Membunuh Perpisahan

Sepertinya kabar buruk masih akan terus mendatangi telingaku, hari ini. Setelah kabar kematian si tua Barjo, kini seorang kawan karib juga akan pergi.

Bukan, kawan karib yang pergi bukan pergi seperti Barjo yang mati. Tetapi tetap saja itu juga kabar buruk. Kawanku yang akan pergi ini sangat setia menemaniku misuh dan mengumpat, dimana pun tak peduli tempat.

Dan Barjo, dia adalah mantan preman penguasa terminal Umbulharjo. Aku mengenalnya ketika dulu sering ikut Pakdhe yang sopir bis kota. Aku juga bukan ikut dalam arti hanya duduk diam didalam bis sembari melihat pemandangan laiknya turis bepergian. Aku menjadi kondektur. Dan suatu peristiwa pada suatu siang mengantarkanku untuk mengenal Barjo. Aku tidak akan menceritakan peristiwa apa yang mengenalkan aku padanya. Yang pasti, Barjo-lah yang mengajariku bagaimana cara berkelahi dijalanan. Dan kini, dia mati. Bukan karena berkelahi seperti kegemarannya dulu, Barjo sudah lama pensiun semenjak terminal pindah ke Giwangan. Dia mati karena mencoba menyelamatkan kekasihnya dari terkaman bis antar kota di ringroad selatan. Dia sedang akan menyeberang jalan bersama kekasihnya ketika sebuah bis antar kota yang melaju kencang kehilangan kendali dan menuju tepat dimana Barjo dan kekasihnya berada. Demi melihat hal yang berlangsung cepat itu, Barjo mendorong kekasihnya sekuat tenaga, dan menerima terjangan kencang bis antar kota itu sendirian. Meregang nyawa, Barjo meninggal seketika. Setidaknya itu yang dikabarkan kekasihnya kepadaku.

Ketika awal mengenalnya, Barjo masih berusia pertengahan tiga puluhan, lima belas tahun yang lalu. Preman menyeramkan yang mengajariku cara berkelahi dijalanan itu suatu saat mungkin setengah sadar berbicara padaku.

“Cah.”

“Apa Lik?” saya memanggilnya Paklik, karena usianya memang belum lebih tua dari usia Bapakku yang juga belum tua.

“Gimana caranya bikin surat cinta?”

“Apa Lik? Surat cinta?” aku tertawa sekeras-kerasnya demi mendengar pertanyaan Lik Barjo.

“Asu cah. Ditanya beneran kok.”

“Serius to Lik?”

“Lha yo serius to mblung, cah gemblung.”

Aku tertawa keras sekali lagi, sangat keras malah sampai-sampai Mbak Inah penjaga toilet yang berjarak sekira tiga puluh meter dari tempat kami mengobrol menoleh dan berteriak bertanya apa gerangan yang membuatku tertawa demikian kerasnya.

Lik Barjo hanya misuh-misuh setelahnya.

Akhirnya aku meminta dua lembar kertas dan meminjam sebuah pulpen pada Tanti, penjaga loket penjualan tiket bis Sumber Agung tujuan Surabaya. Segera aku kembali ketempat Lik Barjo masih duduk. Aku tidak berbicara selama lima belas menit, setelahnya kuberikan selembar kertas yang sudah penuh dengan tulisan tanganku.

“Ni contohnya Lik.”

“Apa iki?”

“Lhaiya katanya minta contoh surat cinta. Haa yo itu.”

“Weh. Bikinin sekalian saja Le.”

Haa yo wegah. Sik arep pacaran sopo, sik nulis sopo.”sergahku, mengelak dari tugas menggelikan itu.

“Wooo, cah gembus.”

Seminggu berselang, aku kembali bertemu Lik Barjo. Aku memang mengikuti Pakdhe sebagai kondektur hanya tiap hari Minggu atau ketika libur sekolah. Mata Lik Barjo terlihat berbinar siang itu. Segera menghampiriku yang baru saja turun dari bis setelah berputar mencari penumpang di jalur tujuh.

“Sukses Caaaahhhhh!!!!” Lik Barjo berteriak sembari tangannya maju terarah pada kepalaku, aku mengelak.

“Sukses opo Lik?”

“Surat cintanya.”

“Sudah bikin?” tanyaku.

“Haa yo sudah. Sudah kuberikan malah. Sudah dibalas juga.”

“Terus?” tanyaku belum paham.

Gembus. Haa yo sekarang aku ndue pacar!” kata Lik Barjo dengan penuh semangat dan binar kebahagiaan.

Perempuan yang diberi surat cinta oleh Lik Barjo, adalah perempuan yang mengabarkan kematiannya kepadaku, kekasih Lik Barjo. Perempuan yang pertama dan terakhir mendapatkan surat cinta dari Lik Barjo. Lik Barjo mengaku, bahwa sampai usianya saat itu, belum pernah ada perempuan yang membuatnya jatuh cinta. Dan ketika pada akhirnya jatuh cinta, kurasa kekasihnya salah satu perempuan paling beruntung di dunia. Setelah peristiwa surat cinta itu, mereka memang berpacaran. Kemudian menikah lima tahun berselang, ketika aku sudah tak lagi ikut Pakdhe menjadi kondektur. Lik Barjo selalu menyebut istrinya, kekasih. Kekasih yang diselamatkannya dari malaikat maut, dan dibayar lunas dengan nyawanya sendiri. Ah..Lik Barjo mati dengan cara romantis. Tak terasa air mataku mencair dari tempat penyimpanannya.

Sepasang tangan tiba-tiba menyalamiku, berpamitan. Kawan karib yang akan pergi karena pindah tugas. Aku mengumpat dalam hati, dan membalas kata pamitnya dengan kata-kata yang bisa kurangkai sekenanya. Aku tak pernah bisa karib dan akrab dengan perpisahan. Dan kata-kata pamitan dari kawanku tadi seolah semakin menegaskan bahwa aku suatu saat harus membunuh perpisahan, demi apapun juga.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

18 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *