LISTRIK

Listrik mungkin bagi beberapa orang, bukan barang mewah. Apalagi bagi generasi Z yang begitu lahir langsung menyerap hasil dari energi listrik. Dari lampu pijar, mungkin. Bahkan listrik menjadi bagian hidup sehari-hari, dan tak lebih dari kewajaran semesta alam. Seperti keberadaan angin, dan juga matahari.

Jangankan bagi generasi kiwari, bahkan pada generasi saya, generasi era kejayaan Orde sebelum reformasi, listrik bukan hal mewah.

Pada rumah mereka, listrik sudah mengalir. Rumah-rumah mereka terang oleh lampu pijar di malam hari, dan dari dalam rumah mereka terdengar semarak hiburan dari layar televisi. Pada tahun 90’an, tahun-tahun di mana saya sudah bisa mengingat dengan jelas tahapan dalam perjalanan kehidupan, listrik bukanlah barang langka di daerah saya.

Sleman adalah daerah maju, semenjak dahulu, dan terlebih sekarang. Dan listrik bukanlah sesuatu yang layak dirisaukan.

Tetapi di rumah orang tua saya, listrik adalah barang mewah, dan mahal. Tak ada listrik dalam bangunan tempat tinggal yang merupakan bekas kandang ayam. Selepas adzan maghrib, semenjak diberi tanggung jawab sebagai bagian penerangan di rumah, saya akan mulai menyulut lampu teplok. Lampu dengan bahan bakar utama minyak tanah. Begitu juga ketika persediaan minyak tanah habis, saya yang akan membeli dengan jerigen kecil berwarna merah, dengan ukuran isi setengah liter. Dulu, kalau tidak membeli di warung Mbah Mardi, saya akan membeli di Toko Pak Yatno di seberang jalan. Tetapi harga minyak tanah untuk satu jerigen kecil itu, saya lupa.

Setiap sore menjelang, tak lama sebelum adzan maghrib berkumandang, sebentuk rasa iri sering menelisip di hati. Rasa iri terhadap kawan-kawan sepermainan saya, yang tak perlu repot mengisi minyak tanah ke dalam lampu teplok. Tak perlu repot me-lap membersihkan semprong [kaca pelindung nyala api], atau menggantinya ketika sudah kusam atau pecah. Saya iri, karena mereka tinggal memencet saklar, dan rumah mereka sudah akan terang benderang.

Tetapi terkadang saya juga akan tersenyum lebar, di malam hari ketika tiba-tiba beberapa tetangga mendadak melantunkan koor dengan suara ‘whaaaaaa’, dan ternyata listrik padam, dan ketika saya melongok keluar, gelap gulita. Pada saat seperti itulah, rasa iri saya terkadang lari entah kemana. Tak ada lagi rasa iri, dan hanya terbersit rasa syukur, bahwa kami tak harus mengalami pemadaman listrik. Bahwa cahaya di dalam rumah kami tak harus padam, tetap terang, meskipun juga tak terlalu benderang.

Listrik, baru mengalir di rumah orang tua saya, ketika gubug bambu bekas kandang ayam itu berganti dengan bangunan bertembok batu bata. Tepat menjelang saya masuk ke jenjang SMP. Pada bulan-bulan pertama setelah ada listrik itu, waktu di kamar saya habiskan bukan untuk belajar. Tetapi lebih banyak untuk tiduran di atas kasur tanpa dipan, sembari memandang sebentuk lampu pijar yang menggantung tepat di tengah ruangan kamar. Tersihir, karena keajaiban bernama listrik itu akhirnya mampir juga di rumah kami. Terkadang saya bergantian memandang lampu pijar, dan juga saklar merk Broco yang terletak tepat di sebelah pintu masuk kamar yang tanpa daun pintu dan hanya berupa kain.

Saat pertama kali sampai sekian bulan berdiri, rumah kami tak memiliki daun pintu pada tiap kamar. Sebagai pengganti, kain seukuran panjang dan lebar pintu digantungkan. Saya ingat, kain Korpri berwarna biru yang dulu sempat menjadi sprei, digunakan sebagai ‘daun pintu’ kamar saya. Mungkin kain Korpri seragam Bapak.

Saklar berwarna putih gading itu terkadang membuat saya termangu. Itu adalah pengganti semprong yang dulu harus selalu saya lap tiap kali petang menjelang. Kini, tak perlu mengisi minyak tanah, atau me-lap semprong, dan tinggal menekan saklar. Lampu akan menyala, dan kemudian terang menjalar pada tiap sudut ruang.

Sembari tiduran dan menatap lampu atau saklar itulah, saya merasa bibir menyunggingkan senyuman. Keajaiban itu memang ada.

Selama belasan tahun tumbuh dan berkembang tanpa keberadaan listrik, membuat saya kini tak terlampau risau ketika mendadak listrik padam. Sebentuk kecil kekecewaan mungkin tetap akan hinggap tetapi dalam waktu-waktu tertentu. Ketika saya sedang menulis, atau ketika sedang menyelesaikan pekerjaan. Tetapi di luar waktu-waktu tertentu itu, ketiadaan listrik sama sekali tak membuat saya gusar.

Bahkan saya akan kemudian teringat gores-gores kenangan masa kecil bersama lampu teplok, dan beragam ritualnya. Saya akan kemudian juga teringat almarhumah Mbah Mardi yang dengan sabar meladeni pembelian minyak tanah, dan melantunkan doa sebisanya untuk beliau. Semoga Mbah Mardi bahagia di alam keabadian.

Saya juga akan kemudian teringat percakapan rutin dengan adik saya menjelang tidur. Tentang rencana-rencana jika kelak kami mempunyai kamar sendiri, jika sudah ada listrik di rumah kami, dan pembagian poster pemain sepakbola dari tabloid yang seminggu sekali di beli oleh Bapak. Adik saya kemudian menjadi fans AS Roma juga karena percakapan rutin menjelang tidur itu. Kami berebut mengidolakan AS Roma, dan tidak boleh keduanya mempunyai idola yang sama. Akhirnya kami melakukan suit, dan adik saya memenangkannya. Jadilah ia sampai kini menjadi fans AS Roma, dan saya waktu itu harus mau menjadi fans AC Parma.

Listrik bagi saya tak akan pernah menjadi sederhana. Ia menyimpan banyak kenangan, sekaligus cerita tentang bagaimana gelap tak terlampau menakutkan.

Listrik mengajarkan dan memberitahukan kepada saya, bahwa segala sesuatu akan datang tepat pada waktunya, takkan terlalu cepat, atau bahkan terlambat. Mengajarkan dan mengingatkan, bahwa Tuhan memang Maha Penyayang.

Listrik menjadi monumen dan prasasti bagi saya, perihal asal muasal dan filosofi sangkan paran. Bahwa manusia, khususnya diri saya, jangan sampai melupakan sejarah dan titik awal keberangkatan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

6 Comments

  1. Viagra Prix Paris En Charleville Discount Generic Fedex Shipping Macrobid Germany Internet Viagra Gibraltar viagra Buy Birth Control Online Fast Cialis Von Lilly Lycos Pyridium Cheap Cod Accepted. Order Online Pyridium Discount Without Dr Approval. Want To Buy Generic Pyridium Website Cash Delivery Overseas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *