Mematikan Centang Biru Whatsapp

Whatsapp

Beberapa waktu yang lalu, left group (keluar) dari grup WA dianggap sebagai suatu penistaan, diberi hukum setara dengan memutus tali silaturahmi. Kemarin, saya membaca kalau sekarang mematikan tanda centang biru dianggap sebagai kebohongan. Tulisan yang banyak dibagikan oleh teman FB saya itu konon katanya berasal dari AA Gym.

Duh, andaikan benar itu dari AA Gym, betapa selo-nya rentang tugas seorang ‘ustad’.

Tetapi, saya tidak peduli apakah itu dari AA Gym, ataukah hanya dari seorang yang tak berani namanya tercantum untuk mempertanggungjawabkan pernyataan, dan kemudian mencatut nama AA Gym, saya tetap akan meminta pendapat Gareng.

Iya, Gareng teman saya yang makhluk astral sok lucu, yang senyumnya malu-malu asu, yang kalau bicara terkadang sedikit wagu.

Ya sudah, langsung saja, dari Gareng. Yang sedari kemarin memaksa admin blog ini untuk menuliskan pendapatnya mengenai ‘Mematikan Centang Biru Whatsapp’, tetapi karena kemarin admin sedang teler masuk angin, maka baru bisa dituliskan hari ini.

Langsung saja, Gareng.

Centang Biru Baperan

Saya hampir saja tersedak ketika Anang, kawan saya yang sok bergaya rebel dengan rambut gondrong wagu itu bercerita perihal centang biru WA. Katanya, ada orang berpendapat kalau mematikan centang biru WA itu sebagai suatu kebohongan. Berbohong karena tidak bersikap jujur apakah sudah membaca pesan atau belum.

Oh iya sebelum berlanjut, saya sebenarnya tidak ingin berkomentar mengenai centang biru ini. Tetapi saya dipaksa oleh kawan saya itu untuk berkomentar. Katanya, sebagai bahan tulisan. Ya sudah, saya manut saja. Soalnya dia mengancam tak akan lagi memberi saya rokok barang sebatang dua seperti biasanya. Rak yo kobis to, orang kok sukanya ngancam.

Seperti halnya keluar grup, mematikan centang adalah hak individu. Ingat, hak individu. Dan hak individu dalam mematikan centang biru whatsapp, tidak melukai serta merampas kemerdekaan orang lain. Yaa, seperti halnya ketika kita berada di rumah dan menutup pintu rapat-rapat, apakah lantas kita melakukan kebohongan dan penipuan karena orang lain menyangka kita tidak berada di rumah?

Perihal keluar grup WA akan saya tuliskan (lagi) kapan-kapan. Di sini, saya hanya akan berkomentar mengenai mematikan centang biru.

Begini, JANGAN BAPERAN!!!

Whatsapp, dalam perkembangannya di era digital, adalah pengganti sempurna untuk berbagai jenis surat (konvensional?) dan pesan dengan media kertas. Ya, whatsapp adalah pengganti sepadan dan bahkan lebih sempurna untuk saling bertanya kabar, bertukar cerita, ngegosip, menggunjing, dan berbagai aktifitas lain termasuk bertanya kabar pada mantan, eh.

Nah, mengirim pesan, bertanya kabar melalui WA, hampir serupa dengan melalui WA, hanya dengan waktu yang lebih lama.
WA, bisa membuat pesan kita terkirim dengan cepat, seketika. Asal ada pulsa atau kuota.

Seperti yang sudah saya bilang, whatsapp adalah media bertanya, bertukar kabar, dalam arti luas,—media untuk saling menghubungkan antar manusia—.
Seperti halnya surat dengan media kertas, yang tak dapat kita ketahui bahkan sudah sampai atau belum, dibaca atau dibuang, sebelum orang yang kita kirim surat tersebut membalas, WA menyediakan fasilitas tersebut.

Yaa, fasilitas yang berlaku dua arah untuk mnyembunyikan pemberitahuan apakah kita sudah membaca pesan dari orang lain. Sebagai hukuman ganjarannya kita juga tidak bisa tahu apakah pesan kita sudah dibaca atau belum.

Adil, kan?
Pesan yang masuk kepada kita tidak dapat terdeteksi, sedang kita juga tidak dapat melacak apakah pesan kita sudah dibaca ataukah belum.

Masing-masing orang mempunyai alasan untuk mematikan centang biru pada aplikasi whatsapp mereka, entah karena alasan keamanan, atau kenyamanan.
Dan kita, tak selayaknya menuntut orang lain untuk dapat selalu memahami diri kita.

Pesan WA tak lekas dibaca, marah. Ketika dibaca tak lekas dibalas, tambah marah. Pesan akhirnya dibalas dalam waktu agak lama tanpa permintaan maaf, semakin tambah marah.

Maunya ki apa toh? Lha kirim pesan kok pakai acara marah-marah. Mengirim ya sama seperti memberi, ikhlas, tanpa mengharapkan balasan. Gitu kok repot.
Malah pakai menuduh kalau orang lain sudah melakukan kebohongan dengan mematikan tanda centang birunya.

Ada orang-orang yang merasa tak nyaman dengan aktifitas ber-WA, tetapi ia harus melakukannya dengan alasan khusus dan tertentu. Seperti misal untuk urusan pekerjaan dan bersangkut paut dengan penghidupannya. Ia hanya menggunakan WA sebatas pada kebutuhan pekerjaan, bukan pada yang lain. Nah, kenyamanannya terganggu apabila ia merasa terbebani ketika banyak pesan masuk, terbaca dengan warna biru, tetapi ia belum mempunyai waktu untuk membalas. Selain juga alasan bahwa pesan yang masuk bukan karena urusan pekerjaan. Maka ia mematikan centang biru, dan lebih nyaman menggunakan panggilan suara atau telepon untuk berkomunikasi di luar urusan pekerjaan.

Boleh kan ada orang semacam itu?
Atau semua orang harus sama persis dengan dapuranmu dirimu?

Masih banyak urusan yang lebih penting daripada sekadar menuduh kawan kita pembohong karena mematikan centang biru WA. Lagipula, kalau hal itu haram, kenapa pengembang aplikasi WA itu menyediakan fasilitas untuk mematikannya?
Untuk menguji seberapa kualitas iman dan ketakwaan kita begitu? Apakah kita akan tergoda mematikan centang biru kita, lalu masuk neraka, atau kita tetap menghidupkannya, dan kelak masuk surga.
Haa gundhulmu kuwi.

Sebagai bagian dari peradaban teknologi maju meski hanya sebatas sebagai pengguna, bijaklah menggunakannya. WA hanya tinggal pakai, gratisan, eee lha kok pakai acara tuduh menuduh terkait fasilitas di dalamnya. Kalau ingin pesanmu selalu dibaca, dan kamu harus mengetahuinya, ya bikin aplikasi sendiri saja. Penak to

Mematikan centang biru bukan kejahatan, bukan pula dosa dengan bersandar pada kebohongan, tetapi berkait kebutuhan kita terhadap penggunaan aplikasi whatsapp tersebut. Terkait kenyamanan dan keamanan kita ketika menggunakannya.

Bolehlah untuk menuntut ditiadakannya fasilitas untuk mematikan centang biru, tetapi dengan syarat bahwa aplikasi WA-mu tak pernah sekalipun dipakai untuk menggunjing orang lain.
Nah, kalau sudah, tinggal layangkan protes ke pengembang aplikasi. Alasannya, karena centang biru adalah kunci untuk memasuki surga.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

1.017 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *