Mal Tidak Akan Mematikan Pasar Tradisional

Modernitas seringkali dibentur-benturkan dengan tradisionalitas, dewasa ini.

Yang pertama, seringkali diasosiasikan dengan kemajuan.
Yang kedua, seringkali diasosiasikan dengan ketertinggalan.

Padahal, tak lantas se-kejam itu juga.
Tergantung pada konteks dan situasi bagaimana kita membicarakannya.

Please, selalu berpegang teguh pada satu kata bernama ‘konteks’ ketika kita mendengar suatu kata, atau sepotong kalimat tak utuh.
Biar apah?
Agar kita tak mudah salah paham, tak mudah menelan informasi, tanpa terlebih dahulu mengetahui kebenarannya secara persis, secara utuh.

Siang tadi selepas mengikuti kumpulan trah, perkumpulan tradisionil yang dianggap tak kompatibel dengan gerak jaman, ternyata dalam era modern, era 4.0, mampu menjawab satu masalah pelik yang muncul hanya di jaman ini. Yaitu silaturahmi. Kedekatan, yang tak hanya dekat dalam hubungan darah, dekat dalam dunia maya, tetapi juga dekat di dunia nyata, akrab secara riil dan bisa dibuktikan serta dipetik manfaatnya.

Hidup kumpulan trah!!!

Dari mBantul yang teguh memegang idealismenya perihal ketatnya –kalau tak bisa dikatakan melarang– swalayan modern dalam jaringan (sebut saja Alfaseptember dan Indoseptember), saya menuju kabupaten bebas aktif yang menganut paham lebih liberal, Sleman. Saking liberalnya, bahkan tiga sampai empat swalayan modern berjaringan bisa berdiri dalam satu lokasi tak lebih dari jarak lima puluh meter.
Yang saya heran, kok ormas-ormas fundamentalis agamis yang banyak terdapat di Sleman membiarkan hal ini, membiarkan liberalisasi dan kapitalisasi (haiyaaahhhhh) tumbuh berkembang tak terkendali, dan lebih garang melarang kenduri, eh.

Saya sendiri tidak anti toko-toko modern semacam itu, sama sekali tidak. Saya juga sekali waktu berbelanja di sana, hanya saja sebulan pun tak mesti ganjil sekali, apalagi genap dua kali.
Jika ada yang perlu dibenahi, mungkin adalah kontrol dan pembatasan atas ijin operasional, agar tidak tidak terlihat wagu.
Ya mosok dalam radius lima puluh meter terdapat tiga atau empat toko tersebut, dengan merk sama. Kan ya wagu, dan tidak estetis dalam pandangan mata.

Tujuan saya dari Bantul ke Sleman adalah salah satu mal besar yang mempunyai pasar swalayan modern yang tak kalah besar. Untuk membeli seplastik kopi, dari Excelso.

Hanya di swalayan dalam mal ini, terdapat cukup banyak pilihan jenis kopi dari Excelso, dengan harga yang lebih murah daripada di toko swalayan lain. Selisih harganya bisa mencapai lima ribu rupiah. Bagi saya, lima ribu rupiah berarti dua kali nongkrong di angkringan, atau sepuluh hari mengisi jimpitan ronda. Lumayan kan? Dasar PNS marjinal, lima ribu rupiah saja hitungannya njelimet.

Seusai mendapat kopi Sumatera Mandheling dari Excelso, iseng saya melihat-lihat deret sayur dan buah yang masih berada dalam lantai yang sama. Warna-warna segar yang terpampang membuat saya beranjak menghampiri.
Daannnn…saya sedikit melongo.

Daun kenikir saja dijual di swalayan ini, dengan harga 3.900 rupiah, satu ikat. Satu ikatnya ya kecil saja, satu porsi ukuran makan bagi saya kalau sudah direbus.

Saya bertanya kepada istri, berapa harganya kalau di pasar dekat rumah.
Jawabnya, 2.000 dapat seplastik besar, tanpa ditimbang, bisa untuk makan siang, makan malam, dan sarapan keesokan harinya.

Kenikir membuat saya penasaran, untuk melihat harga sayuran lain. Satu kemasan berisi enam buah tomat, diberi label harga 15.000 rupiah. Saya langsung menggaruk kepala. Rasanya saya salah memilih berkarir sebagai PNS, sehingga melihat harga tomat saja langsung merasa miskin.

Berdekatan dengan tomat, ada sawi putih yang terbujur kaku. Harga per kilonya 12.000 rupiah. Di pasar bisa dapat dua kilo.
Istri keheranan melihat saya kesana kemari melihat aneka sayuran, terutama harganya. Istri saya sudah terlampau sering melihat dan menghadapi tingkah aneh saya, tetapi kali ini mungkin tak hanya aneh, tetapi norak.
Seperti anak kecil yang keheranan mendengar penjual tahu bulat terus mengulang kata-katanya, tanpa lelah, tanpa henti, terus menerus, dan tanpa ada busa di pinggir mulutnya.

Pada sayur-sayur yang saya lihat, tak ada label organik. Label yang seringkali dijadikan dalih oleh bebrapa orang untuk rela membayar lebih mahal atas barang yang sebenarnya sama saja isi dan bentuknya, daripada yang tak berlabel organik.

Berarti sayur-sayur itu, bisa jadi masih bersaudara meski tak kandung, dengan sayur-sayur di pasar tradisional. Kira-kira, bagaimana ya perasaan sayur di pasar tradisional melihat saudaranya dihargai demikian mahal?
Huh, sok jual mahal, kalau ndak laku obral juga. Mungkin begitu.

Boleh saja orang berdalih organik akan lebih aman bagi kesehatan, memperpanjang usia, dan meningkatkan kualitas hidup.
Tetapi saya kasih tahu, sehat atau tidak, panjang usia atau tidak, hidup berkualitas atau tidak,—tidak ditentukan oleh bahan makanan organik—, tetapi oleh takdir dan pikiran dalam menjalani kehidupan.
Ya, takdir, dan juga pikiran.
Banyak juga pemakan bahan makanan organik yang mati saat usia muda, dalam suatu kecelakaan kendaraan. Takdir, kan?

Selain kenikir, tomat, dan sawi putih, masih banyak lagi sayuran lain yang dijual dengan selisih harga sampai dengan 6.000 rupiah daripada harga dipasar tradisional. Brokoli, cabai merah keriting, kangkung, terong dan juga mentimun.

Sampai di sini, saya kira mal dan swalayan modern tidak akan mampu menyingkirkan pasar tradisional, dengan catatan.

Catatan paling tebal adalah perihal konsumennya.

Begini, seringkali konsumen lebih senang mengkonsumsi harga, daripada mengkonsumsi substansi dan isi. Sama-sama tomat, tetapi lebih memilih yang 15.000 rupiah dapat enam daripada dapat seplastik isi tiga belas. Meski juga kembali lagi pada masalah pilihan dan kemantapan hati serta isi dompet ketika memutuskan untuk membeli. Tak ada juga yang melarang untuk membeli barang berharga lebih mahal untuk jenis yang sama. Tetapi saya yakin konsumen yang hobi menawar sampai titik darah penghabisan, akan lebih memilih berbelanja di pasar tradisional. Di swalayan modern, ilmu orasi mereka hanya akan dipandang dingin oleh rak-rak dan label harga.

Baru sampai pada sayur mayur, dan saya rasa tak usah beranjak pada harga pakaian.

Meski jika untuk pakaian, ada kualitas yang memang berbeda dari apa yang dijual dalam mal, dengan yang dijual pada pasar tradisional. Tetapi sekali lagi ini adalah pilihan konsumen itu sendiri.

Harga satu potong baju di dalam mal, bisa dibelikan dua stel baju pada pasar tradisional. Pemaknaan terhadap fungsi menjadi kunci.
Jika memaknai pakaian adalah sebagai penanda bahwa manusia adalah makhluk berbudaya, maka tak usah merisaukan mode dan pergantian trend busana. Tetapi jika memakan trend sudah menjadi kebutuhan utama, ya silahkan saja.

Segmentasi produk di dalam mal dan pasar tradisional tentu saja berbeda. Ada konsumen dan pasar yang jelas berbeda. Semua mempunyai pelanggan masing-masing.
Bagi orang seperti saya, memakai pakaian kelas pasar tradisional sudah cukup adanya. Tetapi bagi beberapa yang lain, mungkin belum merasa berpakaian jika tidak menggunakan busana dengan harga dan merk tertentu.

Saya pun bukannya tak pernah membeli baju di dalam mal, tetapi jika dikatakan harus selalu memakai pakaian yang dibeli di dalam mal, tidak juga. Saya hanya membeli baju di dalam mal, jika saya tak bisa menemukannya di pasar tradisional.

Saya rasa, konsumen busana di pasar tradisional tidak akan secara signfikan bergeser kepada mal dan toko besar modern.
Hal ini dipengaruhi oleh banyak faktor, baik sosial maupun budaya.

Salah satunya adalah keengganan untuk memakai satu pakaian yang sama, dalam beberapa kegiatan atau acara. Maka dibutuhkan beberapa jenis dan model pakaian yang berbeda. Dengan harga dan biaya tertentu, banyak orang masih memilih untuk membelanjakannya menjadi beberapa potong baju di pasar tradisional, daripada satu potong baju di mal.
Berganti pakaian dari satu pengajian ke pengajian berikutnya, dari satu kumpulan RT ke kumpulan RW, dari satu trah ke trah yang lainnya, masih lebih diutamakan daripada memakai satu pakaian mahal yang tak pernah berganti. Apa kata tetangga?
Mosok hari ini memakai pakaian warna hijau itu, keesokan hari masih dengan pakaian hijau itu, lusa masih juga dengan pakaian hijau itu. Apa kata Ferguso nantinya?

Sampai di sini, saya kira, mal tidak mempunyai kemampuan untuk mematikan pasar tradisional. Kecuali kalau pasar tradisionalnya dibakar, itu lain soal.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

19 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.