Memesan Keranda

Bagong melangkah kepayahan, kali ini ia tak berani banyak cakap meminta orang di depannya untuk tak melangkah dengan tergesa. Bibir dowernya bungkam, dan ia lebih sibuk untuk sesekali menyangga perut yang membulat besar jika langkahnya harus diselingi lari kecil. Pantatnya terlihat bergoyang dalam langkah yang ia paksa selebar mungkin dalam satu ayunan kaki. Sedang orang di depannya, tak pernah terkejar. Selalu terjaga dalam jarak sekira empat tombak, meski Bagong sudah berusaha mengejar dengan sesekali berjalan cepat atau berlari.

Orang di depannya juga terus bungkam, dan sibuk dengan langkah kaki. Tak juga sekalipun ia menolehkan wajah ke arah belakang, pada tempat Bagong melangkah mengikuti.

Tiba pada suatu persimpangan jalan, Gareng, orang yang berjalan di depan Bagong, berhenti. Bagong juga kemudian menghentikan langkahnya dalam jarak yang tetap terjaga. Gareng berjongkok, dan seperti mengambil sesuatu dengan tangan kirinya, dan tanpa mengubah posisi ia lemparkan sesuatu yang ia ambil itu ke dalam sungai kecil yang mengalir. Bangkai kadal. Gareng kemudian berdiri, dan melangkah pelan pada sungai kecil tempat ia melemparkan bangkai kadal. Sungai kecil yang pada tepinya rimbun oleh rerumputan, semak, tempat hidup berbagai hewan termasuk kadal dan kepiting air tawar. Ia kembali berjongkok, tepat di sebelah gerumbul pohon pisang, mengulurkan tangannya sampai menyentuh aliran air yang jernih, kemudian kedua tangannya melakukan gerak untuk saling mengusap membersihkan. Gareng kembali berdiri, memunggungi jalan dan menghadap pada aliran sungai kecil yang mempunyai lebar tak lebih dari empat langkah kaki orang dewasa. Tepat di sisi seberang, hamparan sawah menunjukkan bahwa sekira tiga purnama lagi, akan ada panen raya padi.

Gareng terlihat menghela nafas, dan Bagong masih mengatur nafas.

Gareng membalikkan badan, sejenak melihat ke arah Bagong, tersenyum, dan kemudian melanjutkan langkah ke arah yang sama sebelum mereka bertemu mayat kadal di tengah jalan. Bagong kembali bergegas mengikuti. Jalan setapak yang mereka lalui tak terlampau ramai. Hanya mereka berdua, dan sesekali gerobak petani dengan satu atau dua sapi terlihat melintas. Berpapasan atau mendahului langkah kaki mereka. Beberapa orang nampak terlihat, namun hanya pada tepi jalan. Beberapa bergerombol dalam dua sampai enam orang, beberapa sendirian. Beberapa terlihat bersandar pada pepohonan besar yang berada di tepi jalan, beberapa merebahkan diri di tepi jalan yang tertutup hijau rerumputan. Sementara diantara mereka terlihat beberapa kendi air dan juga bungkusan daun pisang. Ada juga beberapa plastik berisi makanan.

Mungkin mereka petani yang sedang beristirahat. Pohon-pohon besar beraneka jenis dan ragam tumbuh rapi di sepanjang pinggir jalan. Teduh, dan menenteramkan. Melindungi yang berjalan dari terik sinar matahari, dan juga mengayomi petani yang sedang beristirahat.

Sembari terus melangkah, Gareng dan Bagong terlihat menyapa orang-orang yang mereka temui. Dan orang-orang itu juga membalas sapaan Gareng maupun Bagong, beberapa menawari mereka untuk singgah sejenak. Namun Gareng membalas tawaran singgah dengan mengangkat tangan serta melemparkan senyuman, dan tetap melangkah. Bagong sebenarnya ingin singgah, atau paling tidak sembari terus berjalan tangannya meraih satu atau dua bungkus makanan. Beberapa orang, para petani yang sedang beristirahat dari sengatan matahari menjelang siang, mengulurkan bungkusan makanan. Bagong menelan ludah, namun tak mengambil tawaran.

Pandangannya kembali lurus ke depan, ke arah kakak sulungnya yang terus melangkah dan berjalan. Nafasnya kembali tersengal, perutnya terlihat tak beraturan. Langkahnya sudah terlihat kepayahan. Namun Bagong tetap melangkah berjalan, tak ingin semakin ketinggalan.

Berselang tiga ratus enam puluh lima langkah selepas melewati petani yang sedang beristirahat, Gareng kembali menghentikan langkah. Sesuatu menarik perhatiannya. Kesempatan itu digunakan Bagong untuk lekas juga menghentikan langkah, dan meletakkan kedua telapak tangannya pada lutut yang sedikit tertekuk. Bagong terangah-engah. Ia belum terlampau memperhatikan sebab mengapa Gareng kembali berhenti berjalan. Kepalanya tertunduk, melihat pada jalan tanah yang sudah mengeras. Keras oleh langkah manusia ataupun gerobak yang melindasnya.

Masih dalam posisi yang belum berubah, Bagong mendongakkan kepala, melihat ke arah Gareng berada. Gareng terlihat kembali sedang memungut sesuatu. Kali ini Bagong kemudian berjalan menghampiri pada tempat Gareng berada, karena beberapa waktu lamanya Gareng tak kunjung berdiri. Gareng sedang mengambil sebuah sarang burung, yang mungkin terjatuh dari atas pohon di sekitar mereka. Sarang itu berisi tiga anak burung, yang kesemuanya masih berwarna merah dan belum tumbuh bulu. Masih dalam posisi berjongkok, Gareng menengadahkan kepala, menyapukan pandangan pada beberapa cabang pohon dia atas mereka.

“Disana.” katanya pelan, retoris, dan bahkan tak ditujukan pada siapapun termasuk Bagong, sembari beranjak berdiri dan menuju salah satu pohon.

Dalam gerak yang belum terlalu disadari oleh Bagong, Gareng sudah memanjat sebuah pohon. Tangan kanan dan kedua kaki serta tubuhnya terlihat aktif dan lincah memanjat sebuah pohon trembesi. Sementara tangan kirinya terlihat membawa sarang burung yang tadi ditemuinya jatuh di tengah jalan. Gareng memanjat dan menuju sebuah cabang pohon, terlihat ada bekas sarang dengan tanda beberapa rumput kering yang tertinggal. Rumput yang sama dengan sarang yang berada di tangan kirinya. Hanya dalam beberapa tarikan nafas yang masih tersengal, Bagong melihat Gareng sudah berada kembali di jalan, dan hendak meneruskan langkah.

Tak berapa lama Gareng kembali melangkah setelah untuk terakhir kalinya mendongakkan kepala, melihat dan memastikan bahwa sarang burung itu kembali pada tempatnya semula, dan juga baik-baik saja. Bagong menggelengkan kepala. Kakak sulungnya itu memang terkadang gila. Bahkan tempo hari sesesorang yang diinjak sapi dan juga terlindas gerobak tak ditolongnya. Kini tiga ekor anak burung dikembalikan pada tempatnya.

“Tempo hari, orang itu mabuk dan membuat onar di pinggir jalan. Karena kurang waspada, kakinya tersandung batu, terjatuh, tepat di depan sapi beserta gerobaknya.” Gareng berseru dengan suara agak keras, seolah mengerti isi hati dan pikiran Bagong.

Bagong tersentak. Ada dua hal yang mengejutkannya.
Pertama, itu adalah suara pertama Gareng sedari pagi, semenjak mereka mulai berjalan sampai kini matahari mulai terik dan meninggi. Kedua, Bagong heran kenapa Gareng masih mampu membaca isi hati dan pikirannya. Padahal ia sudah merapal mantra untuk menutup peluang agar orang lain tak bisa membaca hati dan pikirannya.

“Ga usah heran Gong, aku kan kakangmu. Aku tahu isi hati dan pikiranmu.” Lagi-lagi perkataan Gareng membuat Bagong bersungut.

Barisan perbukitan kini terlihat gagah menjulang berdiri di depan mereka. Jalan yang mereka lewati tepat mengarah dan mengantar menuju kesana. Kini pohon-pohon besar tak lagi ada dan berjajar di tepi jalan seperti sebelumnya. Namun sungai kecil untuk pengairan dan tanah persawahan masih berada di kiri kanan. Di tepi jalan kini hanya terlihat beberapa gerumbul pohon pisang, dan juga pohon ketela kayu. Persis mendekati untuk naik bukit, jalan menyempit. Gerobak tak lagi bisa melintas. Hanya kuda dan sapi tanpa gerobak yang bisa melintas. Serta tentu saja, pejalan kaki seperti mereka.

Jalan di tubuh bukit itu sedikit terjal, namun dibuat berkelok sedemikian rupa. Mereka sampai puncaknya. Puncak bukit dipenuhi tanaman dan sayuran milik penduduk. Tertandai dari baris tanaman yang rapi, dan keberadaan beberapa gubug atau saung. Kini mereka bersiap memasuki hutan. Pegunungan yang mereka baru saja capai pada puncaknya, mengantar untuk memasuki rimbun pepohonan hutan. Hutan dengan pohon besar dan lebat tepat berada di depan mereka, setelah beberapa petak ladang.

Gareng menyulut sebatang rokok setelah mengambil dari wadahnya, dan tak lupa melemparkan satu ke arah Bagong. Dengan sigap Bagong menangkapnya, dan kemudian juga menyulutnya. Sedari tadi ia menunggu Gareng mengeluarkan rokok. Di sakunya hanya ada korek, tanpa rokok. Asap terlihat mengepul dari tempat mereka berdua berdiri. Gareng mengedarkan pandangan pada sekitar tempat mereka berdiri. Tebing-tebing bukit di seberang, dan juga semut yang berbaris rapi tak jauh dari kedua kakinya.

Tak terasa sebatang rokok sudah mereka tandaskan dalam sekejap berdiri melepas lelah. Gareng juga merasa lelah tentu saja, dan terlebih ia merasa kasihan kepada Bagong sehingga memutuskan untuk sejenak beristirahat. Gareng merasa lega, perkiraannya tidak meleset, bahwa jika terus berjalan dalam tempo cepat, mereka akan sampai di tepi hutan sebelum matahari jauh tergelincir dari puncaknya. Gareng menghindari berjalan ditengah hutan ketika matahari sudah jauh tergelincir ke barat, atau bahkan menjelang petang. Ia tak ingin memetik resiko bertemu genderuwo atau wewe gombel dan aneka dhedemit lain yang terkenal banyak menghuni sisi-sisi serta sudut hutan. Kalau cuma bertemu begal atau perampok, Gareng masih berani. Lagipula tak ada begal atau perampok yang cukup bodoh menghadang. Di saku mereka hanya akan diketemukan slepen berisi rokok atau tembakau, dan sebilah arit untuk mencari kayu bakar. Tetapi kalau harus bertemu genderuwo, Gareng memilih berkata tidak. Bukan karena takut, tetapi enggan jika bertemu dan kemudian ditawari untuk mampir dan hanya di suguh sajian yang tak lain hanya ketela bakar, tanpa minuman. Tenggorokan akan terasa seret dan kering. Ia pernah mengalaminya ketika suatu waktu melintas di hutan itu bersama Petruk.

Belum lagi kalau harus bertemu wewe gombel, ia akan semakin menghindarinya. Payudara wewe gombel yang dibiarkan menggantung terbuka tanpa kutang membuatnya risih. Sebenarnya tak mengapa kalau bentuk payudara wewe gombel itu seperti yang ada dalam bayangan dan pikiran subyektifnya. Tetapi bentuknya yang tidak karuan membuat Gareng sebisa mungkin menghindar. Dulu ketika melintas bersama Semar, Gareng pernah terpaksa mampir ke rumah wewe gombel itu. Ratap iba dari wewe gombel agar Semar dan Gareng sudi bertandang ke gubuknya membuat Gareng tidak tega. Jadilah mereka mampir meski tak lama. Dan budaya sosial pergaulan wewe gombel yang tak memakai kutang meski ada tamu bertandang membuat Gareng tak menyentuh suguhan teh susu yang dihidangkan tuan rumah.

Pagi tadi sebenarnya Gareng juga tak ingin mengajak Bagong. Namun adik bungsunya itu berkeras mengikuti meski tanpa nada suara meminta. Hanya saja ketika Gareng beringsut pergi, Bagong mengikuti.

“Ayo Gong, keburu sore.” Gareng berkata sembari melangkah dan tanpa menolehkan wajah.

Beberapa petak ladang terlewati oleh langkah kaki. Saung-saung dan gubuk nampak kosong. Mungkin hanya pada pagi atau sore hari dipakai oleh petani yang sedang merawat tanaman serta ladangnya.

Kini mereka berhadapan dengan dua pohon mahoni besar yang berada di sisi kiri kanan jalan, seolah pintu gerbang sebelum memasuki hutan. Sebenarnya hutan yang akan mereka lewati tak terlampau luas. Tetapi rimbun pohon dan jarangnya di lewati manusia, membuat banyak cerita mistis beredar di sekitarnya. Gareng bersiul sembari sembari menolehkan wajah dan mengedarkan pandangan ke sekeliling mereka. Bagong kini merapat dan hanya berjarak dua langkah saja dari kakaknya.

Bagong trauma. Dulu ia pernah tersesat selama tiga hari dua malam di tempat ini. Ketika sedang berjalan sendirian dan tak sadar ketika matahari sudah tenggelam. Seingatnya, waktu itu, ia berjalan sendirian karena sedang terlalu bersemangat mempunyai sandal baru. Sandal baru pemberian Semar, bapaknya. Maka dengan sandal baru itu berjalan, jauh, dan sampai di tepi hutan kecil ini. Selama tiga hari itu ia hanya memakan dedaunan, dan minum dengan cara menjilat embun pada permukaan daun di pagi hari. Bagong bergidik membayangkan kejadian waktu itu, ia tak ingin kejadian tersebut terulang.

“Kamu memang payah Gong, kamu bisa banyak dapat makanan di hutan ini. Lha kok malah cuma makan dedaunan.” Gareng terkekeh ketika teringat kejadian itu. Akhirnya ia dan Petruk yang mengeluarkan Bagong dari dalam hutan, setelah Semar mengutus mereka untuk mencari Bagong ke dalam hutan. Adik bungsunya saat itu sudah pucat pasi karena kelaparan.

“Makanan apaan, lha wong aku malah yang mau diuntal macan.” Bagong bersungut.

“Macan juga ga goblog lah Gong. Mana mau macan nguntal kamu. Bisa-bisa macannya mati keracunan, lha wong kamu itu mandi aja dua minggu sekali.” Gareng semakin terkekeh, Bagong terlihat mecucu.

Dua ribu empat ratus tiga puluh enam langkah selepas dua pohon mahoni besar, hutan mulai tersibak, dan terlihat kembali perkampungan. Gareng menghentikan langkah dan mengatur nafas, Bagong kehabisan nafas dan terduduk lemas di atas akar sebuah pohon jati besar. Tubuhnya bersandar pada batang, perutnya terlihat turun naik sesuai irama nafasnya.

“Capek Gong?”

“Iya.”

“Sama.”

Selepas mengucapkan kata ‘sama’ untuk menimpali kelelahan yang mendera Bagong, Gareng melangkahkan kaki menuju perkampungan.

“Whaaa lha katanya capek, mbok ya istirahat dulu to Reng.” Bagong berteriak.

“Capek itu karena mulutmu berkata capek, coba diam saja. Lha wong kakimu yang dari tadi pagi dipakai berjalan aja juga cuma diam kok. Kakimu ga bilang capek toh?” Gareng menjawab sembari terus melangkah.

“Woooo edan.” Bagong berdiri dan berlari mengikuti.

Setelah melewati beberapa rumah penduduk beserta pekarangannya, mereka berhenti di depan pintu pagar sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas. Pagar yang memisahkan tanah pekarangan dan jalan itu hanya terbuat dari bambu, dengan tinggi tak lebih dari dada Bagong. Hanya sekadar untuk memeri tanda pemisah antara jalan umum dan pekarangan penduduk.

Pekarangan luas itu berisi banyak potongan batang pohon besar. Beraneka jenis dan ukuran. Sedang rumahnya terletak di sudut sisi kiri dari tempat Gareng dan Bagong berdiri. Tak seperti kebanyakan rumah di kampung ini yang berdiri tepat di tengah, rumah di depan mereka berdiri di sisi tepi dari keseluruhan pekarangan.

“Kira-kira kita akan disuguh makanan dan minuman enggak ya Reng?” Bagong bertanya dengan nada memelas.

Gareng tak lekas menjawab, dan memilih menyapukan pandangannya pada pekarangan dan juga rumah di depannya. Di sebelah rumah bangunan utama, ada sebentuk bengkel sederhana tanpa penutup, selain hanya atap. Terlihat kayu-kayu yang sudah dipotong rapi, ditumpuk dengan tak kalah rapi. Dalam berbagai panjang dan juga ukuran. Beberapa kayu yang sudah diolah berbentuk papan juga ditumpuk sedemikian rupa pada sisi yang lain.

“Kok serem to Reng?” Bagong berbisik.

“Serem gimana?”

“Itu, banyak keranda.”

Di antara tumpukan kayu yang berjajar rapi pada bangunan di sebelah rumah, berbagi tempat terletak beberapa keranda. Dalam berbagai bentuk dan ukuran. Paling banyak, bentuk yang tutupnya melengkung laiknya kubah dengan kayu-kayu yang dijajar mirip terali penjara. Beberapa ada yang sudah dicat, dipelitur atau vernis, dan beberapa masih belum diberikan sentuhan akhir.

“Mas Gareng, silahkan.” seseorang dari serambi rumah berdiri, dan setengah berteriak memanggil nama Gareng.

Gareng segera melangkah menginjak tanah pekarangan, menuju suara yang memanggilnya. Bagong menguntit di belakang.

“Sudah jadi.” sejenak setelah Gareng dan Bagong duduk pada tempat yang disediakan, empunya rumah memberikan informasi.

Tak berapa lama seorang perempuan keluar dari rumah membawa nampan. Berisi tiga cangkir dari tanah liat, dan sepiring ketela kayu rebus yang masih hangat mengepulkan asap. Tiga cangkir tanah liat berisi air teh hangat.

Tanpa dipersilahkan Bagong segera mencomot sepotong ketela, dan lekas memasukkan ke dalam mulutnya. Bibir dowernya komat-kamit kepanasan.

“Hush.” Gareng memperingatkan, “belum dipersilahkan sudah main embat aja.”

“Eh ndak pa-pa, silahkan Mas Bagong.” tuan rumah menengahi, tak ingin timbul suasana kurang nyaman.

“Nah to ndak pa-pa.” Bagong nyengir, “Eh, tapi kok tau nama saya?” Bagong heran.

“Ooh, Mas Gareng atau Mas Petruk, dan juga Yai Lurah Semar sering bercerita mengenai Mas Bagong.” tuan rumah memberi penjelasan sembari tersenyum.

“Oooh.” Bagong kemudian asyik dengan ketela dan cangkir tehnya.

“Itu Mas Gareng, sudah saya persiapkan.” kata tuan rumah sembari tangan dan telunjuknya menunjuk tempat di belakang Gareng.

Gareng menolehkan kepala dan mengarahkan pandangan pada tempat yang ditunjukkan, sejenak saja, dan kemudian kembali seperti semula dan menganggukkan kepala.

“Di cek dulu, mas?”

“Ndak usah kisanak, sudah pasti bagus. Kami percaya.” Gareng tersenyum dan meminta ijin untuk meminum teh yang disuguhkan tuan rumah.

“Buat apa to Reng?” Bagong penasaran.

“Ya buat orang mati, kamu mau diangkut pakai itu sekarang?”

“Haaalambemu Reng. Wegah.” Bagong nyengir.

“Kita bawanya pulang bagaimana?” Bagong melirik.

“Ya kita sunggi, angkut berdua.” Gareng menjawab santai sembari menyulut sebatang rokok.

“Haa neh modyar sampai rumah.” Bagong mendelik.

“Kebetulan, langsung kamu yang reyen.” Gareng terkekeh, Bagong mendelik, tapi tahu bahwa kakaknya hanya bercanda.

“Keluarkan hapemu, telepon jasa angkut. Punya Pakde Sunar aja, dia ada truk. Kalau cuma colt ndak muat itu.” Gareng memberi perintah.

“Ndak punya pulsa je Reng. Tethering dulu ya.” Bagong meringis.

“Wooo lha, cah kere.”

Matahari sudah semakin lelah dan menua, beringsut manja di balik pepohonan rindang di sekitar mereka. Langit mulai terlihat gelap, serangga mulai bernyanyi dari tempat mereka bersembunyi.

Keranda-keranda di sebelah tempat mereka duduk mulai berderit, sebagian berdecit, dan sebagian lagi nampak mati. Tak ada suara lain, hanya ada kepul asap rokok dan diam yang menggema di seputar mereka.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

15 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *