Mental Masker

Kesanggupan saya sore ini hanya duduk di teras kamar kos, sembari minum kopi dan mendengar suara air hujan yang menimpa atap maupun jalanan. Dari depan kamar kos, saya hanya bisa melihat sepotong jalan, dan pagar bangunan rumah sebelah. Tak ada pohon, dan apalagi sawah.

Segelas kopi panas sudah saya siapkan semenjak selesai mencuci baju. Sembari menunggu agar tak terlalu panas, saya makan terlebih dahulu. Untung saja sepulang dari kantor sudah langsung membeli sebungkus nasi di warteg. Nasi yang berkolaborasi dengan oseng daun pepaya, dan tahu tempe goreng. Murahnya nikmatnya tiada terkira. Kalau tidak, mungkin saya tidak akan menikmati makan malam karena sudah terlanjur malas keluar untuk membeli karena hujan.

Selepas makan itulah saya duduk di depan kamar kos sembari pelan menyeruput kopi yang sudah tak terlampau panas. Nyamleng….

“Kalau cuma mau makan tahu tempe sama oseng godong kates (daun pepaya), ngapain jauh-jauh ke Semarang?” Sebuah suara terdengar dari luar pagar kosan, beradu nyaring dengan suara air hujan.

Sebenarnya saya tak asing dengan suara itu, tetapi suara air hujan mengaburkan keyakinan saya. Namun juga tak lama, sekian detik kemudian pemilik suara muncul, berdiri di depan pagar kosan, membuka pintu, dan berjalan pelan menuju tempat saya sedang duduk ditemani kopi tanpa gorengan.

Lha po di Sleman atau Bantul pohon pepaya sudah punah? Lha kok makan oseng daun pepaya we harus ke Semarang?” kata si pemilik suara pertama, yang kini saya sudah tahu siapa makhluknya.

“Haaa cangkemu Reng.” saya jawab sekenanya.

Lama Gareng tak muncul dan menemui saya. Jujur saja, sepanjang perkenalan kami, bisa dihitung dengan jari saat-saat dimana saya merasa senang makhluk keparat itu datang menemui saya, termasuk saat ini. Selebihnya, saya merasa kok harusnya penceng keparat itu tak usah muncul lagi saja.

“Lhoooo, aku tenanan yo. Beda po rasa daun pepaya di Sleman atau Bantul sama di Semarang? Atau karena harus bayar itu maka terus rasanya lebih enak disini?” Gareng tergelak sembari meraih cangkir kopi di depan tempat saya duduk.

Aahhhh, untung saja kopi buatanmu masih enak. Kalau tidak, rasudi meneh, ga sudi lagi aku datang.” Sembari meletakkan cangkir kopi pada tempat semula, Gareng mengambil bungkus rokok di depan saya, mengambil isinya sebatang, menyelipkan pada mulut perotnya, kemudian menyulutnya.

“Sudah bosan sama tembakau lintingan po? Kok sekarang rokoknya Djarum terus?” mulutnya terus nyerocos, dan saya membiarkannya saja. Sepertinya Gareng sedang bahagia, maka saya membiarkannya mengoceh sesuka hati.

“Hambok ya ngomong apa gitu, jawab apa gitu, kok malah mbisu. Semarang membuatmu bisu po?” Gareng kembali tergelak, kali ini suara air hujan kalah oleh tawanya yang cemprang.

“Kok kelihatan bahagia banget to Reng? Penyakit kadasmu dah sembuh gitu po?

“Wooo lha cah edan. Kadas itu bukan penyakit, kalau Corona…eh, Covid-19, itu baru penyakit.” jawabnya sembari melirik.

“Nih kadasku masih.” katanya sembari menaikkan celana panjangnya dan memperlihatkan sebentuk kadas pada kakinya.

“Haaa njijiki, kowe cen jenes kok Reng.”

“Oh iya, apa pendapatmu mengenai Covid-19?” tanyanya.

“Ga punya pendapat.”

“Lhah, baru heboh kok. Jangan kuper lho!” serunya.

“Lhoh, mau berpendapat apa? Kenal aja enggak kok.”

“Wueh, tumben pinter?”

“Matamu kuwi!”

“Ya kan banyak orang seringnya mengumbar pendapat, memberi penilaian ini itu, padahal kenal atau sekadar tahu saja enggak.”

“Lhah kan tahu sendiri aku ga seperti kebanyakan orang.”

“Nah kalau itu aku tahu. Kamu memang ga seperti kebanyakan orang. Kalau kebanyakan orang itu pikirannya waras, nah kamu ga waras.” kembali penceng keparat itu tertawa tergelak-gelak. Nampak bahagia betul.

Maka saya membiarkan Gareng mengoceh sesukanya. Mau bilang saya tak waras, gila, stres, juga tak mengapa. Lumayan juga ada hiburan gratis. Melihat wajahnya yang lucu saja sudah menjadi semacam hiburan bagi saya.

“Itu, di toko swalayan dekat rumah sakit, orang-orang pada belanja.”

“Lhaiya kalau di toko emang belanja Reng, kalau ngising ya di WC.”

“Lhooo to, aku serius.”

“Lhah, aku juga serius.”

“Maksudku mereka pada belanja banyak barang.”

“Ya terserah mereka mau belanja banyak atau sedikit.”

“Maksudku, kayak hampir semacam mau menimbun, begitu.”

“Welah, itu di kuburan atau di toko? Kok menimbun?”

“Wah jyan cah kobis.”

“Yang jelas kalau ngomong.’

“Luweh.”

“Mutung!”

“Sekarepku.”

Gareng berdiri, melirik sejenak ke arah saya duduk.

“Yo rasah trus mutung Reng.”

“Sopo sik mutung, aku ameh wisuh kok.”

“Lhah?”

“Terus arep mangan pisang, kuwi neng njero kamarmu ono pisang.”

Tanpa menunggu persetujuan saya, Gareng bergegas masuk ke kamar dan mengambil sebuah pisang. Benar-benar sebuah, karena tinggal satu-satunya. Keparat, pisang itu sebenarnya sudah saya masukkan dalam rencana untuk sarapan besok pagi. Dan penceng keparat itu memakannya.

“Kuwi sakjane ameh tak nggo sarapan Reng.”

“Halah, sarapan kan masih besok pagi. Nah aku laparnya sekarang kok.” katanya sembari membuang kulit pisang ke tempat sampah.

“Oh iya, kamu ga beli persediaan masker Nang?”

“Buat apa?”

“Buat keramas!!! Ya buat jaga-jaga to. Siapa tahu demam Covid ini berlangsung agak lama, dan maskermu habis.”

“Kalau masker habis ya pakai topeng, gampang kan. Malah lebih solid.”

“Whaini, kamu kok ga mengindahkan anjuran badan kesehatan dunia.”

“Tanpa aku mengindahkan, badan kesehatan dunia juga sudah indah Reng. Maka aku tak perlu mengindahkan, segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik.”

“Kok otakmu sudah terpapar semacam virus yang lebih berbahaya dari Covid?”

“Nah, itu kamu tahu Reng.”

“Maksudnya?”

“Kewarasan kita dalam menyikapi segala sesuatu, termasuk mengenai adanya virus Covid itu, harus senantiasa terjaga. Jangan sampai kita terhindar dari virus itu, namun terpapar virus lain.”

“Maksudnya.”

“Boleh saja kita waspada, berjaga-jaga, namun jangan sampai berlebihan. Jangan sampai juga lantas karena ketakutan kita membeli selembar masker seharga sepuluh ribu. Padahal harga normalnya tak lebih dari seribu rupiah. Itu tidak waras.”

“Kan karena butuh dan mendesak.”

“Masker itu bisa kita ganti dengan kain biasa. Toh hakikatnya tak lebih agar jangan sampai virus itu masuk secara langsung ke dalam tubuh kita. Masker bisa diganti kain. Pakai sprei kalau perlu.”

“Kain tidak praktis.”

“Itulah, karena terbiasa ingin yang praktis, kita lupa segala sesuatu yang kompleks. Termasuk lupa bahwa pikiran kita itu kompleks. Bisa berpikir bermacam-macam hal termasuk mencari barang substitusi dari masker yang harganya melonjak gila-gilaan itu.”

“Haa kok malah khotbah?”

“Karena kamu itu selain penceng ternyata juga pikirannya ga main blas. Coba kamu pikir, apa gunanya kemudian membeli banyak masker atau menimbun banyak makanan di rumah? Hanya karena takut terpapar virus.”

“Katanya waspada boleh? Berjaga-jaga?”

“Tetapi harus tetap rasional. Yang membuat manusia tetap memiliki eksistensi semenjak jaman Mbah Adam sampai saat ini adalah karena rasionalitasnya. Rasionalitas digabungkan dengan pemahaman akan hakikat sangkan paran. Tentang hakikat asal usul. Segala sesuatu pasti ada awal dan akhir. Termasuk Covid itu. Kelak akan tertangani, dan hilang dari muka bumi. Kalaupun toh tidak hilang, ada obat penangkalnya. Toh di China sudah lebih banyak yang sembuh.”

“Welah, kamu kok sekarang agak gimana gitu…”

“Lagipula ada yang jauh lebih berbahaya dari Covid itu.”

“Apa?”

“KOPET!”

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *