknya tarif tol, sebenarnya tak perlu dibawa kepada perdebatan yang berujung pada saling menghujat dan menghasut.

Ingin cepat, mempunyai banyak uang dan biaya, silahkan naik pesawat.

Ingin menikmati perjalanan bersama keluarga atau banyak kawan dalam rombongan, silahkan melalui jalan tol dengan perjalanan darat.

Jika lantas besaran tarif tol dipermasalahkan karena masyarakat secara luas tak mengangguk untung, tentu juga tak bisa diberikan penghakiman sepihak  semacam itu.

Dalam setiap pembangunan, keuntungan yang didapat oleh masyarakat, warga, rakyat, tak mesti dan selalu ditangguk secara langsung.

Misalnya pembangunan bendungan, tentu hanya beberapa pihak dan golongan saja yang diuntungkan secara langsung. Utamanya adalah petani. Tetapi jika petani tercukupi ketersediaan air untuk kebutuhan pertanian, maka komoditas pertanian akan tersedia secara luas bagi masyarakat umum. Tentu saja, tak akan ada kelaparan dan kekurangan pangan. Paling tidak, hal itu dapat diminimalisir.

Secara tak langsung, masyarakat luas akan mendapat keuntungan dari ketersediaan bahan pangan.

Jika bendungan yang dibangun dalam skala besar, dan sekaligus bisa dipergunakan sebagai pembangkit listrik, maka masyarakat akan mendapat keuntungan tak langsung berupa ketersediaan pasokan listrik.

Menuntut setiap pembangunan mempunyai dampak dan manfaat langsung bagi masyarakat, sama halnya dengan mengingkari proses dan saling keterkaitan antar entitas dalam kehidupan.

Bahkan, dalam setiap proses makan atau minum, meski hanya mulut dan perut yang mendapatkan keuntungan langsung, tentu bagian tubuh yang lain mendapatkan manfaat secara tak langsung.
Mulai dari rambut, kulit, bahkan juga kuku, akan mendapatkan manfaat dari proses makan, yang keuntungan langsungnya dinikmati oleh mulut dan perut.

Setiap pembangunan, mempunyai bidang sasaran masing-masing, dan tentu tak bisa menyentuh masyarakat secara langsung, umum, dan luas.

Pembangunan pelabuhan, tidak mempunyai dampak langsung terhadap kehidupan petani secara langsung, yang berada di daerah pegunungan, jauh dari pelabuhan. Tetapi pelayanan pelabuhan yang baik, akan mampu mendistribusikan hasil olahan dari lahan petani, secara lebih luas. Hal tersebut tentu akan memicu dan memacu semangat serta produktifitas kerja petani secara keseluruhan.
Distribusi yang baik akan berpengaruh terhadap produksi, dan daya serap konsumsi.

Jalan tol Jakarta-Surabaya, tentu juga takkan bisa menyentuh masyarakat secara langung dengan manfaat dan kegunaannya.
Tetapi bagi para sopir truk yang bergerak dalam jasa pengiriman barang, bahan makanan, buah-buahan, tentu diuntungkan dengan sarana dan prasarana yang memudahkan mereka dalam bekerja.
Konsumen, masyarakat, akan diuntungkan secara tak langsung dengan sampainya paket tepat waktu, atau ketersediaan bahan pangan dalam kondisi yang lebih baik dan segar.

Jika ada yang lebih layak untuk diperdebatkan mengenai pembangunan jalan tol tersebut, adalah perihal komitmen pemerintah untuk menyediakan transportasi massal yang lebih layak, atau lebih tepatnya arah pembangunan bidang transportasi di pulau Jawa.

Alih-alih untuk membangun jalan tol, bukankah sebaiknya lebih layak dan baik menambah jumlah jalur kereta api?
Karena tentu saja pulau Jawa sudah terlalu penuh sesak oleh kendaraan pribadi.

Sampai di sini, semoga anda paham bahwa membandingkan biaya tol dan tiket pesawat, tidaklah tepat.
Dan memperdebatkannya perihal keuntungan serta manfaat langsung kepada masyarakat, lebih tidak tepat lagi.

Bukan berarti saya berpihak secara penuh kepada pemerintah, apalagi Jokowi, jika anda membaca tulisan ini secara jeli.
Maka saya tidak tertarik berdebat, apalagi dengan pihak-pihak yang mengedepankan perasaan suka atau tidak suka, daripada mengedepankan nalar serta logika.

Saya lebih suka memperdebatkan hal-hal yang jauh lebih penting, misalnya saja potensi saya untuk menjadi Menteri Dalam Negeri di tahun 2024.

Salam.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

25 Comments

  1. I am just writing to make you understand what a perfect experience my wife’s princess obtained using your webblog. She noticed some things, which included what it is like to possess an excellent teaching spirit to make others with no trouble learn about specific specialized things. You undoubtedly surpassed readers’ expected results. Thanks for providing those priceless, trusted, informative as well as unique tips on your topic to Mary.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.