Menghormati Pegawai Minimarket 24 Jam, Menghormati Diri Sendiri

Ilustrasi. Gambar : Pixabay

Beberapa kali saya mendatangi minimarket yang buka 24 jam, pada saat-saat waktu yang tidak wajar bagi rutinitas saya sendiri. Maksudnya, tidak pada jam-jam ketika seharusnya mata saya memang terjaga dan beraktifitas.

Sekali waktu saya pernah mendatangi pada jam dua dinihari. Pernah juga pada jam tiga dinihari. Pernah juga selepas sholat subuh.

Kesemua waktu-waktu tersebut, adalah waktu-waktu ketika saya seharusnya sedang tidur, menggambar pulau pada bantal atau guling. Saya bukan makhluk nocturnal yang beraktifitas di malam hari, maka ketika pada waktu atau jam-jam tersebut saya masih berkeliaran atau beraktifitas, saya menganggapnya luar biasa.

Ketika saya menganggap suatu hal yang jarang saya lakukan sebagai sesuatu yang luar biasa, maka saya akan lebih menganggap luar biasa bagi mereka yang sanggup melakukannya lebih dari sekadar kegiatan insidental, tetapi rutinitas.

Misalnya saja, pegawai minimarket 24 jam itu tadi.

Bagi saya mereka luar biasa. Di saat sebagian besar manusia dapat menikmati kodratnya untuk memeluk bantal dan guling serta menikmati empuknya kasur di malam hari, mereka masih juga bekerja.

Kalau saya sih, jika harus menjalani apa yang mereka jalani selama tiga hari saja, sudah akan muntah-muntah karena masuk angin. Badan saya ringkih seperti ranting pohon kering, kena angin sedikit saja akan patah terjerembab jatuh ke tanah.

Suatu kali saya pergi ke salah satu minimarket 24 jam di Jalan Kaliurang. Tidak ada tujuan sebenarnya, hanya kebetulan saya ingin mampir ketika melintas. Waktu itu kira-kira jam dua dinihari.
Ternyata jam segitu minimarket juga ramai, dengan banyak pengunjung duduk di kursi yang disediakan pada teras luas.

Kaget juga, sementara karena saya ini adalah makhluk yang terkena kutukan tak bisa menahan kantuk lebih dari jam sebelas malam. Selepas jam tersebut, mata sudah akan terasa lengket seperti terkena lem tikus. Maka saya tak bisa menyembunyikan kekaguman itu, melihat pada pengunjung yang duduk bergerombol, menyapunya dengan pandangan mata satu per satu. Pandangan baru saya alihkan ketika salah satu pengunjung membalas tatapan saya dengan ekspresi menyeramkan. Saya segera mengalihkan pandangan, sebelum lelaki yang terlihat sangar itu mengeluarkan makian kepada saya.

Pandangan kemudian beralih pada suasana di dalam minimarket, sesaat setelah kaki melangkah melewati pintu. Suasana di dalam cukup lengang. Hanya ada satu atau dua pengunjung [saya lupa], dan beberapa pekerja atau pegawai. Dua pegawai berada di kasir, dan dua orang lagi terlihat di antara rak barang.

Saya sendiri segera beranjak menuju mesin kopi otomatis. Mesin yang sebelumnya tak pernah saya sentuh, dan oleh karena itu saya sama sekali tidak tahu cara mengoperasikannya.

Karena saya ini orang desa, yang lebih terbiasa melihat mesin giling padi keliling daripada mesin kopi otomatis, maka saya memaggil salah seorang pegawai untuk membantu. Pegawai yang saya panggil itu sebenarnya sedang membawa nampan berisi roti. Tetapi demi mendengar panggilan saya, ia segera meletakkan nampan dan menghampiri. Laki-laki berusia muda itu dengan sopan bertanya apa maksud tujuan saya memanggilnya.

Saya sendiri dengan malu-malu mengutarakan niat untuk meminta tolong. Meminta tolong dibuatkan kopi dari mesin berbentuk kotak itu.

Ada banyak tombol, dengan keterangan tulisan jenis kopi yang diinginkan, sekaligus lubang [yang saya kira] sebagai tempat keluarnya cairan. Saya benar-benar awam. Maklum saja, saya hanya mengenal satu jenis mesin pembuat kopi, yaitu kombinasi kompor dan panci. Bukan mesin pembuat kopi dengan banyak tombol dan lubang semacam itu.

Dengan sigap si pegawai membantu saya, dimulai dengan mengambil gelas plastik dari sebuah rak kecil, bertanya jenis kopi yang saya inginkan, dan mulai memencet tombol setelah sebelumnya meletakkan gelas plastik di bawah lubang. Tak berapa lama suara mesin menderu, dan disusul keluarnya cairan berwarna kehitaman dari lubang yang tepat menurut sangkaan saya. Tak butuh waktu lama. Setelah mesin selesai beroperasi, pegawai itu mengambil gelas yang sudah berisi dan memberikannya kepada saya, sekaligus memberitahu untuk membayar di kasir. Saya berkali-kali mengucapkan terima kasih. Andai tak ada pegawai yang baik itu, tentu saya tak jadi minum kopi pada dinihari.

Segera setelah membayar, saya beranjak keluar menuju teras yang cukup luas. Kembali mata saya menyapu suasana, tetapi bukan dengan niat dan tujuan seperti saat pertama kali tiba disana. Bukan untuk melihat berbagai macam orang yang masih betah membelalakkan mata pada waktu dinihari semacam itu, tetapi untuk melihat apakah masih ada kursi dan meja kosong.

Masih ada satu set kursi dan meja kosong, di dekat sebuah tempat sampah besar. Segera kaki melangkah ke tempat itu, dan segera juga berniat untuk duduk. Tetapi niat untuk duduk lantas urung, gegara melihat kursi terdapat bercak bekas minuman. Saya pastikan kalau tidak capuccino ya mocchacino. Saya tukar kursi itu dengan yang masih bersih. Sengaja saya tukar agar tetap bisa menghadap ke jalan.

Baru setelah akhirnya duduk, saya bisa melihat dengan seksama bahwa meja itu penuh dengan sampah. Ada tiga gelas bekas kopi, dan beberapa bungkus plastik makanan ringan. Berserakan dengan tidak beraturan di atas meja. Saya selalu merasa tak nyaman untuk duduk sembari minum kopi dan merokok dengan menghadap banyak sampah. Belum lagi, saya melihat salah seorang pegawai sedang membersihkan sampah pada meja lain yang baru saja ditinggalkan pengunjung. Saya segera membereskan sampah dengan membuangnya pada tempat sampah yang terletak tak jauh dari tempat saya duduk. Pertama karena saya memang tak nyaman duduk bersama sampah semacam itu. Kedua karena ada rasa sungkan terhadap pegawai minimarket. Sederhana saja, tetap terjaga pada malam hari saja sudah terasa berat, apalagi masih sambil bekerja. Dan dengan niat tanpa bermaksud merasa lebih beruntung, saya membantu membereskan sampah di depan saya. Semata bukan karena mengasihani mereka, tetapi sebagai rasa penghormatan terhadap orang-orang semacam mereka. Orang-orang yang berani bekerja disaat orang lain sedang beristirahat.

Suatu waktu yang lain, saya pernah juga mendatangi minimarket 24 jam selepas subuh. Selepas ikut sholat subuh berjamaah di sebuah masjid pinggir jalan. Sama seperti saat datang pada jam dua dinihari, selepas subuh itu juga banyak orang yang nongkrong sembari mengobrol. Dengan lebih banyak orang, meski berbeda tempat dengan yang pertama saya kunjungi.

Jika ada yang sama dengan tempat pertama, itu adalah meja yang kotor dan berantakan dengan banyak sampah setelah ditinggalkan. Juga persamaan yang lain, adalah pegawai yang juga ramah.

Kali ini minimarket berada di Jalan Solo, dengan tempat parkir luas dan tempat duduk serta meja yang juga banyak tersedia. Seorang pegawai yang menjaga counter kopi terlihat mengantuk ketika saya masuk, namun tetap mengeluarkan suara yang ramah untuk menanyakan apa keperluan saya.

Ia berkata kalau saya harus menunggu sebentar, karena mesin kopi baru saja dihidupkan. Belum panas, katanya. Ia mempersilahkan saya untuk terlebih dahulu mengambil tempat duduk, dan nanti pesanan akan diantarkan. Saya menurut saja. Mengambil tempat duduk yang masih tersisa. Sudah ada beberapa rombongan yang datang sebelumnya, duduk sambil mengobrol seru.

Tak berapa lama pesanan diantarkan, capuccino. Saya membayar sembari mengucapkan terima kasih.

Sembari menyeruput capuccino hangat dan menyulut sebatang rokok, saya kemudian menjadi teringat :

“Bahwa setelah ini saya juga harus bekerja, ketika langit sudah terang nanti.”

Pada beberapa hal, seharusnya kita merasa lebih beruntung, dari orang lain.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

19 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.