MENGAPA MEMBAKAR ROKOK?

Jelas sudah terpampang dalam berbagai artikel kesehatan, dari berbagai ahli lintas disiplin ilmu, bahwa merokok merugikan kesehatan. Tetapi kenapa masih saja banyak orang merokok? Bahkan serasa mereka bebal dengan berbagai argumen serta nasihat, termasuk saya. Kenapa?

Ya daripada mbakar endhas atau rumahmu!

Nasihat itu pernah saya dapatkan dari sesama perokok, untuk dilontarkan ketika menghadapi semacam desakan dari pihak-pihak yang tak suka dengan rokok dan aktifitas merokok.
Tentu saja pernah saya praktekkan pada suatu waktu, pada seorang yang masih seusia dengan saya. Begitu mendengar jawaban saya, dia hampir marah. Apa yang terpikir dan tergambar dalam benaknya adalah suatu nasihat baik yang akan saya terima, tetapi dia tak menyangka mendapat jawaban demikian. Tetapi pada akhirnya dia tak jadi marah, setelah saya membayar es teh dan beberapa gorengan yang dia makan. Dan tersenyum setelah saya janjikan akan memikirkan nasihatnya.

Terang saja saya berbohong, lha wong nasihat Mamak untuk tak lupa gosok gigi sebelum tidur saja, saya lupa.

Begini, nasihat itu masih seringkali saya gunakan, saya lontarkan, namun dalam lingkup dan suasana yang terbatas. Hanya pada teman paling dekat, atau saudara dan keluarga yang dekat secara personal dengan saya. Dengan saudara pun, jika saya merasa tak memiliki kedekatan personal yang erat, saya tak pernah menggunakan kalimat itu.
Nasihat itu hanya akan menemui efek psikologis yang dahsyat, apabila dikemukakan pada orang asing yang sok-sokan menasihati dan seolah mengerti hidup kita. Orang asing yang sama sekali tidak pernah bergaul dengan kita, tetapi seolah paling mengerti segala sesuatu yang baik atau buruk bagi diri dan hidup kita.
Pada orang yang demikian, bakar saja ndhas-nya sembari kita kepulkan asap surga ke udara. Apalagi jika kita sudah merokok pada ruang-ruang dan waktu yang ditentukan, serta membeli rokok dengan uang kita sendiri, tanpa meminta pada mereka.

Pada ibu, Mamak saya tercinta, yang selalu benci dan tidak suka dengan aktifitas merokok saya, selalu saya kemukakan argumen dengan sebaik dan selembut mungkin. Meski masih tetap tak setuju dan berharap saya berhenti merokok, Mamak menghormati pilihan yang saya lakukan. Paling kalau sudah merasa nasihatnya perihal rokok tidak saya dengarkan, Mamak akan mulai memegang hape dan mengunggah barang-barang jualannya di Facebook atau Whatsapp. Nah, ternyata saya bisa juga menjadi pemicu untuk hal-hal baik, termasuk memacu semangat berdagang Mamak. Hehe.

Oh iya Mak, selamat merayakan Hari Mamak.

Pernah juga saya diberi suatu nasihat, oleh seorang laki-laki yang sudah lumayan sepuh, dan sekaligus mantan perokok. Dulu katanya, dia menjadi perokok aktif selama kurang lebih dua puluh tahun semenjak masih sekolah, dan kini sudah berhenti selama sekira dua puluh tahun juga. Nah, anda bisa menerka kira-kira berapa usianya.

“Sebelum terlambat mas, sebaiknya berhenti.” katanya, tanpa bermaksud menasihati. Meski dengan kalimat yang mengandung perintah, tetapi nada bicaranya seakan ditujukan kepada dirinya sendiri, sebagai semacam refleksi.

“Dulu, apakah bapak sempat mengalami keterlambatan, ketika memutuskan berhenti merokok?” Tentu saja saya tidak tega memberi jawaban atau tanggapan yang sengak. Dia bersungguh-sungguh ingin berbagi, maka saya menyimak dan mendengarkan.

“Tidak juga, maka saya bersyukur. Sebelum terlambat, teman saya seorang dokter sudah mengingatkan.” jawabnya.
“Dia, kawan dokter saya itu, mengemukakan berbagai argumen, hasil penelitian, dan pengalamannya bersentuhan dengan pasien yang terindikasi sakit karena rokok. Dia mengingatkan saya mengenai bahaya rokok, sebelum terlambat. Itu terjadi dua puluh tahun lalu mas. Saat belum gencar kampanye anti rokok, atau berbagai pembelaan bahwa kampanye anti rokok adalah propaganda saja.” lanjutnya.

“Maka bapak berhenti?” saya menyela.

“Tidak seketika. Saya sempat berpikir, mas. Dan beberapa bulan kemudian baru bisa memutuskan untuk berhenti merokok.” jawab si bapak.

“Saya juga sempat berhenti Pak.” saya menyambung.

“Berapa lama?”

“Dua tahun berturut-turut Pak.”

“Bagus itu, kenapa merokok lagi?”

“Begini Pak…” saya menjawab dengan panjang lebar.

Jawaban panjang lebar saya dimulai dari alasan kenapa saya merokok lagi, kenapa terus bertahan, dan kenapa tak berhenti.
Tetapi dalam ketiga sub bahasan atas jawaban saya itu, selalu saya sisipkan perihal situasi dan kondisi saya dalam pekerjaan. Bagaimana terkadang saya merasa stress kalau tidak menyelesaikan pekerjaan sembari merokok, pusing dengan kepala berdenyut kuat, dan entah kenapa hanya sembuh dengan mengisap sebatang rokok.

Juga saya sisipkan cerita Pak Tuwo, kakek saya, yang meski mantan tentara, veteran perang, tetapi lucunya minta ampun. Pak Tuwo berhenti merokok karena tidak mau Simbok (nenek saya) mengomel terus sepanjang waktu, setiap hari. Maka, untuk menghindari Simbok mengomel, Pak Tuwo memilih untuk tidak merokok saja.

Jawaban serta alasan yang saya kemukakan dengan disertai cerita tersebut, ternyata memancing si bapak untuk ganti berbicara panjang lebar mengenai keluarganya, dan juga pekerjaannya. Ketika akhirnya si bapak yang mulai bersemangat bercerita mengenai keluarga dan pekerjaannya, berselang berganti, saya mendengarnya sembari terkadang menimpali dengan guyonan, dan mengisap sebatang rokok.

Sengaja saya mengalihkan pembicaraan agar tak harus sampai pada perdebatan mengenai baik-buruk rokok, konspirasi dunia medis, atau tetek bengek alasan rasional dan irasional dari masing-masing kubu. Tak harus semua hal yang kontra dengan pilihan hidup kita, layak untuk disangkal dengan perdebatan. Ada hal-hal yang lebih esensial untuk kita perjuangkan daripada sekadar merasa menang berdebat dan beradu argumen.

Banyak hal yang jauh lebih penting juga mendasar untuk dapat kita rengkuh dan dapatkan dari orang-orang serta lingkungan sekitar. Jauh lebih penting dari sekadar (merasa) menang berdebat. Jauh lebih berguna daripada memaksakan pendapat.
Bagi saya bisa berbicara, mengobrol, bercanda, dengan siapapun meski latar belakang sosial, budaya, pandangan politik, usia jauh berbeda, adalah nikmat yang tak terhingga.

Saya akan lebih banyak memilih untuk diam, atau mengalihkan pembicaraan dengan orang atau kawan yang berbeda pandangan, daripada harus menghadapi kemungkinan tak akan lagi bisa berkumpul dan bercanda di masa depan.

Sederhana.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.