Menyoal Ceramah Syawalan, Yang Nanggung Dan Sedikit Mabuk

Ilustrasi. Gambar : Pixabay

Sini saya beri sedikit cerita perihal acara syawalan yang baru saya ikuti hari Minggu kemarin [16/06/2019]. Ceramah syawalan yang membuat banyak bibir bergumam menggerundel dan sambat, karena lama dan isi materi ceramahnya yang bagi saya ; tak layak ucap.

Ada jenis-jenis ceramah, apalagi ceramah agama, yang umum saya temui dalam berbagai forum. Ceramah yang membuat ngantuk adalah yang paling banyak ditemui. Ceramah yang membuat tertawa adalah terbanyak kedua. Ceramah yang membuat bosan hampir sama banyaknya dengan yang membuat ngantuk. Dan ada lagi, ceramah yang membuat telinga tak ingin mendengarkan. Yang terakhir ini jumlahnya tak banyak, tetapi sekali menemuinya, dunia serasa terbalik. Serasa ingin segera makan singa bakar kecap madu.

Apa yang kemarin saya dengarkan, perihal ceramah itu, hampir memenuhi semua kriteria yang saya sebutkan. Ya membuat ngantuk, ya membuat bosan, membuat tidak ingin mendengarkan, namun sama sekali tak membuat tertawa. Benar-benar memuat jenuh, selain juga apa yang disampaikannya —menurut saya—, malah tidak memuat keluasan dan kejernihan dalam beragama.

Langsung saja saya bagikan cerita dan kutipan isi ceramahnya bagi anda. Semoga anda berkenan, jika tidak berkenan, langsung saja tak usah melanjutkan membaca.

Pertama, penceramah mengemukakan perihal ibadah [sholat] yang seharusnya lurus, dan mempengaruhi segala kebaikan dalam kehidupan. Baik sikap, maupun perbuatan.
Sekilas, saya mengamini apa yang disampaikannya. Sebelum tiba-tiba ia mengemukakan contoh, bahwa baru saja ada kejadian yang [menurutnya] sama sekali tidak mencerminkan pengamalan ibadah sholat.

Yaitu tentang dua orang perempuan, yang mencuri kotak infaq, pada beberapa masjid di sekitar tempat tinggalnya.

“Sekarang sudah ditangkap polisi, dipenjara, dilaporkan dengan bekal rekaman kamera CCTV.” katanya dengan bangga.

Kok sudah langsung dipenjara saja?

Kenapa ketika tertangkap, tidak diselesaikan saja secara kekeluargaan? Cabut laporan di kepolisian, karena yang terpenting sudah diketahui serta tertangkap pelakunya. Untuk kemudian dipenjara, saya rasa berlebihan.

Begini, apapun yang dilakukan manusia, termasuk mencuri, adalah kelindan hubungan sebab-akibat, dari seluruh kejadian yang ada dalam kehidupannya. Tak mungkin sebuah kejadian, berdiri sendiri sebagai suatu entitas mandiri, tanpa ada yang melatar belakangi.

Sebab musabab pencurian itu, seharusnya didalami terlebih dahulu, dan tak perlu tergesa untuk menuntut pelaku masuk ke dalam penjara.

Apalagi kejadiannya di masjid, rumah Allah, dan saya yakin bahwa kesemua pengurusnya juga orang-orang yang dekat dengan Allah. Sekira Allah itu Maha Pemurah, kenapa manusia tak mencoba sedikit saja menjadi pemurah? Paling tidak dengan bertanya terlebih dahulu penyebab yang melatarbelakangi kedua orang pelaku, melakukan pencurian.

Siapa tahu bahwa tindakan itu muncul karena suatu keterpaksaan, kondisi ekonomi yang kurang bersahabat, atau sebab lain yang seharusnya bisa mengetuk nilai-nilai kemanusiaan.
Saya bukan membela dan mencoba membenarkan tindakan pencurian. Bagaimanapun mencuri, mengambil sesuatu yang bukan hak miliknya secara sah, adalah perbuatan tercela.

Namun mencoba menjadi manusia yang bisa menakar baik-buruk tidak hanya sekadar sebagai hitam dan putih, apa salahnya?
Mencoba menggali terlebih dahulu penyebab terjadinya suatu kejadian, memahaminya, baru kemudian mengambil tindakan yang paling sesuai. Sesuai dengan nilai dan kodrat kemakhlukan manusia.
Bahwa manusia adalah makhluk yang berakal, dan oleh karena itu segala apa yang diputuskan haruslah sudah terlebih dahulu dipikirkan.

Bukan hanya karena amarah, dan apalagi emosi sesaat.

Siapa tahu kedua perempuan itu adalah korban kebiadaban lelaki? Makhluk dengan jenis kelamin yang sama dengan si penceramah. Siapa tahu lelaki yang menjadi suaminya tidak bertanggungjawab, tidak memberi nafkah, padahal keluarga dan anak-anaknya membutuhkan biaya.

Siapa tahu?
Tidak ada yang tahu, karena semua sudah diputuskan hanya dengan mendakwa serta menghakimi perbuatan dengan klaim hitam putih semata. Pelaku sudah dipenjara, dan saya yakin tidak ada yang peduli dengan sebab musabab munculnya perilaku mereka.

Kedua, si penceramah menekankan pentingnya sholat, agar lapang rejeki dan tenang tenteram kehidupan.

“Kalau mau hidupnya tenang, rejekinya lancar, selamat dunia akhirat, sholatlah selalu.”

Saya hampir saja berteriak,

“Pak, sholat itu untuk menyembah, menyapa Tuhan, mengakui kerendahan diri kita, dan bukan berharap sesuatu yang sifatnya materiil semacam itu.”

Tetapi teriakan itu saya tahan saja, dan saya lebih memilih mengambil sebungkus tape ketan, menikmatinya perlahan, dan mengambil beberapa bungkus berikutnya karena tape ketan itu nikmatnya tak tertahankan.

Sholat seharusnya dilakukan tidak dengan niat untuk mengharap sesuatu. Ketika sholat sudah dilandaskan pada niat selain untuk menyembah dan menyapa Tuhan, maka akan ada tendensi yang berpotensi melahirkan sakit hati ketika manusia tak mendapatkannya.

“Sudah sholat, nyatanya hidup tetap begini-begini saja. Tak kunjung kaya, malah utang bertambah banyaknya.”

Kira-kira akan semacam itu.

Bahwa Tuhan mempersilahkan untuk meminta, itu sudah lain soal. Tetapi perihal sholat, itu adalah metoda perhubungan dan dialektika cinta yang diperintahkan oleh Tuhan, terhadap hambaNya.

Sholat adalah kemesraan yang hakiki, tentang manusia bersujud merendahkan kepala serendah-serendahnya. Bukan ajang untuk berharap dan meminta.
Doa itu esensi dan dasar katanya adalah menyapa, bukan meminta.

Perihal nanti Tuhan memberikan keselamatan, rejeki yang berlimpah, dan menempatkan kita di dalam surga, itu semata adalah Hak Prerogatif Allah, bukan karena sholat kita.
Tuhan tak membutuhkan sholat kita. Maka kenapa kita berharap mendapat sesuatu setelah melakukan sholat?

Ah ya kenapa saya nyinyirnya di sini ya? Di tulisan ini. Siapa yang mau membaca?

Si penceramah juga tak akan pernah membacanya.

Sudah ah, sudahi saja.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

11 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.