MERAYAKAN PENYERAPAN ANGGARAN

Berilah anak anda, anak tetangga anda, keponakan, keponakan tetangga anda, atau siapapun dengan kategori usia anak-anak uang sebesar 10 ribu rupiah. Suruh ia menghabiskan uang itu, dan sebagai pertanggungjawaban penggunaan uang tersebut, anda meminta nota. Sekaligus anda berpesan, habiskan, semakin cepat semakin bagus.

Kira-kira, seberapa cepat uang itu akan habis?

Bukan hal yang sulit untuk menghabiskan uang dengan disertai nota atau kuitansi sebagai bentuk pertanggungjawaban. Apalagi jika sudah ada rambu-rambu bahwa uang yang diberikan hanya bisa dibelanjakan untuk barang-barang tertentu. Sehingga saya kira bukan suatu bentuk prestasi apabila misalnya :
Kita meminta sejumlah uang dengan disertai rincian rencana penggunaan, menghabiskannya, dan ketika jatuh pada tempo pelaporan kita memberikan nota serta kuitansi penggunaan uang.

Meminta sejumlah uang yang sudah kita rencanakan penggunaannya, menghabiskannya, dan melaporkan penggunaannya, adalah sesuatu yang wajar. Bukan suatu prestasi luar biasa tertentu.
Kita berencana membeli sabun cuci seharga 18 ribu rupiah. Kemudian kita meminta uang sebesar 20 ribu rupiah, karena kita tahu ada juga 2 ribu rupiah untuk parkir kendaraan di tempat perbelanjaan. Setelahnya kita berikan laporan dengan nota pembelian, dan juga penjelasan kemana sisa 2 ribu rupiah kembalian. Sederhana, dan memang sudah sewajarnya.

Baru akan menjadi nilai lebih yang pantas mendapat suatu apresiasi apabila, sabun cuci seharga 18 ribu rupiah itu kita laporkan pada pemberi uang dapat digunakan untuk mencuci berapa potong baju, celana, atau hal-hal lain sesuai kegunaannya. Dapat dijadikan suatu ajang pemberian label prestasi apabila kemudian dari sekian banyak penerima uang 18 ribu rupiah, manakah yang paling efektif dan efisien dalam pembelanjaan, sekaligus paling mempunyai manfaat dalam penggunaan.

Saya sedikit teringat mengenai suatu mata kuliah yang membahas mengenai input, output, dan juga outcome. Dari pemasukan yang ada, seimbang dengan pengeluarannya, sekaligus mendapatkan suatu manfaat apa?

Saat ini, saya rasa, perihal outcome, hasil, manfaat yang didapat, kurang mendapat perhatian dalam pelaksanaan anggaran. Bukan hanya saat ini sebenarnya, tetapi sudah berlangsung jauh sekian tahun sebelumnya.
Proyeksi dan penilaian penggunaan anggaran masih sebatas tentang seberapa tinggi penyerapan, serta seberapa cepat waktu yang dibutuhkan. Kurang mendapatkan perhatian mengenai monitoring hasil capaian.

Misalnya saja pembelian 1 rim kertas HVS seharga 40 ribu rupiah, tidak ditanyakan asas manfaat penggunaannya. Apakah untuk mencetak laporan, apakah untuk mencetak undangan, apakah untuk membuat pesawat kertas, perahu kertas, atau untuk menghitung skor permainan kartu remi.

Dalam skala yang lebih besar, bisa kemudian dipertanyakan manfaat yang di dapat dari sekian ratus juta anggaran untuk bantuan pendidikan. Apakah mampu mendorong murid untuk bisa lebih mengembangkan diri, meningkatkan kualitas pendidikan, ataukah bahkan segala sesuatunya berjalan tidak seperti apa yang diharapkan dengan adanya anggaran bantuan pendidikan.

Banyak hal yang menyebabkan kurang adanya kepedulian terhadap monitoring outcome dari anggaran yang diberikan. Jika boleh jujur, dengan sedikit kurangajar akan saya sampaikan suatu sangkaan :
Tidak adanya anggaran bagi panitia monitoring outcome anggaran.

Sangkaan saya kurang berdasar dan rentan fitnah? Mudah saja untuk mengetahuinya :
Tanyakan apakah Batavia bersedia bekerja dengan tunjangan kinerja yang penuh diberikan, tetapi tidak ada lagi honor atau uang perjalanan bagi kegiatan monitoring dan pendampingan.

Silahkan tanyakan ke Batavia, dan anda akan tahu apakah sangkaan saya hanya sekadar fitnah, ataukah sudah menjadi semacam realita dalam kurang proporsionalnya pengelolaan anggaran.

Sekadar memaksimalkan dan mengoptimalkan penyerapan anggaran agar sesuai dengan rencana anggaran, tidak sulit, bahkan cenderung mudah dan sederhana. Sehingga jika dari tahun ke tahun, sorot penilaian baik-buruk pengelolaan anggaran hanya berkisar pada tingkat prosentase penyerapan, tidak akan ada hal-hal substansial yang dapat dicapai. Hanya akan ada kebiasaan dan rutinitas yang tidak kompatibel lagi dengan tuntutan perkembangan jaman.

Misalnya saja ada satuan kerja meminta belanja modal sejumlah laptop atau komputer, alangkah baiknya kemudian diadakan semacam evaluasi dan monitoring apakah laptop atau komputer yang dibeli semakin menunjang kemampuan dari mereka yang direncanakan mendapat manfaat ketika diajukan permintaan rencana anggaran. Jika untuk murid, sejauh mana alat-alat tersebut meningkatkan kemampuan mereka. Jika ditujukan untuk pengolah data administrasi, bisa dilakukan evaluasi sejauh mana alat tersebut mampu meningkatkan prestasi kerja dan juga kinerja.

Misalnya lagi, jika sejumlah uang diberikan gorengan, dapat seplastik, maka perlu dilakukan telaah lebih jauh apakah gorengan itu lantas dimakan, membuat kenyang, atau mungkin hanya dibiarkan tergeletak di meja, basi, dan dibuang. Kalau hanya dibiarkan basi dan kemudian dibuang, kan ya emaneman.

Tulisan ini bukan bermaksud keminter, menggurui, atau bahkan memberi ide, saran, juga wacana. Bukan, siapa pula saya ini sampai berani-berani memberikan ide, saran, bahkan masukan kepada orang-orang pintar cerdik pandai yang duduk di kantor tingkat daerah, wilayah, atau bahkan pusat.

Ini hanya sekadar tulisan pemberitahuan, perasaan hati yang terdalam, dari seorang yang sudah merasa bosan menjadi sutradara balik meja dari baiknya prestasi penyerapan anggaran beberapa satuan kerja.

Sombong lu ye???
Lempar sandal mau????

Hambok biar sombong, asal ga dikit-dikit marah, emosinan.
Bwahahahaha.

Latest posts by Anang Aji Guritna (see all)

16 Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *