Menahan

Banyak yang harus saya tahan, atau saya harus menahan, ketika berpindah dari selatan Gunung Merapi ke tepi laut pantai utara Jawa. Termasuk menahan akibat dari suhu udara yang berbeda, pada tubuh saya. Dari semula cenderung sejuk dan dingin, menuju hangat dan panas. Menahan agar tubuh yang mendadak mendapat sergapan suhu udara yang berbeda itu, tidak ambyar.

Saya harus menahan untuk tak banyak keluar ruangan terlebih dahulu, terutama di siang hari. Matahari begitu terik, udara begitu panas. Jauh berbeda dengan suasana pada selatan gunung Merapi, yang pada pagi hari dengan sinar matahari pun terkadang masih harus mengenakan jaket. Semarang, di tepi pelabuhan dan tepat di pinggir laut, bahkan pada malam hari pun seperti haram mengenakan jaket. Panas.

Mekanisme puasa harus saya laksanakan. Perihal esensinya, yang mengharuskan untuk menahan ditengah peluang-peluang untuk melampiaskan. Untuk banyak hal, di kota yang terbagi menjadi wilayah atas dan bawah ini, bukan hanya pada suhu panasnya.

Saya harus menahan untuk tidak terlalu banyak jajan, misalnya. Pun ketika harus jajan, untuk makan, saya memilih-milih. Menahan untuk secukupnya sekira bisa mengganjal perut dan menghindarkan pada kasus kelaparan.

Asalkan perut terganjal, dan dengan itu saya sudah memberikan hak pada cacing-cacing yang mungkin ada pada perut saya untuk ikut makan, itu sudah cukup.

Yang paling sulit untuk saya tahan, tetapi syukur Alhamdulillah sampai saat ini saya masih bisa menahan, adalah perihal nyinyir menyinyir. Kenyinyiran saya yang paling sulit untuk ditahan itu. Kenyinyiran yang terkadang membuat panas mata orang [ketika membaca tulisan saya]. Tulisan nyinyir yang kadang pedasnya lebih pedas dari snack level-levelan.

Nyinyir untuk hampir semua aspek dan hal di sekitar, terutama pekerjaan. Saya harus menahan agar tak mengumbar kenyinyiran itu, atau mengunggah tulisan-tulisan nyinyir yang biasanya dengan enteng saya tuliskan. Saya harus mulai menahan. Bukan karena takut atau mengendurkan urat syaraf kritis yang terkadang mempunyai output berupa tulisan-tulisan nyinyir. Tetapi lebih karena saya harus mulai bisa memilah dan memilih. Mana saja tulisan yang layak untuk dikonsumsi khalayak banyak, dan mana saja tulisan yang cukup keluar dari pikiran saya dan menjadi sekadar arsip di hape atau laptop saya.

Terkadang saya merasa bahwa tulisan saya itu terkadang semacam jamu brotowali. Bagi beberapa orang, meski pahit, namun tetap dikonsumsi. Bagi yang lain lagi, mendengar kata brotowali saja sudah menjadi antipati. Karena pahitnya. Maka meski mempunyai manfaat, tetapi tidak mengkonsumsinya adalah suatu pilihan karena tak tahan dengan kepahitan.

Saya masih menulis semacam itu sebenarnya, tetapi saya menahan untuk tidak mengunggahnya di blog ini. Saya menahan agar tulisan-tulisan nyinyir itu tetap berada pada tempatnya. Pada tempat penyimpanan yang semestinya.

Tak semua hal harus disebarluaskan, tentu saja.

Maka kini saya sedang menahan untuk tidak menyebarluaskannya. Di tengah kebiasaan dan peluang-peluang yang saya miliki untuk mengumbar serta melampiaskan, saya berusaha untuk menahan. Tak semua kenyinyiran yang saya kemukakan itu baik juga untuk orang lain. Tentu baik bagi saya secara subyektif, tetapi saya yakin tak mesti baik juga bagi orang lain. Seperti jamu brotowali itu tadi. Tak semua orang mau mencecap brotowali, meski se-jilat-an atau seteguk saja.

Saya harus menjalankan mekanisme puasa sampai pada tataran yang benar-benar esensial. Bukan hanya menahan makan dan minum seperti yang kebanyakan orang memahaminya. Tetapi menahan apapun, di tengah semua hal dan kemungkinan yang bisa saya lakukan.

Sebenarnya, lebih mirip dengan menahan untuk tidak meludah, meski liur sudah di ujung bibir. Kenapa harus ditahan? Karena kita sedang berada di dalam suatu perjamuan makan, atau sedang sholat berjamaah di masjid, atau sedang mengikuti acara lain yang kita tak mungkin meludah sembarangan. Mosok kita akan langsung meludah ketika masih dalam barisan sholat berjamaah, di dalam masjid? Haa neh iso ditapuk malaikat.

Maka yang bisa kita lakukan adalah menahan, sampai nanti ada peluang ketika kita bisa meludah dengan aman dan nyaman.

Bukan perkara takut, tetapi terkadang adalah perkara etika dan moral. Bahwa tak mesti kentut atau meludah itu sehat dan baik. Boleh saja meludah, asal tak di wajah orang lain.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *