LORONG GELAP DAN SEPI

13962652_10207242013117158_8072025424783062386_n

Sebenarnya, bukan hanya sekali ini, atau dalam waktu belakangan ini, aku merasa berjalan seperti dengan mata tertutup. Gelap, dan semuanya serba tak jelas bahkan dalam hanya beberapa langkah ke depan. Tetapi entah mengapa kali ini, seakan kegelapan enggan untuk berbagi ruang dengan barang seberkas cahaya. Sedikit saja, tidak.

 

Tentu, aku tidak akan bercerita mengenai kepedihan, kesedihan, atau mengumbar rasa nelangsa untuk menarik simpati dan rasa kasihan pada para pembaca. Tidak. Lagipula, setiap orang saat ini, mungkin sudah penuh dan sesak oleh kesunyian dalam dada dan diri masing-masing, sudah tergores kepedihan demi kepedihan dalam berbagai sisi kehidupan, sudah terlalu banyak menyesap kesedihan dalam helaan demi helaan napas yang menyiksa untuk tetap bertahan pada kehidupan yang sama sekali tidak ramah.

 

Sama sekali tidak, aku tidak tertarik membagi hal-hal demikian. Tetapi andai berkenan, mari sejenak berjalan-jalan.

 

Begini, pernahkan suatu waktu, pada hari Sabtu, Minggu, atau pada hari-hari yang selama ini kamu kenal untuk menandai pergantian waktu, entah Selasa atau Kamis, kamu duduk di sebuah tebing pada tepi laut, menghadapnya, dan bukan laut yang kamu saksikan tergambar di depan mata?

Kamu menyaksikan warna biru, camar, namun dengan gulungan rasa pedih yang berulang, seakan tanpa jeda dan enggan untuk sejenak saja memberimu kesempatan untuk mengedipkan mata yang terasa perih. Bahkan untuk sejenak saja menghela napas panjang dan dalam untuk menghalau sesak, gulungan pedih dari laut didepanmu enggan memberi waktu dan kesempatan.

 

Pada tiap satuan ukur yang tergambar di matamu, luasnya laut serupa siksa yang membuatmu ingin segera berdiri, beranjak, membalikkan badan dan memerintahkan kaki untuk menjauh berlari, tetapi yang kamu lakukan hanya terdiam, mematung, membisu, menikmati setiap siksa yang bergulung datang dengan napas pendek-pendek tersengal. Kamu ingin kiranya untuk sejenak menahan napas, untuk kemudian menghela serta melepasnya dalam satu tarikan panjang. Tetapi, bahkan menyuruh mata untuk terpejam saja, rasanya sulit bukan main. Kamu tergulung dalam kepedihan demi kepedihan, dalam kenangan kelam yang satu, menuju kenangan gelap berikutnya. Kamu teringat berbagai sebab kenapa tak ada satu pun tempat untuk bersembunyi, teringat tak ada satu pun tangan yang merengkuh dan memeluk bahumu. Bahkan, ketika selama ini kamu selalu menyediakan tempat untuk cerita demi cerita, keluhan demi keluhan, tangisan demi tangisan. Bahkan ketika selama ini kamu selalu menyediakan tangan untuk merengkuh bahu-bahu yang rapuh, menguatkannya, mengusap noda-noda pekat.

 

Aku tak membagi sesak bukan? Aku hanya ingin mengajakmu menuju kesunyian, menuju kesendirian.

 

Kalau pun bukan laut yang menggulungmu, bolehlah kita berpindah menuju kaki gunung yang cukup dingin dan juga masih cukup hijau. Tak terlampau sepi, dengan beberapa kedai yang menjajakan minuman serta makanan. Kamu melangkahkan kaki pada salah satu kedai yang berdekatan dengan terpakirnya kendaraan, memesan segelas minuman, dan beranjak menuju salah satu bangku untuk menunggu. Sebuah bangku panjang dari kayu kamu pilih untuk meletakkan tubuhmu yang memberat oleh penyesalan, sebuah meja kayu tua menolongmu agar tak tersungkur oleh sebab sesal tak mampu lagi tersangga otot-otot lehermu. Pesanan datang, segelas susu segar rasa cokelat tersaji, kamu ingin segera meneguknya, meminumnya, untuk membasahi kerongkonganmu yang tercekat.

 

Segera tanganmu meraihnya, tetapi bukan susu cokelat segar hangat yang tersaji didalamnya. Melainkan rasa sesal untuk semua keangkuhan yang membatasimu mengucapkan sekadar kata maaf, untuk semua kesalahan yang pernah kamu lakukan. Ya, baru kali ini kamu menyadari kalau tak ada lagi yang bisa mendengarkan permintaan maafmu. Kali ini kamu sendiri, benar-benar sendiri, dan menyadari bahwa siksa terberat untuk terus melangkah menjalani kehidupan adalah penyesalan. Dan kini sesal yang memberatkan langkahmu adalah tak adanya kata maaf yang sempat terucapkan untuk menebus kesalahan. Ketika orang yang padanya engkau berhutang kata maaf, tak lagi bisa kamu temui. Tak bisa lagi kamu sekadar menggenggam erat dan hangat tangannya untuk selanjutnya lirih melafalkan kata maaf agar ringan kelak kakimu untuk kembali melangkah.

 

Orang itu tak ada lagi, hanya tinggal kamu dan segelas susu yang sama sekali tak meredakan dahaga, namun semakin membuat kerongkongan tercekat. Tak ada lagi orang yang padanya ingin sekali kamu memohon dan membisikkan kata maaf, hanya tinggal kamu dan bangku kayu panjang dan meja untuk menyandarkan tangan, menjaga kepala tetap tegak karena beban berat yang ada padanya. Tak ada lagi, hanya tinggal kamu, dan segumpal kata maaf yang enggan hilang dan membusuk dalam keabadian.

 

Atau, kamu bukanlah orang yang berhadapan dengan segelas susu. Kamu adalah orang yang tergambar dalam segelas susu. Kamu pergi tanpa pernah sekalipun menyatakan keberatanmu, tanpa pernah sekalipun berbicara, memberitahu suatu hal yang kamu anggap sebagai suatu kesalahan. Kamu pergi dengan siksa berupa hutang pernyataan serta penjelasan. Beban memberatkan bahumu, atas keenggananmu berbicara, atas hal-hal yang kamu merasa keberatan, dan berpendapat bahwa itu adalah kesalahan. Tetapi kamu tak pernah berbicara. Kamu memilih pergi dengan meninggalkan banyak tanda tanya. Tanda tanya yang terus menguarkan sesal dan  kepedihan.

 

Kamu berhutang untuk melepaskan siksa pada orang yang kamu tinggalkan sendirian di kedai minuman. Berhutang untuk menyatakan keberatan.

Tetapi, kini tak ada lagi ruang dan waktu untuk bertemu, dan hanya tinggal sesalmu yang terus bergelayut, memberatkan bahu, menyurutkan langkah untuk terus menapak maju.

 

Aku tak sedang mengajakmu untuk berkunjung pada ruang-ruang kepedihan, bukan? Toh siapakah aku ini. Aku hanya sedikit membuka pintu, dan kamu sendiri yang memutuskan untuk masuk, atau memilih mengabaikannya.

 

Mungkin juga tak perlu jauh-jauh menuju tepi laut pada hari Sabtu atau Minggu. Tak perlu juga jauh-jauh menuju kedai minuman di kaki gunung yang dingin dan penuh pepohonan. Mungkin, cukup di teras rumahmu, dengan segelas teh atau secangkir kopi. Kamu sedang duduk pada sebuah sore yang mendung, dengan gerimis yang tak henti menelisip ruang hampa diantara langit dan bumi, dan kamu saksikan adegan demi adegan bergantian melintas bersahutan dengan suara gerimis dan guntur yang menggelegar. Kamu saksikan ketidakberdayaanmu dihadapan nasib dan takdir yang silih berganti menghujani kepalamu dengan rasa pening dan pusing. Bukannya menghujani dengan rasa bahagia dan tawa, bergantian saja rasa pusing serasa pijat refleksi yang kamu rasa akan mengantar pada rumah sakit jiwa.

 

Kamu merasa tak berdaya, duduk sendiri, sepi, dan bahkan gerimis bukannya membisikan pada telingamu bait dan nada puisi, tetapi menyiksamu dengan perasaan yang enggan hidup namun takut mati.

Bahkan kamu tak tahu apa penyebab dari semua hal yang membuatmu tak lagi bisa menikmati sore yang sedikit mendung dengan hiasan gerimis. Kamu rasa, selama ini semuanya baik-baik saja. Tak ada satu hal pun dalam perbuatan hidupmu yang mengarah dan membuat pada situasi tak menyenangkan. Namun tetap saja, hidup memaksamu memasuki lorong gelap dan sepi. Lorong gelap yang sebenarnya kamu takut bahkan sekadar untuk mendekatinya. Selama hidup kamu mencoba menghindarinya, tak sekalipun ingin memasukinya. Namun tiba-tiba, pada suatu sore yang mendung dengan hiasan gerimis, kamu sudah berada dalam lorong gelap yang menakutkan. Sepi, dan sendiri.

 

Aku tak sedang bercerita, atau membagi cerita. Aku hanya mendengarnya dari riuh rendah pasar, bising terminal, dan juga sepinya stasiun. Aku hanya merangkumnya dari jalanan, trotoar, dan teras rumah tuan puan. Aku melihatnya dari balik meja, belakang kemudi, hati-hati yang sepi.

 

Lorong gelap dan sepi itu nyata adanya, bahkan ketika kamu memasukinya dengan bergandengan tangan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

12 Comments

  1. Thank you for every one of your hard work on this web page. My aunt really likes making time for investigations and it’s really obvious why. Most of us learn all of the lively mode you offer precious suggestions through this web site and even increase participation from some other people on the matter so our favorite girl is now learning a lot of things. Take advantage of the rest of the year. You are always doing a really great job.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *