Mengulangi

Saya hampir tak berani memandang kalender, baik kalender kertas di dinding, atau kalender di hape saya. Itu terjadi pada tanggal 31 Desember 2020, tahun yang lalu.

Padahal kalender kertas itu terletak tepat disamping tempat favorit duduk saya ketika berada di dalam rumah. Tepat di kusen jendela diatas meja, didepan kursi yang biasa saya duduki. Tempat itu adalah sudut favorit saya untuk sekadar duduk menikmati waktu ‘mahal’ ketika dirumah dalam setahun terakhir. Ya, setahun terakhir waktu ketika dirumah adalah waktu-waktu yang mahal cum terbatas. Mungkin hanya pada hari Sabtu-Minggu atau hari libur saya bisa menikmati duduk didalam rumah yang tak kunjung lunas itu.

Pun kalender pada hape saya, tak sekalipun saya membukanya. Untuk apa, toh sudah jelas saat itu di penghujung tahun, dan dalam hitungan jam berakhir pula seluruh rangkaian kejadian pada tahun yang menorehkan banyak kenangan itu.

Saya tak berani memandangnya, sekaligus juga tak berani menyentuh untuk melepasnya. Belum ada penggantinya.

Seharian itu, waktu lebih banyak saya gunakan untuk sekadar melempar pandangan dalam sudut-sudut rumah mungil yang saya tempati semenjak sembilan tahun yang lalu. Tak butuh waktu lebih dari satu menit sebenarnya, untuk menyapukan pandangan pada semua sudut atau sisi rumah mungil itu. Tetapi entah mengapa, saya menghabiskan berjam-jam untuk sekadar memandang berbagai sudut dan sisi, bergantian.

Ingatan saya kemudian secara sporadis terlempar dalam beberapa tahun yang lalu. Dari tahun ke tahun yang sudah terlewati. Kiranya, hanya rumah itulah satu-satunya pencapaian monumental saya dalam beberapa tahun terkahir. Bahkan mungkin dalam lima sampai sembilan tahun terakhir. Tak banyak yang berubah dalam kehidupan saya, apalagi mencapai halal fantastis tertentu selama beberapa tahun terakhir.

Tahun baru hanyalah pergantian kalender dan kemudian pengulangan hari sampai dengan nanti waktu pergantian kalender selanjutnya. Sampai setua ini. Ah, tak terasa juga bahwa saya sudah tiga puluh lima tahun hidup di dunia. Sepertinya baru kemarin lusa Mamak dan Bapak membelikan saya minuman kemasan bermerk Caprison atas pencapaian saya yang mampu menghapalkan Pancasila. Tetapi kini, mungkin sudah berlalu tiga puluh satu tahun semenjak pembelian Caprison di toko Cemara Dua daerah Denggung itu.

Hal itulah yang membuat hari terakhir saya di tahun 2020 terasa mencekam. Sampai setua itu, belum ada pencapaian monumental dan fundamental dalam hidup saya. Apakah itu dalam hal karir atau pekerjaan, dan juga kehidupan pribadi. Selama lima belas tahun bekerja dan berkarir sebagai PNS, hanya begitu saja berlalu dan terlewati. Jangankan menapaki karir yang gemilang, sekadar mempertahankan posisi saja saya tidak mampu. Dalam kehidupan pribadi, sampai setua itu saya belum mempunyai….

Banyak teman sekolah saya yang saat ini sudah mencapai kesuksesan dalam karir dan pekerjaan mereka. Ada yang menjadi notaris, pengacara, dosen, jaksa, perwira polisi atau TNI, pengusaha, dan masih banyak lagi. Melihat itu, pergantian tahun bagi saya semakin terasa sebagai pengulangan yang sangat biasa saja.

Bagi sebagian orang, mungkin apa yang saya tuliskan diatas adalah sebuah pengingkaran, dan kurangnya rasa syukur atas kehidupan yang telah diberikan oleh Tuhan. Tetapi dari tempat dan posisi saya berdiri memandang beberapa tahun terakhir, percayalah bahwa pergantian tahun hanyalah pergantian hari yang sangat biasa. Diawali dengan terbenamnya matahari, memejamkan mata pada malam hari, dan terbangun esok pagi. Ritus pengulangan waktu atas hidup yang menggelincir begitu saja.

Beberapa orang mungkin membekali hari terakhir mereka di penghujung tahun dengan berbagai macam konklusi, untuk kemudian diolah menjadi sebuah resolusi. Tetapi bagi saya, jangankan resolusi, bahkan saya tidak mempunyai konklusi atau kesimpulan atas satu tahun yang sudah saya lalui.

Perasaan saya semakin tercekam bahwa mungkin saja esok hari sebagai penanda awal tahun, adalah juga sebagai penanda pengulangan hidup yang sangat biasa dan tanpa pencapaian apa-apa dalam satu tahun yang akan dilalui. Lagi, lagi, dan lagi. Sampai setua itu saya tidak mampu mencapai karir dan posisi tertentu dalam pekerjaan, dan bahkan tidak mampu menebus sertifikat rumah yang masih mengeram di bank BTN. Ah….

Kembali saya pandangi salah satu sisi rumah yang tepat berada didepan mata pandang. Tiga buah sepeda berada disana. Dua yang sering saya gunakan, dan satu semakin berkarat, sebuah sepeda onthel tua. Mungkinkah saya hanya serupa sepeda onthel tua itu, menjalani hari demi hari dengan menerima dan menerima, berlalu dari satu kejadian menuju pengulangan berikutnya.

Tetapi sepeda onthel tua itu mampu bertahan, dan terus bertahan. Pun ketika kedua rodanya kempes tak berisi angin, dan saya tak memompanya. Ia menerima, dan mampu terus bertahan untuk berada disana. Apa yang membuatnya bertahan?

Lantas, apakah saya juga seperti itu sebenarnya? Apakah saya juga sudah dengan heroik mampu bertahan. Dari satu kejadian menuju pengulangan berikutnya. Terus menerus bahkan jika diketahui didepan juga tak ada hal yang bisa saya rengkuh. Tetapi kenapa saya juga terus menjalaninya?

Kembali saya alihkan pandangan untuk menatap pada sudut lain, pada tembok yang catnya mulai lapuk oleh usia. Apakah saya bertahan karena tembok yang mulai lapuk itu, pada rumah yang tak kunjung lunas. Apakah saya mampu bertahan atas sebab yang sudah jelas, bahwa saya harus mampu membuat rumah itu lunas. Itu adalah satu-satunya alasan jelas yang terpampang didepan mata. Bukan karena sebab dan harapan-harapan tak jelas yang terkadang membuat resolusi menjadi sebuah acara perjamuan makan hati.

Saya semakin tak berani menatap kalender-kalender, dan memutuskan bahwa mungkin tidur adalah pilihan terbaik untuk melewatkan penghujung tahun. Sembari menunggu mata terpejam, saya membayangkan pada tahun baru untuk menambah utang.

Sebab utang adalah alasan jelas untuk terus dan tetap bertahan. Andai saya menyerah dalam posisi mempunyai utang, tentu urusannya akan panjang dan saya harus mempertanggungjawabkannya sampai pada kehidupan selanjutnya. Maka mungkin akan lebih baik jika saya menambah utang, dan dengan itu menguatkan diri sendiri untuk terus bertahan dari pengulangan hidup yang sangat biasa saja.

Tetapi utang pun juga bukan merupakan solusi yang mumpuni, sebab utang saya masih cukup banyak, dan hampir tak ada celah untuk menambahnya. Ya salaaammmm….

Berarti saya harus merelakan diri serta menguatkan diri untuk mengalir dan menjalani hidup yang berulang. Hidup yang terus menerus menggelincir memakan sisa jatah waktu, dan sembari berusaha agar bisa bertahan sampai pada ritual penggantian kalender selanjutnya.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

88 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *