MADING, ANTARA ISI DAN KEMASAN

Mading, Hari Pahlawan.

Ketika anak-anak libur setelah ujian semester 1 kemarin, iseng saya berkeliling madrasah, dari satu kelas ke kelas lain. Penasaran apa yang diperbuat oleh anak-anak di dalam kelas mereka. Ternyata, ya masih hampir sama dengan sekira dua puluh tahun yang lalu. Anda tahu lah ya, meja kursi penuh coretan. Haaa

Sampai di pojokan, pada gedung baru yang katanya angker, saya berhenti ketika melihat sesuatu yang dulu sangat saya sukai (ketika bersekolah). Mading, majalah dinding.

Dulu, setiap ada mading yang dirilis oleh OSIS, saya selalu menyempatkan untuk melihat dan membaca isinya. Dan saya selalu terpukau. Mereka, anggota OSIS yang membuat mading itu, adalah orang-orang luar biasa bagi saya. Di luar kesibukannya dengan pelajaran seperti saya dan murid yang lain, mereka masih sempat menulis, membuat mading. Yang paling saya sukai dari mading adalah cerpen, kalau tidak ya humor pendek. Rasanya, ingin ikut terlibat di dalamnya. Tetapi ya bagaimana mungkin, terlibat dalam mading berarti harus menjadi anggota OSIS, dan menjadi anggota OSIS berarti haruslah murid-murid cerdik pandai dan terpilih. Sedangkan saya, … sudahlah.

Tema mading kali ini adalah Hari Pahlawan. Berarti saya sudah terlambat lebih dari satu bulan ketika kemarin membacanya. Mading dibuat per kelas, dan dilombakan. Aneka kertas warna warni dan desain ciamik menarik perhatian saya untuk mendekat dan melihatnya satu per satu.

meriah, warna-warni.

Saya tidak tahu dari sekian mading itu, mana yang kemarin menjadi juaranya. Apalagi tentang bagaimana kriteria penilaian untuk menentukan juara, saya sama sekali tidak tahu. Saya ini hanya staf tata usaha, tidak berkompeten untuk ikut terlibat menilai dan berkomentar banyak dalam karya-karya hebat demikian itu.

Satu per satu saya baca isi dari mading yang ada, setelah menyelesaikan melihat desain dan tata letak tulisan di dalamnya. Untuk desain, saya kira anak jaman sekarang memang lebih kreatif dan berani. Mereka berani mengambil resiko untuk keluar dari zona ‘dinding’, dengan membuat mading yang saya yakin tidak bisa dimuat di dinding.

Banyak yang bagus dari desain mading buatan mereka.

yakin ini tak bisa ditempel di dinding.

Tetapi begitu melihat isi dan tulisan di dalamnya…

Seragam

Beberapa mading itu mengangkat artikel utama mengenai Pattimura. Ya, pahlawan perjuangan yang paling setia menemani saya (di dalam saku ataupun dompet).

Dari beberapa mading yang mengangkat tema artikel utama mengenai Pattimura, hampir semuanya hanya mengulas mengenai sejarah singkat kehidupannya. Perihal nama lengkap, tempat dimana ia lahir, dan juga keberanian mengusir penjajah. Tak ada yang membahas dan menulis mengenai latar belakang mengapa Pattimura bersikukuh berseberangan dengan Belanda (VOC).

Yang lebih membuat saya heran, isi mengenai Pattimura itu hampir sama dalam kalimat dan kata, dari satu mading ke mading yang lainnya. Sumbernya, saya kira hampir sama. Entah dari internet, atau dari buku pelajaran sejarah.

Isi dari mading-mading tersebut juga kurang memuat tema atau isu yang layak diangkat dalam kisah kepahlawanan kontemporer. Misalnya saja mengenai pahlawan anti bullying di madrasah, atau bagaimana secara detail menarasikan peran pahlawan dalam diri dan kehidupan generasi muda.

Selain Pattimura, tema yang diangkat adalah sejarah Hari Pahlawan. Tanggal 10 November, Hotel Yamato, Surabaya. Isi dan penyampaiannya hampir sama. Seperti ketika menulis Pattimura, saya yakin itu juga dari sumber yang sama. Harusnya, itu menjadi semacam koreksi panitia, untuk memberi penilaian dan evaluasi pada lomba-lomba mading yang akan datang.

Tetapi saya juga maklum saja. Sudah mau menulis dan membuat mading, bagi saya mereka sudah luar biasa. Ketika seusia mereka, membuat mading hanya sebatas angan bagi saya, seperti yang sudah disampaikan di atas.

Yang perlu sedikit diberikan perhatian mungkin adalah mengenai minat baca anak-anak terhadap buku dan sumber bacaan. Seperti yang sudah lazim diketahui, membaca adalah asupan utama dalam tulis menulis. Menyediakan bahan bacaan yang berkualitas, dan membuat gerakan literasi di madrasah tidak hanya berhenti sekadar pada jargon, adalah pekerjaan selanjutnya agar anak-anak meningkat dalam isi serta muatan tulisan ketika membuat mading atau karya tulis.

Para pembimbing, saya rasa, perlu mengesampingkan ego pribadi ketika menyediakan asupan bacaan bagi anak-anak. Memberi akses seluas mungkin untuk bahan bacaan, sekaligus menyediakan ruang diskusi setelahnya.

Mendampingi, adalah kunci.

Alih-alih melarang dan membatasi, mendampingi jauh lebih efektif bagi perkembangan anak-anak dalam literasi.

Tak ada buku dan bahan bacaan yang buruk, yang ada adalah kurangnya pemahaman dan pengertian terhadap buku. Baik buruk bacaan bukan tergantung pada isi buku tersebut, tetapi sikap setelah membacanya.

Maka, gerakan literasi seharusnya juga adalah gerakan untuk menanam pondasi kuat bagi anak-anak, generasi muda, agar berpandangan serta memiliki pengetahuan luas tanpa mudah terpengaruh, dan tak mudah memberi stereotip ‘sesat’ terhadap yang berseberangan.

Memang bukan tugas yang mudah. Bahkan cenderung sulit. Tetapi kalau menghindari yang terlihat sulit, lantas mengabaikan substansi dan hanya berhenti pada kulit, lantas untuk apa ada lembaga pendidikan formal?

Justru proses sulit untuk membudayakan buku, menjadi gerakan literasi, sehingga anak-anak yang berpotensi terhadap dunia tulis menulis menjadi terasah, adalah jenis proses yang nikmat dan tak ditemui dalam jenis pekerjaan apapun di luar dunia pendidikan.

Tetapi itu tugas guru, tentu saja. Kalau sampai saya yang bodoh ini nanti ikut campur, offside namanya. Bisa disemprit, ditegur, dan mendapat kartu kuning. Tugas saya di madrasah adalah sebagai penonton, dan terkadang sebagai ‘ball boy’. Cukup melihat dari tepi, dan memastikan ketersediaan bola di lapangan agar permainan terus berlanjut.

Laiknya penonton, terkadang saya berteriak, atau memaki ketika ada sesuatu yang dari sudut pandang saya, terlihat kurang tepat.

Yaa seperti ketika saya melihat mading karya anak-anak itu, saya berteriak perihal isi yang kurang menggigit. Berteriak tertahan yang tak pernah saya luapkan. Hanya teriakan yang cukup saya dengar sendiri, oleh karena tak ada cukup amunisi untuk ikut berkecimpung dan memulai evaluasi.

Jika saja ada sedikit ruang untuk berkreasi, saya lebih tertarik untuk mengajak anak-anak itu menulis pada media sosial mereka, men-tag akun media sosial resmi madrasah, dengan tema yang tak terlalu muluk dan jauh dari dunia pendidikan serta usia mereka.

Misalnya saja mengambil tema ;
“Lebih Penting Mengejar Nilai Matematika, Atau Membuang Sampah Pada Tempatnya.”

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

47 Comments

  1. Hello, I think your web site could possibly be having browser compatibility issues.
    Whenever I take a look at your site in Safari, it looks fine however,
    if opening in I.E., it has some overlapping issues.
    I simply wanted to give you a quick heads up!
    Other than that, great website!

  2. Great post. I was checking constantly this blog and I am impressed!
    Extremely useful information particularly the last part 🙂 I care for such info a lot.

    I was seeking this certain information for a very
    long time. Thank you and good luck.

  3. You actually make it appear really easy with your presentation however
    I in finding this topic to be actually something that I believe I might never understand.

    It sort of feels too complex and extremely large for me.
    I’m taking a look ahead in your next publish, I’ll
    attempt to get the dangle of it!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *