Melawan Arus

Salah seorang yang saya akui sebagai guru —dari sedikit orang yang saya akui sebagai guru—, pernah berkata :

“Hidup itu jangan mengikuti arus, tetapi melawan arus.”

Ikan yang sehat adalah ikan yang berenang dengan melawan arus. Kalau ikan sudah mengikuti arus, berarti ia sudah mati, lanjutnya.

Degh, benar juga.

Seketika setelah beliau mengatakan itu, konsep dan prinsip saya dalam menjalani hidup menjadi terganggu. Sebelumnya, saya selalu memegang prinsip, atau menggenggam suatu keyakinan perihal hidup : “Bahwa hidup itu mengalir, mengikuti arus.”

Ternyata prinsip yang saya yakini itu mengandung suatu kekeliruan kecil, atau kalau boleh dikatakan, mempunyai kekurangan.

Ada dimensi dalam diri manusia, yang seharusnya terbagi atau dibagi untuk masing-masing jalan. Jalan yang pertama adalah melawan arus, jalan yang kedua adalah mengikuti arus. Dimensi dalam diri manusia yang harus dibagi untuk menjalani dua jalan tersebut adalah : akal dan hati. Dimensi satu lagi dalam diri manusia yaitu syahwat, akan menjadi panglima dari keduanya. Menyeimbangkan keduanya, menjadi pembeda dan pembatas kemakhlukan manusia.

Akal manusia untuk melawan arus. Hati manusia untuk mengikuti arus.

Kedua jalan, maupun kedua dimensi dalam diri manusia itu, bersifat dialektis. Saling melengkapi, dan harus saling mempengaruhi satu sama lain.

Apa yang dikatakan guru saya itu benar adanya, namun toh tetap perlu penambahan. Manusia tak harus selalu melawan arus. Begitu juga manusia tak boleh selalu mengikuti arus.

-Terkadang manusia harus melawan arus, dengan akalnya.

-Terkadang manusia harus mengikuti arus, dengan hatinya.

Pada keduanya, syahwat manusia harus mengatur kadar perlawanan, atau kadar kepasrahan.

Untuk sesuatu yang belum terjadi, manusia harus mengusahakan, harus melawan, harus berjuang, untuk kehidupannya.

Untuk sesuatu yang sudah terjadi dan ditetapkan Tuhan, manusia harus menerima, demi kehidupannya.

Apa yang saya katakan dan tuliskan tentu saja tak mesti benar. Kebenaran bersifat relatif, dan tentu saja berbeda implementasinya pada masing-masing manusia. Hanya saja, kebenaran menurut versi manusia itu harus selaras dengan spektrum yang sudah dipancarkan oleh Tuhan.

Jadi yang dikerjakannya, selaras dengan kehendak Tuhan atas dirinya di dunia.

Sederhana saja, tetapi untuk melakukannya, butuh daya dan upaya yang melebihi nilai materi apapun di dunia.

Untuk mengupayakan rejeki di dalam hidupnya, manusia harus melawan arus. Harus keras dalam berjuang, dan tak boleh berpangku tangan.
Berusaha sekeras dan semampu dirinya, dalam upaya yang optimal, dengan menggunakan akal.

Nanti, seberapa hasil yang didapat, apapun bentuknya, hati harus menerima. Sejumlah atau seperti itulah yang Tuhan berikan. Hati harus dengan lapang menerimanya, mengalirkannya dalam arus kehidupan.

Tak ada satu hal pun dalam hidup manusia yang tak bersifat dialektika.

Semuanya bersifat dialektis, saling bersangkut bersinggungan.

Hidup yang terasa sulit adalah hidup yang tidak didasarkan pada pengetahuan untuk kapan harus melawan, dan kapan harus mengalir.

Pada semua yang belum terjadi, manusia wajib mengusahakannya. Pada semua yang sudah terjadi, manusia wajib menerimanya.

Tuhan selalu ridho pada manusia.
Nah, manusia yang terkadang tidak ridho kepada Tuhan-nya.

Tuhan selalu mengganjar manusia dengan sesuatu yang berguna dan bermanfaat, atas usaha yang mereka lakukan. Atas perlawanan yang mereka upayakan. Namun terkadang manusia enggan menerima sesuatu yang diberikan oleh Tuhan tersebut.

Bisa jadi karena tidak sesuai dengan keinginan, atau bisa jadi karena manusia selalu memandang sesuatu dalam dimensi materi.

Padahal, tak mesti pemberian Tuhan itu bersifat materi. Bisa jadi terkadang pemberian Tuhan adalah sesuatu yang immateri. Sesuatu yang tak bisa diukur dengan nilai-nilai kebendaan.

Bisa jadi kemampuan manusia untuk melawan itu, untuk berusaha itu sendiri, sudah merupakan anugerah dan pemberian Tuhan yang tak mesti diberikan pada semua orang.

Kira-kira menurut saya, demikian.

Tentu tidak mutlak, dan layak diperdebatkan.

Tetapi setidaknya apa yang saya katakan dan tuliskan, saya sendiri menjalaninya. Tak hanya asal tulis dan asal kata.

Terkadang saya melawan hal-hal yang menurut saya tidak sesuai. Terkadang saya menerimanya.
Hanya terkadang, syahwat saya kurang bisa menyeimbangkan keduanya.

Terkadang lebih banyak akal yang bekerja.
Terkadang lebih banyak hati yang bekerja.

Pada keduanya saya masih terlampau sering luput untuk menyeimbangkan.

Sehingga terkadang saya terus menerus melawan, padahal sudah harus sampai pada tahapan untuk menerima.
Terkadang saya terus menerus menerima, padahal itu adalah waktunya untuk melawan.

Eh iya mungkin ada yang heran kenapa saya ikut dalam aliran yang menempatkan syahwat sebagai panglima? Sebagai penengah, sebagai penyeimbang?

Kenapa saya tidak menempatkan hati sebagai panglima? Sebagai inti dari dimensi penyokong hidup manusia? Atau kenapa bukan akal?

Kenapa harus manajemen syahwat? Bukan manajemen hati? Bukan manajemen akal?

Sebab hati manusia terlalu rapuh.
Akal manusia terlampau liar.

Pada kenyataannya manusia hanya akan mampu mengendalikan syahwat, bukan akal atau hatinya.

Silahkan percaya.
Tidak percaya?

Yasudah.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

409 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *