Menjadi Sempak Yang Baik Dan Benar

Apakah anda baru tahu kalau sempak itu adalah istilah untuk pekerja kelas bawah, bawahan, ngisoran? Ah ya, anda kemana saja….

Menjadi pekerja kelas bawah, kelas pinggir comberan, haruslah baik dan benar serta sempurna. Tidak bisa tidak. Sempurnanya bawahan adalah dengan menjadi, manutan.

Pokoknya apa saja manut apa kata yang di atas. Tidak bisa tidak, harus iya.

Sudah di bawah, mosok masih kebanyakan protes dan ngeyelan.

Apapun perintah atasan, bawahan harus siap sedia dan menyesuaikan.
Jangankan perintah atasan, perintah dari sesama pekerja yang berada pada struktur diatasnya pun, harus siap sedia tanpa membantah.

Itu adalah sunatullah, takdir serta nasib yang sudah diputuskan.

Bawahan itu harus menurut, patuh, dan siap sedia menerima perintah serta keputusan. Persis seperti sempak atau celana dalam. Siap sedia dipakai tanpa pernah seminggu ganti, atau siap sedia dibuang ketika tak lagi dipakai. Tak seperti baju yang bisa dilelang atau dijual pada pasar murah, atau bisa disumbangkan. Tak pernah ada pasar murah untuk menjual sempak bekas. Nasib bawahan ya begitu, terima saja.

Tempat dan posisinya adalah untuk patuh, bukan untuk memberi ide-ide, wawasan, atau masukan. Bawahan ya sudah pasti bodoh, dan hanya mengerti perkara teknis. Itu pun masih harus dibimbing dengan banyak workshop atau pelatihan. Kalau tidak, perkara teknis pun pekerja kelas bawah atau bawahan ya ga bakal paham dan mengerti.

Kalau diibaratkan selain sempak, bawahan adalah sandal. Garda terbawah untuk berurusan dengan segala macam tembelek dan kotoran. Kalau untuk berurusan dengan perkara nyaman dan enak, sandal tak boleh ikut. Pernah melihat sandal ikut naik ke kasur untuk merasakan nyamannya tidur? Ya ga pernah ada.

Untuk urusan nyaman dan enak. serahkan pada atasan. Bawahan ndak usah ikut-ikutan.

Jadi bawahan itu harus selalu stand by, tidak boleh tidak. Sewaktu-waktu dari pusat, wilayah, atau daerah memberikan perintah, bawahan harus memperhatikan dengan segenap hati dan pikiran yang tercurah.
Harus begitu, sebab jelas bahwa yang di atas jauh lebih pintar, mumpuni, dan mengerti, serta terhormat. Topi dan peci jelas lebih terhormat daripada sempak, bukan?

Segala sesuatu yang datang dari atas, sudah benar dan sesuai adanya. Tak ada yang perlu diragukan. Tak pernah ada atasan yang salah. Yang ada adalah bawahan yang tidak memahami perintah.

Bahkan jika atasan atau dari struktur di atas mengajak pada suatu kesalahan, itu juga bukanlah kesalahan. Itu adalah kebijakan, yang belum disesuaikan. Atau mungkin kebijakan, yang tak pernah bisa dimengerti oleh bawahan.

Rumus sederhananya adalah :

“Jika yang salah adalah yang di atas, maka itu adalah pembelajaran. Jika yang salah yang di bawah, itu adalah kebodohan.”

Seperti itu, sederhana bukan?

Sebab yang di atas adalah cerdik cendekia, maka kesalahan bukanlah kesalahan, namun suatu proses pembelajaran.

Sebab yang di bawah bal gedibal, maka kesalahan sudah jelas karena kebodohan.

Maka ketika ada suatu kesalahan atau kekeliruan menurut sudut pandang bawahan, berasal dari atas, maka harus dimaafkan. Karena itu adalah proses pembelajaran.

Tetapi ketika bawahan yang melakukan kesalahan atau kekeliruan, maka yang di atas silahkan marah-marah dan menyalahkan. Kalau perlu caci maki juga tak mengapa. Sebab sudah barang tentu, kesalahan itu adalah karena kebodohan.

Sampai disini kiranya kita sepakat, bahwa pisau memang tajamnya dari atas, ke bawah.

Jika ada beberapa atasan atau pegawai di tingkat atas yang terkena kasus hukum dan secara prinsip jelas dinyatakan bersalah, maka bawahan harus ramai-ramai ikut menutupi, minimal dengan mengunggah pernyataan ‘tetap bangga’ melalui hastag atau gambar-gambar.
Tetapi kalau ada bawahan yang bersalah atau baru sebatas diduga bersalah dan belum terbukti, buang saja, toh sudah mengakibatkan tercemarnya nama baik lembaga secara keseluruhan.

Memang begitu, dan harus diterima dengan penuh kesadaran, oleh siapapun jenis bawahan itu.
Mau dia sempak, cawet, sandal atau terompah, maka harus bersedia menerima kondisi demikian itu.
Sebab, memang sudah takdirnya.

Kalau ada sempak terkena klepretan kotoran akibat mencret, ya langsung dibuang saja. Toh hanya sekadar sempak saja.
Tetapi kalau ada jas terkena tai kebo, atau dengan sengaja dikenai tai sapi, maka harus segera dimasukkan ke tukang dry clean terbaik, agar esok bisa dipakai kembali.

Sempak tak boleh marah, sewot, apalagi protes dan iri hati. Sebab sempak memang tak bisa diperbandingkan dengan kemeja, apalagi jas.

Sempak ada dan berguna pada tempat dan situasi yang tak membutuhkan publikasi. Sedang kemeja atau jas, adalah representasi.

Tak masalah memakai sempak yang berlubang, asal jas tetap rapi.

Tak masalah memakai sempak yang kusut, asal jas tetap wangi.

Hanya sempak bodoh yang berteriak-teriak mengenai keadilan dan prinsip kesetaraan merunut pada tugas dan fungsinya. Hanya sempak bodoh yang demikian itu. Dan memang segala jenis sempak bodoh adanya.

Maka bawahan jangan pernah merasa dimanfaatkan oleh atasan, atau oleh mereka yang di atas. Sebab bawahan ada untuk dimanfaatkan, bukan untuk keperluan lain.

Menjadi bawahan itu harus selalu baik dan benar, melayani atasan dengan sepenuh hati. Jangan sekali-kali mempermalukan misalnya saja dengan sengaja memutuskan kolornya, agar kedodoran. Itu tidak boleh, dan tidak etis. Sempak harus selalu kencang, menjaga dari tempat yang tersembunyi.
Kalau kemeja atau jas, boleh semaunya. Kancing dibuka dan lengan digulung juga tak masalah. Tetap terlihat keren.

Kehormatan dan harga diri sempak atau bawahan terletak pada sifat kerahasiaannya. Bekerja dan berguna dari tempat paling menjijikkan dan tersembunyi. Satu-satunya sempak yang terhormat meski tak rahasia, hanya sempak milik Superman. Tetapi itu pun adalah sempak di Planet Hollywood.

Selain sempak milik Superman di Planet Hollywood, tak boleh ada sempak lain yang menuntut macam-macam. Apalagi sempak di Planet Staqucwijbegqutz ini, tak boleh.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

13 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.