Membeli Buku Untuk Perpustakaan Madrasah

Ilustrasi Perpustakaan. Gambar : Pixabay

Akhirnya terjadi juga, bahwa saya memang lebih banyak berbicara saja. Lebih banyak berteori, lebih banyak nggambleh, tanpa banyak berbuat nyata. Dalam hal buku, juga begitu. Justru yang paling kentara, dalam hal buku itu. Bacaan yang selama ini saya selalu memiliki idealisme, tentang bacaan yang layak baca, dan tak layak baca.

Saya selalu menyarankan beberapa buku, untuk kawan atau orang-orang yang saya kenal. Saya selalu menyarankan buku yang secara keseluruhan mengandung tema sosial.
Tema pergerakan sosial yang berpusat untuk kemajuan banyak orang dan masyarakat, serta tak hanya berpusat dalam satu tokoh egois.

Saya selalu menyebut nama Pramoedya Ananta Toer [Pram], sebagai penulis yang karyanya lebih dari layak untuk dibaca. Buku-bukunya layak untuk dibeli, layak untuk dikoleksi.

Karya Pram selalu memukau, dengan kelihaiannya mengangkat tema-tema sosial dengan dibalut kata-kata serta kalimat yang mudah dipahami, bahkan oleh orang awam. Mengajak untuk merasakan, tanpa perlu menghakimi. Bukunya yang berjudul Bumi Manusia, selalu saya sarankan untuk dibaca, oleh siapapun.

Selain Pram, saya menyarankan juga Tan Malaka [Tan], meski tidak untuk semua bukunya. Beberapa saja, dan ‘Dari Penjara Ke Penjara’ adalah salah satu favorit saya.
Saya selalu membicarakannya, perihal keteguhan hati dan sikap serta idealisme yang ia tuangkan dalam buku autobiografinya itu.

Banyak juga penulis lain, yang selalu saya bicarakan dalam lingkup kecil pergaulan, ketika sedang membicarakan buku.
Ada Puthut EA, Rusdi Mathari, Emha Ainun Nadjib, dan juga Gabriel ‘Gabo’ Garcia Marquez yang mampu memukau saya hanya dengan membaca satu bukunya saja.

Kesemuanya adalah penulis, yang saya tak akan melewatkan untuk melengkapi koleksi bukud dari mereka, ketika sedang mempunyai uang.
Saya akan selalu menyempatkan untuk melengkapi koleksi, ketika sedang berada di toko buku, dan mempunyai uang lebih.

Karya dari mereka tak pernah membuat saya bosan untuk membacanya. Dan saya tidak pernah membedakan perihal penulis dari dalam dan luar negeri. Bagi saya, yang terpenting adalah karya mereka, kegunaan karya mereka bagi masyarakat, dan bukan asal tempat tinggal atau kelahiran mereka.

Namun ternyata ada hal yang terasa berbeda, ketika saya mempunyai kesempatan, untuk membeli beberapa buku, untuk dijadikan koleksi pada perpustakaan madrasah.

Mempunyai keleluasaan untuk memilih dan mengambil buku-buku dari para penulis tersebut, saya gamang. Cukup lama saya termangu, dan tak kunjung mengambil salah satunya.

Memilih buku untuk anak-anak yang baru saja menginjak remaja, ternyata membuat saya mengalami dilema.

Begini, saya begitu terpesona dengan karya Gabo yang berjudul ‘Para Pelacurku Yang Sendu’. Tetapi apakah kemudian karya itu sudah layak dibaca untuk anak-anak yang menginjak usia remaja?
Anak-anak yang sebagian besar tidak mendapatkan pelajaran sastra secara mencukupi.

Yang saya takutkan, bahwa mereka membaca sesuatu, kemudian menafsirkan isinya hanya sesuai huruf, kata serta kalimatnya. Tidak menafsirkannya secara jauh mendalam pada maknanya.
Saya takut mereka membaca karya Gabo yang begitu monumental itu hanya secara harfiah saja, dan enggan menyelami maknanya.

Maka saya kemudian ragu, dan tak mengambil novel terjemahan itu dari rak di toko buku.

Ternyata, saya sama saja dengan orang-orang yang banyak bicara, dan banyak menilai orang lain secara subyektif dan sepihak.
Bisa jadi anak-anak itu sudah siap membaca novel yang mengisahkan perjalanan hidup sehari-hari seorang mantan jurnalis dengan seorang pelacur muda itu.

Tetapi saya memilih untuk tak mengambil buku itu, dan memilih menuruti penilaian sepihak saya perihal anak-anak yang belum mampu membaca karya yang satire semacam itu.

Buku Pram juga tak saya ambil, dengan pertimbangan yang hampir sama dengan apa yang saya lakukan ketika hendak mengambil karya Gabo. Saya khawatir anak-anak hanya akan membacanya secara harfiah saja, dan tak memahami kandungan nilai di dalamnya.

Terus saja saya khawatir dihinggapi perasaan semacam itu. Tetapi saya memang menggenggam keyakinan dengan didasari suatu kenyataan, bahwa anak-anak itu belum siap mendapatkan asupan bacaan dari penulis semacam Gabo atau Pram.

Selama ini, saya melihat buku yang paling banyak terdapat di perpustakaan madrasah adalah buku karangan….Tere Liye.

Duh, demi pelepah daun pisang yang mengering.

Tentu saya tak menyalahkan anak-anak yang lebih banyak membaca karya Tere Liye. Saya juga tak menyalahkan pengelola perpustakaan yang banyak menyediakan karya Tere Liye.

Tak ada yang salah juga dengan karya dan tulisan Tere Liye. Hanya saja, masih banyak yang lebih baik….

Selama ini perpustakaan kurang mendapatkan perhatian dari pihak sekolah atau madrasah, dimanapun.
Perpustakaan sebatas hanya sebagai pelengkap, syarat untuk mendapatkan nilai akreditasi yang baik.

Perihal tujuan yang ingin dicapai melalui perpustakaan, kurang diperhatikan. Maka isi buku dan bacaannya pun kurang terarah. Maksud saya begini :

“Jika ingin mempunyai murid yang pandai tulis menulis, atau menguasai literasi tingkat lanjut, sediakan buku bacaan yang relevan dan berkualitas.”

Selama ini saya melihat, kebanyakan sekolah atau madrasah kurang memperhatikan prestasi murid mereka, di luar pelajaran intra. Untuk ekstra hanya asal-asalan. Tetapi ketika ada murid yang mendapatkan prestasi atau juara dalam suatu event, sekolah atau madrasah bergegas memberikan klaim keberhasilan.

Padahal, murid mendapatkan kemampuan sehingga mampu mendatangkan prestasi, bukan karena bimbingan sekolah atau madrasah secara langsung.

Hal itu tidak hanya terjadi dalam bidang literasi, tetapi juga dalam bidang yang lain, olahraga misalnya.

Saya pernah melihat suatu sekolah dengan banyak piala dalam bidang balap motor, yang di dapatkan oleh salah seorang muridnya. Ketika saya bertanya apakah sekolah tersebut menerapkan atau mempunyai mata pelajaran balap motor, baik dalam intra maupun ekstra, pihak sekolah menjawab lugas : Tidak!

“Piala itu di dapat oleh murid kami yang berprestasi dalam bidang balap motor.” Kata mereka bangga.

“Tapi kok mereka ke sekolah tidak boleh membawa sepeda motor?” saya bertanya balik.

Tentu mereka tak bisa menjawab, sebab sekolah itu masih setingkat dengan SMP.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

155 Comments

  1. Howdy this is kind of of off topic but I was wanting to know if blogs use WYSIWYG editors or if you have to manually code with HTML.
    I’m starting a blog soon but have no coding expertise so I wanted to get guidance from someone with experience.

    Any help would be enormously appreciated!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.