Lockdown Jiujitsu

Simalakama.

Andai Covid-19 itu wujudnya seperti Thanos, mungkin bisa didatangkan Avengers untuk melawannya. Atau tak harus Avengers, Gatotkaca sudah jauh lebih kuat dari Avengers kalau hanya melawan wujud Thanos.

Pada tangan kanan Gatotkaca tersemat ajian Brajamusti, tangan kirinya tersemat Brajadenta. Baru ketemu dan salaman saja Thanos sudah akan meleleh mampus. Oh iya, kalau tidak boleh salaman, baru di tatap oleh Gatotkaca saja, Thanos sudah akan terbakar habis. Itu karena ajian Narantaka. Jauh lebih sangar daripada mata Superman. Ajian yang akan membuat siapapun yang diniatkan oleh Gatotkaca untuk terbakar karena tatapannya, akan langsung terbakar tidak perlu menunggu korek api.

Itu kalau wujud Covid-19 seperti Thanos. Tapi ini lebih nggapleki

Tidak bisa dilawan dengan konfrontasi fisik. Sungguh senjata virus yang luar biasa…

Sebenarnya, penanganannya sudah tepat. Langkah-langkah strategisnya sudah cukup baik. Tetapi masih ada yang kurang. Yaitu pembatasan mobilitas masyarakat, terutama dari Jakarta.

Ayolah, kawasan Jabodetabek harus dilakukan kuncian Jiujitsu. Harus dilakukan lockdown. Eh lockdown, tiba-tiba saja kok sangat populer. Lebih populer dari youtuber koplak yang diprotes para tetangganya itu.

Kenapa? Untuk membatasi penambahan ODP di daerah lain. Ini penting sodara-sodara sebangsa sedunia yang sedang senasib sepenanggungan.

Beberapa waktu terakhir, karena gelombang mobilitas massa yang keluar dari Jakarta, terjadi penambahan ODP sebanyak 1800an orang di Sukabumi. Itu baru Sukabumi.

Di DIY, ada penambahan 1 orang positif dari Jawa Timur, yang baru saja melawat ke Jakarta. Orang itu bepergian ke Jakarta, mampir ke Jogja. Ternyata di Jakarta terpapar, dan terkapar ketika ‘mampir’ di Jogja.

Ini situasi yang sulit, bukan?

Maka akses keluar masuk dari Jabodetabek harus dibatasi. Dikunci. Hanya keluar masuk kendaraan logistik yang bisa, dengan catatan juga harus dilakukan sterilisasi ketika melakukannya.

Untuk mengantisipasi lonjakan ODP di daerah lain, dan juga untuk membatasi penambahan di Jabodetabek sendiri. Jika Jabodetabek di kunci, maka daerah lain tinggal fokus untuk menyelesaikan masalah yang sudah ada.

Memang tidak sesederhana itu, tetapi perlu dilakukan.

Mungkin saja Korea Selatan tanpa lockdown tetap bisa menangani wabah ini, tetapi itu dengan catatan khusus dan garis tebal. Karena masyarakatnya disiplin. Lha kita? Ada yang sudah disuruh isolasi mandiri saja malah keluar rumah dan ‘rewang’ membantu hajatan di rumah tetangganya. Walhasil, hampir semua tetangganya kemudian ikut terpapar.

Mungkin lockdown adalah solusi terakhir yang pahit. Tetapi jika mulai saat ini dilakukan lockdown untuk satu wilayah saja, imbasnya tak akan separah jika harus dilakukan secara nasional. Untuk meminimalisir dampak buruk, juga untuk mempercepat penyembuhan.

Bayangkan jika keluar masuk Jabodetabek masih tetap bebas seperti sekarang ini, dan tetap terjadi selama beberapa hari ke depan. Kita tak mau membayangkannya, maka segera harus dilakukan langkah yang lebih ‘ekstrem’. Lakukan kuncian Jiujitsu. Jika Jabodetabek adalah kaki dari Indonesia, maka kaki ini sementara harus dikunci. Agar tak bisa kemana-mana, dan sementara tidak menambah sebaran virus di daerah lain.

Secara teknis, pemerintah pusat dan para ahli yang lebih tahu bagaimana baiknya ketika dilakukan lockdown di Jabodetabek. Misalnya saja bagaimana penanganan dan suplai makanan bagi rumah tangga yang menggantungkan penghasilan dengan bekerja yang membutuhkan mobilitas fisik.

Itu tugas pemerintah pusat dan para ahli, tugas saya hanya menyampaikan pendapat dari sudut pandang yang berbeda. Termasuk menyampaikan kegelisahan bahwa pada kenyataannya, banyak kasus positif Covid-19 di daerah adalah impor dari Jabodetabek. Seluruh pasien positif di DIY adalah kasus impor dari Jabodetabek.

Memang Simalakama. Jabodetabek bisa lumpuh. Tetapi itu adalah resiko. Lebih baik sementara melumpuhkan satu bagian, agar bagian lain bisa tetap sehat. Daripada lumpuh seluruhnya?

Tetapi keputusan dan pilihan tetap ada para pucuk pimpinan tertinggi, pada para policy maker. Namun para pucuk pimpinan yang rata-rata kaya raya itu harus memikirkan hal ini :

Jika sampai lumpuh keseluruhan, maka masyarakat luas, khususnya masyarakat dengan penghasilan rendah dan tanpa tabungan, akan menderita. Berbeda dengan mereka, lumpuh keseluruhan pun masih tetap mempunyai banyak tabungan untuk bertahan.

Jangan sampai lumpuh total, dan segera ambil keputusan yang baik dan benar meski terasa pahit.

Sudah ah, saya mau rapat dulu.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *