Memilih Olahraga Yang Menggembirakan

Kalau jaman dahulu, jaman ketika Pak Tuwo [kakek] saya masih muda dan trengginas, tak perlu berolahraga secara spesifik untuk mendapatkan tubuh yang sehat. Tubuh yang tak rentan oleh kolesterol, darah tinggi, atau bahkan asam urat dan berbagai gangguan kesehatan lainnya.

Tanpa berolahraga secara spesifik, tubuh sudah mendapatkan haknya untuk banyak bergerak. Kaki ya dipakai untuk banyak berjalan, tangan ya banyak dipakai berkegiatan.

Pekerjaan sehari-hari waktu itu, banyak menuntut olah fisik, olah raga secara tak langsung. Bertani, mengolah sawah, atau menghajar penjajah.

Itu cerita Pak Tuwo dulu, yang ketika menuturkan cerita kepada saya, masih terlihat kekar otot pada lengannya, meski kulit sudah keriput dan menua.

Pak Tuwo bercerita kepada saya, lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Sewaktu saya masih SMP, dan sewaktu Pak Tuwo masih sering ke sawah memanggul cangkul meski usianya sudah sepuh.

Pak Tuwo sangat bersemangat, dan selalu bergembira dengan hari-harinya di sawah. Tak ada keluhan kesehatan yang mengkhawatirkan sepanjang hidupnya.

Tetapi itu dulu, Pak Tuwo sekarang meninggal, hampir di usia sembilan puluh.

Cerita mengenai kegembiraan dalam bekerja, atau berkegiatan itu, terus menerus bergelayut dalam pikiran. Benar lah apa kata veteran perang kemerdekaan itu, kalau berkegiatan ya harus dengan gembira.

Maka pada waktu-waktu selanjutnya, untuk menjaga tubuh agar juga sehat [harapannya sampai tua], saya berolahraga.

Mau bagaimana lagi, tak bisa lagi memilih bertani sebagai mata pencaharian, dan karenanya tubuh tak bisa banyak bergerak sembari bekerja.

Pekerjaan saya mengharuskan untuk banyak duduk, dan jika pun bergerak, hanya sebatas pada jari-jari, juga kedipan mata ketika terasa perih. Dan meski tanpa merujuk pada hasil penelitian ahli mana pun, menggerakkan jari dan mengedipkan mata takkan berpengaruh signifikan terhadap kesehatan. Saya rasa juga takkan bisa mengurangi kolesterol atau asam urat. Kalau menambah tekanan darah, iya.

Maka saya mulai memilih berolahraga, secara spesifik.

Pernah bersepeda. Hampir setiap sore, bersama istri. Tetapi itu dulu, lebih dari enam tahun yang lalu. Bersepeda cukup menyenangkan sebenarnya bagi saya, tetapi ternyata tak cukup menggembirakan. Kegiatan bersepeda saya hentikan. Padahal sudah terlanjur membeli dua sepeda merk Polygon dengan harga lumayan mahal [mahal bagi saya tentu saja, kalau bagi anda mungkin hanya seperti membeli kacang rebus di pinggir jalan].

Jika ada yang kurang menggembirakan dalam bersepeda, saya temui dikarenakan banyaknya waktu yang harus digunakan. Paling tidak butuh dua jam, baru tubuh akan mengeluarkan banyak keringat. Saya pribadi, kalau berolahraga tetapi tubuh tidak banyak berkeringat, rasanya juga tidak merasa gembira. Belum lagi, jika durasi bersepeda tidak lama, rasanya tubuh juga tidak mengalami peningkatan dalam hal kebugaran.
Maka kemudian perlahan saya bosan bersepeda.

Setelah bersepeda, saya pernah juga memilih berlari dari kenyataan. Berlari memicu keluarnya banyak keringat, belum lagi setelah itu badan serasa fresh. Bahkan selesai berlari, seraya beristirahat dan membuka baju untuk mengeringkan keringat, rasanya sudah seperti Cristiano Ronaldo yang berselebrasi mencetak gol. Puas, gembira, dan bahagia. Tak butuh waktu lama dalam tiap satu sesi berlari. Saban hari, di waktu pagi, cukup tiga puluh menit saja.

Berlari saya jalani cukup lama. Sampai berbulan-bulan [atau bertahun? saya sedikit lupa], hampir setiap pagi selepas subuh. Rasanya benar-benar menyenangkan dan membahagiakan. Tubuh menjadi terasa jauh lebih segar, bugar, dan merasa semua penyakit remeh temeh dan kelas misqueen seperti masuk angin tak bakal bisa mampir.

Tetapi apa daya, lari yang menyenangkan dan membahagiakan itu harus ‘kalah’ oleh musim penghujan. Pada musim hujan, hampir setiap pagi selepas subuh waktu itu, hujan turun dengan syahdunya. Dan karena bertujuan mencari keringat serta kebahagiaan, saya tak bisa berlari pagi sembari hujan-hujanan. Akhirnya juga aktifitas berlari itu terhenti secara alamiah.
Setelah cukup lama terhenti, untuk memulainya lagi, rasanya sangat sulit dan tak lagi membahagiakan.

Paling sulit, adalah kembali membiasakan untuk bangun tidur di awal pagi. Tepat sebelum, saat, atau setelah adzan Subuh berkumandang. Rasanya setelah aktifitas itu tak lagi dijalani, kok tetap enak menarik selimut ketimbang bangun dan berlari.

Akhirnya aktifitas lari setiap pagi pun saya tinggalkan.

Setelah berlari tak lagi menjadi pilihan, saya sempat memilih fitness sebagai pilihan. Fitness di gym atau tempat-tempat kebugaran itu. Yang angkat-angkat barbell ataupun dumbbell. Selain ingin bugar dan sehat, saya ingin otot badan saya retak-retak seperti Hulk atau Thor. Rasanya kok wangun begitu mempunyai badan yang mlethek-mlethek. Kalau mempunyai badan seperti itu, rasanya selalu ingin menjaga perdamaian dunia dan seluruh galaksi.

Saya memilih tempat fitness yang murah meriah. Yang biaya per kedatangan tak lebih dari dua puluh ribu rupiah. Tak mengapa murah, yang penting alat-alat untuk mengangkat bebannya cukup lengkap. Percayalah, terbiasa mengangkat beban di tempat fitness, akan cukup membantu mengangkat beban dan masalah hidup sehari-hari.
Sudah percaya saja, saya sudah mengalaminya.

Aktifitas angkat junjung pada fitness itu membuat saya gembira. Saya merasa, dalam setiap kilogram barbell atau dumbell yang saya angkat, saya merasakan beban hidup juga ikut terangkat, ahahahaha…
Memang begitu adanya.
Fitness membuat sejenak saya lupa persoalan-persoalan dan masalah hidup. Yang ada adalah berkeringat dan bahagia. Belum lagi bayangan dan harapan ketika esok badan saya akan bertambah kekar.

Jika ada yang kemudian membuat saya berpisah dengan aktifitas fitness, itu karena setelah berbulan-bulan, tubuh saya tak kunjung sebesar tubuh si Hulk. Hanya terkadang warna ijo-nya agak mirip, kalau pas fitness saya kurang makan. Wajah akan menjadi ijo. Tetapi selain warna hijau di wajah, lainnya blas ga ada yang mengarah pada kemiripan dengan tubuh Hulk.

Akhirnya saya tinggalkan juga fitness.

Terakhir, yang sampai saat ini masih rutin saya lakukan, adalah body workout. Terjemahan bebasnya, senam tubuh. Hampir mirip dengan fitness, namun yang ini gratisan, dan menggunakan tubuh sendiri sebagai beban yang harus diangkat.

Sebenarnya semenjak lama saya sudah melakukan body workout, tetapi hanya sebagai selingan saja. Dulu hanya ketika sedang tidak bersepeda, berlari, ataupun fitness. Tetapi saat ini, body workout adalah olahraga spesifik yang sedang saya jalani.

Biar apah?
Biar napsu makan.

Ya biar sehat lah.

Body workout tak menuntut banyak uang belanja waktu, tempat, atau juga alat.

Cukup di rumah, setiap saat, setiap waktu. Asal ada waktu senggang selama sepuluh atau lima belas menit pun, tetap bisa dilakukan.

Gerakan yang rutin saya lakukan juga sangat sederhana, dan sudah diajarkan dalam mata pelajaran Penjaskes semenjak SD. Push up.

Sudah, itu saja gerakan utama yang saya lakukan. Setelah melakukan pemanasan seperlunya, saya akan melakukan push up, selama paling tidak seratus kali dalam sehari. Seratus kali di bagi menjadi tiga set, dan dalam satu set rata-rata dilakukan tiga puluhan repetisi atau pengulangan.

Kalau masih mau dan tenaga terasa masih cukup tersedia, saya akan melakukan squat. Itu yang gerakan berdiri-setengah jongkok-berdiri-setengah jongkok, berulang-ulang. Untuk squat, saya melakukannya paling banyak enam puluh kali dalam sehari.

Kalau push up dan squat masih belum cukup menguras tenaga, biasanya saya akan menambahnya dengan pull up. Kalau bahasa populer sewaktu kecil, rangen. Itu yang gandulan pakai dua tangan, kemudian tubuh ditarik ke atas, turun lagi, atas lagi, berulang.
Kebetulan di depan rumah ada sarana untuk pull up. Terbuat dari pipa besi, bonus dari tukang las ketika saya membuat teralis untuk jendela rumah tahun 2011 lalu.

Untuk pull up saya paling banyak melakukannya dua puluh kali dalam sehari. Selepas pull up, biasanya saya akan langsung klenger. Kalau sudah klenger, maka usai sudah semua rangkaian olahraga dalam sehari.

Semua rangkaian itu tak membutuhkan banyak waktu, paling lama tiga puluh menit, sudah termasuk pemanasan dan peregangan otot.

Tentu saya sangat bahagia dengan aktifitas body workout itu. Tubuh saya terasa sangat sehat dan bugar. Tekanan darah terjaga baik, asam urat tak berani naik, apalagi kolesterol dan gula darah. Semua berada dalam batasnya masing-masing, dan tenang tak menimbulkan goncangan.

Apa yang ingin saya katakan dalam tulisan panjang lebar tak berguna ini adalah, pilihlah olahraga yang membuat anda bahagia. Bukan olahraga yang membuat anda terbebani target-target tertentu. Denga merasa bahagia dan gembira ketika melakukannya, maka tubuh anda akan meresponnya dengan sangat baik untuk kemudian saling menjaga, sehat selamanya.

Selamat berhari minggu, selamat liburan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

122 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *