Menikmati Hal-hal Yang Terlihat Menyengsarakan

Suatu kali saya sedang berada di Indomaret, berniat untuk membeli dua bungkus rokok. Kenapa dua bungkus? Karena saya merasa sedang punya uang.
Dompet tak saya bawa, disaku ada uang 50 ribu rupiah. Dipikiran saya, 50 ribu rupiah bisa untuk menebus dua bungkus rokok yang sedang saya inginkan.

Saat itu, saya ingin menebus sebungkus Djarum Super isi 12, dan sebungkus Esse (rokok dengan ukurang batang kecil-kecil, berwarna-warni dan mempunyai aneka rasa). Entah mengapa saya ingin membeli keduanya. Di kasir, saya langsung mengungkapkan keinginan itu.

“Mbak, Djarum Super isi duabelas satu, dan satu Esse.”

“Esse yang mana Pak?”

Sejenak saya kebingungan dan melihat rak rokok dibelakang petugas kasir. Tidak saya kira bahwa ada begitu banyak varian. Akhirnya saya menunjuk salah satu varian dengan kemasan yang menarik.

“Totalnya lima puluh satu ribu lima ratus rupiah Pak.” Petugas kasir mewartakan kepada saya sembari tangannya memencet tombol-tombol mesin kasir.

Blaik, saya membatin sembari misuh-misuh.

“Essenya harga berapa to Mbak?”

“Tiga puluh dua ribu Pak, Djarumnya sembilan belas ribu. Jadinya lima puluh satu ribu.”

Saya bergegas merogoh saku celana, dan tentu saja uang saya kurang seribu rupiah. Mampus. Dibelakang saya dua orang sudah mengantri, petugas kasir mulai gusar, saya jauh lebih gusar.

“Essenya ganti Mbak, yang itu berapa?” saya menunjuk Esse dengan kemasan warna biru.

“Sebentar.” Petugas kasir terlihat kurang begitu senang dengan apa yang saya lakukan. Mungkin karena dia sudah terlanjur menginput pesanan saya pada sistem penjualan tokonya. Dan tentu saja ribet untuk membatalkan kemudian mengganti dengan barang lain. Dia memanggil temannya.

“Yang ini dua puluh tujuh ribu Pak.” kata petugas lain, laki-laki.

“Ya udah ganti Mas.” saya merogoh uang disaku celana, dan mengulurkannya.

Ada sebersit rasa tidak nyaman, dan tentu saja malu. Tidak enak juga kepada mbak-mbak kasir yang kemudian meninggalkan area kasir setelah memanggil temannya untuk meladeni saya.

Saya mengucapkan terima kasih setelah menerima selembar struk dan uang kembalian, juga tentu saja dua bungkus rokok itu. Diluar, sejenak sebelum menghidupkan sepeda motor, saya kembali teringat adegan itu, dan seketika kembali misuh. Dileher saya terkalung ID Card kantor yang juga berupa sebentuk kartu e-Money. Kartu itu karena juga saya gunakan untuk mengakses perjalanan via tol, tentu saja ada isinya. Kartu itu berisi tak kurang dari seratus ribu rupiah karena saya baru saja mengisinya pada pagi hari sebelum berangkat ke Semarang. Djancuk, kenapa saya tak menggunakan kartu itu untuk membayar. Kan ya seharusnya tak perlu ada kejadian memalukan dan tak menyenangkan itu.

Sore harinya sembari menikmati kopi diteras kosan, saya menyulut sebatang rokok Esse tersebut. Rokok itu double rasa. Ada rasa dan aroma lain ketika memencet pada pangkal filternya. Dan rasa yang tercecap pada perasaan saya, ternyata tak hanya double, melainkan double kuadrat. Ada aroma mint, apel, malu, dan gondok bercampur menjadi satu.

Di hari Senin yang lain, saya menjalani hari yang sangat luar biasa melelahkan dikantor. Lelahnya sampai terasa sundul langit, karena pada pagi harinya saya baru saja sampai di Semarang. Tak saya kira Senin itu begitu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Hampir jam 5 sore saya baru berkemas untuk pulang ke kosan. Sembari berjalan menuju parkiran untuk mengambil jaket dan helm di mobil, saya memesan ojek online. Cukup lama pengemudinya untuk sampai dititik jemput. Tak mengapa, pengemudinya cukup sigap begitu sudah menjalankan kendaraan.

Hampir sampai di kosan saya tetiba teringat sesuatu, kunci kos ada di laci mobil. TAdi ketika mengambil helm dan jaket, sudah pula saya niatkan untuk juga mengambil kunci kamar kos. Apa boleh buat, ingatan kerdial saya melupakannya.

“Sik sik Mas, berhenti sini dulu.” Kata saya kepada pengemudi ojek online.

“Lha gimana Mas, belum sampai kan?” si pengemudi kebingungan.

“Ono sik ketinggalan dikantor.” saya menjawab cepat.

“Lhoh, apa Mas?”

“Kunci kamar kos.”

“Lhoh, kok bisa ketinggalan?” si pengemudi bertanya.

“Iso wae to yo, kuncine bisu Mas, ketinggalan raiso ngomong po meneh telpon.” seketika rasa lelah saya terasa tak hanya sundul langit, tetapi sekaligus nyungsep laut.

“Trus gimana?” si pengemudi bertanya.

“Anter balik lagi tak bayar kontan ga usah pakai aplikasi.”

Saya merogoh saku celana, hanya tinggal uang kontan 14 ribu rupiah. Saldo di aplikasi ojek online itu juga sudah habis saya pakai untuk membayar sekali jalan ke kosan. Uang 14 ribu rupiah saya berikan semua ke pengemudi tersebut, saya lebihkan dari biaya yang tertera pada aplikasi. Saya ingin memberikan lebih, tetapi tinggal itu saja uang saya.

Sampai dikantor saya ucapkan terima kasih kepada pengemudi tersebut.

“Ditunggu ga Mas?” si pengemudi menawarkan.

“Ga usah Mas, tinggal aja.”

Andai saya masih membawa uang, tentu saya akan menyuruhnya menunggu. Tetapi sudah tak ada uang kontan. Saldo juga habis, maka saya harus mengisinya terlebih dahulu. Sembari berjalan menuju parkiran kantor tempat kunci jahanam itu berada, saya mengisi saldo aplikasi ojek online. Saya isikan sejumlah nominal. Gagal. Saya coba lagi, gagal lagi. Saya coba ketiga kali, masih gagal lagi. Saya cek saldo rekening bank, ternyata memang tak cukup untuk mengisi nominal yang saya inginkan. Bwahahahaha, kobiiiisssssss.

Kala itu, tak hanya lelah terasa sundul langit sekaligus nyungsep laut. Tetapi terasa seperti saya tak sengaja meludah dan nyiprat mengenai Mike Tyson. Deg-degan sekaligus gusar menunggu apa yang akan terjadi setelahnya.

Bukankah hidup memang terasa tambah menyenangkan dengan adanya hal-hal semacam itu?

Menyenangkan gundhulmu kuwi po….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *