Memanusiakan Manusia

Kemudian saya menyesal. Setelah sempat berteriak-teriak, di ruang makan menjelang prosesi sarapan.
Beberapa detik setelah keluar kata-kata terakhir dari tenggorokan disertai teriakan, saat itu pula saya menyesal.

Kenapa harus berteriak?

Toh manusia yang bergerombol dengan sesamanya memang sudah berada dalam kodratnya untuk saling berbicara, pun tinggi rendahnya nada atau volume suara tak bisa diukur secara obyektif. Mungkin bagi yang sedang berbicara, volume percakapan mereka tidak terlampau keras. Tetapi sekaligus juga bisa berarti, bagi yang mendengar [seperti saya], volume percakapan mereka melebihi batas toleransi untuk tak bisa disebut lagi selain : pasar.

Ramai, riuh, padahal sudah beberapa kali dalam prosesi makan atau sarapan ditekankan untuk khidmat, hening dan tenang.

Tetapi saya menyesal, sesaat setelah naluri hewan itu muncul. Teriakan itu, yang seketika membuat suasana ramai pasar mendadak hening dan tintrim seperti kuburan.

Saya meminta maaf setelahnya, tepat setelah apel pagi selesai dilaksanakan. Bukan karena saya takut mereka akan marah atau dendam terhadap saya, atau takut bahwa ada satu atau dua diantara mereka yang berkerabat dengan pejabat.

Saya tidak takut andai memang ada dari mereka yang memang kerabat dari pejabat, dan melaporkan saya setelahnya. Toh saya mempunyai dasar kuat untuk berteriak ketika sarapan.

Tetapi ada hal lain yang membuat saya gusar. Saya hanya ingin memanusiakan manusia. Pun setelah mendapat surat tugas untuk menjadi panitia dalam Latsar Prajabatan ini, saya sudah berniat dan bertekad untuk tidak berteriak. Bersuara keras masih dimungkinkan, tetapi berteriak bagi saya sudah melewati batas.

Manusia tak pantas sama sekali untuk mendapatkan teriakan.

Lebih jauh, saya tak ingin ada semacam kenangan yang mengendap dalam memori para peserta, bahwa berteriak adalah suatu solusi dalam kondisi yang kurang kondusif.

Saya ingin ada solusi lain lebih dari sekadar bentakan dan teriakan. Solusi yang mempertemukan manusia dari hati ke hati.

Jika bisa berbicara, berkomunikasi, mengkondisikan situasi yang kurang kondusif melalui nada suara yang rendah, namun frekuensi atau getarannya langsung sampai pada masing-masing hati yang dituju, itu lebih baik.

Saya meminta maaf bukan karena takut terhadap kerabat pejabat. Satu hal yang saya yakini, saya akan selalu berani selama tidak melenceng terhadap aturan.
Jika ada manusia yang saya takuti di dunia ini tanpa sebab dan alasan, itu hanya Mamak dan Bapak saya. Tak ada yang lain.

Saya meminta maaf karena telah melanggar ide dan konsep dasar pemahaman saya atas hubungan sosial antar manusia.

Pun saya sedang tidak enak badan, sedang flu, dan sedang berada dalam kondisi tidak fit. Berteriak semacam itu akan membuat kondisi saya tidak semakin baik. Itu saja alasan kedua selain alasan yang pertama.

Hidup ini bagi saya ringan saja. Tak ada yang ditakuti berlebihan, selain melakukan kesalahan. Dan tak ada yang perlu dibanggakan berlebihan, selain bisa menghindari kesalahan.

Itu saja, sangat sederhana prinsip yang saya genggam untuk memanusiakan manusia.

Bahwa mereka memang layak mendapat teriakan, itu lain soal. Perihal melanggar tata tertib.

Tetapi persoalan saya adalah dengan diri saya sendiri, dengan prinsip dan idealisme yang saya yakini.

Bahkan dulu ketika membentak adik-adik saya, saya selalu menyesal setelahnya. Semata juga agar adik-adik saya tidak menyimpan kenangan dalam memori mereka, bahwa membentak adalah sesuatu yang menjadi pilihan pertama dalam kondisi yang kurang kondusif.

Saya selalu menghindari untuk membentak, berteriak, dan semacamnya. Pun saya tidak akan mencari muka dengan berbaik-baik pada peserta dengan harapan bahwa jika ada kerabat mereka yang pejabat, saya akan mendapat akses kemudahan. Tidak, tidak seperti itu.

Muka atau wajah saya sudah berjumlah sepuluh. Ya, sepuluh. Tanpa ragu saya akan mengakui bahwa pada dasarnya saya adalah Dasamuka. Dengan sepuluh wajah yang bisa berekspresi bersamaan dalam satu waktu.

Maka saya tak lagi butuh mencari muka.

Yang saya perlukan adalah hidup dengan tidak merugikan orang lain, tidak memfitnah orang lain, bekerja sungguh-sungguh, mengurangi mengeluh, dan bisa merokok sewaktu saya butuh. Itu saja, sederhana.

Karena sejauh ini saya hidup, yang membuat saya bertahan ternyata bukan usaha dan kemampuan yang saya miliki, tetapi hanya satu hal yang seringkali saya lupakan : Kuasa Tuhan.

Tuhan menyayangi manusia, maka saya juga hanya ingin sedikit saja menirunya, dengan memanusiakan manusia.

Selamat siang, selamat ngeyup di tengah panas yang sama sekali tak lengas.

1 Comment

  1. Teriaklah di tempat yang seharusnya
    Misalnya ketika kamu mencapai puncak kenikmatan
    Silahkan teriak sepuasmu
    Anggap itu sebagai ucapan terima kasih telah saling melayani dengan baik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *