Mental Pengusaha dan Mental Penggerutu

Ilustrasi Usaha. Gambar : Pixabay

Saya selalu saja hampir tertawa, sekaligus juga misuh dan mengumpat di dalam batin, jika ada orang-orang yang merasa bahwa mereka ‘dijajah’ oleh orang etnis Tionghoa atau China.

Kalau pembicaraan semacam itu terjadi diantara orang-orang terdekat saya, pasti saya akan langsung membantah pendapat mereka, mengenai terma ‘dijajah’ itu, dan mengemukakan alasannya.

Tentu saja harus dibantah, jangan sampai iri hati dan iri dengki menjadi semacam pembenaran untuk membenci. Padahal, tak harus sampai membenci juga, jika pada kenyataannya kita tidak bisa mampu seperti mereka. Dalam segi ekonomi tentu saja.

Selalu saja yang dipermasalahkan adalah mengenai ekonomi, perihal kesejahteraan, dan kekayaan.

Saya sudah malas menulis tema seperti ini sebenarnya, tetapi karena terpaksa, saya harus menuliskannya.

Gara-gara ada pembicaraan yang mengarah kepada suatu kebencian, pada etnis Tionghoa. Hanya karena membicarakan sebuah toko swalayan pada awalnya, yang larisnya minta ampun, pada sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Kebetulan, pemiliknya adalah orang dengan etnis Tionghoa.

Pembicaraan yang pada awalnya membahas makanan-makanan lebaran, dan perbandingan harga antar tokok itu, entah bagaimana jadinya kemudian menjadi semacam pergunjingan. Tentang pemilik toko tentu saja, yang beretnis Tionghoa.

“Rasanya kok orang Jawa seperti dijajah orang China saat ini.” kata salah seorang.

Saya hampir tersedak ludah mendengarnya. Kok bisa sampai pada kosakata dijajah?

Setelah saya ikuti percakapan itu, saya jadi mengerti penyebab munculnya kosakata tersebut. Yaitu karena pemiliknya orang etnis China, kaya, tokonya laris, dan kebanyakan pembeli atau pelanggannya adalah orang Jawa. Maka kemudian muncul kosakata tersebut.

Yawlah demi bedug maghrib yang selalu dinantikan saat puasa….

Tentu saja kebanyakan pembelinya adalah orang Jawa, karena mereka adalah mayoritas. Da tentu saja kebanyakan orang etnis China di pulau Jawa ini kaya, karena mereka mau berusaha. Itu saja.

Ada mentalitas yang berbeda dan menjadi garis pemisah tegas disini. Kebanyakan orang etnis China, tak suka berfoya-foya ketika sedang merintis usahanya. Bahkan, jika usahanya belum berkembang pesat dengan banyak cabang, mereka menghindari membeli rumah atau barang-barang mewah.

Apakah lantas semua orang etnis Tionghoa bekerja keras?
Tidak juga.

Apakah juga semua orang Jawa tidak bisa kaya raya dengan menjadi pengusaha?
Tidak juga.

Selalu ada kemungkinan dan variabel yang menjadi penentu seseorang bisa kaya raya melalui jalur pengusaha ataukah tidak.
Berarti, ini bukan perkara etnis sebenarnya. Ini adalah perkara mentalitas saja.

Dan yang utama, jangan sampai menjadi salah paham untuk kemudian mengemukakan terma ‘penjajah’ hanya karena tidak mampu mencapai seperti apa yang dicapai orang lain.

Orang-orang kaya itu, kebanyakan berdarah-darah mengembangkan usahanya.
Dan kita yang enggan berdarah-darah semacam itu, tak selayaknya kemudian merasa iri hati dan iri dengki, bahkan juga membenci.

Saya pernah mempunyai seorang kawan, yang keluarganya sedang dalam tahap mengembangkan usaha. Sedang merintis usaha, katakanlah seperti itu. Kawan saya itu beretnis Tionghoa, China. Waktu itu, meski mempunyai uang, mereka tak membeli rumah. Mereka memilih untuk tetap tinggal di sebuah rumah toko [ruko], yang sekaligus digunakan sebagai tempat usaha. Mereka berbagi tempat dengan aneka barang dagangan, dalam keseharian.

Hal itu berbeda dengan kebanyakan kawan saya yang lain dari etnis yang berbeda. Kebanyakan keluarga mereka, memilih untuk membangun rumah menjadi lebih bagus, atau membeli mobil ketika mempunyai uang lebih. Alih-alih membuat sebuah usaha atau bisnis, kebanyakan keluarga dari kawan saya yang bukan beretnis Tionghoa, lebih memilih untuk mendapatkan barang-barang atau benda non-profitable.

Sampai disini, kiranya sudah ada gambaran, garis tegas, perihal mentalitas pengusaha.

Namun apakah lantas orang dari etnis lain tidak memiliki mentalitas pengusaha?
Seperti yang sudah saya jawab di paragraf atas, tidak juga!

Saya juga pernah mempunyai seorang kenalan, dari etnis Jawa, yang usahanya menggurita. Ia mempunyai usaha yang bergerak dalam bidang bahan bangunan atau toko material.

Sejauh dan sebatas yang saya tahu saja, cabang tokonya ada sebanyak empat buah. Tersebar di berbagai kecamatan di sekitar tempat tinggal saya. Mungkin masih ada cabang lainnya yang saya tidak ketahui. Semua tokonya, laris dan ramai pembeli, mempunyai pelanggan loyal. Toko pusatnya, menempati lahan seluas dua kali lapangan sepakbola, yang juga digunakan sebagai tempat tinggalnya. Ia bersama keluarganya menempati rumah dengan berbagi tempat bersama semen, pasir, dan juga besi serta aneka material lainnya.

Ia pernah bercerita bahwa pada awal mengembangkan usahanya, jika mempunyai keuntungan lebih, ia memilih untuk menambah armada seperti truk atau mobil pickup untuk mengantar barang kepada konsumen. Bukan untuk membeli rumah atau mobil pribadi. Perlahan, sedikit demi sedikit, ia mampu membeli tanah di sekitar tokonya, hingga kemudian sampai seluas dua lapangan sepakbola itu.

Sampai disini, bukahkah mentalitas yang lebih banyak berbicara, dan bukannya latar belakang etnis atau kesukuan?

Oleh karena itu saya selalu tidak setuju jika ada pembicaraan yang mengarah kepada kedengkian, hanya karena sebenarnya mereka tidak mampu meniru cara-cara atau jalan yang ditempuh oleh para pengusaha.

Alih-alih merasa iri dan melontarkan terma ‘dijajah’, bukankah lebih baik mencoba meniru apa yang dijalani oleh para pengusaha itu?
Berani, ataukah tidak?

Sederhana saja sebenarnya, karena tidak semua orang berani menempuh jalan terjal.

Kebanyakan orang hanya berani menatap hasilnya, tanpa pernah berani melihat jalan serta caranya.
Pemikiran serta cara pandang semacam ini, menurut saya : Sesat!

Sesat tentu saja, karena tak pernah ada nasi tanpa beras, tak pernah ada beras tanpa padi, dan takkan ada padi tanpa tanamannya.
Bukankah demikian itu? Ataukah tidak? Ataukah tiba-tiba ada nasi tersaji di piring kita tanpa ada petani yang menanam padi?

Semua ada prosesnya, semua da jalannya, namun tak semua orang berani melaluinya.

Kini yang harusnya menjadi garis tebal, bukankah bulan Ramadan bukan waktunya untuk menggunjing?
Bukankah ini waktunya untuk masing-masing orang berkontemplasi mengenai kehidupannya masing-masing.

Alih-alih menggunjing etnis China yang sukses dengan usahanya, bukankah lebih baik untuk mulai berjualan kolak?
Berani?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

15 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.