MENGGUGAT KEMAMPUAN MULTITASKING MANUSIA

Kemarin, baru saya akan menyelesaikan suatu pekerjaan di depan loket KPPN, dua pemberitahuan muncul di layar hape. Keduanya sama-sama dari aplikasi WA.
Pemberitahuan pertama, dari seorang admin grup, yang memberitahukan bahwa ada sedikit kesalahan dari pekerjaan yang hari sebelumnya sudah saya selesaikan.
Pemberitahuan kedua, permintaan untuk menghitung ulang kebutuhan anggaran sampai dengan akhir tahun anggaran 2018.

Seketika, kepala saya berdenyut.
Keduanya, menuntut penyelesaian secepatnya.

Sejenak setelah selesai dengan urusan di kantor KPPN, sembari berdiri di teras kantornya, saya merutuk. Meski bernama Guritna, yang merupakan nama lain Gatotkaca, kenapa saya tidak bisa terbang. Andai bisa terbang, saya akan secepatnya sampai di kantor, mengerjakan serta menyelesaikan satu tugas, dan lantas beralih pada tugas berikutnya. Cepat, tuntas, tanpa harus mengendarai sepeda motor dan beradu nyali dengan bis agar supaya lekas sampai di kantor.

Tetapi mengandaikan bisa terbang juga seketika luntur. Bagaimana ketika terbang nantinya, saya ditabrak pesawat di atas jembatan layang Janti, atau ditembak jatuh oleh TNI karena diidentifikasi sebagai obyek terbang tidak dikenal. Akhirnya, ya berjalan juga ke tempat parkir, menuju Bleky sepeda motor kesayangan saya, dan melaju pelan menuju kantor sembari membayangkan minum es spritus kesibukan setelahnya.

Sampai di kantor, sembari membuka satu aplikasi untuk menyelesaikan satu tugas pekerjaan, saya membuka aplikasi lain untuk menyelesaikan tugas yang lainnya. Maksud hati, pekerjaan akan selesai semua dalam waktu yang bersamaan, bebarengan.
Hasilnya? Berhasil.
Berhasil ambyar maksudnya.

Pada kenyataannya, saya tetap harus mengerjakan satu per satu, runtut, runut, baru kemudian berganti pada pekerjaan yang lain. Meski tangan dan mata saya berjumlah dua, tetapi ternyata mereka bersepakat sebagai sepasang, tidak bisa dipisahkan. Tidak bisa tangan kanan mengerjakan A, tangan kiri mengerjakan B. Tidak bisa juga mata kanan mengerjakan Y, mata kiri mencermati Z. Padahal, saya sudah perintahkan mereka untuk berbagi tugas. Tetapi nyatanya, mereka tidak mau menurut. Dasar tangan dan mata durhaka.

Saya juga kemudian teringat dua hobi kegemaran sewaktu sore, ngrokok dan ngopi. Meski nikmat, ternyata dua hal itu juga tidak bisa saya kerjakan sekaligus. Tidak bisa sembari mengisap rokok, saya menyesap kopi. Harus bergantian, satu per satu. Ternyata nikmat itu, bukan tentang jumlah, tetapi tentang detail. Detail ketika saya mengisap rokok tanpa direcoki sesapan kopi, dan detail ketika saya menyesap kopi, tanpa diganggu isapan rokok.

Pada beragam kegiatan lain, nyatanya sebagai manusia, saya tak bisa mengerjakan dua hal sekaligus. Tetap ada selisih jarak ruang dan waktu yang ditempati oleh masing-masing kegiatan atau aktifitas.
Sembari menyapu, saya tak bisa mencuci piring. Bergantian dalam jarak waktu yang berdekatan, mungkin masih dimungkinkan. Tetapi dalam sekali waktu bersamaan, mustahil.

Maka, istilah multitasking yang akhir-akhir ini banyak dipakai pada kegiatan manusia, tidak berlaku bagi saya.
Bagaimana mungkin saya ber-multitasking, sedangkan sekadar untuk mandi sembari membaca buku, saya tak bisa.

Mungkin, tetap ada beberapa hal yang bisa dikerjakan oleh manusia secara sekaligus. Tetapi tetap saja dengan syarat tertentu, bahwa salah satu aktifitasnya melibatkan indera yang mempunyai otomatisasi tanpa perintah langsung dari otak, serta bersifat pasif. Misalnya, mendengarkan musik sembari memasak. Atau mengerjakan tugas kuliah sembari mendengarkan ceramah. Namun meski bisa dilakukan, tetap saja hasilnya tidak akan optimal. Musik, hanya akan terdengar sebagai suara yang mampir ditelinga ketika kita sibuk dengan panci dan bahan masakan, sebaliknya juga begitu.
Ceramah, hanya terdengar sambil lalu ketika kita sibuk dengan tugas-tugas kuliah, begitu juga sebaliknya.

Untuk dua kegiatan yang membutuhkan partisipasi aktif dari otak, manusia tetap tidak mungkin melakukannya.

Tetapi pernah, saya melihat sendiri suatu aktifitas ganjil dari seseorang. Dua aktifitas, bertentangan, namun dia kerjakan dalam satu ruang dan waktu sekaligus. Untuk orang tersebut, sampai saat ini saya sematkan kepada sebagai manusia yang luar biasa. Luar biasa ‘njijiki’ tepatnya.
Orang itu, saya pernah memergokinya berjongkok pada sebuah kalen (sungai kecil), ngising (BAB), sembari menyangga sebuah piring, makan.

Saya tak bertanya lebih lanjut mengenai bagaimana teknis kegiatan tersebut terselenggara sehingga hajat membuang isi perut bisa sekaligus bebarengan dengan aktifitas mengisinya.
Tetapi jika boleh saya menerka, tentu saja ketika dia ngeden, mendorong kotoran keluar, tak bisa bebarengan dengan menyuap sesendok nasi, mengunyahnya, lalu menelan. Pasti juga bergantian, ya kan???

Celakanya, saya sering teringat aktifitas menjijikan tersebut, meski hanya sekelebat.
Seperti ketika saya menuliskan ini. Sembari makan nasi kucing di angkringan, kenapa saya teringat adegan tersebut. Bedebah.
Saya coba menghalau sekelebat ingatan tersebut dengan memperhatikan penjual angkringan yang sedang sibuk menuliskan deret-deret angka pada sesobek kertas. Ia nampak tekun, sesekali memegang dahinya, sesekali menghela napas. Mungkin ia tak sadar saya memperhatikan, sampai kemudian saya mengganggunya dengan bertanya apakah ia mengecer rokok.
Begitu saya bertanya, penjual angkringan langsung menghentikan aktifitasnya terhadap pulpen, kertas dan angka-angka, berganti menjawab pertanyaan saya sembari mengambilkan sebungkus rokok yang ia jual eceran.

Bahkan manusia bermental kuat seperti penjual angkringan itu pun tak mampu mengerjakan dua hal secara sekaligus. Tak mampu ia tetap berkonsentrasi dengan angka, lantas juga menanggapi pertanyaan saya.

Oh iya, kenapa saya menyebut penjual angkringan bermental kuat?
Lha ya tentu saja karena ia mandiri, menyesap hasil dari keringat dan usahanya, bukan dari mengemis, atau menyusu kepada negara seperti saya.

Tetapi meski hampir mustahil ditemukan manusia yang mampu ber-multitasking, nyatanya tetap ada juga.
Manusia yang lebih dari sekadar bermental kuat. Tak ada kata yang mampu mengidentifikasi atau menarasikan kemampuan mereka.
Manusia-manusia hebat yang mampu menjalankan beberapa aktifitas dalam satu ruang dan waktu sekaligus.

Siapa mereka?
Orang-orang yang mengaku berprofesi sebagai wakil daripada rakyat.
Sembari memperjuangkan nasib, hajat hidup, serta kepentingan daripada rakyat yang diwakilinya, mereka sekaligus berjuang mendapatkan suap, mendapatkan ‘penyisihan’ dari proyek-proyek, dan juga berusaha keras menumpuk harta kekayaan untuk kepentingan pribadinya. Eh.

Salah ya?
Maafin deh.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

15 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.