Menaikkan Tenaga Atau Power Satria FU, Tanpa Bore Up

Ini tulisan khusus untuk pemilik atau pengendara Suzuki Satria FU saja, atau yang menyukainya, mungkin juga bagi yang ingin memilikinya.

Lebih umum, ini tulisan untuk penyuka kendaraan bermotor, roda dua, dengan kubikasi mesin kecil. Kubikasi mesin dengan angka maksimal 160 cc. Lebih dari itu, tulisan ini tidak akan cocok bagi anda.

Bagi yang tidak menyukai sepeda motor, apalagi tidak menyukai Satria FU, jangan teruskan membaca. Saya tahu, Satria FU adalah sepeda motor yang banyak orang tidak menyukainya, meski banyak orang juga mengidolakannya.

Sekali lagi, ini tulisan bagi anda yang mempunyai feel, ride with passion, dengan kendaraan roda dua berkubikasi mesin kecil. Kalau berkendara dengan sepeda motor berkubikasi mesin besar, Ninja 250cc misalnya, atau sepeda motor sekelasnya, atau bahkan motor dengan kubikasi mesin 600cc ke atas, tak usah dibahas. Sudah pakai motor enak mosok ga ride with passion. Edan po?

Nah, bagi anda yang ‘hanya’ punya kendaraan harian berkubikasi mesin kecil, bahkan mungkin itu satu-satunya kendaraan anda seperti halnya saya, dan anda tak puas dengan performa standarnya, bisa anda simak tulisan ini. Lebih khusus lagi, jika sepeda motor anda adalah Satria FU, motor yang alay itu.

Saya bisa sarankan, jika anda tak puas dengan performa standar pabrikan, jangan pernah melakukan bore up atau menambah volume mesin jika kendaraan anda masih digunakan sebagai kendaraan harian. Eman-eman.

Begini, jika melakukan bore up, maka anda harus mengganti seperangkat piston didalamnya. Mengganti ukuran piston menjadi lebih besar, berarti anda harus mengganti dinding buring silinder atau linernya. Yang itu berarti, anda kehilangan salah satu keunggulan mesin Suzuki Satria FU.

Ya, dinding silinder Satria FU dibuat dengan menggunakan teknologi SCEM [Suzuki Composite Electrochemical Material]. Apa itu?

Itu adalah teknologi dari pabrikan Suzuki yang memberikan lapisan dinding silinder dengan material campuran nikel dan silikon karbida. Komposisi keduanya yang dilapiskan pada dinding silinder ruang bakar motor, membuat mesin menjadi awet. Material tersebut jauh lebih keras daripada baja. Jauh lebih keras, yang berarti tentu saja jauh lebih awet.

Nah, rata-rata kualitas material dari piston maupun buring after market untuk bore up, materialnya menggunakan baja. Meski performa mesin memang meningkat tajam, tetapi durabilitas atau ketahanannya tak seberapa.

Jika anda berkantong tipis seperti saya, yang tiap satu atau dua tahun tak mau mengeluarkan uang jutaan rupiah untuk mengganti seperangkat piston dan dinding silinder hasil bore up, maka jangan pernah melakukannya. Tetap saja pertahankan volume mesin, dan piston serta silinder standar. Percayalah.

Lantas, apa yang mesti dilakukan jika tak harus melakukan bore up?
Ganti motor anda dengan Ducati, pasti lebih kencang, ahahaha….bercanda.

Ganti CDI

Ganti CDI adalah hal pertama yang saya lakukan, ketika dulu ingin performa Bleky —motor Satria FU— milik saya lebih meningkat performanya. Ganti CDI dengan yang tanpa limiter atau batasan. Atau kalau tidak, yang limiternya jauh lebih tinggi.

Harganya berkisar antara 500 ribu rupiah sampai dengan 900 ribu rupiah. Itu harga CDI yang hanya memiliki kelebihan dalam hal hilangnya limiter. Jika mau yang bisa diatur kurva pengapiannya, harganya bisa lebih mahal.

Jika motor anda bukan untuk balap, saya sarankan memakai CDI yang tanpa limiter itu saja. Murah.

CDI standar pabrik mempunyai batasan limiter, sampai pada RPM tertentu, motor seperti kehilangan tenaga. Maka mengganti CDI adalah salah satu solusinya. Grip gas bisa anda putar sampai pada limit atau batasan mesin mampu berputar.

Mengganti CDI ada hubungan erat dengan saran saya untuk jangan mengganti piston beserta dinding silinder standarnya. Putaran mesin tinggi dengan tanpa batasan RPM, masih mampu ditahan oleh teknologi SCEM milik Suzuki. Mesin tetap awet, namun lebih bertenaga.

Bleky, selama lima tahun pemakaian dengan CDI tanpa limiter, masih awet sampai saat ini, sampai tulisan ini diunggah.

Trust me, it works.

Melepas paking silinder

Ini untuk menaikkan kompresi. Menaikkan kepadatan dalam ruang bakar silinder. Meningkatkan kualitas panas dalam ruang bakar.

Jaman dahulu, kebanyakan orang melakukan pemapasan pada silinder. Memapas silinder sampai dengan sepersekian milimeter.

Beruntunglah anda yang menggunakan Satria FU. Tak harus melakukan pemapasan, anda cukup melepas paking silinder yang berjumlah 3 lembar, menjadi 1 lembar saja. Itu sudah cukup untuk menaikkan kompresi.

Kompresi naik, berarti tenaga juga bertambah. Hanya saran saya, selalu gunakan bahan bakar dengan oktan minimal Ron 92. Pertamax misalnya, atau Pertamax Plus. Jangan gunakan Pertalite atau bahkan Premium kalau tak ingin mesin anda rontok seperti daun di musim kemarau.

Melepas paking silinder juga berhubungan dengan SCEM tadi. Dengan meningkatnya kompresi, berarti meningkat panas di dalam ruang bakar. SCEM mampu menahannya, tetapi baja biasa belum tentu. Menahan dalam penggunaan normal harian. Sudah saya buktikan pada Bleky kendaraan tersayang satu-satunya itu.

Penggunaan normal harian berarti melaju paling tidak 120-135 kilometer per jam dan mengulir grip gas sampai angka RPM naik pada kisaran 11.000-13.000. Biarkan mesin motor anda berteriak kencang, namun dompet anda tak ikut berteriak tidak karuan.

Modifikasi noken as

Melakukan hal ini, berarti anda harus menghubungi mekanik yang berkompeten. Minta padanya untuk ‘mencubit’ noken as Satria FU anda. Kemukakan juga gaya berkendara anda, apakah lebih suka motor melompat-lompat dalam jarak pendek, atau anda lebih suka mengulur gas dalam jarak lebih panjang.

Mekanik berpengalaman sudah akan langsung paham, maka ia akan memodifikasi noken as Satria FU anda sesuai dengan permintaan. Kalau anda lebih suka berkendara dengan gaya ngegas pendek-pendek, mekanik akan membuat profil noken as semacam itu. Sebaliknya juga jika anda menyukai berkendara dengan gaya touring, dalam trek panjang, mekanik juga akan membuat motor anda menjadi berkarakter semacam itu.

Inilah yang saya maksud pada tulisan di awal, ride with passion. Sesuaikan kendaraan anda dengan gaya berkendara. Nikmatnya tiada terkira.

Porting Polish saluran ruang bakar

Hal ini biasanya dilakukan satu paket ketika memodifikasi ulang profil noken as. Pada mekanik yang tentu saja juga berpengalaman.

Porting Polish dalam bahasa yang lebih sederhana, adalah menghaluskan saluran ruang bakar. Memperlancar lubang-lubang dalam ruang bakar. Sekali lagi, sesuaikan dengan gaya berkendara anda.

Porting Polish dilakukan karena biasanya, lubang-lubang ruang bakar dalam kendaraan bermotor standar, masih banyak hambatan. Banyak sisa material cor dari pabrik yang menghambat proses pembakaran. Istilahnya, banyak kulit jeruk.

Nah, proses ini akan membuat Satria FU anda akan lebih lancar dalam melakukan proses pembakaran. Dengan itu, tentu tenaga akan lebih meningkat.

Ganti rasio gir

Gir rantai, atau gir ronda.

Ganti perbandingannya antara gir depan dan belakang. Sekali lagi, sesuaikan dengan modifikasi noken as dan porting yang sudah dilakukan. Jika anda memutuskan untuk memodifikasi mesin dengan karakter stop and go, pendek-pendek, bisa anda lakukan dengan mengganti gir depan berukuran lebih kecil. Misalnya jika ukuran gir standar adalah bermata 14, maka bisa anda turunkan dengan mengganti ukuran 13. Tarikan motor pada akselerasi awal akan menjadi lebih ringan. Serasa motor 2 tak, percayalah.

Jika anda memutuskan untuk berkendara dengan gaya touring, trek panjang, bisa anda ganti ukuran gir belakang dengan menurunkan satu mata. Misalnya jika ukuran standar adalah 42, maka anda bisa menggantinya dengan ukuran mata 42. Tarikan motor akan lebih berat pada akselerasi awal, namun akan bernafas lebih panjang pada putaran atas.

Hal ini juga saya lakukan pada Bleky, semenjak awal memilikinya. Setelah melakukan semua modifikasi yang saya tuliskan di awal. Saya menurunkan ukuran gir depan dengan mata 13. Tarikan awal menjadi lebih enteng. Memang ada kelemahannya, putaran atas menjadi sedikit berkurang. Tetapi memang seperti itu gaya berkendara saya, stop and go, menyukai trek-trek pendek, ugal-ugalan. Bwahahaha.

Terlebih karena saya jarang melakukan perjalanan jarak jauh, dan lebih banyak berkutat dalam trek pendek dan kondisi jalan ramai. Maka saya mengutamakan karakter mesin yang menghentak pada akselerasi, bukan pada top speed.

Mengganti karburasi

Ini saya lakukan setelah bertahan dengan hanya bermodal modifikasi diatas selama lebih dari lima tahun.

Setelah lima tahun, saya baru mengganti karburasi. Menggantinya dengan karbu yang memiliki lubang venturi lebih besar.

Karburasi standar Satria FU memiliki lubang venturi 26 milimeter, saya menggantinya dengan yang memiliki lubang venturi 28 milimeter. Saya menggunakan karburasi jenis PE28. Merk Keihin.

Anda bisa menggantinya dengan jenis lain, merk lain, maupun dengan lubang venturi yang lebih besar. Fungsinya?

Untuk menambah asupan kalori di dalam ruang pembakaran. Menambah bensin dan juga udara di dalam ruang bakar. Menambah tenaga. Seperti halnya manusia, dengan menambah konsumsi makanan atau kalori di dalam tubuh, dengan takaran yang sesuai, tentunya anda akan menjadi lebih bertenaga.

Demikian juga pada sepeda motor, dengan menambah pasokan bensin dan udara, motor anda akan menjadi lebih bertenaga.

Mengganti knalpot

Ini tidak saya lakukan. Tetapi anda bisa dan boleh menggunakannya.

Mengganti knalpot dengan jenis yang tanpa hambatan pada silincer. Knalpot racing lebih mudahnya. Yang bersuara keras itu, yang tampilannya sangat racy itu.

Saya sendiri tak menggantinya. Saya hanya mengganti leher knalpot pada si Bleky, dan membiarkan silincer dalam kondisi standar. Sehingga suaranya tetap seperti halnya motor standar. Tidak meraung-raung dan berteriak keras.

Bukan karena saya tak menyukai suara dari knalpot racing, saya menyukainya. Saya menyukai suara knalpot keras seperti motor balap. Tetapi….

Saya tak ingin ditilang oleh malaikat polisi jika ada operasi kendaraan bermotor. Itu saja.


Dengan melakukan modifikasi diatas, motor saya sudah mampu melampaui ekspektasi perihal kendaraan dengan kubikasi mesin kecil. Tenaga atau powernya sudah meningkat tajam. Dalam jarak pendek, 500 meter, motor saya mampu mengasapi kendaraan dengan kubikasi mesin 250cc.

Sekali lagi, tanpa bore up.

Modifikasi diatas bisa anda lakukan untuk jenis motor yang lain, tak mesti Satria FU. Tentu dengan penyesuaian secukupnya tergantung kondisi dan jenis kendaraan anda.

Berkendara harusnya memang dengan gaya. Ride with passion.

Yaaa, makhluk miskin semacam saya ini memang hanya punya gaya. Tak punya uang dan hanya punya gaya, bwahahaha….

Selamat berhari Minggu bagi anda yang merayakannya.

Salam.

1 Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *