Memanjat Pohon

“Semakin tinggi pohon, semakin keras angin yang menerpanya.” kata….kata siapa? Kata pepatah, lah…

Nah, orang-orang kemudian sering menganalogikan kehidupan, dengan kondisi pohon.

Kalau masih dibawah, berarti pohonnya masih rendah.

Kalau sudah diatas, berarti pohonnya sudah tinggi.

Istilah ‘bawah’ dan ‘atas’ ini melingkupi segala hal atau atribut yang melekat dalam kehidupan manusia. Utamanya adalah atribut pelengkap. Harta, status sosial, atau juga kapasitas intelektual, bahkan status ketakwaan serta keimanan seseorang. Tak usah heran, bahkan sekarang tingkat keimanan dan ketakwaan seseorang bisa dinilai oleh sesama manusia. Melalui pemberian label-label keagamaan dan gelar tertentu.

Kenapa saya katakan sebagai sekadar atribut ‘pelengkap’? Karena atribut utama manusia adalah kapasitas kemanusiaannya, terhadap sesama manusia, sesama makhluk, dan terhadap seluruh alam semesta. Di luar atribut utama itu, semua hanya pelengkap. Bahkan jika itu adalah kapasitas intelektual.

Mudahnya [contoh], semakin kaya seseorang, semakin besar godaannya untuk diterpa angin keras. Bisa jadi bahwa kekayaannya akan menambah tingkat keserakahan dalam dirinya. Tak pernah merasa puas, dan ingin terus mencari serta menambah, dengan cara-cara yang tidak memenuhi nilai-nilai moral sosial. Bisa juga kekayaanya mendorong untuk merasa bahwa apapun yang ada di dunia ini bisa dibeli dan dinilai dengan ukuran harta benda. Membeli keputusan hukum, misalnya…

Semakin tinggi status sosial seseorang di dalam masyarakat (menjadi pejabat misalnya), semakin tinggi juga godaannya. Untuk hal ini, saya kira tak perlu dikemukakan sebuah contoh apapun, selain pada bukti-bukti dan fakta sejarah. Misalnya seberapa banyak pejabat publik maupun politik, dari tingkat daerah sampai pusat, dalam eselon tinggi maupun rendah, yang terjerat kasus pidana maupun perdata.

Penyalahgunaan wewenang, pemberian ijin yang serampangan, juga…korupsi…

Semakin tinggi kapasitas intelektual seseorang, yang kemudian membawa status sosialnya juga menjadi tinggi di masyarakat, juga tak lepas dari terpaan godaan. Untuk yang satu ini menurut saya, godaan terbesar adalah dari dalam diri sendiri. Semakin tinggi kapasitas intelektual seseorang, biasanya ia akan semakin tergoda untuk merasa paling pintar. Melandaskan suatu pandangan atau penilaian terhadap kondisi sekitar, sangat subyektif menurut pandangan dirinya sendiri, tanpa mau mengerti dan memahami beragam teori atau kemungkinan dari luar dirinya. Hal semacam ini menurut saya, sangat berbahaya…

Tetapi yang kemudian menjadi pertanyaan, dimana posisi manusia atau seseorang itu?

Apakah ia adalah pohon yang tumbuh menjulang itu?

Ataukah ia tetap manusia, dan memanjat pohon-pohon kemungkinan untuk sampai ke puncak?

Apakah ia beranalogi menjadi pohon, ataukah ia tetap manusia yang memanjat pohon? Dalam tulisan ini, saya akan berasumsi bahwa seseorang itu tetaplah manusia, yang memanjat pohon.

Dalam kehidupan, manusia memanjat pohon-pohon kemungkinan untuk menjalani kehidupannya. Ada yang memanjat untuk mencapai atau menggapai sesuatu, ada juga yang memanjat (sekadar) untuk bertahan hidup. Maka tinggi rendah pohon yang dipanjat oleh seseorang manusia, berbeda dengan pohon yang dipanjat oleh orang lain.

Ada seseorang yang sudah puas memanjat pohon jambu dengan tinggi batang utama tak lebih dari dua meter. Ia sudah merasa cukup dengan memanjat pohon jambu itu, menikmati pemandangan dari ketinggian tak lebih dari tiga meter, dari dahan dan ranting-ranting kecil. Angin sepoi meniup dengan syahdu, dan takkan membuatnya ketakutan bahkan malah cenderung membuat nyaman. Lingkup pemandangan yang tak begitu luas tidak menjadikan suatu masalah. Toh memang sebegitu sudah cukup baginya.

Ada juga seseorang yang memanjat pohon mangga, dengan tinggi batang utama lebih dari tiga meter namun kurang dari enam meter. Ia cukup senang berada dalam ketinggian tersebut. Menikmati pemandangan yang tentu sudah lebih luas daripada pohon jambu. Menikmati angin yang juga menerpa dengan lebih keras, untuk mengusap peluh yang membanjir atas usaha memanjat pohon mangga.

Namun ada juga yang penasaran dengan pemandangan apa yang ada diatas pohon mangga. Maka ia memanjat pohon kelapa dengan ketinggian belasan meter. Untuk melihat cakrawala yang lebih luas, dari atas pelepah pohon kelapa.

Bahkan ada yang memanjat pohon Pinus, dengan tinggi puluhan meter. Demi sesuatu yang takkan pernah ia capai, atau ia lihat, hanya dari permukaan tanah.

Selalu ada sebab musabab yang melatarbelakangi seseorang untuk memilih pohonnya sendiri, memanjatnya, dan mendapat apa yang ia inginkan. Namun tak sedikit pula yang jatuh, cacat, mati, dalam prosesnya memanjat pohon kehidupan.

Memang hanya sedikit orang, yang mampu memanjat pohon-pohon tinggi, bahkan jika itu adalah pohon Baobab yang bisa memiliki tinggi ratusan meter, bertahan diatasnya, dan mendapat sesuatu yang takkan didapat oleh orang-orang yang tak sampai pada puncak Baobab sepertinya.

Hanya yang perlu dipahami -sekali lagi-, bahwa tinggi rendahnya pohon yang dipanjat seseorang, hanya akan menghasilkan atribut pelengkap di dalam kehidupan. Bukan atribut utama.

Tak mesti seseorang yang berada di puncak Pinus, kemudian lebih baik dan mulia dari mereka yang berada diatas pohon jambu. Pun sebaliknya, mereka yang berada diatas pohon jambu, tak lantas lebih baik dari mereka yang di puncak Baobab.

Atribut pelengkap kehidupan manusia adalah tentang pilihan-pilihan. Tentang manajemen resiko dan pengukuran kemampuan. Jika hanya mampu memanjat pohon mangga, maka jangan memanjat pohon kelapa.

Jika mampu sampai di puncak pohon Cemara, maka jangan hanya berhenti di puncak pohon mangga. Kira-kira, semacam itu.

Mengenali diri sendiri, tentang kemampuan dan daya upaya, adalah hal terpenting dalam kehidupan manusia, pada hakikatnya untuk tak mudah menyerah dan putus asa.

Terakhir, sekaligus sebagai penutup :

“Tetapi bagaimana jika tak ada pohon yang bisa dipanjat.”

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)