Menyemangati Sepi

Gatotkaca adalah seorang pemuda gagah dari Pringgondani. Semacam kampung tempat bermukimnya sang pemuda, yang juga adalah pendekar andalan keluarga Pandawa. Sebuah wilayah di suatu negara bernama Amarta.

Dulu, sekira tangan dan kakinya terasa pegal, ia akan pergi ke tepi padang Kurusethra, dan berteriak lantang mengejek keluarga Kurawa. Nanti sekira keluarga Kurawa ada yang mendengar, pasti satu atau dua orang akan datang ke tempat Gatotkaca berteriak lantang.

Setelah itu akan ada adu mulut sebentar, kemudian terjadi baku hantam.

Baik Gatotkaca dan lawannya akan saling berteriak, memukul, menendang, dengan penuh semangat. Gatotkaca terkadang akan melesat terbang ke atas, kemudian kembali menukik tajam sembari mengepalkan tangan, dan menghantam lawan. Terkadang lawannya bisa menghindar, dan balas memukul Gatotkaca dengan jurus andalannya. Namun terkadang pukulan Gatotkaca akan tepat mengenai wajah atau badan mereka, dan suara keras berdebam akan menggema.

Sekira sore hari, setelah lelah baku hantam, mereka akan lerai dengan sendirinya. Pulang dengan wajah lebam dan tubuh remuk, namun dengan pikiran yang rileks dan tenang.

Itu sekira beberapa waktu yang lalu. Kini Gatotkaca hanya bisa melihat padang Kurusethra dari atas pohon yang ada di depan rumahnya. Dengan teropong yang ia beli secara daring, ia mengamati padang atau lapangan luas tempat dimana ia bisa berkelahi dengan anak-anak Kurawa.

Pandemi virus membuatnya harus mendekam dan berdiam di rumah, dan dengan itu ia harus menahan hobinya untuk berkelahi. Baik pemerintah Amarta negara para Pandawa, atau Astina negara para Kurawa berada, sama-sama sepakat untuk sementara memberlakukan pembatasan sipil.

Artinya, tak ada yang boleh beraktifitas keluar rumah, dengan alasan apapun selain untuk masalah pangan dan kesehatan. Jangankan berkelahi, nongkrong di warung kopi juga tidak boleh. Lagi pula, warung kopi pun dengan kesadaran ditutup oleh pemiliknya. Demi agar wabah segera berlalu.

Amarta ataupun Astina sadar, meski mereka sakti dan digdaya, tetap saja virus takkan bisa mereka lawan dengan ajian dan senjata pusaka. Virus hanya bisa dilawan dan dicegah dengan mengurangi aktifitas diluar rumah dan juga mengurangi bertemu dengan banyak orang, sementara menunggu vaksin obatnya ditemukan oleh para ilmuwan.

Gatotkaca kini lebih sering menghabiskan waktunya dengan membaca buku Rahwanaya Nestapa. Sebuah buku dengan genre novel aktion romantis, yang mengisahkan seorang raksasa tampan sakti mandraguna, namun harus merasakan sakit cinta akibat perempuan pujaannya selingkuh dengan seorang kesatria yang juga sekaligus adalah raja sebuah kerajaan besar.

Gatotkaca terkadang menitikkan air mata, demi mendapati sebuah narasi dalam buku tersebut, mengisahkan salah satu pengorbanan si raksasa demi menyenangkan hati perempuan pujaannya. Sudah berkorban sedemikian rupa, si perempuan berselingkuh dengan orang lain.

“Perempuan dobol.” Gatotkaca bergumam.

“Rahwana juga goblog. Cari saja perempuan lain.” Gatotkaca menutup buku, dan kembali naik ke pohon menatap jauh ke arah padang Kurusethra.

“Kapan ya normal lagi. Aku kok kangen ngeplaki Lesmana Mandrakumara.”


Jauh dari tempat Gatotkaca, di sebuah negeri sekaligus negara yang makmur dan sentosa, situasi yang mirip juga sedang berlangsung. Pandemi wabah sedang terjadi, dan masyarakatnya dihimbau oleh pemerintah untuk sementara waktu tidak melakukan aktifitas di luar rumah.

Masyarakat di negeri tersebut tak terlampau sakti, tak seperti masyarakat di Amarta ataupun Astina. Jangankan terbang seperti Gatotkaca, sekadar menahan makan dan minum seharian dari pagi sampai sore saja masyarakat di negeri itu sudah pamer tidak karuan.

Maka pemerintah negara itu menghimbau masyarakat agar sementara waktu menjaga jarak. Jangan juga berbelanja meski mendekati hari raya. Konteksnya sedang tidak memungkinkan untuk pamer baju baru, meski tahun-tahun sebelumnya lazim terjadi semacam itu.

Eee ya masih banyak juga yang membandel. Tetap berbelanja baju meski tak mendesak benar kebutuhannya.

Banyak pula yang tetap bepergian naik pesawat, menandakan secara kasat mata bahwa mereka belum atau tidak sakti sebenarnya. Namun tak seperti masyarakat Amarta ataupun Astina, masyarakat negara yang negerinya makmur sentosa itu, tetap ngeyel.

Jadilah, penanganan wabah menjadi terkesan sangat lama. Belum bisa dilihat sinar terang perihal keberhasilan dan situasi yang semakin membaik lepas dari ancaman wabah.


Jauh dari Amarta serta Astina, dan juga negeri yang makmur itu, saya merasakan sepi.

Ini adalah lebaran yang nggrantes. Lebaran tanpa canda tawa bersama saudara maupun kerabat dan juga kawan. Lebaran yang sepi, dan pilunya menyayat sampai ke relung hati.

Saya sering menemui lebaran dengan tidak mempunyai uang, dan itu sangat nggrantes juga tidak menyenangkan. Tetapi ternyata lebaran sepi lebih terasa nggrantes serta tak menyenangkan.

Tentu saja lebaran, hari raya Idul Fitri, pada hakikat dan fitrah yang sudah ditetapkan, adalah hari raya untuk merayakan kemenangan. Merayakan kemenangan tentu saja adalah dengan perayaan-perayaan yang menandaskan perasaan bahagia. Ya, Idul Fitri sudah ditetapkan sebagai sebuah hari dimana manusia harus bergembira dan berbahagia. Meski pada banyak hari raya Idul Fitri saya tak mempunyai uang, tetapi ada hal lain yang membuat saya tetap larut dalam ketentuan Tuhan itu, yaitu bahwa saya harus gembira dan bahagia.

Duduk di teras rumah Banteran sembari menyaksikan takbir keliling adalah satu sebab yang membuat saya sudah bahagia, bahkan jika itu baru malam sebelum hari raya. Menginap di rumah Banteran selama beberapa hari, bertemu Mamak Bapak dan adik-adik saya adalah alasan lain yang membuat saya secara tak sadar merasa bahagia. Esok hari, bertemu banyak kerabat dan saudara dan terlibat perbincangan-perbincangan sepele adalah hal lain yang melengkapi kebahagian saya sebelumnya.

Tetapi tahun ini?

Tak ada hingar bingar -yang meskipun itu saya tahu hanya pada permukaan-, namun tetap saya rindukan.

Jalan depan rumah Banteran terlihat sepi dan lengang. Biasanya, jalan di depan rumah itu tak pernah sepi oleh kendaraan, bahkan sampai tengah malam.

Sebagai manusia yang rapuh, setidaknya harus ada beberapa kesimpulan yang bisa dijadikan penenang. Saya harus bisa menenangkan diri sendiri, agar tak larut dalam bayang angan yang tak perlu. Paling tidak, agar saya selalu mensyukuri apapun ketetapan dari Dia Yang Maha Kuasa, terhadap diri saya, lahir batin.

Lebaran sepi tahun ini setidaknya mengurangi telinga saya untuk mendengar pertanyaan ‘kapan punya anak’? Percayalah, bagi orang seperti saya yang sudah menikah selama hampir sepuluh tahun dan tak kunjung mempunyai anak, mendengar pertanyaan semacam itu pada momentum hari raya Idul Fitri, seketika membuat saya menyesali kenapa Idul Fitri mengharuskan adanya silaturahmi. Pertanyaan semacam itu, adalah siksa yang nyata. Dan, saya selamat dari siksa itu di tahun ini.

Juga, lebaran sepi tahun ini memberikan kesempatan pada saya untuk lebih banyak berbincang dengan Mamak dan Bapak. Malam lebaran pertama setidaknya saya habiskan untuk mengobrol dan berbincang sampai lewat tengah malam, tanpa harus khawatir esok bangun pagi untuk bersilaturahmi ke kerabat.

Semakin berjalannya waktu, semakin saya sadari bahwa kini berbincang dengan Mamak dan Bapak adalah sesuatu yang langka, dan dengan itu sebenarnya adalah juga kesempatan istimewa. Saya hampir lupa, kapan terakhir kali berbincang dalam waktu yang cukup lama dengan mereka. Dan lebaran tahun ini, saya bisa melakukannya. Lebaran sepi ternyata cukup bisa menenangkan hati bukan?

Bagaimana dengan lebaran sepi anda tahun ini? Apakah menenangkan? Atau bahkan menjemukan?

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *