Melihat Masa Depan Sebagai Suatu Penerimaan, Sebuah Dialog

Siang terasa terik, matahari bersinar memuntahkan energinya, seolah tak ada lagi hari esok untuk diterangi. Angin hanya berhembus pada satu dua helai yang ringan, tak cukup untuk meredakan amukan hawa panas yang dimuntahkan oleh mentari. Hewan-hewan bersembunyi, tak terlihat burung beterbangan, juga tak terlihat ayam mencari makan. Bahkan kambing-kambing enggan keluar kandang. Hanya pepohonan yang masih terlihat tegar berdiri, menerima utuh cahaya matahari, dan menerima helai-helai ringan belaian angin. Tak terdengar keluar keluhan dari pepohonan, entah dari trembesi di tepi hutan, atau dari mahoni dipinggir jalan. Semua menikmati siang yang terasa terik.

Dibawah salah satu pohon trembesi tepat dipersimpangan jalan yang berbatasan dengan hutan, terlihat Adipati Karna sedang duduk leyeh-leyeh bersandar pada batang pohon sembari menimang senjata andalannya ; Kunta Wijayadanu.

Adipati dari Kadipaten Awangga dibawah kekuasaan Kerajaan Astina itu terlihat menimang senjata pusaka andalannya, melihat dari atas ke bawah, membaliknya, sembari bibirnya komat-kamit seakan membaca mantra.

Dhe Karna, sedang apa?” sebentuk suara yang berat terdengar menyapa, Karna melirik tanpa menolehkan leher dan apalagi kepalanya.

Gathotkaca terlihat terbang santai sembari terus mendekat pada tempat Adipati Karna duduk, kepala dan pandangannya tertuju pada hape yang digenggam oleh tangan kirinya. Sedang tangan kanannya terlihat menenteng sebuah tas plastik berwarna hitam.

“Gorengan Dhe, jangan melamun terus.” ujar Gathotkaca sesampainya di depan Karna sedang duduk.

“Beli gorengan dimana Thot?” Karna meletakkan Kunta Wijayadanu disebelahnya, dan kemudian beralih pandangan pada Gathotkaca yang datang.

“Itu gorengan deket sawah sebelah sana Pakdhe.” Gathotkaca menjawab sembari tangannya menunjuk pada arah asal tempat ia membeli gorengan.

“Ya sudah bawa sini, duduk, ayo makan gorengan.” Karna lebih tegak dalam duduknya, mempersilahkan Gathotkaca untuk juga duduk dibawah rimbun dan rindangnya pohon trembesi di tepi hutan.

Keduanya kemudian asyik menikmati gorengan. Gathotkaca mencomot sebuah tahu isi, mencari-cari cabai lalap di dalam plastik wadahnya, dan kemudian melahapnya. Karna terlihat mengambil sebuah tempe mendoan, menikmatinya tanpa cabai lalap.

“Itu Kunta Wijayadanu mau diapain Pakdhe? Mau dipakai perang?” Gathotkaca kembali membuka obrolan, sembari masih menikmati tahu isi.

Karna tak lekas menjawab, ia hanya sejenak terlihat melirik ke arah pusaka andalannya itu, “Ga diapa-apain, dibersihkan saja.” Karna menjawab sejurus kemudian.

“Owalah kirain mau dipakai gitu.” Gathotkaca kembali menimpali sembari mengelap bibirnya menggunakan kain jarik yang dipakainya.

“Belum saatnya.” Karna menjawab lirih sembari matanya memandang ke arah dahan dan daun trembesi yang menaungi mereka.

“Itu memang tidak ada wadahnya Dhe? Kok cuma dibungkus kain?” Gathotkaca kembali bertanya perihal pusaka Adipati Karna.

“Welah, kan kamu juga tahu dimana ini sarung wadah Kunta Wijayadanu.” Karna melihat ke arah Gathotkaca sembari tersenyum penuh arti.

“Oiya, kan wadahnya ada di dalam perutku ya Dhe?” Gathotkaca melemparkan jawaban sekaligus pertanyaan retoris kepada pakdhenya itu. Tawa keduanya pecah, menyibak helai ringan angin yang berhembus.

“Maaf Dhe, kan ya pakai acara lupa kalau manusia.” Gathotkaca masih tertawa dengan cukup keras.

Karna adalah pakdhe dari Gathotkaca, kakak sulung dari ayahnya dan juga sulung dari kesemua saudara ayahnya. Hanya saja, Karna adalah saudara tiri ayahnya. Ayah Adipati Karna adalah Bathara Surya, Sang Dewa Matahari. Sedangkan ayah dari ayahnya Gathotkaca, kakek Gathotkaca, adalah Pandu Dewanata, raja dari Kerajaan Astina sebelum era geger gedhen.

“Apa wadahnya mau diambil saja Dhe?” Gathotkaca bertanya sekaligus melemparkan pandangan serius ke arah Karna.

“Cah edan, ya ga bisa.” Karna menjawab singkat.

“Tinggal ambil saja, Pakdhe kan sakti.” Gathotkaca kembali menimpali.

Karna tak lekas menjawab, ia memejamkan mata dan terdengar helaan nafas cukup berat darinya.

“Ya belum saatnya Thot.” Karna menjawab sembari masih memejamkan mata.

“Saatnya besok kalau Bharatayudha ya Dhe?” Gathotkaca bertanya kembali sembari tertawa.

“Itu akan jadi saat yang menyulitkan, aku tak pernah sanggup membayangkannya.” Karna ikut tertawa ringan.

“Ga usah sok melankolis gitu to Dhe. Dulu Kunta Wijayadanu juga harusnya bukan milik Pakdhe Karna kan, tapi milik Paklik Arjuna.” Gathotkaca semakin keras tertawa.

“Husshhhh lambene lho.” Karna ikut tertawa keras kali ini.

“Lhaiya kan. Itu kan harusnya milik Paklik Arjuna. Didapatkan setelah Paklik bersemadi untuk meminta suatu pusaka yang mampu untuk memotong pusarku dulu waktu bayi. Tapi ditengah jalan ketika Bathara Narada hendak memberikan pusaka itu kepada Paklik Arjuna, Pakdhe Karna merebutnya.”

“Bukan merebut, Bathara Narada salah ngasih ke Pakdhe, kan disangkanya pakdhe adalah paklikmu itu karena mirip.” Karna membela diri sembari tertawa dan meraih sepotong ketela goreng dari dalam plastik.

“Haiyah, tapi kan Bathara Narada ga akan salah ngasih kalau tidak dihadang Pakdhe.” Gathotkaca menimpali sembari juga mengambil sepotong tape goreng.

“Besok kalau Bharatayudha, Pakdhe ikut siapa?” Gathotkaca bertanya sembari mengunyah tape gorengnya.

“Jangan bertanya sesuatu yang kamu tidak ingin mendengar jawabannya.” Karna menandaskan sepotong kecil ketela goreng yang masih tersisa di tangannya.

“Aku sudah tahu jawabannya, tetapi…” Gathotkaca tak melanjutkan kalimatnya.

“Tetapi apa?” Karna melihat ke arah Gathotkaca.

“Kok ya ikut geng yang sana? Kenapa ga ikut geng yang sini? Kan Pakdhe sulung Pandawa, anak sulung mbah putri Kunthi Talibrata. Kok malah ikut geng sana yang hubungan ingus saja tidak ada?” Gathotkaca menjawab sembari juga mengarahkan pandangannya pada pakdhenya itu.

“Ini bukan masalah hubungan darah atau hubungan ingus sama geng Kurawa, ini semata hubungan profesional.” Karna menjawab lugas.

“Badalah, kok sampai urusan profesional?” Gathotkaca tergelak.

“Lhaiya to. Lha wong pakdhe hidup dari uang dan pekerjaan yang diberikan oleh Kurawa kok. Ini pakdhe bisa jadi adipati di Kadipaten Awangga kan karena pemberian Kurawa.” Karna menjawab sedikit panjang.

“Ya udah jabatannya dikembalikan, dan pakdhe ikut dengan Pandawa.”

“Ya tidak semudah itu, ferguso…” Karna kembali melemparkan pandangannya pada dahan dan daun trembesi diatas mereka.

Karna menghela nafas sebelum melanjutkan kalimatnya ; “Pakdhe sudah bersama Kurawa sangat lama. Bahkan jauh sebelum kamu lahir, pakdhe sudah bersama Kurawa. Jatuh bangun, merintis semuanya bersama-sama, jajan cilok, beli dawet, main kasti ditengah sawah setelah panen padi, nyari jangkrik, nyolong semangka di sawah entah milik siapa. Banyak hal sudah terlewati bersama, mosok sekarang tiba-tiba Pakdhe meninggalkan mereka.”

“Alasannya kok yang sudah jauh-jauh terlewat semua? Bukan karena eman-eman kalau harus melepas jabatan adipati?” Gathotkaca tertawa sembari mendorong ringan bahu pakdhenya.

“Ya itu juga, gaji dan tunjangan serta fasilitasnya lumayan banget je Thot.” Karna tertawa keras sampai terpingkal dan terjungkal dari duduknya.

“Memangnya tega kalau besok Bharatayudha harus melawan adik-adik Pakdhe sendiri? Ga merasa gimana gitu?” Gathotkaca terlihat penasaran.

“Itu takdir Thot, mau gimana lagi.” Karna menjawab pelan.

“Iya sih takdir, tapi bukannya manusia mempunyai pilihan?” Gathotkaca mengejar.

“Pilihan apa yang bisa dimiliki manusia selain menerima takdirnya?” Karna menjawab filosofis.

“Welah, kan Pakdhe punya pilihan. Tinggalkan Kurawa dan bergabung dengan geng Pandawa.” Gathotkaca mulai merasa kesulitan berdialog dengan pakdhenya itu.

“Kan pakdhe sudah bilang kalau tidak semudah itu, semuanya serba rumit. Lagipula, apa beda Kurawa dan Pandawa?” Karna bertanya balik.

“Maksudnya?” Gathotkaca bingung.

“Begini lho cah Bagus. Apa bedanya Kurawa dan Pandawa, sedangkan keduanya sama-sama hanya melakoni takdirnya.” Karna menjelaskan, yang justru membuat Gathotkaca semakin kebingungan.

“Ealah takdir lagi. Alasan lain dong.” Gathotkaca merengut.

“Keduanya hanya memikirkan kepentingannya masing-masing, mereka selalu berbicara mengenai hak kekuasaan atas Kerajaan Astina. Kemudian bertahun-tahun berselisih, bahkan tidak pernah memilih untuk mencegah terjadinya kelak perang Bharatayudha. Apakah sekalipun mereka pernah berpikir tentang rakyat? Tentang prajurit-prajurit yang telah gugur, tentang kedamaian andai mereka mampu menekan ego untuk tidak berperang?” Karna menatap tajam ke arah Gathotkaca.

“Kan Kurawa yang memulai, mereka merebut Astina, kemudian mengusir Pandawa. Iya kan?” Gathotkaca meminta penjelasan.

“Kalau baca sejarah yang benar, dalami juga pandangan dari semua sudut dan sisi. Pandawa diusir dari Astina karena salah sendiri. Pakdhemu mbarep Pandawa, si Yudhistira itu dulu kalah taruhan sama Duryudana.” Karna berusaha menjelaskan kembali muasal terusirnya Pandawa dari Astina.

“Itu kan karena Pakdhe Yudhistira dicurangi.” Gathotkaca membela.

“Begitukah yang tertulis dalam buku sejarah Pandawa? Begitukah yang digaungkan di seluruh penjuru Amarta?” Karna kembali bertanya.

“Lhaiya Dhe.”

“Sebab yang tertulis di Astina tidak seperti itu. Sejarah Astina tidak pernah menulis bahwa mereka mencurangi Pandawa dalam peristiwa taruhan itu.” Karna kembali berusaha memberi penjelasan kepada Gathotkaca.

“Welah jagad dewa bathara, sejarah macam apa itu?” Gathotkaca terheran-heran.

“Begitulah, sejarah adalah tentang siapa penulisnya, bukan selalu tentang bagaimana kebenarannya.” Karna kembali menatap Gathotkaca.

“Lha wong sudah jelas kalau Kurawa curang kok.” Gathotkaca masih berusaha untuk membela keluarganya.

“Pemungutan suara po piye?” Karna tertawa ngakak.

“Maksudnya?” Gathotkaca semakin bingung.

“Ya diadakan pemungutan suara tentang apa dan bagaimana saat itu, diambil suara terbanyak.” Karna bertambah keras tawanya.

“Ya jelas Pandawa kalah. Kurawa seratus orang, Pandawa cuma lima orang tambah satu Budhe Drupadi ketika peristiwa terjadi. Ya jelas kalah kalau pemungutan suara.” Gathotkaca tersenyum kecut.

“Nah itu. Kalah kan Pandawa? Sejarah adalah tentang siapa penulisnya.” Karna berusaha menghentikan tawanya.

“Suara terbanyak kan belum tentu mewakili suara kebenaran to Dhe?” Gathotkaca menatap pakdhenya.

“Itu ada benarnya Thot. Tetapi dalam kondisi bahwa kedua pihak saling memaksakan kehendaknya, maka pemungutan suara bisa dilakukan, kecuali…” Karna tak melanjutkan kalimatnya.

“Kecuali apa Dhe?”

“Ya kecuali keduanya mau musyawarah. Tetapi karena keduanya sudah tidak mau bermusyawarah, maka…” Lagi-lagi Karna memenggal kalimatnya.

“Maka apa Dhe? Wah jyan kok ga diteruskan.” Gathotkaca terlihat jengkel.

“Maka ya disepakati untuk perang, piye to ah.” Karna kembali tertawa terpingkal-pingkal.

Howalah. Berarti memang harus perang ya?” Gathotkaca terlihat sedikit lesu.

“Lhaiya to. Lha wong keduanya sama-sama keras kepala kok.” Karna menjawab sembari masih tertawa.

“Eh Dhe ngomong-ngomong. Gaji dan tunjangan jadi Adipati Awangga berapa? Terus fasilitasnya apa aja?” Gathotkaca tiba-tiba mengalihkan pertanyaan pada hal lain.

“Memangnya kenapa? Kok tiba-tiba tanya gaji sama tunjangan?” Karna mengernyitkan dahi sembari melihat ke arah prunannya tersebut.

“Banyak kan?” Gathotkaca bertanya sembari meringis.

“Mencurigakan, kenapa Thot?” Karna penasaran dengan pertanyaan Gathotkaca.

“Ini aku pesan minuman lewat online. Boba, jus, es teh, es jeruk, pesan makanan juga. Kan ya kering tenggorokan dari tadi ngecuprus ga ada minumnya, lapar juga Dhe belum makan.” Gathotkaca meringis.

“Lha terus apa hubungannya sama gaji dan tunjangan?”

“Pakdhe yang bayar to ah, piye je. Ini totalnya nanti 751.500.” Gathotkaca tertawa ngakak.

“Wooo lha cah edan.”

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.