MEMILIH ABSEN TEPAT WAKTU ATAU MENDORONG MOTOR MOGOK

Ketika masih ikut mburuh di kantor yang berlokasi tak jauh dari Pasar Sleman, saya harus menempuh jarak lebih kurang tiga puluh lima kilometer, sekali jalan. Biasanya saya akan mulai berangkat dari rumah sekira jam enam lewat tiga puluh menit. Dengan asumsi tak harus tergesa di jalan yang semakin hari semakin padat, dan bisa mengisi absensi tak lebih dari jam tujuh lewat tiga puluh. Batas akhir absensi pagi.

Jika lancar, menggunakan sepeda motor dengan santai tanpa memutar grip gas terlalu dalam, empat puluh lima menit saya akan sampai dengan selamat. Iyalah, kalau tidak selamat saya juga tak bisa menulis ini.

Dengan jarak tempuh yang lumayan itu, di jalan saya bisa melihat berbagai macam perilaku pengendara kendaraan, baik motor ataupun mobil. Dari yang biasa-biasa saja (tertib), ugal-ugalan, bahkan ngawur. Kalau hanya sekadar sein menyala ke kiri tetapi belok ke kanan, itu sudah biasa.

Pernah suatu kali saya melihat dua orang pengendara sepeda motor, di seruduk dari belakang oleh sebuah mobil pada perempatan yang lampu APILL sudah menyala merah. Lain waktu, sebuah sepeda motor hampir dihajar beberapa kendaraan lain karena nekat ngeblong di sebuah persimpangan yang cukup ramai, dengan lampu APILL juga menyala merah.

Selain perilaku pengendara yang bermacam rupa, ada juga kejadian-kejadian unik. Misalnya ketika saya melihat sepasang (suami-istri?) laki-laki dan perempuan saling berteriak dengan suara keras di pinggir jalan sebelah barat bangjo Kentungan. Banyak pengendara selain saya yang tertarik melihat adegan itu. Awalnya saya kira itu adalah syuting sinetron, ternyata itu syuting Avengers 9 dalam adegan ketika Black Widow bertengkar dengan Hawk Eye.

Tetapi paling sering, saya melihat orang-orang dengan sepeda motor yang dituntun. Beberapa mogok karena kehabisan bensin, atau karena sebab yang belum diketahui, dan beberapa lainnya ban mengalami kebocoran.

Jika ada yang kemudian sedikit ‘aneh‘, paling sering saya mendapati pengendara lain yang mengalami kesulitan, adalah ketika saya sudah kesiangan berangkat dari rumah.

Ketika jam tujuh kurang lima belas menit, atau kurang sepuluh menit saya baru meluncur dari rumah, paling sering saya menemui pengendara yang mengalami kesulitan. Tentu saja ketika berangkat dari rumah sudah terhitung terlambat, di jalan saya gedubrasan. Sedikit ugal-ugalan lah.

Salip kanan, salip kiri, putar gas sedalam-dalamnya. Bleky paling happy kalau saya sudah bedigasan seperti itu.

Tetapi ketika sudah larut dalam irama kencang, putaran gas yang dalam, serta adrenalin yang meningkat, di kejauhan sering saya dapati orang yang lunglai mendorong motornya.

Sekali waktu saya pernah mengalaminya ketika berada di jalan alternatif dari Jalan Piyungan-Prambanan menuju Jalan Solo. Dekat dengan tempat saya bekerja saat ini. Baru juga asyik-asyiknya mengajak Bleky joging, dari kejauhan pada arah berlawanan saya melihat orang yang mendorong motornya. Awalnya saya ragu apakah akan ‘menolong’ atau tidak, jam sudah merujuk tujuh lewat lima menit. Saya sempat berlalu berpapasan, masih tetap melaju kencang. Tetapi sepersekian detik setelah berpapasan, tiba-tiba tangan kanan mengendorkan cengkeraman grip gas, dan menepi.

Segera saya berbalik arah, dan perlahan menuju pada orang yang sedang mendorong motornya. Kehabisan bensin, katanya.

Tanpa berlama-lama saya tawarkan untuk mendorong, dia setuju. Seketika saya lupa jika harus memencet mesin absen tak lebih dari pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Saya dorong sampai pada pom bensin di tepi jalan Piyungan-Prambanan.

Setelahnya saya langsung berputar arah, melirik jam tangan sekilas, dan bergegas kembali memacu Bleky dalam kecepatan tinggi. Jarak masih sekira dua puluh delapan kilometer, jam menunjuk tujuh lewat lima belas menit.

Bagi amtenar golongan manuk emprit seperti saya, terlambat berarti malapetaka. Jelas parameter kedisiplinan saya akan turun, dan saya harus membuat semacam alibi atau alasan untuk keterlambatan saya. Dan anda tahu, alasan terlambat mengisi absen dikarenakan mendorong orang lain yang motornya mogok, adalah alasan yang sembilan puluh lima persen dicurigai sebagai sebuah kebohongan.

Aturan-aturan kepegawaian, disiplin pegawai, belum mengakomodir nilai-nilai kemanusiaan dalam prakteknya yang paling riil di lapangan. Aturan disiplin pegawai hanya menyasar satu aspek saja dari rumitnya pergaulan sosial, yang diakui ataupun tidak, berpengaruh terhadap hitam-merah catatan pegawai. Satu aspek itu adalah ketaatan. Lain itu, pelanggaran.

Dulu, ketika masih bekerja di MIN yang berdekatan dengan studio TVRI, dan absensi masih manual tanda tangan, dorong mendorong orang yang motornya mogok bukan sesuatu yang merisaukan. Tak ada batas aturan jam, dan saya, dalam skala paling kecil serta sepele, bisa menjadi manusia yang cukup berguna untuk orang lain yang sedang membutuhkan.

Tetapi meski situasi dilematis cukup sering saya alami dalam kaitan dengan mendorong orang dan mesin absensi, entah mengapa saya jarang terlambat. Ketika dalam waktu yang sudah mepet, dan saya harus mendorong orang, sepertinya waktu sejenak melambat.

Pernah suatu kali di simpang bandara jalan Solo, saya melihat seorang bapak yang mendorong motornya ke arah barat, searah dengan perjalanan saya. Jam sudah menunjuk tujuh lewat sepuluh, perjalanan masih jauh. Hampir saya berlalu dan tak peduli, jangan sampai terlambat, daripada harus membuat alibi.

Namun sebelum kantor imigrasi, kembali saya berhenti, memutar arah dan mlipir menuju bapak yang mendorong motornya. Saya tawarkan bantuan, dia setuju. Ketika seharusnya saya memasuki ringroad pada simpang Maguwo, ternyata arah tempat kerja si bapak adalah Janti. Maka saya dorong terus ke barat, sembari mata jelalatan mencari penjual bensin eceran. Tepat sebelum jembatan layang Janti, setelah melewati komplek perumahan TNI, ada penjual bensin eceran di sisi kiri jalan. Tanpa berhenti saya berpamitan, dan bergegas memacu Bleky demi mesin absensi yang maha benar.

Sampai di kantor, dengan setengah berlari dalam keadaan masih memakai helm tanpa terlebih dahulu memarkir Bleky, saya menuju mesin absen. Jam pada mesin absen menunjuk tujuh lewat tiga puluh menit, tepat.

Saya ndomblong.

Semenjak mencoba rutin untuk bisa sekadar membantu pengendara lain yang membutuhkan pertolongan di jalan, dari ketika asben masih manual pada tahun 2009, sampai hari ini, perihal waktu memang menjadi misteri.

Seolah, waktu memang sengaja sedikit melambat ketika saya mencoba berusaha menjadi manusia. Manusia yang sedikit saja berguna bagi sesama.

Tetapi tak juga kemudian saya masih bisa selalu tepat waktu ketika berada dalam situasi demikian. Pernah juga saya terlambat sampai hampir setengah jam, ketika mendorong seorang bapak yang motornya mogok di jalan karena kehabisan bensin. Sampai beberapa penjual bensin eceran terlewati, si bapak diam saja dan keukeh minta didorong sampai ke rumahnya. Ternyata, si bapak tak membawa uang.

Dan tentu saja saya harus membuat alibi, dan saya isi alasan dengan sejujur mungkin. Ketika saya meminta tanda tangan persetujuan atasan atas keterlambatan saya, pertanyaan menggelitik terlontar :

“Karena mendorong orang yang kendaraanya mogok kehabisan bahan bakar ki, maksude piye?”

Saya jelaskan seperlunya, dan saya ingin tertawa ketika mendapat tanggapan :

“Alasane diganti wae kuwi, jangan mendorong orang kehabisan bensin.”

Ya akhirnya alasan itu saya ganti, dengan bangun kesiangan.

Mungkin bangun tidur kesiangan memang jauh lebih manusiawi, daripada menolong orang dan berusaha menjadi manusia yang sedikit saja berguna.

Ah, masih pada kepingin jadi amtenar?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

12 Comments

  1. I’m just commenting to let you be aware of of the exceptional discovery my cousin’s child enjoyed going through your blog. She discovered a wide variety of details, most notably how it is like to have a very effective coaching heart to get many more effortlessly fully understand certain extremely tough matters. You actually did more than my desires. I appreciate you for displaying such great, healthy, educational and also cool guidance on that topic to Evelyn.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.