Meminta Atau Memindah Hujan, Perkara Gampang

Hujan ketidaktahuan jauh lebih berbahya, dari hujan badai disertai petir. (Gambar : Pixabay)

Meminta hujan adalah perkara yang paling gampang menurut saya, jika dilakukan di musim penghujan.

Apalagi ketika meminta hujan, pada daerah yang memang mempunyai kecenderungan curah hujan yang tinggi. Lebih gampang.

Untung saja sekarang teknologi sudah berkembang demikian pesat, salah satu keuntungannya, kita bisa memanggil hujan, tanpa melibatkan dukun dan berbagai ritual. Dengan hujan buatan.

Tentu, doa juga harus selalu terpanjat. Agar hujan buatan itu, bisa sukses dari awal sampai akhir proses. Jangan sampai, teknologi mengalihkan pandangan kita, dari Tuhan.

Yaa, saya percaya Tuhan.

Jika ada suatu hal yang membuat Tuhan terlihat kejam, dengan berbagai ancamannya terhadap manusia, azab-azab yang seolah bertebaran, itu hanyalah tafsir belaka. Tafsir dari segelintir pemuja Tuha, yang merasa paling dekat dan paling mengenal-Nya.

Bagi saya, ‘Wajah’ Tuhan di dunia, yang utama adalah Kasih dan Sayang belaka. Lain itu, atribut yang disertakan Tuhan untuk menunjukkan, bahwa Dia tak sesederhana pemikiran manusia. Sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit azab. Memangnya Tuhan pemarah? Itu yang saya yakini, kalau anda, terserah.

Hal sederhana yang menjadi rujukan saya kenapa berani memastikan bahwa Tuhan penuh Kasih dan Sayang, adalah hujan.

Ya, hujan.

Hujan yang mengantarmu untuk larut dalam berbagai kenangan itu. Hujan yang membasahi tak hanya baju dan tubuhmu, tetapi juga jiwamu. Hujan yang membawakanmu jutaan tetes penyesalan. Hujan yang seketika menundukkan kepalamu untuk mengucap syukur atas kebahagiaan. Hujan yang…kita banyak menyangkanya hanya sekadar proses menguapnya air laut, menggumpal bersama awan, menghitam, memberat, dan turun jatuh kembali memeluk bumi.

Semenjak Fucking Red, Corolla tua kesayangan saya itu, dijual, saya menjadi sedikit bermanja kepada Tuhan. Mendung sedikit, apalagi seperti beberapa waktu terakhir ketika memasuki musim penghujan, saya merengek.

“Duh Gusti, ini saya mau berangkat kerja, kok ya hujan. Bukan berarti menolak rahmat-Mu, tapi kalau boleh, nanti pas saya mau berangkat, hujannya reda dulu, dipindah kemana dulu begitu. Di daerah yang lebih membutuhkan air hujan-Mu. Kalau sudah sampai kantor, bolehlah hujan lagi.”

Kalimat semacam itu yang akhir-akhir ini sering saya gumamkan. Baik lirih melalui bibir, di dalam hati, atau hanya sebatas tatapan nanar melihat derasnya hujan. Dan mungkin saja Tuhan memahami kegundahan saya, kemudian mungkin mengirim memo atau nota dinas pada asisten-Nya yang mengurus manajemen hujan. Sehingga sampai hari ini, dalam beberapa kali hujan di pagi hari, saya tak pernah basah.

Tetapi kalimat semacam itu memang jarang saya ucapkan. Paling banyak, jika sedang tak ingin kehujanan, saya hanya akan memandang langit, tersenyum, dan…ya, sepertinya benar prasangka saya perihal Tuhan yang Maha Pengasih dan Penyayang, bukan pemarah.

Sampai saat ini, entah kenapa saya justru jarang mengedepankan rasa takut untuk berhubungan dengan Tuhan. Saya lebih merasa bahwa Dia adalah teman yang hanya bisa dijangkau dengan perasaan selain ketakutan. Dengan banyak obrolan ringan dan guyonan. Bukan dengan rasa was-was dan dipenuhi rasa ketakutan.

Suatu waktu, ketika akan berlangsung peringatan seribu hari meninggalnya Simbok, mendung menggantung sedari pagi. Saya harus bekerja terlebih dahulu sebelum sore baru berangkat ke Banteran. Siang hari, saya iseng saja menuliskan permohonan di Whatsapp dan Facebook, agar jangan dulu hujan selepas Ashar sampai jam dua belas malam, sepanjang Piyungan sampai ke Banteran. Sore itu, pengemudi ojek online yang mengantar saya, bertanya sembari kepalanya mendongak ke langit mendung :

“Tadi dari rumah saya gerimis mas, disini kok enggak.” katanya.

“Rumahnya mana mas?”

“Berbah.”

“Ya sudah, ini lewat Kalasan saja.” saya meminta. Dia setuju.

Sampai di Banteran, mendung hanya memayungi. Tentu saja saya tersenyum. Tak harus berbasah dan menggigil kedinginan. Senyum saya semakin melebar, ketika teringat bahwa mungkin saja Tuhan membaca apa yang saya tuliskan di Whatsapp dan Facebook.

Menurut saya, Tuhan memahami dan sangat mengerti berbagai cara dan bahasa. Tuhan jee.
Nah, bagi anda yang berpendapat Tuhan tak pernah membaca Facebook atau Whatsapp, waahhh…anda meremehkan-Nya.

Suatu kali ketika berada di kantor, saya lupa membawa jas hujan. Menjelang waktu pulang, hujan turun demikian derasnya. Saya tak meminta reda, atau tak berharap reda. Saya meminta hujan untuk semakin deras saja, karena saya memang ingin berhujan-hujan, bahkan nanti juga ketika sudah sampai di rumah. Dan hujan memang turun demikian derasnya, sampai menjelang Maghrib, dan saya bisa berhujan-hujan sembari sesekali tertawa, seperti anak kecil yang sedang berbahagia.

Tuhan mungkin ingin memberi pesan kepada saya yang bodoh ini, yang sama sekali tak paham ilmu agama, bahwa Dia tetap menyayangi saya. Di tengah segala ratap dan harap terhadap beberapa hal yang selalu saya sampaikan, mungkin hujan menjadi cara paling gamblang untuk disampaikan. Tak semua doa harus dijawab, tapi semua doa pasti didengar. Dan tak semua harap harus terkabulkan, untuk mengetahui sejauh mana manusia mampu bertahan.

Hujan, mungkin memang diberi amanat oleh Tuhan untuk menjadi semacam ‘teman’ bagi saya, sekaligus menjadi semacam pesan bahwa saya tak pernah sendirian dan ditinggalkan.

Ooohh, tulisan ini bukan semacam promosi bahwa saya pawang hujan. Bukan. Perihal hujan yang datang dan pergi seolah menurut kata hati itu, tidak untuk dikomersialkan. Saya sungkan untuk mengkomersialkan amanat, menggunakan aji mumpung, memanfaatkan kedekatan dengan hujan. Saya eman-eman menggunakan privillige semacam ini untuk dijadikan sekadar keuntungan sesaat belaka. Meski merasa mempunyai hak istimewa itu, yaa hanya perasaan subyektif saya.

Tetapi perihal mencari keuntungan ya terserah bagaimana masing-masing orang menjalaninya. Kalau mendapat amanat berupa jabatan lalu merasa itu adalah hak istimewa untuk berbuat sesukanya, yaa silahkan saja. Kalau merasa mempunyai kedudukan adalah untuk bisa berkuasa terhadap yang dibawahnya, silahkan juga. Kalau merasa jabatan dan kedudukan adalah sesuatu yang abadi, bahkan bisa diturunkan kepada istri, anak, dan keturunan, yaa dipersilahkan. Yang penting tetap beribadah kepada Tuhan, kan? Sedikit berbuat sewenang-wenang ya gapapa, toh itu adalah privillige jabatan, ya kan?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

15 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.