Melepas Genggaman, Atau Harusnya Memang Tak Pernah Menggenggam?

Gareng, karib saya yang suka datang pergi seenaknya seperti kentut itu, baru saja datang menemui saya. Siang tadi selesai sholat Dhuhur di masjid dekat tempat saya bekerja, dia datang.

Tumben, kali ini pakaiannya necis, sama sekali berbeda dengan kebiasaannya. Seperti agen penjual selang kompor gas. Baju atasnya berupa kemeja lengan panjang berwarna putih, tidak digulung, dikancingkan rapi menutupi pergelangan tangan. Celananya berbahan kain, dengan model yang sempat trend beberapa tahun lalu. Lurus dengan ukuran lingkar sama dari paha sampai dengan bawah mata kaki. Dia juga memakai sepatu hitam yang terlihat bersih, meski tak mengkilat seperti sepatu milik tentara atau polisi. Rambutnya, ya ampun, rapi seperti habis kena razia.

Jika ada yang tak berbeda, itu adalah ketika tanpa permisi mengambil rokok, menyulutnya, dan baru berkata,
“Minta rokoknya, ya.”
Sembari mulutnya sudah kebal-kebul dan matanya merem melek menikmati asap rokok colongan.

Hampir malas sebenarnya untuk bertanya apa maunya kali ini, dan rasa malas yang hampir itu saya teruskan saja, agar tak perlu bertanya. Sialnya, Gareng juga diam saja. Sampai hampir setengah batang rokok itu menjadi abu dan asap, dia masih diam sembari matanya menatap pada pohon mangga di depan kami ketika tak sedang terpejam.

Tapi sebisa mungkin saya menahan, kali ini, biar Gareng keparat itu yang membuka pembicaraan. Toh, dia yang datang.

Rokoknya hampir habis, dan dia masih diam saja. Matanya masih lebih asyik dan tertarik menikmati pohon mangga, dan mulutnya lebih memilih menikmati rokok daripada berbicara.

Saya terus menunggu, menunggu, dan menunggu. Gelisah tentu. Sebenarnya saya bisa saja meninggalkan Gareng keparat itu sendirian. Tetapi pakaian necisnya yang hampir menyerupai penjual selang dan regulator kompor gas itu membuat penasaran. Rasa penasaran itu lebih kepada ; apakah Gareng juga akan memaksa dan merayu demi mencapai tujuan, seperti penjual selang kompor gas yang beberapa tahun lalu pernah tiba-tiba masuk dapur rumah saya.

“Aku sekarang jualan mobil, sales mobil di sebuah dealer tepatnya.” Gareng membuka percakapan dengan suara datar.

Modyar ra, saya membatin. Akhirnya dia yang membuka suara.
Tapi, tunggu, sales mobil?

“Jualan mobil Reng? Sales mobil?” Saya bertanya, ragu.

“Lama ga ketemu, kupingmu juga sudah budeg po?” Dia balik bertanya, singkat.

Djangkrik!

“Maksudku,” saya terpaksa mengalah, “Kamu bekerja di dealer apa?”

“Ya di dealer mobil, mosok dealer slondok?” Gareng menjawab kesekian kali, dengan masih bernada suara, datar.

“Haa ya soalnya penampilanmu ga seperti biasanya, rapi, necis. Tapi untuk ukuran sales mobil, masih kurang wah, kurang necis. Bener juga katamu, penampilanmu itu paling cocok memang buat jadi sales MLM Slondok.” jengkel juga terus menerus mendengar jawaban ketusnya.

“Kamu mau bilang kalau penjual slondok itu glumprut, ga necis?” Gareng melirik, mata julingnya terlihat mengerikan.

“Nah to, salah paham. Bukan semua penjual slondok. Khusus kamu saja.” ganti saya mencoba santai menanggapi penceng yang mulai terpancing.

Mendengar pengakuannya yang kini menjadi sales mobil, tak bisa begitu saja dipercaya. Dulu dia juga pernah mengaku bekerja pada agen perjalanan haji dan umroh. Waktu itu dia membiarkan wajahnya penuh cambang, kecuali kumis. Penampilannya juga selalu dibuat semirip mungkin dengan penjual minyak di pasar yang selalu memakai gamis. Setelah saya datangi agen pada tempatnya mengaku bekerja, tak ada nama Gareng. Menurut pegawai yang saya temui pada agen kantor tersebut, setelah bertanya-tanya pada beberapa orang lain, termasuk pada atasannya, nama Gareng hanya tercatat sebagai tukang sebar brosur. Pada perempatan-perempatan, dan perumahan-perumahan. Ketika saya klarifikasi kembali padanya, Gareng hanya tersenyum dan kemudian tertawa keras.

“Kamu itu, ternyata belum sembuh penyakitmu.” katanya waktu itu, setelah tertawa keras.

“Maksudmu?”

“Tak semua hal harus sesuai dengan angan serta bayangan dan pemikiranmu,” Gareng terkekeh, “termasuk dalam hal ini terkait pekerjaanku pada agen perjalanan biro haji dan umroh itu.”

“Lhah kamu juga cuma nyebar brosur kok, bukan bagian resmi dari mereka, tidak berada di kantor mereka.” saya berkilah.

“Lhoh. Apa harus di kantor biar menjadi resmi?” Gareng melotot, “Apa iya juga kalau cuma nyebar brosur terus bukan bagian mereka?”

“Yaa kamu bukan pegawai mereka.”

“Kata siapa? Apa harus menjadi pegawai resmi maka aku baru menjadi pegawai mereka?”

“Yo ga usah pakai nyemprot ngomongnya!”

“Haa kamu itu udah goblog, masih tambah ngawur,” Gareng mendengus, “nyebar brosur itu kan hanya masalah manajerial saja, pembagian tugas dan penempatan posisi. Untuk masalah aku tak diakui sebagai pegawai resmi mereka, ya tak masalah. Toh mereka membayar hakku, atas hasil kerjaku. Paham to maksudku?”

“Enggak.”

“Nah itu, goblog kok keminter.”

Waktu itu, Gareng langsung pergi. Namun tetap saja, setelah ngembat sebungkus rokok yang baru berkurang tiga batang, dan korek gasnya sekalian.

“Nah, sekarang, kenapa jualan mobil?”

“Ya gapapa.”

“Katanya mau hidup sederhana, tidak ngoyo?” saya bermaksud menggodanya.

“Ya emang ga ngoyo, sederhana juga.” katanya santai.

“Weh, sales mobil ya jelas dikasih target, itu sudah ngoyo. Belum lagi tuntutan penampilan, jualan mobil kan beda sama jualan slondok atau kerupuk. Nyatanya, kamu sekarang berpenampilan beda, dulu kaosan sekarang hem-heman.”

“Nah kan, volume otakmu memang sudah tidak bisa berkembang, itu aku sudah tahu. Tetapi melihat dan mengalami sendiri bahwa volume otakmu itu berkurang, menyusut, aku jadi prihatin.”

“Taek.”

“Begini,” Gareng terdiam, “minta rokoknya lagi sebelum diterusin.”

“Hassshhh.”

Gareng mengambil sebatang rokok, menyulutnya.

Pertama, aku tidak ngoyo. Karena aku hanya menawarkan, dan tidak memaksakan. Perihal hasil, laku atau tidak, sudah ada yang ngatur.”

“Ya kan tetap ada target hasil yang harus dicapai, ditetapkan oleh perusahaan atau dealer tempatmu bekerja?”

“Lhaiya.”

“Kok bisa seenaknya berkilah kalau hasilnya terserah, sudah ada yang ngatur?”

“Haaa menurutmu yang memberikan semacam bisikan melalui data dan olah pengamatan pasar pada para petinggi perusahaan, dealer, untuk menentukan target sekian harus laku, itu siapa? Spongebob, Patrick, Plankton, atau Spiderman?”

“Ennggggg…”

“Eng ndhasmu kuwi.”

“Semua hal yang berkaitan dengan pekerjaanku, saling berhubungan, berkelindan. Tapi aku percaya itu hanya dari sumber yang Satu. Maka ketika aku mendapat target sekian dari atasan untuk berjualan, aku yakin target itu berasal dariNya. Karena Dia tahu kemampuanku sebulan jualan berapa, maka Dia bisikkan pada para petinggi untuk memberi target itu.”

“Kamu itu jualan mobil atau obat sapu jagad di pasar? Obat sakit gigi sekaligus obat panu, kadas, kurap, sesak napas, pilek, bersin dan batuk?”

“Aku tidak pernah ngoyo. Aku hanya mendatangi saja orang-orang yang menurutku membutuhkan untuk membeli mobil, menawarinya, dan setelah itu terserah dia mau membeli atau tidak. Aku tidak pernah memaksa. Alhamdulillah, selalu lebih dari target yang dijanjikan. Bonusku banyak. Kalau cuma buat biayain kamu tanam rambut biar ga botak, sudah turah-turah.”

“Kalau ndobos jangan keterlaluan Reng.”

Kedua, aku justru tetap sederhana.”

“Sederhana darimana? Hongkong atau Mozambique?”

“Aku berjualan mobil kebanyakan dipasar-pasar. Khusus lagi, aku jualan pick-up. Untuk pedagang sayuran paling banyak. Maka penampilanku ya kayak gini, rapi tapi ga membuat calon pembeli takut. Paling kalau mereka kudatangi, dikira mau minta sumbangan pakai stopmap cap sriti.”

Gareng membuang rokoknya yang kini sudah menjadi puntung, mengambil satu lagi, menyulutnya lagi, dan melanjutkan.

“Aku mau mengundurkan diri. Rasanya sudah cukup jadi sales mobil.” Gareng berkata, enteng.

“Kemaki Reng, penceng.”

“Tujuanku bukan mendapat uang, bukan berjualan mobil. Kalau cuma uang, paling juga cuma kupakai beli rokok dan makan, itu kan bisa minta kamu. Kalau berjualan mobil, kawan-kawanku udah banyak yang jualan. Lagipula, ga usah ditawarkan mobil-mobil itu udah laku sendiri. Orang-orang itu sebenarnya kaya-kaya.”

“Haa terus?”

“Aku cuma mau tahu rasanya, bagaimana jualan mobil. Dan juga, aku mau tahu rasanya banyak uang, lalu tiba-tiba ga punya uang lagi.”

“Terus?”

“Ya ga terus, aku udah resign kok.”

“Katanya tadi, baru mau mengundurkan diri?”

“Ini tadi sembari nggambleh, aku kirim WA ke manajerku, minta pamit mundur.”

“Mundur lha wong udah punya uang banyak.”

“Semua uangku dari jualan mobil, udah tak serahin ke panti asuhan, masjid, dan tak kasih ke penjual sayur yang masih pakai sepeda pancal, biar dia bisa beli motor. Aku cuma ambil seperlunya, buat makan dan beli rokok seminggu kedepan.”

“Hambok jadi orang ki yang waras dikit ceng, penceng. Jangan aleman dan cari muka seperti itu.”

“Lhoh, tanganku ini memang ga boleh menggenggam, semenjak dahulu, dan tak harus menunggu renta. Tanganku harus selalu terbuka seperti ini. Ketika ada yang butuh, tinggal ambil, dan aku tidak merasa kesulitan memberikan.”

Gareng berdiri, pergi. Sebelum berjalan, dia lepas baju putihnya, dan melemparnya ke arah saya.

“Bajunya putih buat kamu, amtenar kere hore seperti kamu ini tiap Rabu harus pakai kemeja warna putih kan?”

“Rumangsamu aku ga mampu beli baju putih po? Kok mendadak kamu meperlakukanku seperti kere, dan menerima bajumu yang baunya kayak selokan campur trasi basi.”

“Haa itu, kamu hari Rabu kok pakai baju warna abu-abu. Ga jelas banget sih.”

Gareng benar-benar pergi, setelah kembali ngembat rokok beserta koreknya.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

1,084 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.