Menulis dan Melupakan

Entah sudah yang keberapa kali saya menulis dan mewartakan mengenai sebab-sebab mengapa saya menulis, dan mengapa ada weblog ini semenjak bulan Desember [2019] lalu. Mungkin karena sebenarnya saya ini pelupa, dan perihal detail yang pernah saya tuliskan mengenai alasan-alasan tersebut, juga sudah terlupakan. Andai mengorek kembali beberapa puluh tulisan sebelumnya, mungkin akan banyak diketemukan tulisan-tulisan yang isinya hampir sama dan serupa. Sungguh saya meminta maaf, karena saya benar-benar pelupa.

Terlebih, karena saya tak pernah membaca ulang tulisan yang sudah saya unggah, baik di weblog ini maupun di Facebook. Saya sering tertawa dan geli sendiri ketika mengulang membacanya. Maka saya tidak pernah tertarik untuk membaca ulang.

Enam tahun lalu sebenarnya saya sudah sempat juga membuat sebuah blog gratisan dari WordPress. Nama persis domainnya saya lupa, tapi yang jelas membahas dan mengulas mengenai kendaraan roda dua atau sepeda motor. Saya terinspirasi dari beberapa web dan blog otomotif yang saat itu sering saya kunjungi. Semisal blog milik Iwanbanaran, TMCblog, bonsaibiker, Kobayogas, atau Yudibatang. Semata saya membuat blog itu sebagai ajang coba-coba dan ikut-ikutan, siapa tahu bisa terkenal dan bisa mencoba motor-motor baru dari pabrikan. Seperti yang didapat oleh para blogger otomotif kondang tersebut.

Hasilnya, selepas tiga tulisan kalau tidak salah ingat, blog tersebut mati suri. Dan mungkin kini sudah mati permanen.

Beberapa tahun sebelumnya lagi, tetapi tahun berapa persisnya lupa, saya pernah juga membuat sebuah blog menggunakan Blogspot. Nama domain dan tema yang saya tulis, saya babar blas lupa. Motivasi dan dorongan apa yang melatarbelakangi saya untuk membuat blog tersebut, saya juga lupa.

Ingatan saya sangat parah sebenarnya, maka saya menuliskan beberapa pengalaman dan cerita yang menurut saya menarik, dan mungkin suatu saat bisa saya baca kembali.

Gagal menulis

Kegagalan menulis dan membuat blog otomotif membuat saya tak lagi tertarik untuk menulis sesuatu, apapun itu. Kegagalan bagi saya serupa film horor, mengintimidasi. Waktu itu, bahkan untuk membuat satu lembar tulisan berisi seratus lima puluh atau dua ratus kata, saya harus memeras keringat dan tenaga dengan demikian kerasnya. Meski sebenarnya saat ini juga tak mudah. Saya selalu kesulitan menulis, juga termasuk ketika menuliskan tulisan ini.

Kesulitan terbesar yang menjadi penyebab adalah, harapan sekaligus ketakutan.

Pertama, saya pernah berharap bahwa tulisan saya akan banyak dibaca, dan menjangkau sekian banyak orang. Maka ketika tulisan saya tak ada yang membaca, saya akan stress. Sungguh manusia lemah. Tetapi itu dulu, sekarang saya tak ambil pusing dengan semua tulisan yang saya unggah. Ada yang membaca ya syukur, enggak juga tak mengapa. Satu yang jelas, saya memang berusaha sedemikian rupa agar tulisan saya ada yang membaca. Tetapi ketika tulisan sudah diunggah, sudah pula saya bagikan di media sosial tetapi tak ada yang membaca, saya tak lagi gundah. Slow, dan tetap menulis.

Kedua, perihal ketakutan. Saya selalu ketakutan tulisan akan jelek tak layak baca, tulisan menyinggung dan menyakiti pihak lain, serta kehabisan ide serta bahan tulisan. Ketakutan pertama kini saya abaikan, toh memang tulisan saya tak pernah bagus, dan karena itu justru membuat saya tak terbebani dan berhubungan dengan poin harapan pada paragraf sebelumnya. Jika tulisan jelek, mengapa berharap untuk dapat dibaca?
Ketakutan kedua, masih sering menghantui. Tetapi saya selalu berpedoman pada satu hal. Sekira tulisan saya ‘sensitif’ dan menyinggung beberapa pihak, paling tidak apa yang saya tuliskan adalah ‘kebenaran’. Kebenaran yang relatif dan subyektif, tetapi saya selalu melandasinya dengan data juga fakta, dan tak asal ‘menyerang’. Maka jika ada yang merasa tersakiti, mungkin karena kami tak berdiri di sisi yang sama.
Ketakutan ketiga, adalah ketakutan yang membuat saya tak berhasil menjadi blogger otomotif, kehabisan ide. Pengetahuan dan referensi saya sangat terbatas untuk mengulas dan menulis hanya pada satu tema.

Dulu ketika memutuskan untuk menulis perihal otomotif, sepeda motor utamanya, saya melupakan satu hal. Yaitu pengalaman.

Meski berpengalaman naik dan berkendara dengan sepeda motor, saya tak cukup mempunyai pengalaman berkendara dengan banyak jenis dan macam sepeda motor.

Blog Gado-gado

Tak seperti blogger-blogger otomotif kondang yang mempunyai pengalaman dan referensi luas serta persinggungan dengan banyak jenis kendaraan, saya bahkan tak mengenal banyak jenis sepeda motor, apalagi impresi mengendarai sekian banyak jenis kendaraan. Paling pwol saya hanya pernah mengendarai Honda C70, Honda Legenda 2, Honda Supra X 125, Honda Tiger [pinjaman], Yamaha 75, Yamaha Alfa, Suzuki Bravo [ketiganya juga pinjaman].

Tentu saja pengalaman naik dan merasakan impresi berkendara dengan sepeda motor yang saya sebut itu, tak bisa untuk dijadikan sebagai suatu bahan tulisan yang up to date.

Maka ketika kemudian mempunyai semacam ‘kesempatan’ untuk kembali menulis dan menyimpannya dalam arsip digital berupa blog, saya tak membuat tema yang spesifik. Saya tak mempunyai ketahanan dan daya hidup untuk terus menulis hanya pada satu tema. Maka saya membuat sebuah blog gado-gado, sebutan untuk blog sampah yang menulis banyak tema.

Blog gado-gado banyak dihindari oleh blogger, karena berpotensi tak akan mendatangkan banyak pengunjung dan pembaca. Tetapi mau bagaimana lagi, sedang untuk spesifik pada suatu tema tertentu, saya tidak mampu. Padahal keinginan untuk menulis seringkali datang menggebu.

Saya mengabaikan ‘aturan’ dan ‘pakem’ dari para blogger untuk menghindari blog gado-gado dan lebih fokus membuat tema spesifik. Saya tak peduli, lebih karena memang tak mampu untuk menulis tema-tema yang sama secara konstan dan terus menerus.

Terkadang saya ingin menulis mengenai pekerjaan. Terkadang ingin menulis sedikit pengalaman ketika jalan-jalan, dan juga jajan. Terkadang saya ingin menulis sedikit mengenai catatan keseharian, dan banyak hal lainnya. Blog dengan tema spesifik tidak bisa mengakomodir kecenderungan diri saya sendiri, yang kesulitan untuk fokus terhadap suatu hal.

Pemilihan nama domain webblog ini pun cenderung sebagai suatu jenis ke-narsis-an, karena menggunakan nama saya sendiri. Bukan tanpa sebab, namun juga bukan karena ingin narsis dengan sengaja. Tetapi karena saya kebingungan menentukan nama domain, yang tak harus menjurus pada satu tema spesifik yang berkait dengan konten di dalamnya.

Awalnya saya ingin membuat domain dengan nama ajiguna[dot]com. Tetapi ternyata sudah tidak tersedia. Juga terpikir untuk mengusung nama pisuh[dot]in, tetapi juga tak tersedia. Nama asugedhe[dot]com pernah terbersit, namun urung saya pakai untuk menghormati bangsa asu agar tak terstigma berada hanya pada satu pihak, dalam hal ini saya sendiri.

Pasrah

Tak dapat dipungkiri juga bahwa saya masih menyelipkan harap bahwa webblog saya akan ramai, banyak pengunjung dan pembaca. Siapa tahu bisa ikut mengais remah dan recehan dari jagat online yang menggiurkan. Tetapi harapan itu juga saya batasi sedemikian rupa agar tak berkembang menjadi semacam ambisi. Dalam sejarah kehidupan saya selama tiga dasawarsa, ambisi seringkali membuat saya terjungkal dan kesakitan.

Paling mudah diingat, adalah ketika membuka sebuah usaha persewaan Playstation [PS]. Konsol yang dipakai adalah PS generasi ke-3 [PS3].

Saya sedemikian berharap dan berambisi agar persewaan itu cepat berkembang dan mendapatkan banyak pelanggan serta tentu saja keuntungan. Ambisi itu menutup nalar dan kehati-hatian. Dan pada akhirnya, persewaan yang didirikan dengan modal usaha berupa utang di bank itu, harus tutup karena satu set konsol beserta televisinya dibawa maling yang menyaru sebagai penyewa. Kurangnya kewaspadaan dan ambisi untuk sesegera mungkin mengeruk banyak keuntungan dan pemasukan, membuat saya lupa untuk melakukan kroscek mendalam terhadap calon penyewa. Hasilnya, usaha yang digadang-gadang akan mampu menambah pemasukan itu, harus gulung tikar.

Pengalaman itu setidaknya membuat saya mempunyai semacam kaca untuk terus bercermin. Bahwa ambisi dan harapan berlebih memang tak cocok dan tak sesuai dengan hidup serta kehidupan saya.

Perihal webblog ini pun saya tak terlalu banyak berharap untuk bisa ramai dan banyak pengunjung serta pembaca. Saya berbagi tugas dan meminta tolong pada ‘suatu pihak’ untuk banyak membantu. Bukan pada media sosial atau parameter SEO, tetapi pada Dzat bernama Tuhan. Tuhan yang saya yakini sangat Baik dan penuh kasih sayang terhadap saya.

Sehingga kini ringan saja saya mengelola webblog ini sebagai hobi. Saya yang menulis, Dia yang menjadi marketing. Terserah Dia apakah akan mendatangkan banyak pengunjung serta pembaca, atau mau bagaimana, atau bahkan kelak Dia berkehendak akan menutup webblog ini seperti dulu menutup persewaan PS itu, saya pasrah saja. Pokoknya menulis, dan terus menulis.

“Kepasrahan bagi saya bukan suatu hal yang memalukan, tetapi sebagai wujud pengakuan akan kebodohan serta keterbatasan, setelah semua usaha yang sudah dilakukan.”

ANG
Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

18 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *