Belajar Membaca, Demi Apa?

Jika saja membaca kemudian berarti tak hanya sekadar melek huruf, mengerti dan memahami rangkaian A sampai dengan Z, beserta juga beberapa tanda baca, mungkin tak perlu ada pertengkaran-pertengkara.

Andai saja membaca bukan hanya berarti bisa membaca tulisan, tetapi mengerti dan memahami makna serta arti yang terkandung di dalamnya, mungkin tak perlu ada kegaduhan-kegaduhan.

Andai tak ada kegaduhan dan pertengkaran yang tak perlu, tentu dunia dan kehidupan akan lebih indah, lebih nyaman dijalani. Salah?

Beberapa kali pernah saya berada dalam situasi yang sangat tidak menyenangkan.

Kesatu, pernah saya berada di sebuah perempatan dengan lampu APILL. Lampu menyala merah, dan ada tulisan pemberitahuan bahwa ‘belok kiri ikuti isyarat lampu’. Persimpangan itu tak terlampau besar, dengan jalan yang tak terlampau lebar. Karena hendak mengambil arah lurus, saya berhenti dan hanya menyisakan ruas jalan tak sampai dua meter di sebelah kiri. Sebelah kanan saya juga sudah padat oleh kendaraan lain.

Tak lama, sebuah bunyi klakson terdengar dari belakang, berulang. Kalau dari suaranya, saya duga klakson dari sebuah mobil. Hingga kemudian suara itu terdengar begitu nyaring, dan dibunyikan tanpa etika. Hampir terus menerus. Saya menoleh ke belakang, sebuah mobil meminta saya untuk minggir, karena dia akan mengambil arah kiri. Saya abaikan, toh ada rambu-rambu, toh juga bukan ambulan. Tetapi suara klakson terus terdengar. Risi juga di telinga.

Saya turun, setelah sebelumnya mematikan sepeda motor. Saya hampiri pintu di samping pengemudi, dan memberi isyarat pengemudi untuk menurunkan kaca. Dia sendirian, dengan muka yang sudah terlihat berwarna merah. Mungkin marah. Tanpa mengeluarkan sepatah kata saya menunjuk arah lampu dan papan peringatan bahwa belok ke kiri harus mengikuti isyarat lampu APILL. Pengemudi itu diam saja, tetapi matanya terlihat nyalang memandang saya.

Dilihat dengan tatapan mata seperti itu, syahwat saya bergejolak untuk memberontak. Mengalahkan hati dan juga pikiran.

“Kalau tidak sabar, terbang! Kalau memang ada perlu yang mendesak, bilang. Tetapi kalau tidak keduanya, diam! ASU!”

Wajah pengemudi itu terlihat semakin memerah, tetapi masih tanpa mengeluarkan sepatah kata. Sebenarnya saya menunggu dia membalas umpatan saya, agar kemudian sah terjadi ijab qabul perkelahian. Tetapi ia tetap diam saja sampai saya pergi.

Setelahnya, saya merasa malu. Apa jadinya kalau sampai terjadi perkelahian, dan ternyata pengemudi mobil itu atlit UFC. Kan ya mampus. Meski kemudian prasangka itu saya tepis sendiri, dengan semacam teori :
“Mosok atlit UFC picak ga bisa baca, gimana nanti dia baca kontrak pertarungan?”

Saya sendiri mengakui kalau sudah melakukan kesalahan dengan memaki-maki orang yang belum dikenal, di jalanan. Tetapi saya berpegang pada keyakinan, bahwa peraturan harus tegak dan kaku. Kalau tidak boleh belok langsung, ya tunggu. Sederhana.
Toh orang itu juga tak lantas membuat pembelaan kalau sedang dalam kondisi darurat dan harus tergesa. Andaikan ada situasi mendesak dan memaksa, tentu saya akan berusaha memberi jalan agar ia bisa lewat dengan mobilnya. Kemudian saya simpulkan, orang itu sejenis orang yang ngawur saja.

Kedua, bukan di jalanan. Tetapi di sebuah kantor pelayanan pajak kendaraan. Pada pagi hari, kantor tersebut penuh sesak oleh wajib pajak. Ramai, berdesakan. Pada loket pertama, ada tulisan besar tertempel di kaca :
“Harap antri.”

Saya mengambil posisi di belakang orang yang sudah terlebih dahulu berada di depan loket. Dengan harapan, setelah orang tersebut dilayani, tentu tiba giliran saya. Tak saya sangka, seseorang mendadak muncul dari samping saya, maju, mengambil posisi di sebelah orang pertama yang sudah berdiri di depan loket.

Sebenarnya, saya ingin membiarkan saja. Tetapi mendadak muncul semacam bisikan bahwa pagi itu adalah saat untuk memberikan pelajaran dan juga pendidikan. Seseorang yang saya anggap menyerobot antrian itu, saya tepuk pundak sebelah kirinya. Ia berdiri di sebelah kanan depan dari tempat saya berdiri mengantri. Orang itu menoleh ke arah saya, dan saya sambut dengan isyarat kepala untuk menunjukkan tulisan ‘harap antri’ yang berada tepat di depannya. Orang itu mengerti isyarat saya, dan melihat pada tulisan.

Namun jawabannya sungguh akan membuat balok es mencair seketika karena kepanasan. Tanpa kembali menghadapkan wajahnya ke arah saya, orang itu berkata :
“Aku kesusu mas.”

Waktu itu, saya anggap nada dari kata-kata orang itu tinggi, sekaligus ketus. Saya jawab kata-katanya dengan pernyataan yang cukup keras :
“Kabeh kesusu mas, ra ming kowe!”

Orang itu menoleh, terlihat gusar. Orang yang berada di depan saya juga ikut menoleh ke arah saya, dan kemudian memandang pada penyerobot antrian. Seorang petugas terlihat berdiri, dan kemudian meminta si penyerobot untuk mengantri di belakang. Beberapa orang juga kemudian memperhatikan kami. Muka saya, merah padam tentu saja.
Campuran antara amarah, dan juga sedikit malu karena sudah terpancing pada situasi yang tak perlu berkembang menjadi keributan.

Mungkin angka buta huruf di negara ini sudah semakin rendah, dan sudah semakin banyak orang yang bisa membaca huruf latin. Huruf yang hanya terdiri dari barisan A sampai dengan Z. Tak lebih.

Tetapi perihal memahami isi tulisan, bacaan, sepertinya masih jauh tahapan yang mesti ditempuh.

Ketiga, saya berada dalam situasi yang juga kurang menyenangkan, tetapi tak langsung berkait dengan huruf serta tulisan.

Situasi terjadi di depan kasir, sebuah minimarket. Dua orang terlihat berbanjar mengantri untuk membayar. Saya mengambil posisi di belakang orang kedua. Sepertinya orang yang paling depan sedang membayar suatu tagihan, dan memang cukup lama proses yang dilakukan. Ketika akhirnya orang yang paling depan selesai dengan urusannya, orang yang tepat berada di depan saya maju satu langkah. Dalam sepersekian detik sebelum saya ikut melangkah maju, tiba-tiba saya ada orang lain yang berdiri di depan saya, pada sebelah kiri, hampir sejajar dengan orang yang sebelumnya persis berada di depan saya, sembari meletakkan satu keranjang di meja kasir.

Saya jengkel juga. Memang sih saya hanya membeli sebotol Pocari Sweat dan dua plastik Sari Roti sandwich, sedang dia berbelanja lebih banyak. Tapi kan ya ada etika yang harus terpenuhi di dalam situasi yang terjadi. Saya peringatkan perihal antri, orang itu dengan enteng menjawab :
“Ra ono tulisane antri mas.”

Mendadak saya teringat adegan-adegan film, ketika orang-orang menjengkelkan di lempar ke arah rak-rak minimarket, dan kemudian beberapa botol minuman pecah serta tumpah menimbulkan efek dramatis dalam slow motion. Tentu saja hal itu hanya ada dalam pikiran saya, dan tak mungkin dilakukan. Mau diganti pakai apa rak-rak yang rusak dan barang-barang yang juga akan rusak kalau saya melempar manusia bermulut ketus itu. Lagipula dilihat dari wajahnya, orang itu seusia dengan Mamak saya. Tentu meski seringkali naik darah dalam situasi yang cenderung merugikan, saya masih banyak berpikir untuk terlibat keributan dengan perempuan.

Hanya saja, sembari membayar, saya kemudian berkata pada kasir minimarket untuk mengusulkan pada atasannya, agar diberi tulisan ‘antri’.

Kasir minimarket tersenyum, dan kemudian berjanji akan menyampaikan pada atasannya.

Pada situasi di mana ketiadaan tulisan ‘harap antri’ menjadi permasalahan, saya merasakan suatu hal yang ironi. Sedang pada tempat-tempat yang sebenarnya ada dan tertera tulisan tersebut, situasi mengantri dengan tertib juga jarang terjadi.

Saya tak lantas juga menyalahkan orang yang menyerobot antrian saya. Mungkin, ia tak terbiasa membaca situasi, serta mungkin sedikit alergi dengan kata ‘etika’ serta sopan santun. Mungkin juga, karena saya terlihat lebih muda, maka saya harus mengalah. Atau mungkin, ia bisa membaca pikiran saya yang tak tega dan sungkan ribut dengan perempuan.

Atau….atau….atau….sebenarnya belajar membaca itu tak lebih agar sekadar bisa dan pantas di sebut manusia modern?

Atau ada sebab lain?
Demi….demi….demi hal-hal lain….?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

18 Comments

  1. I’m commenting to let you be aware of of the beneficial discovery my child encountered browsing the blog. She came to understand a lot of details, including how it is like to have a great coaching character to get certain people completely comprehend a variety of complex issues. You actually did more than her desires. I appreciate you for coming up with such essential, dependable, edifying and cool guidance on that topic to Ethel.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.