MENEGUK LUKA, MENJADI BATU

Bandung Bondowoso mengerjap, matanya mencoba mencari cahaya, gelap. Heran, bahkan seluruh tubuhnya terasa kaku, dan tubuhnya seperti terhimpit beban berat, terasa sesak, bahkan sekadar untuk menggerakkan satu jari pada tangannya. Ia ingin meregangkan seluruh otot, seperti kebiasaan yang selalu ia lakukan, sebangun dari tidur atau istirahat.

Tetapi, kali ini tubuhnya sama sekali tak bisa bergerak.

Bandung Bondowoso memaksa, ia menggeliat. Gemuruh terdengar dari sekitarnya, seberkas cahaya menerobos, terang, dan ia merasa silau teramat sangat. Sejenak ia memejamkan mata kembali, seraya mencoba memahfumi, gerangan gemuruh apa disekitarnya. Debu, suara teriakan, dan batu-batu.

Seperti kembali tersadar, tubuhnya berada dibawah batu-batu. Bandung Bondowoso terhenyak, melompat, batu besar berhamburan.

Matanya jelalatan, terus mengerjap, orang-orang ramai berlarian. Ia berdiri diatas tumpukan batu, yang tadi menghimpit tubuhnya. Sebentuk bangunan terlihat roboh, dari batu-batu itu. Bandung terus berdiri, masih mematung, tapi kini kedua tangannya sedikit terangkat, berkacak pinggang.

Ia merasa heran, dimana sedang berada. Matanya terus menyapu keadaan sekitar. Orang-orang yang tadi berlarian, kini diam, terlihat memandang ke arahnya. Bandung balas menatap mereka.

Ia merasa tubuhnya segar, sentosa. Ia melirik lengannya yang berkacak pinggang, masih kekar. Bandung masih tak bergerak, tetapi kini dengan rasa heran yang bertambah. Pakaian orang-orang itu, yang menatap dengan pandangan aneh ke arahnya…

Orang-orang yang menatap tak kalah heran. Seakan mereka melihat pemeran Arjuna di film Mahabharata. Kesatria gagah, terlihat kokoh dan waskita. Hanya bedanya, tatap mata orang aneh yang berdiri diatas batu itu, jauh lebih tajam dan menarik daripada pemeran Mahabharata paling ganteng sekalipun. Tatap pandang orang aneh itu seakan mampu melihat jauh ke dalam rongga mata, menelusup sampai dibalik dusta-dusta terkelam manusia.

Dilihat oleh mata Bandung sebentuk papan di kejauhan, jaraknya mungkin tiga puluh tombak dari tempatnya berdiri saat ini. Ia melompat.

Sial, ia melompat terlalu bersemangat. Papan yang ia ketahui seperti terbuat dari lempeng kuningan dengan penyangga dari besi itu, roboh terhantam tubuhnya. Ia merasa heran, seperti ada sesuatu yang membutuhkan penyesuaian. Antara perintah dari kepala, dan kakinya. Ia hanya ingin melompat biasa saja, tetapi ternyata tenaga yang keluar dari kakinya, berlebihan.

Bandung kini mencoba mengamati papan yang teronggok mengenaskan di depannya. Ada sebentuk tulisan, tetapi asing di dalam ingatan. Ia tak mengenal huruf-huruf yang ada di depannya. Matanya kembali mengerjap, dan kepalanya menoleh ke arah kiri dan kanan.

Seseorang berdiri tak jauh dari tempatnya kebingungan. Bandung memanggil, orang itu terlihat kebingungan, seperti tidak paham bahasa dan kata-kata dari mulutnya.

“Djangkrik.” Bandung mengumpat, tertahan. Bagaimanapun ia merasa berada di tempat asing. Ia tak mau gegabah dengan kata-kata, apalagi umpatan. Siapa tahu orang-orang di sekitarnya adalah resi-resi sakti. Ia sejenak menyimpulkan ketika melihat hampir semua dari mereka membawa sebentuk kotak yang bisa mengeluarkan cahaya. Mungkin pusaka sakti, atau kitab suci, pikirnya.

Bandung melambaikan tangan, sembari perlahan melangkah pada orang yang ia maksudkan.

“Ini dimana?” Bandung bertanya.

Orang itu menggeleng, seolah tak mengerti, atau memang tak mengerti.

Bandung sejenak tertegun, lalu teringat rapal mantra satu ilmu, dari salah seorang gurunya di utara jauh.

Ia merapal ilmu Singir Lathi Mangiro. Ilmu yang membuatnya akan menjadi mengerti berbagai bahasa, ketika sedang melawat ke tempat asing. Ilmu itu juga akan membuatnya mengerti bahasa hewan, bahkan bahasa dan pertanda alam. Bahkan bahasa angin, akan mampu dipahami dan dimengerti oleh Bandung. Ilmu itu diperolehnya ketika ia sedang memancing di daerah pantai utara, pada sebuah teluk yang hijau, sedangkan daerah di sekitar teluk tersebut kering, tandus, dan bahkan tanpa rerumputan. Hijau pada teluk tersebut, ternyata karena karomah seseorang, yang kemudian menjadi salah satu dari sekian banyak gurunya.

“Ini dimana?” Bandung mengulangi pertanyaannya.

Orang didepannya masih terlihat kebingungan, tetapi buru-buru lekas menjawab,

“Candi Ijo.”

“Mana?” Bandung memastikan.

“Candi Ijo.” Orang tersebut mengulang, “budeg po.” Lirih saja orang tersebut mengumpat.

“Weits.” Bandung setengah berteriak. Meski hanya samar, Bandung mendengar orang itu mengumpatnya dengan kata budeg.

Bandung waspada. Orang-orang ini pasti sakti mandraguna. Terhadap orang yang baru dikenal saja sudah menunjukkan sikap arogan, dan tak mengenal unggah-ungguh serta tatakrama. Atau karena mereka semua memegang pusaka. Semacam pusaka Cunda Manik milik Durna. Tetapi bedanya jika pusaka Durna selalu disembunyikan, pusaka orang-orang ini selalu dipegang pada telapak tangan. Pusaka sakti yang akan mampu memusnahkan siapapun yang dikehendaki. Bandung waspada, memasang kuda-kuda dan merapal ajian Layang Sewu. Ajian yang akan membuat dirinya terlihat menjadi seribu, dan mengacaukan pandangan orang itu, andai akan menyerang dengan pusaka berbentuk kotak yang mampu mengeluarkan cahaya.

“Aku harus waspada, orang-orang ini sepertinya dukdheng, sakti semua. Tak ada yang menunjukkan rasa hormat terhadap Bandung Bondowoso. Kesatria paling ditakuti di tlatah Brambanan.” Bandung menggumam.
“Ataukah memang mereka sedang dalam kondisi perang, kenapa pusaka selalu terhunus di depan muka.” Bandung melanjutkan keheranannya.

“Mm maaf, saya tidak bermaksud mengatakan budeg, maaf.” Orang di depannya tergagap.

Bandung kembali tertegun. Mereka benar-benar orang sakti dan waskita. Ditandai dengan kebesaran hati dan jiwa mereka mengakui kesalahan. Hanya orang-orang sakti, orang-orang pinilih, yang mampu seketika menyadari kesalahan, meminta maaf, mengakuinya. Sungguh Bandung merasa hatinya mengecil. Jangan sampai salah ucap, atau aku akan kualat, batinnya.

“Ya, tidak apa-apa.” Bandung memasang seulas senyum.

“Tetapi,” Bandung ragu, “kalau aku boleh bertanya kisanak, itu hewan apa? Seperti kuda, dinaiki, tetapi tak punya kaki.” katanya sembari menunjuk ke arah jalan di seberang.

“Ooh itu bukan hewan, mas. Tetapi sepeda motor.” Jawab orang tersebut.

Dua orang anak muda memakai KLX tanpa memakai helm terlihat berjingkrak dengan kuda besinya, yang disangka Bandung sebagai kuda, tapi tak berkaki.

“Sepeda motor?” Bandung keheranan.

Orang itu berpamitan. Orang-orang berkerumun, melihat Bandung yang keheranan, dengan tatapan mata penasaran. Bandung menggaruk kepalanya. Sesuatu yang sebelumnya tak pernah ia lakukan. Pamali, kata salah seorang gurunya. Kesatria tak boleh menggaruk kepala. Tak boleh menunjukkan kerentanan terhadap hal-hal sepele. Harus mampu menahan cobaan, ujian, bahkan dari rasa gatal. Tetapi kini Bandung tanpa sadar menggaruk kepalanya, bukan karena gatal, tetapi karena sesuatu disekitarnya, terlihat begitu asing, dan hampir membuatnya merasa pusing, mual.

Bandung terhuyung, ia berjalan menuju sebongkah batu, duduk, dan memejamkan matanya sembari menarik nafas dalam-dalam.

“Duh Gusti, hamba mohon maaf jika sudah terlampau banyak membuat dosa, terlampau banyak melanggar dharma. Hamba mohon maaf Gusti.” Bandung menggumam.

Matanya berkaca-kaca. Tak ada seorang pun yang ia kenal. Ia mencoba merapal mantra Dhemit Pangiring. Mantra yang dulu biasa ia gunakan untuk memanggil teman-temannya dari jagad halus, jagad lelembut, jika sedang kesepian atau membutuhkan bantuan. Tetapi, tak ada satu pun kawannya dari bangsa lelembut yang muncul. Bandung kembali menghela nafas panjang.

“Apakah dhemit-dhemit itu juga sudah modyar? Kala Srewu, Kala Srenget, Poconguling, Untirkrambil.” Bandung lirih menyebut beberapa nama kawan karibnya, dari bangsa halus. Ia hampir putus asa.

“Gusti, mohon tunjukkan dimana aku berada. Apakah ini masih alam fana, ataukah sudah berada di alam kalanggengan, alam keabadian. Kenapa semua serba aneh.” Bandung meratap dalam hatinya, tak terasa air matanya meleleh.

Ia kesatria paling hebat dalam sejarah Brambanan, yang kini lebih dikenal dengan nama Prambanan. Tetapi, sepi membuatnya rapuh dan merasa tak berdaya. Tak ada lagi teman, atau…

“Jonggrang.” Bandung menggumam kesekian kali. Kepalanya mendongak, matanya kembali berbinar. Ia mengusap tetes air mata yang terlanjur keluar. Sekali lagi ia sudah melanggar larangan gurunya.
Kesatria tak boleh menangis. Setidaknya, tidak di depan orang lain.

Bandung berdiri, dan kembali mengedarkan pandangan ke sekitar. Tubuhnya yang terlihat kokoh, kekar, dengan tonjolan bahu dan dada membusung membuat orang-orang disekitarnya mendekat.

“Jonggrang, Jonggraaaaaang. Kemana kamu nduuukkkkk!” Bandung berteriak. Orang-orang yang mendekat, beralih mundur sekian langkah, tetapi dengan hape yang siap siaga di tangan. Mengabadikan momen kesatria gagah dan menarik hati itu melakukan suatu adegan. Seperti syuting film, pikir mereka. Siapa tahu ini prank yang dibuat oleh seorang youtuber, pikir mereka lagi. Bisa numpang tenar, hanya itu yang ada dalam pikiran mereka.

Bandung terkesiap. Kenapa semua orang mengarahkan pusaka ke arahnya. Salah apa aku, pikirnya. Bandung melompat tinggi ke udara, dan kembali ke tanah dalam kecepatan tinggi.

Bhuuuaammmmmmm!!!!!!!!!

Bumi berdebum keras, berguncang laiknya gempa, dan tanah merekah, retak terkena hentakan gaya gravitasi Bandung dari udara.

Orang-orang berlarian. Kini, mereka ketakutan. Orang aneh di depan mereka tak sedang melakukan adegan film. Orang di depan mereka benar-benar sakti, dari alam antah berantah. Sebenarnya mereka sudah menyadari hal itu semenjak Bandung melompat dan menabrak papan informasi Candi Ijo, tetapi sesaat tadi mereka mengira kalau Bandung bisa melompat sejauh itu karena bertumpu pada sebuah trampolin. Mereka seperti tersihir, tak menyadari, bahwa orang aneh di depan mereka baru saja merobohkan sebuah candi hanya dengan menggeliat saja.

Orang-orang mundur teratur. Bandung semakin waspada, cahaya-cahaya kilat keluar dari pusaka berbentuk kotak, pada setiap telapak tangan orang di depannya.
Pusaka macam apa itu, Bandung masih belum bisa menerka gerangan pusaka apa yang akan ia hadapi.

Kini Bandung merapal mantra ajian Padatala Paksa. Ajian yang akan membuat kakinya mampu untuk berjalan sangat cepat, setengah melayang, seolah mempunyai sayap. Bandung bersiap berlari. Ia memang kesatria tangguh. Tetapi melawan puluhan orang sakti sekaligus, yang bahkan tidak bisa ia baca pancaran auranya, Bandung gentar. Ia tak ingin mati sia-sia sebelum bertemu Jonggrang.
Biasanya, pada orang-orang sakti yang pernah ia hadapi, pancaran aura akan mampu ia baca. Dari pancaran aura itu, Bandung bisa membuat perhitungan, perihal kuat lemahnya lawan. Sedang saat ini, tak ada satu pun dari orang-orang ini yang mampu ia baca auranya.

Bandung Bondowoso, gelisah. Ia sendirian berada di antah berantah, tanpa satu pun teman, dan sedang merasa terancam.

Tiba-tiba Bandung merasakan satu pancaran aura yang kuat. Belum juga ia menyadari darimana asal pemilik aura itu, sebentuk suara sudah sudah menegurnya,
“Tak usah takut Bandung, tak usah lari. Juga tak usah merapal Padatala Paksa.”

Bandung terhenyak. Ada orang yang mengenalnya. Terlebih, ada orang yang tahu mengenai nama salah satu ajiannya. Bandung mencari asal suara, mencari pemiliknya.

Seseorang muncul dari kerumunan. Seorang dengan bentuk muka yang tak bisa dikategorikan sebagai manusia. Sesaat setelah muncul dari kerumunan, orang itu berkata pada puluhan orang yang sedang mengacungkan pusaka,
“Sebaiknya kalian bubar, lapor polisi kalau Candi Ijo ambruk. Ooh ya, dan simpan hape kalian. Tentu kalian tak ingin orang aneh ini mengira hape kalian adalah pusaka, dan dia merasa terancam, selanjutnya akan membuat kalian berserak seperti debu ketika dia meniup kalian dengan rapal ajian mengerikan.”

Seperti tersihir, orang-orang perlahan bubar, menurut pada kata orang bermuka aneh, dan dengan bentuk tubuh…tak kalah aneh.

“Lupa padaku Bandung?” orang aneh itu kembali bertanya.

Bandung tak lekas menjawab. Rasa heran dan penasarannya semakin menghebat.

“Duh Gusti, alam apa ini.” Bandung membatin.

“Ini masih janaloka Bandung. Masih alam dunia, alam manusia.” orang itu kembali membuat Bandung terhenyak. Ia tahu apa yag ada dalam batin dan pikiranku, Bandung putus asa. Mati aku kalau sampai ia ingin beradu kaprawiran, Bandung pasrah.

“Tenang, aku tak akan mengajakmu berkelahi.” orang itu tersenyum.

Tubuh Bandung kini serasa tak mendapat aliran darah. Pucat, dan lemas. Kakinya menggigil. Kali ini, ia benar-benar merasa bertemu orang sakti.

“Atau mungkin…” orang tersebut sejenak menghela nafas, “aku harus memanggilmu Raden Racaka?”

Bandung hampir pingsan. Seperti ada petir yang seketika menyambar ubun-ubun kepalanya. Matanya mendadak nanar. Tapi ia berusaha tak limbung, dan mencoba menajamkan pengelihatannya demi mendapat kepastian siapa gerangan yang ada di depannya.

“Kamu benar-benar lupa siapa aku? Duh, kesatria paling gagah dan ampuh se-tlatah Brambanan kok pelupa. Atau kamu menjadi pelupa karena efek tidur lebih dari satu milenium, lebih seribu tahun? Wah, benar-benar milenial.”

Seingat Bandung, hanya ada seorang saja yang menanggilnya Racaka. Nama itu bukan nama kecil atau nama pemberian orang tua. Tetapi memang nama yang diberikan oleh satu-satunya orang yang memanggilnya dengan nama itu. Nama yang diberikan dengan penuh doa dan harap, agar ia terus selamat, terus bernafas, dari masa ke masa. Tetapi mungkinkah…

“Kamu….” suara Bandung bergetar, tetapi mengisyaratkan suatu kelegaan.

“Ya, ini aku Raden Racaka. Abdimu.” orang tersebut masih tersenyum.

“Gareng?!?!” Bandung menghambur memeluk orang asing di depannya, yang kini tak asing lagi.

“Hush.” Gareng menampik pelukan Bandung.
“Mosok kesatria gagah pidekso peluk-pelukan.”

Bandung menangis.

“Reng, kok mukamu…” masih dengan terisak, Bandung meluapkan rasa penasarannya. Satu diantara tak hingga pertanyaan yang akan ia ajukan.

“Ceritanya panjang den. Nanti saya ceritakan. Lebih baik sekarang raden yang bercerita. Kenapa kok pakai acara bangun segala dari tidur yang sudah terlanjur nikmat itu? Sampai merusak candi. Itu baru selesai di pugar lho. Di jaman ini bisa ditembak sampeyan kalau merusak bangunan cagar budaya. Tapi kalau korupsi ndak bakal ditembak, meski korupsi di daerah dengan perda syariah. Gek ndang cerita, kenapa bangun? Udah dibikin teler kok masih bangun.” Gareng ganti bertanya.

“Itu tadi candi?”

“Lha ya candi, mosok kandang sapi.”

“Aku mimpi ketemu Jonggrang, dan ia terus memanggil namaku.” Bandung menyampaikan jawaban.

“Lhah, mimpi basah den?”

“Mimpi basah? Maksudnya? Mimpi Jonggrang, calon bojoku, bukan mimpi basah. Siapa itu basah?”

“Wah jian. Susah.”

“Jonggrang. Dia dimana Reng?”

“Welha.”

“Kok welha? Dimana?”

“Lupa lagi den?”

Bandung mengingat-ingat, kejadian terakhir yang bisa ia ingat, perihal Jonggrang.

“Terakhir, aku memeluk Jonggrang, memangkunya, dipinggir sungai.”

“Malam-malam?” Gareng menyelidik.

Bandung mengingat. Berusaha keras memutar rekaman kejadian, yang nyaris terlupakan.

“Emm, sepertinya iya.”

“Nah.”

“Kok kamu tahu?”

“Haaa Gareng je. Coba diingat, apa yang saya katakan kepada raden, malam itu, sebelum sampeyan nekat pergi ke tempat Roro Jonggrang?”

“Hati-hati.”

“Wah jian, goblog. Sebelumnya.”

Bandung kembali mengingat. Susah.

“Sebentar Reng, aku lupa. Eh tapi, kok tadi aku juga ngrapal Dhemit Pangiring, ga ada yang muncul?”

“Oooh,itu. Maaf den. Aku sudah menyuruh kawan-kawanmu itu untuk menyebar, pindah, ke arah papat limo pancer. Mereka kini menyebar, menghuni gua-gua dan tebing di pantai-pantai, juga lereng dan puncak bukit atau gunung. Dan ketika tadi mereka ga muncul ketika raden memanggil, di tempat mereka mungkin ga ada sinyal.” Gareng ngekek.

“Lhah, kenapa kamu menyuruh mereka pergi?”

“Ya itu ada hubungannya dengan kejadian malam itu.”

Bandung kembali mengingat. Lamat-lamat mulai teringat.
Malam itu ia merasa begitu rindu pada Jonggrang, calon istrinya. Hanya saja, selama sembilan kali purnama semenjak lamaran diterima dan mereka diputuskan akan menikah, Bandung dan Jonggrang tidak boleh bertemu. Ada banyak ritual dan pantangan yang harus dipenuhi, selama itu. Lebih penting lagi, ayah Bandung, sedang membangun rumah dan membutuhkan banyak biaya. Tak bisa sekaligus jika harus menanggung biaya pembangunan rumah, dan juga biaya srah-srahan untuk menikah.

Malam itu Bandung ngeyel, kebelet ketemu, padahal baru dua kali purnama terlewati. Gareng sudah mengingatkan ketika memergoki Bandung mengendap-endap hendak pergi. Menasehati, dan menjabarkan resiko yang akan dihadapi, jika nanti sampai ketahuan. Baik oleh ayahnya sendiri, terlebih oleh keluarga Jonggrang. Bandung keukeh. Kerinduan sudah memuncak. Ubun-ubunnya sudah hampir meledak karena menahan rindu tak bisa bertemu.

“Aku kan punya ajian Sepi Angin Reng. Nanti tak sirep mereka semua, kecuali Jonggrang, hehehe.” kata Bandung waktu itu.

Gareng tak bisa mencegah. Dan akhirnya, mereka memang bertemu setelah Bandung yang badung itu membuat tidur seluruh penghuni keraton keluarga Jonggrang. Semua keluarga, ayah, ibu, saudara, sampai pada pelayan, dan berbagai macam hewan peliharaan, semua tertidur oleh ajian Sepi Angin milik Bandung. Tak dapat dipungkiri, Bandung memang kelewat sakti.

Terjadilah malam itu. Bandung dan Jonggrang asyik saling bercanda di pinggir sungai, di komplek keputren keraton keluarga Jonggrang.
Mereka saling merayu, saling bermanja. Jonggrang sendiri, sebenarnya sudah menahan kerinduan yang teramat sangat, pada kesatria gagahnya itu. Tapi ia tak berani melanggar peraturan. Tak disangka, Bandung nekat. Dan mereka asyik masyuk menikmati kenekatan dengan khidmat. Bandung mulai lepas kendlai. Ia merengkuh pinggang Jonggrang, memangkunya dan sekali waktu mencium harum rambutnya, dan lembut lehernya. Bandung merasa malam itu bagaikan sepetak waktu ditengah surga.

Tetapi tanpa mereka sadari, Bandung melanggar pantangan ketika sedang menggunakan ajian. Tak boleh ada sesuatu yang keluar dari salah satu diantara sembilan lubang larangan, babahan hawa sanga, selama ia menggunakan ajian. Kalau tidak, seketika akan luntur ajian yang sedang ia gunakan. Ketika sedang memangku Jonggrang, tak terasa ada yang mengeras di dalam kain jariknya, dan menetes jatuh ke dalam aliran sungai. Tanpa mereka sadari, semua penghuni keraton seketika terbangun, tak terkecuali ayam alas peliharaan, yang langsung berkokok keras karena merasa hari sudah pagi. Kokok ayam itu membuat banyak pelayan bergegas melakukan aktifitas, termasuk para dayang dan emban yang beranjak ke sungai komplek keputren untuk mencuci.

Gegerlah mereka semua ketika mendapati Jonggrang sedang dipangku seseorang, dan berteriak-teriak karena menyangka Jonggrang sedang akan diperkosa oleh pencoleng. Mereka mengira Bandung adalah penjahat, karena malam masih sangat pekat.

Bandung kelimpungan, dan seketika menurunkan Jonggrang, berusaha melarikan diri. Terlambat, banyak penjaga yang sudah bersiaga. Gugup, membuat Bandung tak mampu merapal satu ajian apapun guna melarikan diri.

Pantangan sudah dilanggar, larangan sudah tercemar.

Mereka diputuskan untuk tak jadi menikah, diberi tahu oleh keluarga masing-masing, di kediaman masing-masing, setelah Bandung tertangkap dan diantar oleh pengawal keraton keluarga Jonggrang untuk pulang.

Karena kecewa tak jadi menikah dengan Bandung, Jonggrang putus asa dan mengutuk dirinya sendiri menjadi arca, menjadi batu.
Bandung tak pernah mengetahui hal itu.

Karena setelah kejadian itu, Bandung diperintahkan untuk menebus dosa melanggar pantangan, menerabas larangan, untuk tapa batu. Dikubur dibawah tumpukan batu, selama waktu yang akan dikehendaki oleh Sang Hyang Pencipta Alam.

Ayah Bandung sendiri kemudian merasa malu atas tingkah polah anak kesayangannya, dan moksa seketika setelah Bandung selesai dikubur dibawah tumpukan batu. Meninggalkan ‘rumah’ yang tak selesai dibangun, Candi Boko.

Seluruh wadyabala dhedemit teman dan kawan-kawan Bandung, disuruh bubar dan pergi oleh Gareng. Tak ada lagi manusia sekelas Bandung, yang bisa diikuti dan ditaati.

Jonggrang menjadi arca di Candi Prambanan, Bandung membatu di bawah Candi Ijo.

“Jadi, Jonggrang menjadi batu, Reng?” Bandung merasa lidahnya kelu, menyesali segala perbuatannya di masa lalu.

“Begitulah den.” Gareng nampak ikut menyesal. Kenapa dulu tak mampu mencegah bendoro kesayangannya itu.

“Aku harus bagaimana sekarang? Aku tak bisa hidup tanpa Jonggrang.”

“Haa lambemu den. Lha ini nyatanya masih hidup.”

“Aku serius Reng.” Bandung terisak.

“Saya juga serius den. Racaka ndak bisa mati.”

“Wah jian. Aneh-aneh wae gak bisa mati. Lalu?”

“Ya sudah tidur lagi saja.”

“Di situ?”

“Lhaiya. Nanti bangunnya kalau sudah mau kiamat saja, jangan bentar-bentar bangun.”

“Ya sudah, aku tidur lagi saja.”

“Betul, sama itu ditata lagi batunya, biar jadi Candi Ijo lagi. Cepetan, nanti kalau sampai tentara dan polisi datang kemari itu belum berwujud candi lagi, bisa ditembak sampeyan.”

Penyesalan mendalam Bandung membawanya kembali pada tidur panjang, berselimut kesedihan, dibawah tumpuk bebatuan.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)