Menulis Ngawur, Ngawur Menulis

Ilustrasi menulis

Pernah sekira dua tahun yang lalu, ketika hampir setiap hari saya menulis nyampah di media sosial Facebook, beberapa orang bertanya :

“Bagaimana caranya agar bisa menulis?”

Haaa, saya hanya bisa ndlongop. Lha wong saya sendiri tidak pernah menganggap apa yang saya unggah di Facebook itu adalah tulisan. Itu adalah sampah, sejenis menulis ngawur, dan juga ngawur saja dalam menulis.

Tak ada kaidah jurnalistik jika kebetulan saya menyampaikan mengenai kejadian faktual. Pun tak jelas benar dimana tulisan sampah saya itu harus dikategorikan. Tentu anda paham bahwa ada berbagai macam jenis tulisan. Ada esai, ada feature, ada narasi, deksripsi, berita, bahkan puisi.

Daannnnn, tulisan saya tak memenuhi satu pun kriteria dari berbagai macam jenis-jenis tulisan itu. Tak memenuhi syarat-syarat yang harusnya ada dan tersemat jika ingin tulisannya disebut esai, misalnya.

Benar-benar hanya menulis ngawur saja, dan juga ngawur menulis.

Saya beritahu sekali lagi, bahkan ini juga sudah sering saya sampaikan :

-Semenjak empat tahun lalu, belum pernah sekalipun tulisan yang saya kirimkan di media besar, ditayangkan-

Sekarang terbayang bukan bagaimana kualitas tulisan saya, terutama di blog ini, dan apalagi dulu di Facebook ketika saya masih aktif menggunakannya?

Dilihat secara telanjang dada mata saja, akan kelihatan bagaimana kualitas tulisan saya. Jika ibaratnya sebuah tulisan adalah seperti sebuah rumah, maka tentu ada bagian luar dan dalam. Bagian luar rumah tentu saja ada halaman, teras, juga tembok dan warna serta kualitas catnya. Bagian dalam tentu ada kualitas penataan interior, penggunaan serta penempatan perabotan yang tepat, fasilitas, dan terlebih juga kebersihan.

Sebut saja, ada bagian luar dan dalam.

Kalau bagian luar rumah sudah saya sebutkan diatas, maka bagian luar tulisan bisa saya sebutkan misalnya saja tata letak kalimat, pemilihan kata, dan juga metode penulisan. Isinya, tentu adalah subtansi atau maksud dari tulisan tersebut.

Tulisan-tulisan saya, dari pemilihan kata, metode penulisan, sudah tidak memenuhi kaidah tulisan yang baik dan benar. Jika ibarat bagian luar rumah, maka seperti rumah yang catnya mengelupas, terasnya hampir roboh, dan juga kotor. Isinya lebih parah lagi. Hampir tak ada perabotan didalamnya. Mana kotor dan juga pengap. Lengkap.

Maka atas pertanyaan beberapa orang yang bertanya kepada saya beberapa tahun lalu itu, saya menjawab asal :

“Banyak-banyak membaca buku, entah online atau buku kertas konvesional. Perluas pergaulan agar mengerti realitas sosial. Baca kamus agar tahu referensi kata. Dan terakhir, mulailah untuk menulis.”

Terlihat bijaksana ya? Tentu saja jawaban saya bukan itu. Saya tak pernah menjawab seperti itu atas pertanyaan serupa yang juga banyak datang setelahnya. Jawaban semacam itu terlalu intelektuil dan bijaksana bagi orang semacam saya. Ingat, saya ini orang yang seneng misuh. Maka kiranya bagi sebagian besar pendapat, orang yang seneng misuh itu sama sekali tidak bijaksana.

Begini jawaban saya yang sebenarnya :

“Bakarlah sebuah buku yang berisi kiat-kiat jitu dalam menulis. Seduh abunya bersama segelas air hangat, kemudian minum dan habiskan dalam tiga kali tegukan sembari membaca doa.”

Cobalah kalau anda ingin cepat-cepat bisa menulis masuk IGD.

Contoh kengawuran saya dalam menulis diantaranya tertuang ketika Gareng, kawan saya itu datang. Saya akan tuliskan apapun mengenai percakapan kami. Padahal, percakapan kami sama sekali unfaedah. Kalau diibaratkan makanan, maka ya seperti nasi aking. Dimakan kalau sudah tidak ada makanan lain. Sama saja dengan tulisan saya, silahkan dibaca kalau di dunia ini sudah tidak ada bacaan lain.

Ini penting, agar anda paham dan mengerti bahwa saya ini sama sekali tidak bisa menulis. Dengan berbekal nilai lima koma sekian dalam ujian bahasa Indonesia ketika SMA, maka silahkan disimpulkan bagaimana kualitas isi dan tampilan dari tulisan saya.

Apakah saya merendah?
Merendah bagaimana? Lha wong posisi saya ini sudah tiarap kok, mosok masih merendah.

Apa yang saya sampaikan adalah kenyataan. Bahwa tulisan-tulisan saya itu ngawur belaka.

Jadi jangan terlalu serius serta sepaneng membaca dan menanggapi tulisan saya. Anggap saja seperti ngupil ketika membaca tulisan saya. Masukkan jari ke lubang hidung, keluarkan, pandang sejenak, plintir menjadi bulatan kemudian buang.

Dah gitu aja….

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *