Melawan Kebosanan Dengan Kemalasan

Artinya apah?
Ga ada artinya, asal tulis saja, ndak sah lanjutin baca. Sia-sia, unfaedah.

Banyak orang sudah mulai bosan di rumah. Jalan mulai ramai kembali, setelah sempat sepi beberapa waktu yang lalu.

Wajar saja, karena memang sesuatu yang berlangsung terus menerus, intens, tanpa putus, akan menimbulkan kebosanan. Pun jika itu adalah hal yang disukai.

Berada di rumah, pada skala normal tanpa kejadian pandemi seperti ini, seharusnya cukup menyenangkan. Menyenangkan karena rumah adalah surga (katanya).

Berada di rumah adalah idaman dari hampir kebanyakan orang, apalagi bagi mereka yang bekerja diluar rumah hampir tak mengenal waktu. Saat-saat berada di rumah adalah saat yang paling banyak dirindukan.

Tetapi itu dalam keadaan normal tanpa pandemi. Ketika sudah merasakan kebosanan, maka sekadar pergi keluar sejenak mencari udara segar bisa menjadi obatnya. Setelah dari pagi sampai siang atau sore berada di rumah, maka pada malam hari bisa diagendakan untuk sekadar keluar rumah menuju angkringan, atau warung kopi.

Tetapi itu jika situasi normal.

Pada situasi seperti saat ini, waktu hampir habis secara spartan dengan tetap tinggal di rumah. Dari pagi, siang, sore, malam, dan sampai pada pagi hari kembali dengan sudah berganti tanggal. Tentu saja, bosan.

Sama, saya juga bosan.

Tetapi untung saja saya ini pemalas. Banyak kemalasan yang menggelayut memenuhi sekujur tubuh saya, luar dalam. Maka sedikit lebih mudah bagi pemalas seperti saya ini, untuk memodifikasi kemalasan menjadi senjata untuk melawan kebosanan.

Bosan dilawan dengan malas. Biasanya sih, mereka ini berada dalam satu barisan.
Barisan sifat negatif kalau kata orang-orang.

Tetapi ternyata rasa malas itu bisa dimodifikasi sedemikian rupa untuk melawan rasa bosan.

Misalnya kalau di pagi hari anda merasa bosan dan ingin keluar rumah bepergian, maka modifikasi lah suatu rasa malas untuk, mandi. Jika terbersit keinginan untuk mandi, tunda sejenak sampai siang menjelang, sampai udara cukup terasa panas.

Alasannya sederhana saja, tanpa mandi terlebih dahulu, tentu anda tidak nyaman untuk bepergian. Dan dengan ‘rasa malas’ yang sudah dimodifikasi, sehingga ketika anda mandi sudah menjelang siang dan udara terasa panas, maka setidaknya itu akan mengurangi keinginan anda untuk tetap bepergian. Panas-panas, ya sudah di rumah saja.

Tetapi rumus malas mandi itu tidak berlaku bagi anda yang mempunyai mobil. Tentu tak masalah keluar rumah tanpa mandi terlebih dahulu, dan juga tak masalah keluar rumah ketika panas. Pakai mobil, AC sejuk nyaman, keluar rumah tanpa mandi dan dengan udara panas tentu bukan masalah.

Nah, bagi anda yang mempunyai mobil, ada satu lagi rumus malas tambahan. Yaitu malas memakai celana. Boleh saja anda belum mandi dan memakai mobil ketika panas siang hari, tetapi anda tidak akan nekat pergi keluar tanpa memakai celana. Sementara, asah lah rasa malas memakai celana agar anda tidak tergoda untuk bepergian. Cara paling mudah, tak usah pakai celana ketika tidur, dan tak usah lekas pakai ketika bangun.

Modifikasi rasa malas yang lain lagi misalnya, malas jajan. Malas jajan setidaknya akan mengurangi keinginan anda untuk keluar ketika juga sudah merasa bosan dengan masakan sendiri.

Trus? Malas jajan dan sudah bosan dengan masakan sendiri? Mo modyar po ga makan?

Yaaa, puasa gitu. Setidaknya puasa akan membantu anda melawan keinginan untuk jajan, dan mengakomodir rasa malas itu. Malas jajan bisa dibiasakan dengan puasa.

Kalau mau dapat bonus, sekalian puasa tujuh hari tujuh malam, siapa tahu malah dapat keris atau pusaka. Enak kan, tetap di rumah, dan bisa dapat pusaka. Ahaayyy…

Senyatanya rasa malas itu memang bisa dimodifikasi untuk melawan kebosanan yang datang melanda.
Hal konkret yang saya lakukan, saya memaksa diri untuk malas keluar rumah, dengan cara banyak-banyak tidur.

Kalau tidak tidur, ya makan. Kalau tidak makan, ya tidur lagi.

Perlahan, cobalah untuk merasa malas jika harus melangkah keluar rumah, bepergian cukup jauh. Bayangkan jika seandainya dalam perjalanan ban kendaraan anda bocor, dan tak ada teknisi atau bengkel tambal ban yang buka. Mudah saja membayangkannya, karena dalam kondisi semacam ini banyak bengkel yang tutup. Membayangkan hal semacam itu akan memaksa anda merasa malas keluar rumah, dan perlahan akrab dengan kebosanan.

Iya, peluk saja kebosanan itu dengan penuh kemesraan.

Peluk saja kebosanan itu juga sampai anda merasa malas untuk memeluk yang lain.

Yaaa, mau bagaimana lagi.

Ini adalah saat dimana rasa malas merupakan solusi yang baik. Kelak, anda akan merindukan kemalasan yang anda biasakan itu.
Misalnya saja malas mandi. Selain irit air, juga irit sabun, juga irit waktu. Berangkat kerja tanpa mandi pagi hari itu rasanya…

Cobalah.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *