Memaafkan, Kemudian Pergi

Ilustrasi. Gambar : Pixabay

Pergi tak selalu sama dengan melarikan diri. Bisa jadi itu adalah tindakan untuk menghindari, dari terjadinya hal-hal yang lebih buruk andaikata memutuskan untuk tetap tinggal.

Tetap tinggal akan membuka peluang untuk pembalasan-pembalasan, atas kejadian yang menimpa kita. Kejadian yang kita tak pernah menyangka akan mengalaminya. Kejadian yang terjadi lebih karena adanya pengkhianatan atas orang-orang yang tidak suka dengan keberadaan kita.

Kita tak pernah menyangka akan mengalami hal itu, sebab kita merasa berada dalam lingkungan orang-orang yang menyayangi kita, dalam lingkungan yang saling menjaga, dalam lingkungan yang tak ada topeng terpasang di muka.
Tetapi ternyata segala prasangka kita keliru. Banyak orang di lingkar pertemanan itu, diam-diam menikam dari belakang. Diam-diam menjual kita demi kepentingan mereka. Kita dianggap komoditas yang memberikan keuntungan atau kerugian bagi mereka.

Kita tidak tahu, karena kita memang tak pernah menyangkanya.

Selama ini kita hanya menjalankan tugas dan fungsi manusia sebagai makhluk sosial, bergaul tanpa tendensi dan kepentingan pribadi, serta semata menjalin hubungan sehat yang dalam skala paling kecil mampu melanggengkan peradaban manusia.

Kita harus pergi tentu saja, ketika tahu beberapa orang menjual kita demi kepentingan mereka. Ketika beberapa orang menggunjing kita tanpa tahu kebenarannya. Ketika beberapa orang menilai kita tanpa pernah mengenal kita secara dekat dan personal.
Kita pergi bukan karena pengecut dan melarikan diri. Tetapi semata karena kita tak ingin merusak hubungan antar manusia yang masih terlihat baik-baik saja.

Ya, semua masih terlihat baik-baik saja. Karena mereka yang menggunjing kita tidak tahu, bahwa kita sudah mengetahui perbuatan mereka. Kita diam bukan karena kita mengakui segala hal tidak benar yang dipergunjingkan itu. Tetapi semata untuk menjaga agar tak rusak hubungan sosial antar manusia yang merupakan pondasi dasar peradaban.

Kita tak ingin terpecah belah, meski orang lain menginginkannya.

Pada sekali waktu permenungan, tentu saja kita ingin membalas perbuatan mereka. Kita ingin menunjukkan pada mereka bahwa kita bisa juga menjatuhkan mereka, dengan cara yang paling tidak menyenangkan. Kita ingin membalas segala apa yang mereka timpakan.
Tetapi apa daya, kita tidak mampu. Kita tidak tahu caranya.

Kita tidak tahu bagaimana caranya menggunjing. Kita tidak paham bagaimana cara memfitnah. Dan terlebih, kita tidak pernah tahu bagaimana caranya menyakiti orang lain dengan sengaja.
Bukan karena kita adalah orang suci tanpa dosa, tetapi lebih karena bahwa kita tidak terbiasa melakukannya.

Apa yang menjadi kebiasaan dalam kehidupan pergaulan sosial antar manusia, adalah berprasangka baik terhadap orang lain. Sebisa mungkin tidak menggunjing dan apalagi dengan sengaja menyakiti mereka. Maka ketika mungkin keinginan untuk membalas itu ada, kita tidak paham caranya.

Kita memilih pergi. Bukan karena tak lagi bisa hidup dalam lingkungan yang sama, tetapi agar lingkungan tetap terjaga ‘baik’ tanpa keberadaan kita.

Mungkin memang bukan disana tempat kita. Bukan bersama orang-orang yang gemar menggunjing dan memfitnah. Bukan bersama hakim dan polisi moral yang menjatuhkan vonis tanpa persis mengetahui kesalahan apa yang telah diperbuat oleh orang yang menjadi sasaran mereka.
Bukan karena kita merasa diri sebagai orang suci yang luput dari kesalahan, tetapi lebih agar kita tak larut dalam keadaan yang tak menyenangkan.

Kita tentu tetap akan menghormati merekasebagai sesama manusia. Kita tetap akan menghargai segala hubungan pertemanan, persahabatan, atau perkenalan yang pernah terjadi. Tetapi tak dapat kita pungkiri bahwa tak ada lagi perasaan untuk saling menghargai lebih dari penghargaan sebagai sesama manusia.

Takkan ada lagi jabat tangan erat dan tatapan mata yang hangat.

Tentu saja kita memaafkan. Manusia mana yang tak luput dari kesalahan? Dan memaafkan orang-orang yang dengan sengaja menyakiti kita adalah cara, agar kita tetap menjadi manusia.

Sekali manusia tetaplah manusia. Kita takkan pernah bisa menjadi setan, meski seburuk apapun kita. Kita juga takkan pernah menjadi malaikat, meski sebaik apapun kita.
Sebagai manusia, satu-satunya hal yang bisa kita lakukan adalah menjaga kodrat dan takdir itu.

Memaafkan adalah cara kita untuk perintah Tuhan yang menginginkan sesama manusia untuk saling mengenal.

Maka kita akan memaafkan. Perihal kemudian pergi, itu sudah menjadi lain soal.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)