MEMILIH BUSI SEPEDA MOTOR, SUSAH-SUSAH ANYEL

Anda mempunyai sepeda motor? Nah pastinya, sering ataupun jarang, anda pernah berurusan dengan komponen sepeda motor bernama busi. Setiap sepeda motor yang ada dan umum beredar pada jaman ini pasti memakai busi. Kecuali motor anda peninggalan jaman Homo Wajakensis, atau bahkan impor dari masa tahun 3578 Masehi.

Selama ini, seberapa peduli anda terhadap motor anda? Lebih spesifik lagi, terhadap busi yang membuat motor anda hidup dan bisa menggelinding berjalan?

Saya yakin, sebagian besar dari anda, tidak terlampau peduli pada kondisi sepeda motor, apalagi terhadap busi. Asal masih bisa berjalan, meski dengan bunyi ngakngik disana sini, dengan roda yang slenggoyoran ke kanan ke kiri, banyak yang tidak peduli. Apalagi jika cuma mbrebetmbrebet yang entah disebabkan kotornya karburasi, atau sudah buruknya kondisi busi.
Padahal, percayalah, jika dirawat dengan baik, sepeda motor jauh lebih setia dibanding pasangan sempak anda.

Kembali ke busi, komponen pengendali pemercik api dan tokoh utama proses pembakaran dalam ruang bakar sepeda motor yang akan diubah menjadi energi gerak. Halah.

Busi yang baik, dalam artian sesuai dengan kondisi sepeda motor, akan membuat sepeda motor menjadi lebih nyaman, bertenaga, dan irit bahan bakar. Lantas, bagaimanakah kriteria ‘sesuai‘ tersebut?
Jika motor anda masih dalam kondisi standar keluaran pabrik, maka busi yang sesuai adalah busi yang dianjurkan oleh pabrikan, dan tertera dalam buku manual kendaraan. Busi yang sesuai, diselaraskan dengan besaran kompresi sepeda motor, dan juga bahan bakar yang dianjurkan.

Gampangnya, busi yang sesuai bagi sepeda motor anda, adalah busi dengan jenis dan nomor seri yang dianjurkan oleh pabrik pembuatnya.

Misalnya begini, anda memiliki sepeda motor Suzuki Satria F150, atau Satria FU kondisi standar pabrikan. Dalam buku manual yang disertakan, tertulis busi yang dianjurkan adalah busi merk NGK seri CR8E, atau merk Denso seri U24ESR-N. Kenapa merk businya ada dua? Kenapa tidak satu? Dan kenapa motor Suzuki businya tidak merk Suzuki? Silahkan tanya pada rumput yang digoyang.

NGK dan Denso adalah ‘pemain‘ busi terbesar di Indonesia, dan merupakan supplier utama dari berbagai macam pabrikan kendaraan. Baik NGK maupun Denso, membuat jenis busi yang sesuai dengan berbagai jenis kendaraan lansiran Indonesia. Jadi, jika anda memiliki sebuah sepeda motor, maka anda bisa memilih busi dari merk NGK ataupun Denso, asal sesuai dengan kendaraan anda.

Bahkan, jika anda membeli busi sepeda motor merk Honda, dan diberikan sparepart dengan kemasan berwarna merah dan tertera label Honda, isi busi didalamnya bukan bermerk Honda, melainkan Denso. Itu karena Denso bekerjasama dengan Honda untuk menjadi supplier utama penyedia busi.

Sesuai tidaknya sebuah busi bagi kendaraan, atau sepeda motor, tak semata cocok atau tidaknya busi dipasang pada silinder blok sepeda motor anda. Bukan bentuk dan panjang pendeknya ulir, bukan pula warnanya. Semua busi berwarna putih susu dengan kombinasi warna logam. Meski serupa, tak lantas mesti sama kinerjanya, meski dalam fungsi yang serupa.

Seperti halnya susu formula, tak semua susu cocok bagi konsumennya. Susu untuk manula tentu tak cocok bagi balita. Susu untuk dewasa tentu tak menggairahkan bagi remaja, eh.

Kembali pada busi.

Perbedaan fungsinya bukan pada panjang pendeknya ulir, tetapi pada komponen bernama keramik yang berada di dalam ulir busi, berdekatan dengan elektroda positif busi. Keramik yang tak terlihat kasat mata karena tersembunyi di dalam ulir tersebut, menjadi penentu perihal busi mana yang layak, sesuai, serta cocok bagi masing-masing sepeda motor atau kendaraan. Tidak bisa dilihat secara langsung tanpa merusaknya. Kita hanya bisa mengetahuinya dengan cara melihat kode yang dicantumkan oleh pabrik produsen pembuatnya. Kecuali anda mempunyai mata tembus pandang, dan bisa menunjukkan secara meyakinkan pada penjual busi atau bengkel yang ngeyel mengenai kesamaan busi berdasarkan panjang pendek ulir.
Kalau mata anda tidak bisa tembus pandang dan dengan itu sulit memberi pemahaman pada orang yang demikian, mending segera pindah toko atau bengkel dan mampir terlebih dahulu di warung mie ayam. Makan dahulu, berdebat dengan orang yang tidak tahu tetapi merasa dirinya tahu, bikin lapar.

Misalnya saja, dua busi merk Denso dengan panjang ulir yang sama, namun dengan kode berbeda. Yang satu berkode U20FS-U, sedang satunya berkode U24FS-U, itu sudah menunjukkan dua jenis busi yang berlainan. Bilangan 20 dan 24 yang tertera, menunjukkan kode mengenai fungsi optimal busi ketika digunakan. Perbedaannya yang paling mendasar adalah kemampuan masing-masing busi dalam melepaskan panas yang diakibatkan oleh kinerja pembakaran sebuah sepeda motor.

Kode angka atau bilangan yang dipakai Denso menunjukkan daya resistensi produknya terhadap panas. Semakin besar nilai angka atau bilangan, menunjukkan produk tersebut lebih tahan terhadap panas, dan lebih cepat melepas panas. Pada kode 20 dan 24, menunjukkan bahwa busi dengan kode 20 lambat melepas panas, dan kode 24 cepat melepas panas.

Mudahnya, motor dengan kinerja ringan, kompresi rendah, lebih sesuai menggunakan busi dengan kode angka atau bilangan kecil. Begitupun sebaliknya bagi motor dengan kinerja tinggi.

Penggunaan busi yang tidak sesuai akan membuat sepeda motor menjadi loyo, kurang tenaga, dan boros penggunaan bahan bakar. Selain itu, busi juga akan cepat menemui ajal, alias mati dan tak berfungsi.

Mulai saat ini, silahkan kenali kembali kendaraan anda dengan lebih baik. Jangan sampai karena ketidaktahuan, kurang peduli, lantas mencari kambing hitam dan menyalahkan.
Tersebab anda yang kurang memperhatikan penggunaan busi, tetapi malah menyalahkan sepeda motor anda yang tiba-tiba menjadi boros, atau menjadi loyo.
Karena anda yang enggan memahami, lantas malah anda menyalahkan sepeda motor atas sering matinya busi.

Beibs, biasakan untuk tidak menilai atau memberikan keputusan hanya dengan menurut prasangka pribadi kita. Sepeda motor loyo dan boros atau sering membunuh busi, langsung kita salahkan sebagai sebuah ketidaksetiaan, dan lantas menukarnya dengan yang lain. Berusaha kenali dahulu dengan baik, petakan masalah dengan cermat, baru mengambil keputusan.

Dari busi sepeda motor saya belajar mengenai kehidupan dari sebuah sisi yang lain. Bahwa hati manusia serupa dengannya. Hati manusia serupa busi, pada masing-masing resistensinya terhadap panas, serta misteriusnya komponen yang berada didalamnya.
*****

Oh iya, kalau setelah membaca ini anda menjadi lebih peduli terhadap kendaraan atau sepeda motor milik anda, bersyukurlah. Paling tidak berarti anda masih bisa membaca.

Kalaupun tetap tidak peduli, juga bersyukurlah. Paling tidak, anda juga masih bisa membaca.

Sekian.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *