Manusia Minimalis

Manfaat hujan-hujanan bagi tubuh

Jika kesuksesan hidup seorang manusia di dunia dinilai dengan menggunakan parameter-parameter sosial maupun budaya yang ada dan berlaku saat ini, sudah pasti saya bukanlah seorang manusia.

Kenapa? Ya karena dengan parameter sosial budaya yang ada saat ini, saya berada jauh dibawah garis kesuksesan. Berada dalam tingkatan urip-uripan. Sekadar hidup saja. Kalau ukuran seorang manusia sukses  dianalogikan seperti klub sepak bola, tentu kita akan menyebut Manchester United, Real Madrid, Barcelona, Bayern Muenchen, Juventus, AC Milan, dan banyak klub lainnya. Itu adalah contoh klub-klub sepakbola yang berada jauh diatas garis kesuksesan, bahkan bisa dikatakan ada dipuncak kesuksesan.
Nah, kalau dianalogikan menggunakan klub sepak bola, mungkin saya ini sekelas Persig Gunungkidul. Pernah dengar?

Mari kita kupas satu per satu, dan nanti akan saya kemukakan alasan mengapa menuliskan hal ini.

Misalnya saja jika menggunakan salah satu parameter :

Ekonomi, atau tingkat kesejahteraan.
Untuk bisa dikatakan sukses tentu saja haruslah mempunyai beberapa rumah, beberapa bidang tanah (bisa sawah, perkebunan, dan atau pekarangan luas), tabungan uang yang cukup untuk diwariskan sampai dengan minimal empat setengah turunan, banyak kendaraan, dan hal-hal materiil lainnya.

Kalaupun hanya mempunyai satu rumah, pasti ya rumah dengan pekarangan luas. Atau rumahnya satu tapi tingkat susun dua puluh tujuh. Ada beberapa kolam renang, helipad, dan garasi yang cukup untuk membuka showroom.

Saya tidak mengada-ada, coba anda tanyakan pada diri sendiri ketika menilai atau melihat orang lain yang masuk dalam kategori sukses secara ekonomi, apa dan bagaimana atau dari hal apa anda menilainya?
Dari sikap dan perilakunya yang baik? Tutur kata dan perbuatannya yang selalu menghormati orang lain?

Haa ya mesti tidak. Mesti ya dinilai dari berapa banyak mempunyai rumah, berapa sering gonta-ganti kendaraan, dan seberapa sering mbayari anda jajan. Mbayari jajan yang tentu saja pakai uang, ga bisa pakai potongan kertas Hvs bekas.

Laiknya klub sepak bola yang dikatakan sukses tentu saja salah satu karena kaya raya, begitu kan parameter saat ini?
Bisa belanja pemain-pemain kelas atas bergaji mahal, mempunyai fasilitas latihan kelas sultan, memiliki stadion dengan kapasitas kelas atas.
Bukan klub sepak bola yang hanya menggaji pemainnya dengan makan bakmi, dan nunut pertandingan di lapangan desa atau kalurahan.

Nah, disitulah saya merasa anu.
Rumah saya yang cuma satu dan satu-satunya itu, masih berstatus ngontrak di BTN. Masih berapa tahun lepas kontrak saya sendiri sampai lupa saking lamanya, bwahahaha.
Dan juga saya tidak akan bisa mempunyai rumah itu, andai dulu Mamak dan Bapak tidak mbayari uang mukanya.

Nah kan, sukses darimana?

Pakai parameter yang lain?
Apa misalnya?

Karir pekerjaan?
Yaelah jangan dulu ngomongin itu, nanti yang ada diketawain ayam se-kecamatan. Bwahahaha.

Karir terbaik saya dalam pekerjaan adalah ketika menjadi CEO rental Play Station. Bukan owner? Pemilik?
Bukan! Saya hanya menjalankan dan mengelolanya. Lha wong pemilik modalnya adalah Bank BPD alias utang. Bwahahaha…

Usaha persewaan Play Station itu menjadi satu-satunya pencapaian paling sukses dalam karir pekerjaan.
Dan itupun tidak berlangsung lama karena pada akhirnya usaha itu ambyar kemudian bangkrut karena beberapa unit dibawa kabur maling.

Ya tentu saja kewajiban ngangsur tetap harus dilakukan. Pemilik atau peminjam modal mana peduli usaha bangkrut karena sebab apa.

Disitulah terkadang saya sungguh mengamini suatu pernyataan : “urip kuwi ming dagelan, nek ora dagelan yo tangisan“.

Kesuksesan hidup kalau dinilai menggunakan parameter karir pekerjaan, ya tentu saja ada capaian-capaian fenomenal dan spektakuler. Menjadi pejabat atau mempunyai jabatan dalam sekian tahun bekerja, mempunyai banyak cabang dalam sekian waktu berbisnis atau mempunyai usaha, dan segala hal lain semacam itu.

Iya po gak?
Iya saja.
Saya yakin sebagian besar dari
anda kita melihat dan menilainya seperti itu.

Tidak mungkin anda menilai seseorang yang misalnya sudah bekerja selama lima belas tahun tetapi sampai saat ini hanya menjadi tukang ketik sebagai seorang yang sukses dalam karir pekerjaan. Ya to?

Sama juga ketika melihat klub sepak bola. Persig Gunungkidul tidak pernah mencapai level kompetisi bahkan jika hanya Divisi 1 Liga Nasional, mosok sukses?

Eeemmm, pakai parameter apa lagi?
Kesuksesan dalam pendidikan formal?

Saya hanya sarjana. Bukan lulusan pasca sarjana, apalagi doktoral. Hanya S1. Bukan S2 apalagi S3.

Bukan pula lulusan kampus mentereng di negeri ini. Hanya lulusan dari sebuah prodi sangat umum di jurusan yang juga sangat umum, pada sebuah perguruan tinggi milik keluarga keturunan Panembahan Senopati.

Dimana letak suksesnya?

Maka terkadang saya heran jika masih ada saja orang yang merasa iri, dan apalagi menganggap saya sok-sokan. Apalagi kok sampai mengatakan saya dumeh [sombong, angkuh]. Apa yang bisa saya sombong kan?
Modal apa kok saya sampai angkuh?

Kalau saya kaya raya, punya tanah luas,  banyak rumah tidak hanya satu, tabungan yang cukup untuk beli 10% saham bank BCA, dan kemudian saya pamer, umuk, mengumumkannya lewat speaker masjid setiap pagi, boleh lah anda menilai saya sombong.
Lha ini, banyak utang saja mosok mau saya sombong kan?
Rumah satu belum lunas saja mosok saya pamerkan?

Haa mbok yaaa, jangan kebangetan kalau mau nuduh sombong.

Atau saya pejabat, lantas gaya saya selangit sembilan sampai kemudian lupa bahwa saya pernah juga jadi staf, sak geleme dewe terhadap bawahan, tidak bisa kerja tapi nyuruh bawahan saya kerja keras, maka boleh saja anda kemudian menuduh saya angkuh. Silahkan kalau memang saya begitu.
Lha ini, saya ini punya apa dan bisa apa dalam karir pekerjaan?

Saya ini cuma batur, nunut hidup nyusu menthil negara, mau dumeh apa?
Dumeh yang bagaimana?

Saya ini hanya pegawai pelaksana pada tingkat paling bawah. Dengan kemampuan berpikir dan olah teknis pas-pasan. Bisa dumeh apa saya dalam pekerjaan?

Beda dengan banyak kolega-kolega saya yang sangat cerdas dan mumpuni dalam menguasai bidang pekerjaannya, berdaya dan berhasil guna pada lingkup pekerjaannya dan juga masyarakat luas, menjadi penentu dan penyokong utama sukses tidaknya suatu lembaga atau kantor dalam menjalankan tugas fungsinya.
Haa nek saya?

Mosok ya tega bilang saya sombong? Angkuh? Dumeh?
Coba sekali-kali jadi atasan saya, dan berikan saya surat tugas untuk nyemplung sumur. Pasti saya akan melakukannya.
Karena apa?
Karena saya sadar diri, sadar posisi, sadar situasi bahwa saya ini bukan siapa-siapa, tidak mempunyai jabatan apa-apa, dalam lingkup dan lingkungan yang saya tidak punya teman apalagi saudara.

Dumeh apanya….sedih saya……

Atau kalau saya ini misalnya saja lulusan S3, doktor, yang berpengetahuan luas dan kemudian lantas tiap kali diskusi tidak mau menerima pendapat orang lain karena merasa paling pintar dan paling tahu segala sesuatu. Anda boleh saja mengatakan saya sombong, angkuh, dumeh doktor atau profesor. Silahkan saja.

Lha saya ini lulus S1 saja menggeh-menggeh, terengah-engah, hampir meletus isi otak dan apalagi isi dompet, haa kok….masih tega ngatain ngalor ngidul ngetan ngulon padahal saya enak-enak tidur.
Monyet saja saya salami kalau ketemu asal tidak nyathek atau mbrakot, apalagi manusia. Saya berusaha mencium tangan manusia kalau bersalaman, merendahkan diri serendah mungkin karena selalu ada prasangka bahwa diri saya paling tidak baik, sedang manusia lain pasti lebih baik. Maka saya menghormati dan selalu merendahkan diri.

Tapi ya tak mengapa kalau tetap ditendangi. Sebagai manusia minimalis saya sudah terbiasa untuk menerima fitnah-fitnah. Sudah terbentuk untuk memaafkan dan memaklumi semua makhluk. Dan sudah diberikan semacam software penawar untuk otomatis tidak menyimpan dendam ketika diinjak dan berusaha dilecehkan.

Hanya saja, terkadang seperti ini ; “Trimo aku, tapi ra trimo sik momong”.

Kalau itu, diluar kuasa saya…

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *