Mencoba Menjadi Profesional

Ilustrasi

Profesional, lawan katanya : amatir.

Gampangnya : profesional bekerja dan mendapatkan upah, sedangkan amatir bekerja namun tak mendapatkan upah.

Jangan pernah salah, perbedaan keduanya hanya ada pada upah yang didapat.

Baik profesional maupun amatir, keduanya membutuhkan keahlian. Bahkan tak jarang dalam suatu pekerjaan tertentu, seorang amatir mempunyai keahlian lebih mumpuni daripada seorang profesional.

Ingat sekali lagi : perbedaannya hanya pada keberadaan upah.

Jangan pernah menganggap amatir ‘lebih kurang’ dalam hal keahlian daripada profesional. Bisa jadi seseorang memilih menjadi amatir dalam suatu bidang tertentu, karena tanggung jawab moral, atau memang ia berniat tidak mendapatkan upah dari pekerjaan yang ia lakukan.

Tetapi dalam berbagai konteks dalam masa sekarang ini, kata profesional sudah menjadi semacam istilah. Ialah untuk menggambarkan seseorang yang memiliki keahlian, bekerja dengan kesungguhan, dan mendapatkan upah atas jasa atau pekerjaannya.

Kata kuncinya ada pada kesungguhan, dalam framing pekerjaan. Bukan pada kesungguhan mengejar upah.

Jadi jika anda bekerja dan mendaku sebagai profesional, namun tak ada kesungguhan dalam melaksanakan pekerjaan ; bisa jadi anda hanya sedang mengemis upah. Serius!

Kesungguhan adalah kata kuncinya. Dengan itu, maka bekerja adalah suatu proses untuk menghargai diri sendiri. Sedangkan upah, tak lebih dari sekadar bonus belaka. Menghargai diri sendiri dengan bekerja penuh kesungguhan, maka kita sedang menanam pohon yang kelak akan menjadi monumen keberadaan kita dalam lingkungan pekerjaan,bahkan bisa jadi dalam lingkungan yang lebih luas.

Itulah mengapa saya setuju dengan pepatah Jawa yang berbunyi :

“Golek jeneng, ora golek jenang.”

Pepatah Jawa

Jika saya artikan secara bebas, lebih kurang begini maksudnya :

“Bahwa di dalam hidup atau lingkup pekerjaan, mempunyai nama baik dan menjaga nama baik lebih diutamakan daripada mencari keuntungan finansial. Ketika kita mempunyai nama baik, reputasi yang baik, maka secara otomatis akan berimbas pada kondisi finansial yang baik bagi kita. Sebaliknya jika nama atau reputasi kita buruk, kondisi finansial juga akan menjadi buruk.”

Uang akan mengikuti nama baik dan reputasi cemerlang kita. Percayalah.

Koruptor itu lebih mengejar jenang (makanan/uang) daripada jeneng (nama/reputasi baik). Maka bisa kita saksikan secara gamblang bahwa mereka terjerumus dalam kondisi yang tidak baik.

Sahabatku yang baik hatinya….halah

Bekerja dengan penuh kesungguhan berarti bekerja dengan penuh passion (gairah). Bukan asal bekerja dan kemudian mendapatkan upah. Bekerja dengan penuh gairah bahkan memacu kita untuk memberikan lebih daripada nilai upah yang diberikan. Memberikan nilai lebih, yang terkadang tak bisa dinilai dengan nominal uang.

Bagi beberapa orang, mungkin itu suatu tindakan yang penuh kesia-siaan. Untuk apa bekerja melebihi upah yang diterima?

Pembaca anangaji(dot)com yang budiman, jangan pernah beranggapan semacam itu.

Pernahkan anda menemui orang-orang yang terlalu banyak mengeluh karena bekerja?

Nah, jawaban sederhana atas penyebab mereka seringkali merasa kelelahan menjalani pekerjaan mereka adalah : tidak disertakannya gairah.

Menyertakan gairah dalam bekerja akan memicu dikeluarkannya hormon endorfin. Hormon yang memicu rasa bahagia pada manusia. Dan sampai saat ini, tak pernah ada manusia yang merasa lelah untuk bahagia. Betul?

Apakah anda merasa lelah bahagia? Ingin sengsara saja? Tentu saja tidak, kan?

Bekerja dengan tidak bergairah akan membuat kita mudah lelah, juga menjadi mudah marah. Mudah marah ketika kita merasa bekerja lebih keras, tetapi tidak disertai dengan kenaikan upah.

Bekerja dengan penuh gairah berarti kita menabung untuk asuransi kesehatan di masa depan. Maksudnya?
Bahwa dengan bekerja kita justru akan mendapati tubuh semakin sehat, atau paling tidak tubuh kita terjaga kesehatannya.

Bekerja tidak akan merampas kesehatan kita, kalau kita menjalaninya dengan riang gembira, dengan ringan hati, dan dengan gairah serta kesungguhan.

Menjadi profesional bukan berarti malah membuat kita menjadi pongah dan kelebihan gaya. Menjadi profesional justru berarti membumikan seluruh kemampuan dan dedikasi kita dalam bekerja, sehingga ia dapat tumbuh subur dan menjadi berguna bagi banyak pihak yang membutuhkannya.

Begitu…jangan asal mendaku profesional.

Apakah anda sudah menjadi profesional?

Kalau saya sih, masih amatiran…

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *