Lima Bulan Hidup Di Kos-Kosan

Baru juga lima bulan, sudah koar-koar….

Bukan lima bulannya yang ingin saya tekankan, tetapi lebih pada apa yang saya rasakan…

Dasar manusia melodrama, sedikit saja yang dirasakan sudah dibagi-bagikan.
Mau bagi-bagi saham juga ga punya, kok…

Kamar kos yang saya sewa dan tempati luasnya tak lebih dari dua puluh meter persegi. Itu pun sudah include dengan kamar mandi. Kamar mandi dalam begitu ceritanya. Dengan kondisi…seperti gambar yang saya lampirkan diatas.

Baru juga lima bulan, tepatnya semenjak 1 Oktober 2019. Meski saya sebenarnya menyewa sudah semenjak satu bulan sebelumnya. Jadi sekira satu bulan pertama semenjak menyewanya, saya tak menempati kamar kos itu. Hanya saja beberapa barang dan pakaian saya sudah berada disana. Kalau kata orang Jawa, nyicil. Nyicil pindahan.

Saya sebenarnya tipe manusia yang senang menetap. Berburu dan meramu, laiknya nenek moyang saya semenjak masih bernama Homo Wajakensis. Tetapi kenyataan yang mengharuskan saya menjadi —kembali— manusia nomaden, membuat saya harus menempati kamar kosan itu.

Banyak hal serta pengalaman baru yang saya dapatkan selama lima bulan pertama ini, dan saya rasa akan bertambah selama beberapa bulan kedepan, bahkan beberapa tahun ke depan. Saya tidak mempunyai rencana untuk mengontrak rumah, dan apalagi membeli rumah, ketika bekerja di Semarang.

Entah akan sampai pada tahun keberapa nantinya, saya akan tetap lebih memilih tinggal di kos-kosan.

Pengalaman pertama yang saya rasakan ketika mulai semenjak hari pertama tinggal di kos-kosan adalah : sepi.

Iya, sepi.
Ketika masih menghabiskan banyak waktu tinggal di Daerah Istimewa Yogyakarta [Piyungan Bantul maupun Banteran Sleman], hampir tak ada kata sepi. Selain karena dekat dengan keluarga, banyak teman dan tetangga disana. Ketika di Piyungan, bahkan hampir setiap malam selepas Isya’, saya akan duduk diteras untuk mengobrol santai bersama tetangga sembari minum teh dan merokok.

Mulai hari pertama semenjak tinggal di kos-kosan, sepi yang saya rasakan. Lokasi yang saya tempati memang berada di pemukiman padat penduduk sebenarnya, tetapi sebagai pendatang dan apalagi ‘hanya’ tinggal di kos-kosan, saya merasa sungkan untuk membaur bersama lingkungan.

Jadilah setiap malam saya hanya akan menghabiskan waktu dikamar kos, sembari membuka laptop atau tidur dengan setengah dipaksakan. Setengah dipaksakan arena sebenarnya saya belum terlalu mengantuk, namun harus dilakukan karena tak ada lagi kegiatan yang bisa dilakukan.

Tetapi rasa ‘sepi’ itu tak lantas membuat saya tertekan atau depresi. Saya beruntung terlahir sebagai Sagitarius. Yang bisa hidup dalam masyarakat komunal, ataupun individual. Menurut kabar berita, Sagitarius bisa adaptif semacam itu. Mereka bisa hidup dalam lingkungan komunal, berbaur, namun juga bisa hidup secara individual. Saya berikan ucapan terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, yang dulu sekira tahun 80-an berkenan melahirkan saya ke dunia melalui perantara Ibu saya, dalam naungan rasi bintang Sagitarius. Terima kasih Tuhan.

Perasaan dan keadaan sepi yang kini hampir setiap hari saya alami, justru membuat saya mempunyai banyak waktu untuk berkontemplasi maupun introspeksi diri. Berkontemplasi perihal apapun yang pernah saya lakukan, baik-buruk, dan kemudian mencoba untuk mengendapkannya menjadi silabus pembelajaran bagi hidup saya di masa mendatang. Pun instrospeksi terhadap segala sikap dan sifat saya yang selama ini mendominasi, untuk kemudian saya lakukan penyesuaian.

Tentu saya membutuhkan penyesuaian, adaptasi, pada lingkungan baru yang bahkan tak pernah saya bayangkan. Saya harus introspeksi diri, agar bertahan selama mungkin hidup di kos-kosan. Bertahan selama mungkin dalam artian, bahwa saya jangan sampai cepat merasa bosan. Karena saat ini saya tinggal di kos-kosan bukan hanya dalam rangka piknik atau dolan, tetapi dalam rangka mencari penghidupan dan pengalaman. Maka perasaan sepi itu harus saya ubah menjadi semacam energi untuk menempa hati saya, agar tak mudah retak. Baik retak oleh waktu, maupun oleh keadaan.

Pengalaman kedua adalah : mandiri.

Mungkin sudah sangat terlambat bagi manusia seusia saya saat ini, menekankan kata ‘mandiri’ di dalam hidupnya. Tetapi senyatanya, iu yang saya rasakan.

Hidup sendirian di kosan, jauh dari keluarga dan juga lingkungan dasar pergaulan, memaksa saya melakukan hal apapun sendirian. Dulu setelah bekerja dan mempunyai penghasilan sendiri, saya mengartikan kata mandiri adalah dengan tidak lagi menengadahkan tangan meminta uang kepada orang tua. Tetapi kini bagi saya pribadi, kata mandiri itu mempunyai perluasan makna.

Selama beberapa bulan terakhir semenjak hidup di kosan, kata mandiri seolah menemukan pemaknaan yang lebih hakiki pada diri saya sendiri. Saya tak bisa lagi banyak meminta bantuan ketika menemui kesulitan. Segala sesuatu yang berkait dengan kesulitan, mau tidak mau harus saya selesaikan sendirian, tanpa bantuan.

Mungkin terlihat klise. Tetapi itu sejalan dengan apa yang saya niatkan semenjak awal ketika memutuskan untuk pindah ke Semarang. Bahwa saya ingin lebih banyak belajar, dan lebih banyak mendapatkan pengalaman dan pendidikan langsung dari kehidupan.

Mungkin perlu saya kutipkan satu kalimat dari Tan Malaka :

“Sedangkan sebetulnya cara mendapatkan hasil itulah yang lebih penting dari hasil sendiri.”

Tan Malaka

Mungkin hasil yang ingin saya dapatkan dari mencari pengalaman dan pembelajaran serta pendidikan itu takkan langsung bisa saya rasakan. Mungkin kelak baru saya akan dapat menyimpulkannya, mengumpulkannya dalam ruang-ruang ingatan dan juga mengendapkannya dalam senarai kehidupan. Sedangkan caranya, memang sudah saya rasakan. Termasuk dalam hal ketika saya hidup di kos-kosan ini.

Dalam hal paling sederhana untuk menarasikan kata mandiri itu misalnya :

“Selepas bangun tidur kini saya tak lagi bisa bermalas-malasan. Saya harus bergegas bangun untuk mencari sarapan, karena sarapan takkan bisa datang dengan hanya tidur dan berdoa serta menengadahkan tangan. Sarapan baru akan tersedia ketika saya beranjak keluar kos-kosan, membelinya pada warung tegal langganan, atau penjual nasi dipinggir jalan.”

Belum lagi andai saya merasakan tak enak badan. Kini saya tak lagi bisa merengek dan bermanja-manja meminta pengobatan. Saya harus mengusahakan sendiri entah bagaimanapun caranya, agar badan saya sehat kembali, dan kiranya bisa tetap berdiri bertahan pada pilihan jalan kehidupan.

Ah, sok-sokan….

Hal ketiga yang saya dapatkan selama lima bulan pertama hidup di kos-kosan : akan saya tuliskan dalam kesempatan lain.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *