Menjerat Leher Sendiri Dengan Narkoba

Sedang riuh dan gaduh, politisi sebuah parpol di Indonesia tertangkap karena menggunakan narkoba. Posisinya di dalam parpol tidak main-main, wasekjen [wakil sekretaris jenderal]. Bukan sebuah posisi yang tidak bisa diisi oleh politisi ingusan, meski dengan usia bangkotan. Hanya sedikit politisi dengan usia muda yang bisa duduk dalam posisi demikian tinggi seperti itu.

Anas Urbaningrum salah satu contohnya. Menduduki posisi ketua umum sebuah parpol yang lumayan, masih dalam usia kurang dari empat puluh. Namun ia tumbang juga, dengan tuduhan korupsi. Tetapi Anas selamat, tak jadi digantung di Monas. Padahal ia pernah berapi-api, kalau terbukti korupsi, silahkan digantung di Monas. Iya, Monas, monumen nasional salah satu landmark kebanggaan negara.
Pintar juga, siapa yang mau menggantungnya di monumen nasional. Itu bisa mencoreng nama dan martabat bangsa dan negara. Coba dulu minta digantung di sebuah pohon di tengah hutan kalau terbukti korupsi, di antara sungai-sungai dan buaya kelaparan, pasti banyak yang bersedia.

Tapi tak mengapa, Anas sudah menjalani hukumannya. Toh bangsa Indonesia adalah bangsa yang pemaaf, tidak tegaan. Besok selepas menjalani masa hukuman, Anas bisa masuk gelanggang politik lagi. Pindah parpol, atau bikin parpol sendiri. Bisa jadi ketua umum lagi, asal tidak korupsi lagi.

Yang tertangkap karena narkoba itu, katanya mau direhabilitasi. Setuju saja, tak semua tersangka, terduga, atau terdakwa kasus narkoba harus dipenjara. Rehabilitasi bisa menjadi satu cara agar si pemakai atau pecandu, tak kembali lagi memeluk narkoba.

Jangan salah, narkoba tak pernah mencengkeram dan menjerat manusia. Manusia sendiri yang dengan sadar menjerati dirinya dengan narkoba, dalam belenggu ketergantungan.

Maka, rehabilitasi adalah cara agar si pengguna tak kembali lagi menggunakan narkoba.

Apalagi politisi, atau artis, atau pesohor. Untuk apa memakai narkoba?
Toh tanpa berhalusinasi sudah menggenggam ketenaran, pangkat, dan juga jabatan. Tentu juga menggenggam kekayaan. Hal-hal yang oleh kebanyakan orang hanya mampu dibayangkan, hanya sebatas angan dan impian.

Kaya, terkenal, mempunyai kuasa dan jabatan. Tak semua orang bisa sampai, meski terus memelihara cita-cita untuk menuju kesana. Tak semua orang diberi amanat untuk menggenggam ketenaran, kekayaan, pangkat dan juga jabatan. Maka kenapa kemudian yang sedikit bisa menggenggamnya, malah terjerumus dan menjerat dirinya sendiri dengan narkoba?

Tekanan atas ketenaran menjadi pembenaran?

Pangkat dan jabatan membuat frustasi?

Kekayaan membuat kebingungan?

Lantas narkoba dipilih untuk sejenak mengalihkan segala beban dan tekanan?

Bunuh diri!

Narkoba membunuh diri sendiri, JAUHI!
Jangan sekali-kali menggunakannya.

Ini pesan yang lebih dari sekadar pesan moral. Ini pesan yang benar-benar keluar dari lubuk hati paling dalam. Dari relung-relung perasaan untuk peduli dan menyayangi semua makhluk dan manusia.

Jangan sekali-kali memakai narkoba!

Politisi yang saya sebut dalam paragraf pembuka [meski tak menyebut nama], kelak sudah pasti karir politiknya akan terhenti. Bagaimanapun ia berusaha, meski bisa kembali, posisinya takkan bisa lagi menyamai saat ini. Saat sebelum tertangkap maksudnya.

Tak ada parpol yang cukup bodoh membiarkan pengguna narkoba duduk di posisi tinggi dan strategis. Sudah terlanjur terekspose secara luas pula. Menggunakan narkoba bisa menjadi pangkal mula segala perbuatan tercela. Apalagi shabu-shabu.

Parpol di Indonesia lebih bisa mentolerir tindakan serta perilaku korupsi. Terbukti dengan banyaknya caleg yang sekaligus juga mantan terpidana korupsi.

Padahal, narkoba dan korupsi sama merusaknya. Sama jahatnya, sama-sama terkutuknya.

Korupsi mempunyai skala merusak yang lebih masif. Korupsi merampas hak-hak jalan beraspal. Yang harusnya jalan beraspal mempunyai tebal 5 sentimeter, korupsi merusaknya dengan menggerogoti yang 2 sentimeter.

Harusnya bendungan kokoh dan awet dengan sekian ribu kubik beton, korupsi menggerogoti sebagiannya yang menjadikan berkurang kadar kokoh serta keawetannya.

Harusnya jembatan bisa awet berdiri sekian puluh tahun, korupsi menggerogoti sampai tak bisa lagi digunakan bahkan ketika jembatan belum berusia satu dasawarsa.

Harusnya anak-anak tidak mampu bisa bersekolah dengan gratis, korupsi membuat mereka membayarnya.

Harusnya pembangunan sarana dan prasarana bisa lebih merata, korupsi menghambatnya.

Lantas, kenapa masih ada caleg yang sekaligus mantan pelaku korupsi?

Benar bahwa mereka telah menjalani hukuman atas perbuatannya. Tetapi hukuman itu adalah untuk pengingat sekaligus penanda untuk tak lagi menempatkan mereka pada posisi-posisi strategis bernegara. Apalagi anggota legislatif.

Hukuman mereka adalah untuk mereduksi kebencian kita, menggugah rasa maaf dari kita, agar bisa menerima mereka lagi sebagai manusia. Kita tak bisa membenci manusia, kita hanya bisa membenci perbuatannya. Tetapi memaafkan bukan lantas kemudian membiarkan. Memaafkan pelaku korupsi bukan lantas kita membiarkan mereka untuk duduk lagi pada tempat dan posisi ketika mereka dahulu, melakukan perbuatan korupsi.

Hukuman pada pelaku korupsi adalah untuk mengembalikan pada jati diri kemanusiannya, karena kesalahan yang mereka lakukan. Bukan untuk mensucikan mereka, dan lantas [lagi-lagi] memilih mereka.

Eh ya kenapa jadi korupsi? Kan judulnya narkoba?

Kenapa…ya…saya juga bingung.

Saya hanya ingin menyampaikan, kalau korupsi dan narkoba itu sama-sama berbahaya. Itu saja. Meski juga tak ada pengaruhnya saya menyampaikan demikian, toh ini bukan media berskala luas yang bisa menjangkau banyak orang. Bukan pula ditulis oleh seseorang yang berpengaruh, yang apa saja penyampaiannya akan mendapat banyak perhatian.

Tetapi, ini adalah sebuah misi. Misi pribadi. Untuk melawan narkoba dan korupsi.

Korupsi itu kalau dibiarkan, maka akan memantik juga tindakan kesewenangan. Memakai posisi jabatan untuk memaksa bawahan berbuat dan bertindak yang melanggar peraturan, misalnya.

Jabatan itu hampir serupa dengan narkoba, lho. Menjerat, membuat ketagihan, dan terkadang memicu tindakan di luar nalar dan kesehatan mental serta pikiran.

Misalnya saja seseorang menduduki jabatan tertentu, lantas ingin jabatan yang lebih tinggi. Kemudian ia menggunakan kekuasaan jabatannya untuk meraih tujuan itu. Dengan memaksa anak buahnya berkampanye, meski jelas melanggar peraturan. Mungkin saja….

Tulisan ini semakin lama akan semakin melantur, kalau tak lekas dihentikan.

Semoga kita tak pernah sekali-kali menggunakan narkoba, tak pernah sekali-kali korupsi, dan tak sekali-kali menyalahgunakan jabatan serta wewenang. Sebab apa?

Sebab….jawab sendiri….saya capek….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

18 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.