Manusia Kuat

Manusia Indonesia itu, dalam segala sisi kehidupannya, selalu membuat rusak kalkulator perhitungan para ilmuwan dan ahli.

Maksudnya?

Langsung contoh saja :

Anang adalah seorang pegawai negeri sipil. Gaji dan penghasilannya tiap bulan tak lebih dari 1,5 juta rupiah. Untuk ongkos bensin pergi pulang bekerja, dalam sebulan ia bisa menghabiskan 300 ribu rupiah. Belum lagi kalau dalam sebulan ia banyak bepergian selain bekerja, maka ongkos untuk bensin itu bisa naik menjadi 400 sampai 500 ribu per bulan.

Katakanlah setelah dikurangi untuk ongkos bensin, uangnya tinggal sekira 1 juta rupiah per bulan. Parahnya, si Anang itu juga perokok aktif. Untuk biaya rokok, dalam sebulan ia bisa habiskan 180 sampai 200 ribu rupiah. Belum lagi kalau ia juga ingin jajan dan sekadar membeli baju. Ia bisa habiskan lagi sekira 200 ribu rupiah.

Maka uang 1 juta rupiah dikurangi untuk rokok dan jajan tinggal menyisakan 600 ribu rupiah.
Tetapi sungguh celaka si Anang. Uang 600 ribu rupiah sisa operasionalnya tiap bulan itu sudah harus lagi dikurangi untuk membayar angsuran utang di bank. Angsuran utang sebesar 400 ribu rupiah itu digunakannya untuk membeli sepeda motor.

Jadilah Anang si pegawai negeri sipil itu hanya tinggal mempunyai 200 ribu rupiah. Uang sisa itu sekaligus digunakan sebagai dana cadangan, jika sewaktu-waktu ada hal yang membutuhkan biaya. Misalnya saja jika sewaktu-waktu harus servis kendaraan, atau ada kondangan. Maka dalam tiap akhir bulan sebelum gajian lagi, uangnya terkadang tinggal 20 sampai dengan 50 ribu rupiah.

Dengan penghasilan sebesar itu, maka sewajarnya ia harus berpikir berulang kali untuk katakanlah, menikah. Sebab untuk biaya hidup sehari-harinya sendirian saja, hampir tak ada sisa. Tetapi, senyatanya manusia Indonesia itu tetap saja berani menikah. Itu terjadi pada tahun 2010 yang lalu. Dengan bermodal nekat dan Bismillah, ia berani, dan sampai saat ini masih kuat untuk tegak berdiri.

Tuan dan Puan, itu hanya satu contoh saja dari sekian banyak ‘kenekatan’ lain yang bisa dilakukan oleh manusia bangsa Indonesia. Jika menggunakan kalkulator perhitungan ilmuwan dan para ahli keuangan dunia, tentu saja sikap dan keputusan si Anang untuk menikah dengan penghasilan sebesar itu, sama sekali tidak masuk akal.

Bagaimana ia akan menghidupi istrinya nanti. Bagaimana pula ia akan mampu menyediakan kehidupan yang layak bagi derajat standar kemanusiaan. Bagaimana dengan asuransi, tabungan, dan segala macam biaya yang jelas akan timbul setelah menikah.

Kalkulator perhitungan para ilmuwan dan ahli itu mendadak menjadi rusak.

Manusia Indonesia mempunyai ketahanan untuk bisa hidup ‘sengsara’ dan berada dalam tekanan. Namun tetap dalam kondisi sehat, baik lahir maupun batinnya. Kata kuncinya adalah kebersamaan dan kolektifitas. Boleh diartikan secara harfiah maupun istilah.

Mereka senang berkumpul, untuk kemudian bercanda dan melepaskan segala penat serta beban. Cenderung pintar dan cerdas menertawakan kehidupannya, kesengsaraannya, kemudian diolah menjadi semacam booster penguat. Manusia Indonesia pintar menertawakan dirinya sendiri.

Maka jangan dibandingkan dengan kebanyakan masyarakat Amerika atau Eropa yang individualis. Mereka akan mudah runtuh dan roboh jika sedikit saja terkena tekanan, karena tak ada kolektifitas untuk menyokong kerapuhannya itu. Hampir tak ada masyarakat lain di dunia yang mempunyai kolektifitas solid seperti masyarakat bangsa Indonesia.

Kolektifitas masyarakat Indonesia ini tak bisa digambarkan secara ilmiah. Tetapi para budayawan dan cerdik pandai yang dekat dengan masyarakat bisa menggambarkannya secara apik dan epik dalam narasi panjang. Salah satunya seperti contoh diatas tentang bagaimana seorang pegawai negeri sipil dengan penghasilan pas-pasan berani untuk menikah.

Tentu saja kolektifitas semacam itu juga berlaku dalam skala yang lebih luas. Misalnya saja ketika terjadi bencana.

Pada situasi pasca gempa bumi tahun 2006 di Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam situasi yang masih penuh dengan keprihatinan, beberapa orang kita dapati berani memproduksi anak. Padahal, rumah saja masih dalam kondisi roboh karena gempa. Nekat atau berani? Tak ada yang bisa merumuskan.

Tetapi itu adalah situasi dan kondisi nyata dari mental individual maupun mental sosial bangsa ini. Mereka terlalu tangguh untuk mudah roboh hanya karena hal-hal yang menurut perhitungan mereka, hanya akan berlalu ketika tiba waktunya.

Pun dengan kasus Covid-19 atau Corona ini. Tentu saja akan berlalu dan kita akan bisa menjalaninya dengan tetap kuat dan baik-baik saja. Asalkan kita tak kehilangan jatidiri sebagai sebuah bangsa yang penuh kebersamaan.

Saat ini, kebersamaan dan sinergi antara masyarakat dan pemerintah mutlak dibutuhkan. Untuk bersama-sama menghadapi situasi yang sama sekali tidak menyenangkan ini. Pun dalam waktu yang relatif cukup panjang.

Katakanlah bahwa menurut perhitungan, penanganan awal atas lonjakan penderita Covid bisa membutuhkan waktu sekira 3 bulan. Penanganan atau pemulihan juga bisa mencapai waktu sekira 3 bulan. Maka waktu 6 bulan adalah waktu yang sangat panjang untuk berada dalam situasi tak menyenangkan.

Segala lini kehidupan akan terhantam. Baik ekonomi, sosial, bahkan psikologis manusianya sebagai individu maupun bagian komunal dari negara.

Tetapi sekali lagi, jika sinergi terbangun dengan baik, kita akan mampu melewatinya. Salah satu contoh sinergi itu antara lain dengan mengindahkan anjuran pemerintah, atas langkah-langkah strategis penanganan yang sudah dilakukan. Misalnya, kita ikuti anjuran untuk tak banyak bepergian terlebih dahulu, untuk menekan dan membatasi penyebaran virus tersebut.

Tanpa sinergi dan kerja sama kita sebagai masyarakat, pemerintah takkan bisa menangani situasi semacam ini dengan cepat dan tepat. Jika situasi tak cepat terkendali, imbasnya adalah berbagai macam krisis. Tentu kita tak ingin menjadi bagian yang menyebabkan situasi krisis terjadi di negara kita, bukan?

Secara fisik, kita memang jangan sampai untuk terlebih dahulu bertemu dan bersua muka dengan banyak orang. Tetapi secara psikis, kita tetap bisa saling menguatkan. Sarana dan prasarana kita sudah lebih dari cukup untuk mendukung komunikasi secara daring, secara online. Maka sementara kita lakukan dengan hal itu.

Mental komunal kita jangan sampai runtuh. Jangan sampai juga kita menimbun peralatan medis pribadi dan bahan makanan hanya karena takut yang berlebihan. Jika anda tetap hidup tetapi semua orang di sekitar anda mati karena kelaparan, bagaimana? Menjadi sangat tak menyenangkan, bukan?

Kita tetap harus waspada, cemas juga diperbolehkan dalam skala yang kita masih mampu untuk mengolahnya. Jangan sampai kita menjadi pribadi yang egois, di tengah situasi yang membutuhkan sikap sosial serta kebersamaan.

Kita semua kuat, anda semua kuat.

Tuhan masih bersama kita, Dia belum pergi. Tenang saja.

Salam.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *