Lockdown Kampung

Tak disangka, tulisan saya perihal Lockdown wilayah Jabodetabek akhirnya direspon oleh beberapa pihak —halah—. Tetapi bukan oleh pemerintah pusat, melainkan beberapa kampung di Sleman.

Bahkan kampung asal saya Banteran, juga dilakukan lockdown. Tetapi perihal bagaimana mekanismenya, saya kurang paham. Apakah ini benar-benar lockdown, atau hanya mengambil istilah lockdown saja.

Ketika saya hubungi salah satu saudara yang memasang foto spanduk lockdown Banteran, dia juga kurang paham bagaimana maksudnya.

Hanya saja yang jelas, ini adalah sinyal bagi pemerintah pusat dan juga daerah, bahwa masyarakat menginginkan pembatasan itu. Menginginkan lockdown, agar jangan sampai situasi semacam ini berkembang menjadi krisis yang menyengsarakan.

Saran saya sekali lagi, Jabodetabek harus dikunci. Tak ada lagi yang keluar masuk disana secara bebas, kecuali angkutan logistik makanan dan kesehatan. Tidak bisa tidak, dan jangan ditawar.

Sopir bus yang positif Covid-19 di Wonogiri hanya salah satu contoh diantara sekian banyak, yang saya yakin belum terdeteksi. Jangan sampai terus meluas.

Masyarakat sudah menyadari bahaya Covid ini, maka giliran pemerintah yang mengambil langkah tegas serta jelas. Kalau hanya sekadar HIMBAUAN untuk tidak mudik, saya rasa tidak akan efektif. Harusnya saat ini sudah bersifat larangan. Harus DILARANG.

Italia dengan jumlah penduduk tak sebanyak Indonesia saja sudah menyerah. Padahal uang mereka lebih banyak. Nanti, kita bisa apa?

Lockdown wilayah harus dilakukan. Pada wilayah-wilayah dengan kasus positif yang tinggi. Kampung-kampung di Sleman sudah memulai dan mengajarinya. Mereka melakukan lockdown dengan cara yang mereka pahami, dan mekanisme yang bisa mereka lakukan. Mungkin kurang ideal, misalnya saja bagaimana dengan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat di dalam kampungnya.

Tetapi yang harus dipahami, sekali lagi bahwa ini hanyalah sinyal permintaan kepada pemerintah untuk melakukan langkah yang harus dilakukan.

Namun juga, itu bukan hanya gurauan. Masyarakat di sekitar kampung saya sudah sedemikian resah, sedemikian takut, dan sedemikian menantikan tindakan tegas dari pemerintah. Bahkan, salah seorang kawan dekat saya yang notabene adalah wong nggleleng, ternyata muntir mentiyung juga menyikapi Covid / Corona.

Semua pemerintah daerah selain Jabodetabek harus tegas untuk menolak semua pendatang yang datang. Khususnya angkutan umum yang membawa penumpang dari Jabodetabek. Mungkin terlihat kejam dan tidak manusiawi. Tetapi ini adalah situasi darurat, tak ada alasan untuk tidak tega jika sudah menyangkut keselamatan lebih banyak nyawa.

Perkaranya tak lagi gampang, karena banyak masyarakat yang berstatus dalam pengawasan, bahkan positif tidak menyadari bahayanya ketika mereka masih bersosialisasi secara fisik dengan orang lain.

Bagi para perantau yang saat ini sedang sangat menggebu ingin pulang kampung. Bersabarlah. Kelak masih ada waktu.

Kalau sekarang anda memaksa untuk pulang, kelak anda tak akan lagi bisa pulang. Kenapa? Karena keluarga dan kerabat anda di kampung berpotensi meninggal dunia jika anda ternyata pulang dengan membawa virus Covid-19.

Kalau sekarang mereka meninggal gara-gara anda, dan ternyata anda tetap hidup, bukankah malah akan merasa merana?

Masalahnya bukanlah perihal mati. Tetapi karena setelah mati tak lantas sekadar mati. Yang mati berpotensi menularkan penyakit itu kepada yang sehat. Efeknya berantai. Sambung menyambung.

Yang harus disadari, jika sudah berstatus Pasien Dalam Pengawasan, Orang Dalam Pengawasan, atau bahkan Positif, tetapi masih nekat melakukan aktifitas di tempat umum, maka secara langsung sudah melakukan pembunuhan berencana.

Karena penyakit ini sangat mudah untuk menular antar manusia.

Jika dengan kesengajaan tetap beraktifitas, padahal ia tahu sudah terpapar, maka tak perlu dalil atau ayat apapun lagi orang-orang tersebut sudah termasuk dzalim.

Perihal pemenuhan bahan pangan pokok jika Jabodetabek dilakukan lockdown, pada masyarakat dan rumah tangga yang langsung terdampak secara ekonomi, tentunya pemerintah sudah lebih tahu. Pos anggaran mana saja yang bisa dialihkan untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok tersebut. Pos anggaran perjalanan dinas pejabat misalnya.

Ayolah, itu jumlahnya sangat banyak, dan masih ada sisa jika hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan pokok rumah tangga terdampak.

Ini mumpung masih belum terlanjur terlalu jauh, meski sebenarnya juga sudah cukup jauh. Tetapi belum ada kata terlambat, sebelum kita benar-benar berada dalam situasi yang lebih sulit.

Bagi anda yang merasa tertekan, tetap tenang. Anda tidak sendirian. Seluruh dunia sedang mengalaminya. Jangan sampai stres, dan jangan sampai berdampak terhadap kesehatan mental anda.

Jangan sampai sakit sebelum terkena penyakit.

Tuhan masih bersama kita.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *