Masih Berpuasa Media Sosial

Ilustrasi. Gambar : Pixabay

Per tanggal hari ini [26/08/2019], tepat empat bulan lebih dua belas hari saya berpuasa media sosial. Lepas dari Facebook yang sudah menghiasi layar hape semenjak tahun 2009, dan lepas dari Instagram yang membuat kadar narsis saya meningkat tajam semenjak tahun 2014.

Tak dapat dipungkiri, dua platform media sosial tersebut yang paling sering saya gunakan, dan paling sering membuat saya merasa seperti artis yang gila publisitas.

Saya kira pada awalnya akan terasa berat, ketika memutuskan meninggalkan media sosial. Mematikan sementara akun pada keduanya. Dimulai tanggal 14 April 2019. Beberapa hari menjelang pemilu yang menurut saya tensinya agak-agak ‘menjijikkan’ itu. Tensi dari para pendukungnya, yang buta dan gelap mata asal dukung dan asal bunyi menyuarakan pendapatnya.

Nah, beranda Facebook saya penuh dengan sampah semacam itu. Sampah kampanye yang cenderung ngawur tanpa etika. Maka saya yang lemah lembut dan perasa ini menjadi jengah, kemudian memutuskan mematikan sementara akun media sosial.

Tetapi setelah empat bulan berlalu, nyatanya saya menjadi lebih sehat. Sungguh, saya benar-benar merasa lebih sehat. Berniat untuk menghindari hingar bingar pemilu, saya mendapat banyak hal lain yang bermanfaat. Diantaranya, saya hampir bebas dan lepas dari virus bernama pamer. Virus yang merangsang syaraf untuk terus menerus pamer dan mengabarkan kegiatan yang sedang dilakukan. Bahkan jika itu hanya sekadar kegiatan makan, minum, dan ngising atau buang air besar.

Bebas dari media sosial

Apa yang mungkin sudah disadari oleh pengguna media sosial, namun kebanyakan dari mereka mengabaikannya, adalah perihal hilangnya privasi. Semuanya menjadi terbuka, dan semua orang tahu dengan apa yang kita lakukan.

Sudah banyak kejadian, bahwa media sosial menjadi semacam pintu masuk bagi kerawanan sosial dan kejahatan. Kita mengabarkan sedang berada dimana, rumah kita kemalingan.

Saya tak sedang mengajak anda untuk meninggalkan media sosial, sama sekali tidak. Media sosial tentu saja juga mengandung banyak menafaat, dan melahirkan banyak kemudahan. Tetapi dengan catatan ; bahwa ia digunakan secara proporsional.

Bukan sekadar untuk pamer dan mengabarkan hal-hal tak penting. Bukan juga untuk memancing konflik, seperti saat pemilu yang telah lalu.

Berkonflik di media sosial itu sama sekali tidak nyaman. Lebih baik langsung bertemu dan berkelahi daripada sekadar beradu argumentasi yang mengabaikan nilai-nilai obyektifitas.

Beradu argumentasi di media sosial juga bukan sesuatu yang salah, asalkan masih berpegang pada nilai dasar ; mengedepankan ‘apa yang benar’, dan bukan ‘siapa yang benar’.

Dan bebas dari media sosial, membuat saya merasa ‘aman’ serta nyaman. Aman dari diri saya sendiri, dan juga orang lain.

Saya tak terpancing untuk banyak mengabarkan perihal aktifitas yang saya lakukan. Dengan demikian, saya masih terjaga untuk menjadi ‘misterius’, dan tak menjadi makhluk obralan.

Makhluk obralan adalah adalah sejenis makhluk yang mengobral dirinya untuk menjadi konsumsi masyarakat banyak. Dengan catatan, konsumsinya dalam hal-hal yang tidak penting serta tidak mengandung banyak manfaat.

Ah, tapi ya tak mengapa juga, kan?
Bukankah saat ini yang menjadi buruan adalah barang obralan dan diskonan? ahahaha….

Kekurangan berpuasa media sosial

Bagi anda yang berpuasa media sosial seperti saya, tentu juga merasakan kekurangan dan kelemahannya.

Segala sesuatu di dunia ini mengandung dua hal sekaligus dan satu dirinya. Kalau ada kelebihan, pasti ada kekurangan. Selalu seperti itu.

Takkan mungkin ada satu hal yang hanya mengandung kelebihan saja, atau mengandung kelemahan saja. Pasti ada dua hal tersebut, yang saling berkelindan melingkupi.

Saya merasakan kekurangan terbesar dari berpuasa media sosial adalah ; kekurangan informasi.

Padahal, ini adalah era dari arus informasi yang terbuka lebar. Dan saya ketinggalan daripadanya.

Saya tidak tahu kejadian di sekitar kehidupan saya. Sungguh-sungguh ketinggalan informasi. Banyak hal serta kejadian yang terlewatkan. Salah satunya kabar yang menyatakan kalau dua kubu yang bersitegang ketika pemilu sudah melakukan rekonsiliasi.

Saya tidak tahu kalau tokoh sentralnya sudah saling bertemu, sudah saling berpelukan, dan sudah saling berkomitmen untuk mulai mmeikirkan dan mengedepankan kepentingan masyarakat luas.

Ah ya, menjadi semacam katak dalam tempurung.

Seperti itu juga yang saya rasakan, perihal kekurangan dari berpuasa media sosial.

Saya menjadi sering terkena macet dijalanan, ketika lewat di daerah perkotaan. Dulu dari grup publik Facebook Info Cegatan Jogja [ICJ], saya menjadi tahu informasi, utamanya mengenai lalu lintas. Daerah mana saja yang sedang padat, dan kemudian mencari alternatif jalan lain agar perjalanan tidak tersendat. Namun kini saya terkadang harus ikut macet-macetan, karena ketinggalan informasi.

Bersyukur

Apapun itu, mengenai kekurangan maupun kelebihan, saya semestinya harus banyak bersyukur. Karena saya masih bisa memilih dan menentukan jalan hidup saya sendiri.

Perihal berpuasa media sosial itu, juga adalah pilihan. Saya memilih untuk menjauh, sementara berpuasa.

Saya bisa memilih untuk sementara menjauh dari media sosial, dan bisa memilih aktif kembali jika suatu saat menginginkannya. Saya tak harus terbelenggu keharusan untuk terus menerus berada dalam salah satunya. Tak harus selamanya berpuasa, pun tak harus terus menerus menggunakannya.

Bukankah salah satu nikmat yang untuk mencapainya membutuhkan perjuangan dan pengorbanan, adalah kemerdekaan?

Dan menjadi manusia merdeka, yang bisa menentukan jalan hidup serta melangkahkan kaki kemanapun menginginkannya, adalah nikmat yang tak terkira.

Saya rasa, memulai bersyukur adalah dari hal paling kecil dan sederhana, termasuk mensyukuri rasa merdeka.

Salam.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *