LOMBA KENTUT, SEBUAH USAHA UNTUK MENGANGKAT HARKAT DAN MARTABAT

Gareng diundang sarapan oleh para bendoronya, para keturunan Pandawa. Ada Gatotkaca, Ontoseno, Antareja, Abimanyu, dan juga Wisanggeni. Ketika mendapat telepon, sebenarnya hanya Gareng yang diundang, tetapi karena merasa tidak enak terhadap dua saudaranya, Petruk dan Bagong, maka diajak lah dua saudaranya itu.

“Anu ndoro, saya ajak juga Petruk sama Bagong ya? Kasihan dirumah juga kebetulan ndak punya sarapan.” Kata Gareng meminta, ketika Gatotkaca meneleponnya.

“Iyo ajak sisan rapopo Reng. Bapakmu Semar diajak nek gelem.” Gatot meluluskan permintaan Gareng, bahkan menyuruhnya pula mengajak Semar.

“Anu ndoro, Semar dari semalem belum pulang. Katanya kondangan malam satu suro nan. Petruk sama Bagong saja.”

“Wokeeee Reng, tak tunggu. Ini sudah ada dimas Antarejo, Ontoseno, Abimanyu, juga Wisanggeni.” Gatotkaca hampir menutup teleponnya.

“Walah, si koclok Ontoseno sama Wisanggeni juga ada to.” Bagong terdengar menyahut.

“Huusshh, sama bendoro kok kurangajar to Gong.” Petruk terdengar mengingatkan.

“Wong cen koclok kok.” Bagong ngeyel.

Telepon ditutup, mereka bertiga segera beranjak ke kediaman Gatotkaca.

“Kulonuwun ndoro, Gareng Petruk Bagong kepareng marak sowan.” Gareng uluk salam di depan pintu rumah kediaman Gatotkaca.

“Masuk aja Reng, ga dikunci.” Terdengar Gatotkaca berteriak dari dalam.

Mereka segera beranjak masuk, ruang depan sepi. Segera mereka beranjak ke ruang tengah, di sana sedang duduk semua anak Pandawa yang tadi disebutkan Gatotkaca melalui telepon.

“Wooohhhh idolaque ndoro Raden Ontoseno dan ndoro Raden Wisanggeni, sehat-sehat to den?” Bagong tersenyum lebar sembari menghampiri Ontoseno dan Wisanggeni, mengulurkan tangan mengajak bersalaman.

“Mau ki ono sik ngunekne aku ro kakang Ontoseno koclok je.” (tadi ada yang berkata kalau aku dan Ontoseno koclok je) sahut Wisanggeni.

“Wooohhhh, sinten den? Kulo idak-idak saiki po?” (Siapa den? Saya injak-injak sekarang po orangnya?) tanya Bagong sembari matanya yang sebesar telur bebek belingsatan.

“Cangkemu Gong.” Kata Ontoseno sembari ngeplak kepala Bagong.

“Waduh, rak yo iyung ndoro. Tangan atose koyo cagak listrik kok nggo ngeplak sirah sik lembut ko ngene.” (Waduh, sakit ndoro. Tangan keras seperti tiang listrik kok dipakai memukul kepala yang lembut begini) Bagong mengaduh sembari memegang kepalanya.

Dyar kowe Gong.” Petruk merenges.

“Mulut kok ra aturan.” Ontoseno tergelak.

“Halah sama we.” Bagong melotot ke arah Ontoseno.

“Lhaiyo.” Ontoseno semakin tergelak.

“Wis, ayo makan. Aku lapar.” Abimanyu menengahi.

Mereka beranjak menuju ruang makan. Satu meja berbentuk oval dengan beberapa kursi sudah tertata rapi. Diatasnya sudah tersedia beberapa wadah berisi nasi, sayur, lauk pauk, dan juga tumpukan piring kosong beserta sendoknya.

“Ayo, gek ndang dimakan. Ndak usah malu-malu Reng, Gong, Truk.” Gatotkaca mempersilahkan mereka bertiga.

“Biasanya juga malah malu-maluin.” Gareng nyengenges sembari menempati sebuah kursi.

Mereka bergantian mengambil menu di atas meja. Dari para bendoro, kemudian para abdi dalem kesayangan keluarga Pandawa.
Petruk tiba pada giliran terakhir mengambil,
“Lhah. Sarapan para bendoro ternyata sama kayak sarapan kita biasanya Gong.” Petruk menyeletuk, tertuju kepada Bagong.

“Sama piye Truk?” Bagong menoleh.

“Sama-sama ga ada roti, ga ada susu, ga ada sereal atau apa itu yang cokelat-cokelat..” Petruk menjawab.

Telek cecak Truk?” Gareng menyahut.

“Kalau telek cecak kan dirumah kita banyak.” Bagong ngakak.

“Lha tak kira kalau di rumah Bendoro, orang kaya, kalau sarapan kayak di hotel-hotel itu.” Kata Petruk sembari mengambil nasi, sayur lodeh, dua potong ayam goreng, satu potong tempe, satu potong tahu, perkedel, dan juga kerupuk. Menumpuknya dalam satu piring.

“Haasshhh cerewet to Truk, kari mbadog ae lho. Lagipula, itu kamu ngambilnya kayak mau dipakai kenduri sedekahkan aja.” Gareng melotot ke arah Petruk.

“Yaa mumpung Reng.” Petruk menjawab santai.

“Petruk ki cen cangkem e ra aturan.” Abimanyu menimpali.

“Halah, kita semua ki sebenarnya, satu passion dalam gambleh menggambleh.” Petruk meringis.

Mereka mulai makan. Gareng masih belum tahu ada keperluan apa sebenarnya para bendoro itu menyuruhnya untuk datang. Tapi ia tak peduli, yang penting makan dulu, pikirnya.
Tetapi di tengah acara sarapan yang belum usai, bertepatan dengan Bagong akan menambah nasi, tiba-tiba terdengar suara Wisanggeni,
“Begini lho Reng, Truk, Gong. Maksud kami memanggil kalian kemari…”

“Wah jian. Hambok ya bicaranya nanti dulu, baru juga mau nambah nasi.” Bagong ngedumel.

“Bwehehehehe, maap Gong.” Wisanggeni nyengenges.

“Maap maap.” Bagong mecucu.

“Gimana ndoro?” Gareng menengahi.

“Begini lho, kami ini sedang suntuk. Kalian tahu sendiri kan, perang Baratayudha masih lama. Katanya masih menunggu akses jalan ke Padang Kurukasethra selesai di aspal. Nah, sembari menunggu, kami berencana membuat event lomba.” Wisanggeni melanjutkan kalimatnya yang terpotong oleh Bagong.

“Lomba apa den?” Gareng meminta kejelasan.

“Ya lomba apa gitu. Tapi ga jauh-jauh dari perang dan gelut. Sekalian buat pemanasan dan melemaskan otot kami.” Ontoseno mengutarakan maksud mereka.

“Owalaaahhh. Sudah damai adem ayem kok malah pengen gelut,” Bagong menukas sembari mengambil sepotong paha ayam goreng, “lha terus pesertanya?”

“Ya bebas, yang penting kami ikut.” Antareja yang sedari tadi lebih banyak diam, ikut berbicara.

“Haaaaa ngawuuurrrrrr.” Gareng menukas cepat perkataan Antareja.

“Ngawur gimana to Reng?” Antareja meminta penjelasan.

“Haaaaa ya jelas ngawur to. Kalau urusan gelut sama perang, siapapun juga ga bakal bisa ngungkuli raden-raden ini. Haaambok berani taruhan kalau ada yang ndaptar.” Gareng mengambil tiga potong mendoan sekaligus dan menaruh di piringnya yang sudah kosong.

“Ho oh ngawur.” Bagong ikut menimpali.

“Jelas waton.” Petruk menyahut.

“Ra cetho.” Bagong kembali menyahut.

“Pelecehan.” Petruk mencomot dua potong tahu isi.

“Ngawur banget.” Ontoseno ikut berkomentar.

“Welah. Itu kan idemu to Kang?” Kata Wisanggeni sembari menoleh ke arah Ontoseno.

“Hehehehe.” Ontoseno meringis memperlihatkan barisan gigi putihnya. Tak terlihat kalau gigi putih bersih itu bisa membuat putus kawat baja jika dipakai untuk menggigit.

“Lomba yang lain aja.” Petruk menawarkan solusi.

“Lomba apa Truk?” Gatotkaca ikut urun rembug.

“Ya pokoknya yang ga terlalu berhubungan sama ketangkasan berperang, atau kaprawiran senopati perang gitu. Kalau tetap berhubungan sama gelut-gelut, ketangkasan berperang, hambok yakin ga ada yang ikut daftar.” Petruk menjawab kemudian melap mulutnya setelah piringnya kosong dan hanya menyisakan tulang belulang.

“Setuju Truk.” Gareng memperkuat argumen saudaranya.

“Ya sudah, kalian kasih ide.” Wisanggeni yang juga sudah selesai sarapan nampaknya setuju dengan ide Petruk.

“Hambok sudah lomba voli aja, gampang, murah meriah, nanti aku bagian jual tiket sama karcis parkir.” Bagong belum selesai sarapan, diambilnya piring wadah ayam goreng yang masih berisi beberapa potong ayam, melahapnya sendirian.

“Wueh, pendekar, satriyo, lomba kok bola voli. Nanti kita juga dituduh curang. Kakang Gatotkaca sama Kakang Ontoseno kan bisa terbang.” Wisanggeni menukas, menolak usul Bagong.

“Waaahhhh iyo, kuwi iso mabur je. Gagal proyek tiket.” Lirih Bagong berkata.

“Sepakbola?” Abimanyu memberi usul.

“Wah jian. Satriyo kok pemikirannya mainstream. Sepakbola sudah terlalu umum den. Lagian, musuh juga ga mau beradu dengkul lawan sampeyan.” Petruk menolak.

“Nganu, lomba mancing.” Gareng usul.

“Haaa ndak bisa. Kakang Antareja kan dari trah ikan, nanti kami juara, dianggap curang juga.” Ontoseno menolak.

Hening, semua nampak berpikir. Hanya Bagong yang masih asyik dengan ayam gorengnya.
Gatotkaca menyulut kretek, disusul Ontoseno yang juga melinting tembakau, dan Wisanggeni mulai menata tembakau pada pipa cangklongnya.

“Minta rokoknya den, biar encer mikirnya.” Gareng mengambil bungkus rokok milik Gatotkaca, mengambil sebatang, dan menyulutnya.

“Begini saja,” Petruk nampak akan memberi usul, sembari tangannya meraih bungkus rokok milik Abimanyu, “lomba ngentut.”

Wegh. Lomba kok ngentut. Waras Truk?” Gatotkaca menunjukkan raut wajah bergidik.

“Welah. Begini den,” Petruk menyulut sebatang rokok, dan melanjutkan “semua orang bisa kentut. Lagipula, kentut selama ini dianggap sebagai sebuah perbuatan yang kurang sopan. Padahal, kentut adalah sebuah hakikat kesehatan manusia. Ndak bisa kentut, mampus kan. Dengan melombakan kentut, dan digelar oleh para ksatria, diharapkan nantinya kentut tidak lagi dianggap sebagai perbuatan nista, agak naik pangkat dan derajatnya.”

“Lhaaa mosok ngentut Truk. Trus cara melombakannya gimana?” Bagong bertanya setelah memasukkan potongan ayam terakhir ke dalam mulut dowernya.

“Begini,” Petruk terlihat serius, “nanti lombanya perorangan maupun beregu, dalam berbagai kategori. Misalnya, estafet kentut, pemenangnya dinilai dari kecepatan dan kesinambungan kentut masing-masing kelompok. Kalau perorangan, nanti bisa dinilai siapa yang kentutnya paling keras atau paling panjang rimanya. Itu contoh saja.” Petruk menjawab lugas.
“Dengan begitu, tidak akan ada seorang pun calon peserta yang merasa akan kalah sebelum bertanding melawan para ksatria. Iya kan? Jujur dan adil, langsung dari dalam perut.”

“Weh, cemerlang.” Ontoseno mengerjap.

“Gimana, raden-raden yang lain?” Petruk menoleh ke arah Gatotkaca, Abimanyu, Antareja dan Wisanggeni.

“Yoohhh.” Hampir berbarengan mereka menjawab.

“Okk. Sekaligus kalian panitianya, segera disiapkan semuanya.” Kata Gatotkaca kepada Gareng, Petruk dan Bagong.

“Siap den.” Hampir berbarengan juga Gareng, Petruk dan Bagong menjawab.

“Yasudah, kami pamit dulu ndoro. Terima kasih sarapannya.” Gareng beranjak berdiri dan berpamitan.

“Besok lagi kalau ngundang sarapan mbok ya menunya jangan kayak gini den, yang agak nglondo. Bendoro kok nyuguh tempe.” Petruk berkata ringan sembari berbalik pergi.

“Iyo den, Petruk bener. Sosis kek, roti, susu.” Bagong ikut menimpali sembari mengambil bungkus rokok milik Abimanyu dan Ontoseno, dan membawanya pergi.
“Ooh koreknya belum.” Tangan Bagong meraih korek milik Wisanggeni.

“Wah jian, nduwe abdi og do kurangajar.” Wisanggeni mendelik, Bagong bergegas menyusul dua saudaranya.
*****
“Nah kan, sebentar lagi kita kaya.” Petruk nyengenges sembari mengisap rokoknya dalam-dalam.

“Kok bisa?” Gareng heran.

“Lhah, pertama kita panitia. Biaya kita semua yang merencanakan dan menganggarkan, termasuk ongkos lelah dan honor panitia, nanti tinggal minta. Kedua, kita buat hadiah buat para juara yang sangat menarik dan luar biasa, terutama untuk juara pertama.” Petruk semakin terlihat semringah.

“Lhah, kok kayaknya bahagia banget Truk?” Bagong melirik.

“Nanti kita buat hadiah untuk juara pertama berupa rumah atau mobil, beserta sejumlah uang pembinaan.” Petruk tertawa keras.

“Lhah kok kayaknya kamu mau jadi peserta trus menang gitu, Truk?” Gareng mengernyit.

“Lhoh, kalian pancen goblog ga ketulungan.” Petruk balas melirik.

“Jelasken.” Kata Gareng dan Bagong berbarengan.

“Lhaaahhh, otak dan pikiran kok tiarap. Nanti kan Semar kita suruh ikut. Kalau menang, dan pasti menang, tidak mungkin kan Semar pakai mobil, atau nempatin rumah baru, atau memakai uang hadiah semuanya. Pasti kan hadiahnya di kasih juga ke kita-kita. Mana mungkin ada orang menang lomba kentut lawan Semar? Hambok mau bendoro-bendoro kita yang sakti-sakti itu, pasti kalah sama kentutnya Semar.” Petruk tertawa semakin keras sampai hidung mancung wagunya bergoyang-goyang.

“Cerdaaaasssss.” Gareng dan Bagong menyusul tertawa keras.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.