MENGATASI RASA JENUH TERHADAP PEKERJAAN

Foto BlogTak bisa dipungkiri, suatu hal yang sudah menjadi kegiatan rutin dalam keseharian, dalam jangka waktu tertentu akan menemui titik puncak rasa bosan. Apalagi mandi, yang semenjak kecil dibiasakan bahkan dua kali dalam sehari, dengan gerakan nyaris tanpa variasi, tentu saja sekali waktu akan terasa bosan untuk melakukannya. Selain mandi, ada juga hal rutin lain yang terkadang akan terasa bosan melakukannya, apa itu?

Yak, berkaca.

Siapa diantara anda yang memungkiri bahwa berkaca adalah suatu kegiatan rutin, seringkali dilakukan, namun terkadang malas melakukannya? Apalagi jika sedang berjerawat, bertambah gemuk, gagal mengajukan hutang, gagal pacaran, gagal paham, dan gagal-gagal lainnya.

Tetapi kali ini tidak akan kita bahas mengenai dua rutinitas yang terkadang menjengkelkan juga mengecewakan itu, kita akan bahas jenis yang lainnya.

Ya, seperti judul di atas, kita akan bahas sekelumit hal mengenai rasa bosan terhadap pekerjaan.

Tak semua dari kita mempunyai suatu profesi atau pekerjaan dengan tingkat variasi tinggi. Variasi dalam arti jenis pekerjaan yang mobile, seringkali berganti sesuai kebutuhan kantor atau perusahaan, berganti tempat serta ruang kerja, atau bahkan variatif dalam urusan gaji, bonus serta tunjangan.

Banyak diantara kita mengalami atau mendapatkan pekerjaan yang dari hari ke hari, waktu demi waktu, dari panen padi sampai panen medali, hanya berkutat dengan satu jenis pekerjaan saja.

Hal itu tentu saja membosankan, bukan?!

Sedang manusia adalah makhluk dengan tingkat kerawanan untuk merasa bosan yang cenderung tinggi.

Untuk sedikit memberi solusi mengenai hal tersebut, jika suatu kali anda mengalaminya, maka Gareng, teman saya, akan memberikan tips bagi anda untuk mengatasi rasa bosan yang demikian.

Tentu saja tips nya berbeda antara satu jenis pekerjaan, dengan pekerjaan lain. Cara mengatasinya berbeda, langkah-langkahnya berbeda, dan tentu saja dalam beberapa aspek juga akan berbeda selain cara dan langkahnya.

Seorang bijak pernah berkata :

“Jika lelah hatimu, pekerjakan pikiranmu. Jika lelah pikiranmu, pekerjakan fisikmu. Jika lelah fisikmu, pekerjakan hatimu.”

Begitu terus menerus, siklikal, berputar, dari satu ujung kembali ke ujung yang sama.

Jika pekerjaan anda mengharuskan untuk lebih banyak duduk, tak banyak menggunakan tenaga, dan lebih banyak menggunakan pikiran, maka terkadang kebosanan yang menyergap dan menimbulkan keluhan adalah minimnya gerak tubuh, dan suntuknya pikiran karena terlalu terforsir dari waktu ke waktu. Maka yang anda perlukan adalah sejenak keluar ruangan, berjalan kaki, menggerakkan anggota tubuh, dan melihat pemandangan alam untuk menyegarkan pikiran. Bersyukurlah kalau kebetulan tempat kerja anda dekat dengan areal persawahan, atau hijau perbukitan. Jika kantor anda kebetulan berada di tengah kota, dengan deret bangunan yang menjulang, maka mau tidak mau untuk menyegarkan pikiran anda harus sedikit kreatif.

Berjalanlah sedikit lebih jauh, dan temuilah…yak, penjual es degan.

Karena tidak adanya pemandangan hijau dari alam untuk menyegarkan pandangan mata yang terkadang berkorelasi dengan kesegaran pikiran, maka es degan mungkin bisa sedikit membantu anda. Belilah barang seporsi atau dua. Satu diminum, satunya buat cuci muka.

Namun jika pekerjaan anda lebih banyak menggunakan tenaga, maka caranya sedikit lebih mudah, cukup dengan mengistirahatkan raga yang menopang keseharian pekerjaan anda. Berbaringlah barang sejenak, pejamkan mata perlahan, buka kembali, demikian berulang. Jika sudah dirasa cukup santai, bisa anda selingi dengan membaca.

Membaca apa saja, tak harus buku.

Bisa koran bekas, bekas koran yang dipakai membungkus nasi bekal makan siang, atau membaca ramalan bintang. Syukur-syukur membaca kitab suci, dan secara tak sengaja diabadikan oleh rekan kerja anda, atasan anda, atau orang lain yang kebetulan lewat. Bisa menjadi viral kemudian, menguntungkan bukan. Ibarat pepatah, sambil menyelam mencuri ikan.

Terakhir, jika pekerjaan anda lebih banyak menggunakan hati, maka sesuai rumus dari seorang bijak diatas, silahkan untuk beraktifitas lain dengan lebih banyak menggunakan pikiran dan tenaga.

Eh eh, adakah pekerjaan yang lebih banyak menggunakan hati?

Lha ya tentu saja ada.

Motivator, penceramah agama, pengkhotbah?

Tentu saja pekerjaan mereka lebih banyak menggunakan hati, sebenarnya.

Domain kerja mereka harusnya lebih banyak menggunakan hati. Memotivasi orang-orang yang sedang tidak bersemangat, menyentuh hati orang-orang yang sedang merasa jauh dari kehidupannya, menemani orang-orang yang sedang merasa hampa dengan dirinya.

Tentu saja tanpa hati yang ikhlas dan bersih, serta niat yang tulus untuk membantu, pekerjaan dengan jenis demikian takkan bisa menemui tujuannya.

Mana mungkin berkhotbah, memberi motivasi, atau memberi ceramah agama tidak dengan hati, tidak dari hati, dan hanya berbusa di mulut serta meruncing di pikiran. Iya, kan?

Maka dari itu, pekerjaan yang lebih banyak menggunakan hati seperti itu, ketika suatu saat menemui rasa bosan serta enggan, maka harus sesegera mungkin dilakukan aktifitas fisik serta pikiran untuk memberi keseimbangan, menyesap kesegaran, untuk mereduksi hal-hal negatif yang nantinya bisa mengganggu pekerjaan rutin sehari-hari.

Mungkin sesekali pengkhotbah bisa ikut ke sawah bersama jamaahnya, membantu menyiangi rumput, mencangkul, atau juga memanen buah kelapa.

Jika aktifitas fisik tidak memungkinkan, bolehlah sesekali pergi ke terminal, pangkalan ojek, atau tempat keramaian yang lain untuk sekadar menemui masyarakat dan mengajak satu dua orang dari mereka bermain catur, mengisi teka-teki silang, atau aktifitas yang mengasah pikiran lainnya, tebak skor misalnya, atau tebak angka dadu. Ya asal tanpa taruhan kan tak mengapa.

Sambil menyelam minum es teh, menyegarkan sekaligus semakin merekatkan hubungan terhadap masyarakat dan jamaah yang seringkali menjadi obyek dari ceramah atau khotbahnya.

Syukur-syukur setiap kali datang untuk berbaur, membawa seplastik kacang, beberapa kardus roti, atau beberapa bungkus nasi.

Sehingga masyarakat mengenal mereka tak saja hanya pandai berkhotbah, tetapi juga lihai memanusiakan manusia.

Masih adakah lagi cara-cara yang lain?

Ya tentu saja masih ada.

Atau bagaimana jika ternyata pekerjaan saya mencakup tiga hal tersebut sekaligus? Menggunakan hati, pikiran, juga tenaga dalam waktu yang bersamaan. Lalu saya harus bagaimana?

Sik, sebentar.

Memangnya ada pekerjaan yang demikian?

Lha ya tentu juga ada.

Apa?

—Pengkhotbah yang berjalan kaki kesana kemari sembari berpikir bagaimana caranya umat semakin terpesona sehingga rela membayar mahal untuk mengundang dirinya sekadar untuk satu dua jam berbicara—.

Ga dink, bercanda. Mana ada pengkhotbah, apalagi dalam bidang agama, yang sedemikian rupa.

***

Pada akhirnya, setiap jenis pekerjaan yang melekat pada hidup dan keseharian kita, tentu saja secara subyektif akan melahirkan kebosanan demi kebosanan, kejengahan demi kejengahan, beranak pinak menjadi kemalasan demi kemalasan.

Tetapi ketika kita sampai pada titik koordinat tersebut, segeralah untuk mengingat :

“Kita bukan pelanggan bangsat yang rela dengan enteng memberikan uang 80 juta rupiah untuk sekali mengejangkan tubuh dan kaki. Kita juga bukan mucikari yang ongkang-ongkang kaki menukar nilai kemanusiaan dengan sejumlah uang. Kita bukan mereka, dan tak ada alasan untuk sering merajuk manja dalam bekerja.”

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

17 Comments

  1. I happen to be writing to make you understand what a terrific experience our princess went through visiting yuor web blog. She realized such a lot of pieces, which include what it’s like to possess an awesome helping nature to let other individuals very easily know precisely some problematic subject matter. You truly exceeded people’s expectations. Thank you for presenting these practical, trusted, informative and in addition fun tips about this topic to Kate.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.