Menjadi Lebih Bedebah Daripada Kehidupan

Saya harus sepakat dengan suatu pendapat, bahwa kehidupan secara keseluruhan, tak pernah tidak menyenangkan. Kehidupan selalu menyenangkan. Jika ada yang terkadang terasa tidak menyenangkan, itu adalah sikap dan penerimaan kita terhadap kehidupan itu.

Saya terpaksa sepakat dengan hal atau pendapat tersebut.
Terkadang, sesuatu yang terasa kurang menyenangkan, adalah karena kurangnya sikap penerimaan, dan kurangnya kemampuan untuk melepaskan beban-beban.

Padahal melepas beban, adalah hal menyenangkan.
Termasuk beban itu sendiri, juga adalah sesuatu yang menyenangkan.

Tanpa beban, mana kita tahu tentang arti kata ringan. Ya kan?

Sebenarnya judul tulisan ini akan saya buat :

“Menjadi Bajingan Agar Tak Rewel Serta Cengeng Dan Mudah Putus Asa Menghadapi Kehidupan Yang Juga Bajingan”

Tetapi urung, terlalu panjang.

Menjadi bedebah dan bajingan untuk menghadapi kehidupan, adalah hak semua manusia, tanpa terkecuali. Bukan cuma hak para koruptor, perusak hutan, dan juga perusak laut.

Koruptor dan orang-orang yang merusak hutan serta laut itu, sebenarnya juga hanya mencoba menjadi bajingan untuk menghadapi kehidupan. Mereka sebenarnya tak kuat dan hampir kalah juga menghadapi kehidupan yang sangat bedebah dan bajingan, dan memilih juga menjadi bajingan untuk menghadapinya. Api dilawan dengan api, besi dilawan dengan besi. Terkadang harus dilakukan seperti itu. Hanya saja, cara yang dipilih koruptor dan perusak hutan, sama sekali tidak jantan.
Jantan jangan diartikan secara seksis. Jantan merujuk pada sikap dan sifat, berlaku pada laki-laki maupun perempuan. Begitu…ndes….

Sebentar, saya mengisi jimpitan ronda terlebih dulu. Menjadi bedebah juga jangan sampai lupa kewajiban sosial di tengah masyarakat.

*

*

*

*

*

Sudah, mari kita lanjutkan, pada hal-hal yang lebih teknikal. Pada contoh langsung, bagaimana misalnya menjadi bedebah itu, untuk mengacungkan jari tengah tepat di depan muka kehidupan.
Kehidupan boleh saja merampas mimpi dan harapan serta rencana-rencana yang sudah disusun oleh manusia. Maka sebagai balasannya, manusia jangan ragu mengacungkan jari tengah dan menantang mengepalkan tangan tepat dihadapan kehidupan.

Tak usah takut, kenapa harus takut?

Sekali-kali, dan andai bisa seterusnya, kita yang memukuli kehidupan. Bukan hanya terus menerus kehidupan yang memukuli dan menganiaya kita. Bangsat….

Misalnya saja, kehidupan merampas rencana-rencana dan harapan saya untuk bisa menulis sebuah buku. Maka saya membuat blog ini dan menulis sesuka hati. Benar-benar sesuka hati. Asu, bajingan, djancuk, tai, kopet, munyuk…bisa dengan bebas saya tulis. Persetan.
Karena itulah blog ini juga memilih tag ‘Misuh Seperlunya’.

Memang seperlunya, acapkali butuh dan perlu, misuh saja.

Karena apa?
Karena terkadang sesuatu yang tidak menyenangkan itu datang, bukan karena kita membuat kesalahan, atau salah membuat rencana dan perhitungan. Terkadang kita sudah berhati-hati, dengan matang merencanakan, namun tetap saja kehidupan dengan entengnya mengabaikan segala usaha dan rencana-rencana kita.

Kita sudah memakai helm dan berhati-hati berkendara, tetapi masih juga ada pengendara ugal-ugalan yang menyerobot jalur lintasan kita.
Salah kita?
Jelas bukan. Jelas kehidupan yang merencanakan demikian. Maka salah satu cara pelampiasannya, pukuli saja, urusan belakangan.

Kehati-hatian tak selalu berbanding lurus dengan keselamatan. Perencanaan matang tak selalu berkorelas positif dengan keberhasilan. Dalam keadaan seperti itu, hidup terasa asu.

Pernah sewaktu SMP ada pelajaran KTK [Keterampilan Tangan dan Kesenian], dan guru memberi tugas untuk membuat sebentuk celana. Karena itu adalah tugas, maka saya berusaha secara mandiri mengerjakannya. Ukur sendiri, potong sendiri, jahit sendiri.
Hasilnya?
Saya mendapat nilai 6 [enam]. Paling harusnya saya mendapat nilai empat atau lima. Sebab celana hasil karya saya itu memang sangat buruk. Lebih mirip potongan kain yang disambung-sambung daripada celana. Karena bahan yang saya pakai adalah potongan gorden jendela dan kain kafan.

Tetapi saya 164% menerima nilai enam, karena memang hasilnya sangat tidak bagus.

Yang sedikit menjadi kopet, banyak teman-teman saya mendapat nilai delapan, dan bahkan puji-pujian. Padahal jelas celana karya mereka itu hasil jahitan tangan orang lain. Saya juga tahu beberapa dari kawan saya meminta bantuan orang tua untuk menjahitnya, bahkan juga ada yang menjahitkannya pada penjahit profesional. Juga ada beberapa yang hasilnya lebih bagus dari celana di factory outlet. Kenapa yang bukan hasil karya sendiri mendapat nilai baik dan pujian?

Kalau celana buatan tangan saya sendiri mendapat nilai enam, maka harusnya celana bagus yang bukan karya sendiri, mendapat nilai satu atau dua koma sekian. Kenyataannya tidak demikian, hasil lebih dipentingkan daripada proses dan usaha.

Benar kan?
Tak mesti usaha keras berbanding lurus dengan keberhasilan.

Asu memang….

Apakah kemudian saya menyerah dengan kondisi demikian?
Tentu saja tidak, saya membalas perlakuan kehidupan yang terasa tak adil itu. Rapor hasil pembelajaran pada catur wulan itu, tidak saya ambil. Karena guru KTK saya itu juga adalah wali kelas. Rapor sengaja tidak saya ambil, biar saja. Meski kemudian pada akhirnya saya dihajar Bapak karena rapor tidak diambil. Biar saja….

Kehidupan yang terasa tidak adil, harus dilawan. Jangan didiamkan saja, nanti dia TUMAN.
Tunjukkan kalau manusia juga mempunyai daya tawar dan daya lawan. Perkara nanti tetap kalah, adalah urusan belakang. Lawan dulu, mati kemudian.

Apakah melawan kehidupan sama dengan melampiaskan kekecewaan?
Tentu saja bukan!!!

Tidak ada kata kecewa dalam pembalasan. Bukan juga dendam, tidak!

Membalas dengan dipenuhi rasa dendam dan kecewa hanya akan membuat kehidupan merasa semakin menang dan diatas angin.
Membalas harus dengan penuh antusias dan kenikmatan.

Saya menikmati setiap proses dari pembalasan yang saya lakukan terhadap kehidupan. Termasuk ketika pada akhirnya Bapak menghajar saya karena rapor tidak diambil, itu juga saya nikmati. Saya sadari sepenuhnya resiko yang akan ditanggung, dan menghadapinya.
Di waktu selanjutnya, sepengal proses itu menjadikan saya untuk selalu berani membalas perlakuan yang tidak adil dari kehidupan. Setelah itu, saya merasa tak ada hal lain yang lebih menakutkan dan mengerikan, daripada kemarahan Bapak. Hwahahaha….

Kehidupan juga tak lebih jantan dari manusia sebenarnya. Ketika sudah merasa kalah, rumus yang selalu berlaku bahwa ia akan kemudian menyerahkan segala sesuatunya kepada kematian.
Pengecut, bukan?

Dan menghadapi kematian tanpa melakukan perlawanan terhadap kehidupan, adalah kerugian.

Tetapi kalau tidak berani, ya jangan dipaksakan. Sebab kehidupan memang lebih ulet daripada rotan paling kuat dan paling tua sekalipun.
Menyerah saja, banyak-banyak mengelus dada. Itu sudah.

Kalau berani?
LAWAN!!!

Terlalu banyak hal yang akan kita sesali ketika diam saja menyaksikan kehidupan merampas segala harapan-harapan baik dan bahagia dalam diri kita.
Dalam konteks ini, diam bukanlah emas, tetapi TAI…!!!

*

*

*

Oh ya, bukankah di paragraf awal dituliskan bahwa kehidupan itu menyenangkan?

Dan terasa tak menyenangkan hanya karena kurangnya sikap penerimaan?

Tidak! Saya bohong dan membual!

Kehidupan tak pernah menyenangkan. Manusia lah yang membuatnya menyenangkan.

Dan satu-satunya cara terbaik dan terhormat untuk membuatnya menyenangkan, adalah terus menerus berkelahi dengan kehidupan.

Ya…melawan kehidupan tak bisa dengan menundukkan kepala dan mengelus dada. Selalu dan selalu harus dengan teriakan dan kepalan tangan. Peduli setan.

Cerita tentang kehidupan akan berakhir begitu ia bertemu kematian. Tetapi cerita tentang perlawanan terhormat manusia akan selalu abadi. Melewati batas waktu, bahkan setelah melalui pintu dan lorong kematian.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

15 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.