Memberanikan Diri Mengunjungi Situs Masa Lalu

Curva Est, ultras tanpa tim.

Memberanikan diri mengunjungi situs masa lalu adalah perihal memberanikan diri menguak memori. Entah memori yang indah, memori penuh luka, atau bahkan jika itu adalah campuran keduanya.

Ingatan yang belum terlampau lama tertinggalkan itu kembali menyeruak. Memori kembali melayang pada awal tahun 2018, sekira dua tahun yang lalu. Ketika dengan langkah gontai saya memasuki pelataran sebuah bangunan madrasah. Itu adalah bangunan yang akan menjadi persinggahan saya selanjutnya…—skip—.

Banyak hal yang saya dapatkan disana. Pengalaman, dan tentu saja…pembelajaran.

Itu adalah tempat yang jika secara sadar saya harus menentukan pilihan, maka saya tak akan mengambilnya. Tetapi saya memang harus kesana, dan bukankah begitu pada akhirnya? Menjalani, dengan suka ataupun tidak suka.

Tempat itu memang pada akhirnya harus saya tinggalkan setelah lebih kurang satu setengah tahun lamanya. Dengan sedikit drama tentu saja.

Sudahlah, skip lagi.

Selasa [28/04/2020], saya kembali kesana. Ada perasaan berkecamuk.
Kenangan saya pada tempat itu memang tidak didominasi kenangan indah ataupun luka. Yang ada adalah perpaduan keduanya, saling melengkapi pada detail, berkelindan satu dengan yang lain.

Mungkin bagi saya semacam mengunjungi Boven Digoel bagi para tahanan politik yang pernah ditahan disana. Terlalu berlebihan?
Saya kira tidak, jika ditarik garis lurus persamaan bahwa saya memang merasa dibuang disana.

Bagi beberapa orang Digoel mungkin memang teramat menyakitkan. Tetapi bagi sebagian yang lain, ada hal-hal yang lahir dan tumbuh serta berkembang dari tempat yang ‘menyakitkan’ semacam itu.
Mahakarya Pramoedya Ananta Toer lahir di Digoel, dan entah kenapa dalam skala paling kecil saya selalu membandingkan nasib dengannya. Nasib karena sama-sama dibuang tanpa tahu persis perihal apa dan bagaimana kesalahan.

Blog ini juga lahir di tempat itu, pada madrasah tempat saya menghabiskan waktu untuk merenungi masa lalu, dan merencanakan masa depan. Tentu saja yang saya maksudkan dengan merencanakan masa depan adalah dengan tidak berlama-lama menetap disana. Sebatas itu.
Dan waktu kemudian lebih banyak berakhir dengan tatap pandang kosong dan kabur menuju gambar-gambar buram masa lalu. Kenapa saya bisa disana?

Sudahlah, skip lagi.

Seharusnya saya memang banyak bersyukur karena entah dengan sengaja ataupun tidak, banyak pelajaran yang bisa saya dapatkan ketika berada disana.
Pun begitu, Gatotkaca juga takkan mau jika untuk kedua kali diminta untuk memasuki kawah candradimuka.

Begitu juga dengan diri saya yang rapuh dan rentan. Saya takkan pernah memilih untuk kembali kesana, bukan karena alasan tempat. Melainkan karena sejarah perihal kenapa saya ada disana. Terkadang, sebab kejadian selalu lebih dominan untuk mempengaruhi pilihan-pilihan kedepan.

Maka saya kembali kesana dengan perasaan yang berkecamuk sebenarnya. Terlalu banyak drama yang terjadi, dan itu mempengaruhi hidup serta cara pandang saya mengenai kehidupan, sampai dengan saat ini, dan mungkin juga sampai kelak pada hari-hari ke depan.

Ada perasaan bersalah, pun juga ada amarah. Ada perasaan menyesal, pun juga berbalut dengan kelegaan.

Seorang kawan menghubungi untuk meminta bantuan berkait dengan pekerjaan. Dan pada kawan saya itu, tak ada kata selain setuju. Saya tak pernah tega mengabaikan kawan, apalagi jika ia adalah kawan yang (saya anggap) baik.

Komputer tempat saya menghabiskan waktu demi waktu disana, masih persis berada pada tempatnya, bahkan setelah lebih dari setengah tahun lamanya. Isi di dalamnya masih sama, dan tak banyak berubah. Susunan partisi dan folder-folder di dalamnya juga masih berupa jejak peninggalan saya. Satu folder berisi hampir 200GB film juga masih berada pada tempatnya. Ketika saya tanyakan kenapa masih utuh, jawaban dari kawan saya itu sukses membuat sebuah senyum kecut tersungging pada relung hati :

“Aku rawani ngowah-owahi, sopo reti kowe bali mrene.” (Aku tidak berani mengubah apapun, siapa tahu kamu kembali kesini)

Saya jawab dengan setengah bercanda bahwa kelak pasti kembali, tetapi entah sepuluh atau dua puluh tahun lagi.

Tentu saja itu setengah bercanda, dan setengahnya lagi adalah penolakan.

Saya akan sering kembali kesana, tetapi bukan sebagai bagian didalamnya lagi. Saya hanya akan kesana sebagai kawan yang merindukan kawannya.

Cukup lama saya pandangi komputer yang dulu cukup karib dengan saya. Pun meja yang menyangganya. Kini sudah cukup rapi dan tak lagi terlihat banyak kertas berserakan seperti ketika saya masih disana. Tempat itu masih sama persis, pun juga tak ada seorangpun yang mengklaim mendudukinya. Dibiarkan kosong kecuali ada pekerjaan yang harus diselesaikan pada komputer itu.

Saya memang hanya sekira satu setengah tahun berada disana, tetapi itu sudah cukup untuk memberikan relief dalam dan tajam, jauh lebih dalam dari apa yang saya dapatkan selama enam tahun di kantor Sleman. Memang benar sebuah kata pepatah :

“Waktu bukan perihal lamanya menjalani, tetapi tentang bagaimana dijalani.”

Komputer itu diberikan kepada saya untuk bekerja, tanpa pernah saya memintanya. Dulu pada awalnya, saya menggunakan laptop tua kebanggan yang telah menemani semenjak bertahun sebelumnya. Saya tak pernah berani meminta fasilitas, pun jika itu untuk menunjang kelancaran mekanisme organisasi secara keseluruhan.

Maka pemberian yang tanpa pernah saya meminta itu, kini berhasil memutar ingatan serupa film dokumenter berwarna.

Satu ruang yang dibangun bersebelahan dengan dapur saya tak berani melihatnya. Dulu ruang itu dibangun untuk juga khusus diberikan kepada saya. Agar saya bisa bekerja sembari merokok. Kini ruang itu juga belum difungsikan untuk apapun. Masih juga sama seperti ketika saya tinggalkan.

Ah ya, mengunjungi situs-situs masa lampau memang membutuhkan keberanian.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *