Makaroni Dan Es Degan, Sebuah Titik Perdebatan

Mohon maaf sebelumnya, tulisan dibawah ini bukan dari saya langsung, melainkan dari Gareng. Tetapi penulis yang tertera di halaman depan blog tetaplah nama saya, karena Gareng beranggapan bahwa nama saya yang terdiri dari tiga kata tidak akan menyulitkan andai tulisan ini nantinya harus bepergian ke luar negeri. Namanya hanya terdiri dari satu kata, nanti katanya sulit untuk mengurus paspor.

Ah, bedebah betul si Gareng.

Langsung saja.

*****

Gareng
03 November 2020

Dengan terpaksa saya harus menuliskan ini, bukan karena diminta. Tetapi, daripada tulisan ini nantinya terbit di media-media mainstream. Karena jujur saja, saya diminta oleh beberapa media untuk menulis tentang suatu tema yang sedikit sedang ramai belakangan ini. Saya menolak mereka semua. Saya lebih suka tulisan saya terbit pada blog-blog sampah kecil semacam punya teman saya ini, daripada tulisan saya terbit di media besar dengan banyak suntingan dan sensor.

Jadi, meski menulis di blog ini sama dengan artinya bahwa saya tidak dibayar, tetapi saya rela. Daripada saya dibayar, tetapi tulisan saya harus melalui banyak proses editing dan pemotongan disana-sini.

Pendukung Makaroni dan Es Degan sedang berada dalam titik puncak perdebatan, kalau tidak boleh saya katakan itu adalah perselisihan. Masing-masing bersandar pada sudut pandang dan titik penilaian subyektif masing-masing. Oh iya, mohon maaf saya menuliskan Makaroni dengan (M) kapital, dan Es Degan dengan huruf (E) dan (D) kapital. Bukan karena itu adalah plesetan saya untuk dua nama, melainkan bahwa saya menghargai Makaroni dan Es Degan sebagai dua entitas mandiri yang memang layak untuk dihargai.

Pendukung Es Degan berteriak lantang, menghujat, bahwa Makaroni itu tidak menyegarkan sekaligus tidak bisa membasuh dahaga. Sedangkan pendukung Makaroni berkoar bahwa Es Degan tidak bisa dikunyah sebagai suatu camilan.

Lucu, bukan?

Baru sampai satu paragraf saja, menurut saya sudah lucu bukan main.

Pendukung Es Degan menganggap Makaroni tidak bisa berada dalam wadah semacam gelas, untuk kemudian diminum perlahan ketika matahari bersinar terik di siang hari. Pendukung Makaroni menganggap bahwa Es Degan tidak bisa dibuat sebagai suatu camilan sembari menonton drama korea.

Anggapan kedua pihak tentu saja benar, tidak ada yang salah.

Menjadi tidak tepat adalah ketika melihat Makaroni dari sudut pandang Es Degan, dan melihat Es Degan dari sudut pandang Makaroni.

Tentu saja keduanya adalah hal yang berbeda. Seperti yang saya sampaikan diatas, keduanya adalah entitas mandiri. Makaroni ya makaroni, Es Degan ya es degan.

Memperlakukan Makaroni sebagaimana Es Degan, dan begitu pula sebaliknya ; menurut saya adalah hal yang bodoh dan sia-sia.

Tentu saja Makaroni tidak bisa diminum, karena ia bukanlah minuman laiknya Es Degan.
Dan tentu saja Es Degan tidak bisa dibuat camilan sembari menonton drama korea, karena Es Degan bukanlah camilan dalam bentuk padatan.

Maka idealnya, melihat dan menilai keduanya haruslah dari sudut pandang substansial masing-masing. Makaroni dilihat dari sudut pandang camilan, Es Degan dilihat dari sudut pandang minuman menyegarkan.

Perbandingannya tentu saja harus pair to pair, setara.

Membandingkan dan menilai Makaroni misalnya adalah dengan Kacang Goreng.
Membandingkan dan menilai Es Degan misalnya adalah dengan Es Teh.

Perdebatan muncul disebabkan bahwa pendukung keduanya hanya secara sepihak memberikan penilaian, dan kemudian menghakimi salah satunya sebagai sesuatu yang buruk.

Pendukung Makaroni tidak mencoba memahami Es Degan sebagaimana laiknya sesuatu benda cair, sedangkan pendukung Es Degan tidak mencoba untuk memahami Makaroni sebagaimana laiknya benda padat.

Seperti yang sudah saya sampaikan, menilai sesuatu yang cair dari sudut pandang padat (begitu juga sebaliknya), tentu saja tidak akan bisa menghasilkan sesuatu yang obyektif, tepat, terukur, dan sesuai dengan sebagaimana mestinya. Sebagaimana mestinya menurut saya adalah ; tidak memperlakukan Makaroni sebagai sebuah minuman, dan tidak memperlakukan Es Degan sebagai sebuah camilan.

Sampai disini, saya rasa masih ada sebuah kebingungan. Saya maklum, karena saya sendiri juga bingung bagaimana cara menjelaskannya.

Mudahnya begini :

Sebagai suatu camilan, tentu saja Makaroni tidak memahami tentang konsep menyeruput, konsep kesegaran ditenggak tengah siang, atau bahkan konsep sedotan. Karena apa? Karena Makaroni tidak bisa dimakan dengan diseruput menggunakan sedotan.

Begitu juga Es Degan. Ia tidak mengerti mengenai konsep kriuk-kriuk ketika dikunyah, konsep menikmati dengan tangan sembari terkadang menggaruk hidung, atau bahkan konsep jatuh ke lantai tak mengapa asal belum lima menit. Karena Es Degan tentu saja ketika sudah jatuh menetes ke lantai, anda takkan mungkin mengambilnya kembali atau menjilatinya. Benar bukan?

Maka, baik Makaroni ataupun Es Degan mempunyai konsep pemahaman masing-masing mengenai diri mereka. Konsep itu terbentuk, terbangun, dan menjelma menjadi suatu tindakan adalah dengan dipengaruhi banyak faktor.

Faktor-faktor tersebut bisa kita contohkan misalnya saja : faktor geografis, sosial, budaya, dan bahkan juga agama.

Dari faktor geografis misalnya ; pendukung Makaroni di daerah sub tropis semacam Eropa, tentu saja takkan memahami bagaimana segarnya minum Es Degan disiang hari seperti halnya pendukung Es Degan di daerah tropis.
Selain karena di tempat sub tropis seperti Eropa tidak terdapat pohon kelapa yang menghasilkan degan, juga karena tentu saja suhu di Eropa pada siang hari di musim panas pun tidak sepanas siang hari di daerah tropis.

Begitu juga pendukung Es Degan tidak akan memahami bagaimana menikmati Makaroni dengan berbagai bentuk olahan turunannya. Misalnya saja bagaimana kemudian Makaroni bisa diolah menjadi pasta dan dinikmati bersama keluarga di suatu sore hari, semisal di Italia. Pendukung Es Degan tidak akan memahami itu, karena di daerah mereka belum tentu ada makaroni, dan apalagi diolah menjadi pasta..

Baru dari faktor geografis. Bagaimana semisal dari faktor sosial atau budaya?

Pada daerah tropis, tentu saja Es Degan bisa menjadi semacam alat pemersatu bagi berbagai macam manusia, ketika pada suatu terik siang yang panas mereka berkumpul sembari menikmati Es Degan. Tentu saja itu tak ada dalam faktor sosial budaya Makaroni, karena ditempat Makaroni berada, cuaca cenderung dingin. Maka alat pergaulannya adalah pasta makaroni hangat yang dinikmati bersama teman atau keluarga.

Tak perlulah kita sampai pada faktor agama, karena faktor geografis, sosial dan budaya pun sudah cukup secara gamblang menunjukkan bahwa Makaroni dan Es Degan adalah dua entitas yang tidak bisa dibandingkan, dinilai, dan dihadapkan secara langsung, karena keduanya jelas berbeda.

Jadi, mengambil posisi untuk mendukung Makaroni maupun Es Degan sekaligus haruslah memahami posisi mereka, asal muasal mereka, latar belakang, kegunaan dan kepentingan mereka, dan banyak faktor lainnya. Tidak bisa kemudian mengambil posisi mendukung dan kemudian menghujat salah satunya, hanya berdasar pada satu hal atau satu faktor belaka, tanpa memahami bagaimana sebenarnya substansi Makaroni dan Es Degan dalam kehidupan.

Sampai disini kiranya anda pembaca bertambah bingung, maka saya akhiri saja. Sampai jumpa dilain kesempatan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *